
"Satria, kau yang akan menyesal memperlakukan aku seperti ini, aku akan menghancurkan mu dan keluargamu sekalian, ingat itu, kartu mu ada padaku !" Ancam Emily meninggalkan Satria yang menatapnya tajam dan Melody yang semakin khawatir dan ketakutan dengan ancaman Emily terhadap Satria.
"Bang bos," Lirih Melody lagi pelan hampir tak terdengar.
"Apa ? Cepat naik !" Ketus Satria saat pintu lift berhasil terbuka setelah dia menempelkan kartu aksesnya.
"Galak banget." gumam Melody masih dengan suara pelannya.
"Ya sana, sama Kak Putra mu yang gak galak !" Sinis Satria masih bersikap ketus pada Melody yang hanya menundukkan wajahnya, dia juga tak berani menatap wajah laki laki di hadapannya yang sepertinya terbakar emosi tingkat dewa itu.
Mereka memasuki penthouse tanpa berbicara sepatah kata pun satu sama lain, Melody mendudukan dirinya di kursi santai yang terletak di tepi kolam renang sendirian, dia sungguh takut bertemu Satria saat ini.
"Obati tangan mu, sepertinya Emily membuat tanganmu memar." Satria menyodorkan kotak P3K ke hadapan Melody.
"Gak apa apa, cuma sedikit, mungkin saat ini hati mba Emily lebih terluka karena mengetahui kita berpacaran di belakang nya." Lirih Melody memeluk kotak P3K itu sambil menerawang menatap jauh entah kemana, di lubuk hati terdalam nya dia merasa sangat bersalah karena telah menjadi orang ke tiga dan melukai hati Emily.
"Ish, masih saja memikirkan orang lain," Satria merebut paksa kotak P3K di pangkuan Melody lalu meraih tangan kanan wanita itu, di lihat nya beberapa memar di lengan putih mulus itu, di oleskan nya salep dengan hati hati di atas kulit yang terlihat merah sedikit membiru itu.
"Apa sakit ?" Tanya Satria saat Melody sedikit meringis.
"Tidak." Jawab Melody, bohong. Padahal tangannya kini terasa cenut cenut.
"Kenapa kamu bertengkar dan memperebutkan laki laki dengan Emily,? