
Menjelang subuh mereka sudah keluar dari gerbang tol Cikampek, masih membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih kalau tidak macet untuk sampai ke apartemen tempat tinggal Melody, apalagi ini hari senin, pasti pagi pagi jalan akan penuh dengan orang yang mulai beraktivitas.
" Ini sudah sampe mana ?" Melody membuka matanya dan mulai mengerjap beberapa kali menyesuaikan pandangannya dengan sinar matahari yang mulai muncul menunaikan tugasnya menerangi dunia.
" Pagi gembul ku...! Kita udah nyampe di Jakarta," Senyuman Satria yang tersorot sinar matahari pagi terlihat bagai jelmaan pangeran tampan berkuda putih di negeri dongeng.
" Ganteng banget sih !" gumam Melody pelan tanpa sadar sambil menatap Satria yang sedang fokus mengemudi.
" Siapa, aku? jelas lah !" bangga Satria tersenyum bangga.
" Ish, itu tadi gambar cowok di papan iklan," kilah Melody merasa malu karena gumaman lirihnya ternyata masih dapat di dengar Satria.
" Aku pagi ini ada meeting yang bisa di tunda, kamu mau ikut ke EmHa?" Tanya Satria merasa tak tenang jika harus meninggalkan Melody sendirian, tapi meetingnya kali ini juga benar benar tak bisa di tunda, sungguh ini bagai dilema untuk nya.
" Gimana ya, aku juga gak bawa kartu akses apartemen, ketinggalan di rumah. Tapi gak apa apa lah, ntar aku urus ke kantor pengelola." Kata Melody tak ingin mengganggu kegiatan Satria.
" Yakin?" tanya Satria lagi, lalu di jawab dengan anggukan pasti Melody.
***
" Aku turun sendiri aja, ga usah di anter, nanti kamu terlambat meeting nya." Melodi membuka pintu mobil, hendak turun karena sudah sampai apartemen nya, tapi sebelah tangannya di tahan Satria.
" Gak pengen ngasih kiss dulu gitu, biar aku semangat kerjanya." goda Satria.
" Ih, minta sana sama pacar nya Bang Bos !" dengus Melodi.
" ya sudah kalo gak mau kasih, hati hati ya Mbul, nanti siang selesai meeting aku ke sini." Satria mengelus pucuk kepala Melody lembut, seakan berat sekali meninggalkan wanita cantik itu sendirian, tapi meeting kali ini benar benar penting, apa lagi dia baru beberapa hari di angkat jadi presdir menggantikan Emir, ayahnya. Pastinya akan menjadi pembicaraan bila dirinya tak hadir di sana.
" Kok Mbul sih ?" tanya Melody aneh.
" Kamu gembul, makannya banyak banget !" Satria tertawa.
" Ish, sudah sana cepetan berangkat, Bang Bos nyebelin !" cebik Melody kesal.
" eh, bentar itu di rambutmu ada apanya," ucap Satria menarik lengan kanan Melody saat sebelah kakinya turun hampir menyentuh aspal,
" Mana ? apaan ?" Melodi mengibas ngibas rambutnya dengan tangan kirinya.
Tapi tiba tiba,
__ADS_1
Cup,,,,
Lagi lagi Satria mencuri ciuman saat Melody lengah, kali ini Satria mencium sekilas pipi Melody.
" ih ! Bang Bos,! Nyebeliiin !" Melody langsung turun dari mobil Satria dengan kesal.
" Bye Mbul !" teriak Satria dari jendela mobilnya yang setengah terbuka, sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis penuh kepuasan.
Sementara Melody berlari menuju loby apartemennya.
Dia langsung mendatangi kantor pengelola untuk meminta kartu akses cadangan, karena tanpa kartu akses, dia tidak bisa naik ke lantai atas, untuk menaiki lift di perlukan kartu akses, semua penghuni mempunyai kartu itu, karena apartemen ini lumayan ketat, mungkin karena termasuk salah satu apartemen mewah juga, jadi keamanannya lebih ketat dari yang lain.
Sementara untuk tamu yang akan berkunjung biasanya di antar oleh petugas keamanan atau petugas jaga untuk akses naik sampai unit yang di tuju dengan menitipkan kartu identitasnya terlebih dahulu.
Setelah seorang petugas mengantarnya naik ke lantai 45, lalu Melody menekan beberapa angka sebagai kode untuk membuka pintu unit apartemennya, beberapa kali Melody mencoba memasukan angka yang biasanya, tapi selalu di tolak, saat Melodi akan menghubungi kantor pengelola karena merasa pintu otomatisnya error, tiba tiba pintu terbuka dari dalam.
" Masih butuh tempat tinggal milik papah ?" Tanya Malik yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tak bersahabat.
" Papah," pekik Melody kaget, tak menyangka kalau papanya akan menyusulnya, bahkan sampai lebih dahulu.
" Barang barang mu sudah papah kemas, kamu ikut papah pulang ke Bandung sekarang juga, keluar dari pekerjaan mu, dan bulan depan kamu harus menikah dengan Azta !" ucap Malik ketus, dan tak membiarkan Melody berbicara sedikitpun, dia seolah tak ingin mendengar penjelasan apapun dari anak gadis kesayangannya itu.
tidak
" Mama,,,, Ody gak mau nikah sama Azta, tolong Ody mah,,," Melody menangis pilu di pelukan mamanya.
" Lantas kamu memilih untuk bersama dengan laki laki calon suami orang ? kamu mau mempermalukan papah ?" Malik menaikan volume suaranya.
" Pah, bicara baik baik !" Anita mengingatkan suaminya untuk tidak terbawa emosi saat berbicara dengan Melody, anaknya.
" Anak ini sudah tak bisa di ajak bicara baik baik semenjak dia jauh dari kita dan berpacaran dengan si Johan itu, dia jadi liar !" hardik Malik.
" Jangan bawa bawa orang lain pah, dia bukan pacar Ody, dia gak salah apa apa." bela Melodi merasa tak terima papanya selalu saja menyudutkan Satria.
" ya sudah, kalau kalian tidak berpacaran, berarti kamu bisa kan menikah dengan Azta bulan depan." Malik menatap tajam anaknya.
" Tidak pah, tidak bulan depan atau kapan pun, Ody tidak akan pernah mau menikah dengan Azta !" tolak Melody tegas.
" Kalian sudah bertunangan, mau di mana papah taruh muka ini, papah akan sangat malu dengan keluarga Azta, memutuskan pertunangan karena kamu selingkuh dengan laki laki calon suami orang, apa kamu tak berpikir ?" Untuk pertama kalinya Malik sangat murka pada Melody, anak kesayangannya.
__ADS_1
" Ody gak selingkuh, pertunangan Ody sama Azta sudah berakhir." ucap Melody.
" Apa kamu bilang ? kamu memutuskan pertunangan dengan Azta bahkan tak meminta pendapat papah ? oh, Melody kamu benar benar tak punya harga diri, demi mengejar laki laki calon suami orang itu, kamu sampai memutuskan pertunangan mu dengan Azta yang jelas jelas mencintaimu !" Malik tak habis pikir.
" Mencintai ? dulu Ody pikir juga begitu, tapi ternyata salah." Melody tersenyum sinis.
" Kamu hanya di butakan oleh si Johan si_alan itu, sehingga Azta jadi begitu jelek di matamu, ingat perjuangan kalian selama enam tahun, itu bukan waktu yang sebentar." Malik mulai melemah, berusaha menyadarkan Melody.
" Enam tahun sudah cukup pah, Ody tak mau lebih lama lagi bersama dia." Melody tetap tak ingin membongkar kebobrokan Azta pada orangtuanya, baginya apapun yang keluar dari mulutnya saat ini, orang tuanya pasti tak akan percaya, biar waktu saja yang menjawab dan membuka semua kebenaran yang terjadi.
" Kamu benar benar sudah mengecewakan papah, " lirih Malik memijit pangkal hidungnya.
" Maaf pah, mah, tapi Ody tak akan menikah dengan Azta apapun yang terjadi!" keukeuh Melody.
" Baik kalau itu keputusan mu, silahkan jalani pilihan hidupmu, keluar dari apartemen milik papah ini, jangan pernah kembali ke rumah, kecuali kamu berubah pikiran dan setuju menikah dengan Azta.!" tegas Malik.
" Pah, kamu jangan sembarangan bicara, Melody anak kita satu satunya, kasian dia tak punya siapa siapa disini." Anita histeris dan langsung memeluk anak gadis nya.
" Bukankah itu pilihannya sendiri, jadi jangan bilang papah tega pada anak sendiri." Malik yang memang keras kepala, siapapun tak akan pernah bisa menentang keputusannya, bahkan Anita, istrinya sendiri.
" Baik pah, kalau itu pilihannya, Ody memilih untuk keluar dari apartemen, dan tak akan pulang ke Bandung kalau syaratnya harus menikah dengan Azta. Maafkan Ody mah, pah !" Melody memasuki kamarnya, ingin membereskan barang barangnya, tapi ternyata semua barangnya sudah tak ada di kamarnya, lemari pun sudah kosong, hanya ada dua buah koper besar yang setelah Melody buka ternyata berisi barang barang dan baju miliknya.
" Ody, kamu jangan dengar omongan papah,nak ! papah hanya sedang terbawa emosi saja." Anita menghampiri Melody ke dalam kamar.
" Maaf mah, tapi Ody gak bisa kalau harus menikah dengan Azta, sampai kapan pun!" Melody berurai air mata.
" Mama mendukung dan percaya apapun keputusan kamu, semoga kamu mendapat kebahagiaan, sayang" Anita memeluk Melody erat, jujur saja dia sungguh berat memilih keputusan ini, tapi semoga ini yang terbaik bagi dirinya, bagai manapun dia tak ingin menikah dengan Azta, laki laki yang sudah menyakitinya sedemikian rupa.
" Terimakasih mah, Ody sayang mama dan papa." Melody terisak di pelukan mamanya yang juga menangis pedih karena tak menyangka akan berpisah dan kehilangan anaknya karena ke egoisan Malik suamianya.
" Tapi kamu mau tinggal dimana?" Anita hawatir.
" Ody bisa nge kost mah, tenang saja, Ody pasti baik baik saja." Melody menenangkan mamanya, padahal dirinya sendiri pun belum tau akan kemana dan bagaimana dia melanjutkan hidupnya.
" Kabari mama ya, sayang!" pinta sang mama yang lalu di angguki anaknya.
" Ody pamit mah, pah, kalian jaga kesehatan, maafkan Ody !" Melody keluar dari apartemen sambil menggeret dua buah koper besar, diiringi isak tangis Anita sang mama, Sedangkan Malik sang papa hanya membuang muka, tak ingin melirik sedikitpun.
Mungkin Malik pun sama sedih dan sakitnya seperti apa yang di rasakan Melody dan Anita sang istri, namun sikap angkuh dan egoisnya menutupi itu semua.
__ADS_1
* Jangan lupa like dan komen kakak,,,, terima kasih sudah mampir, semoga kakak semua sehat selalu...*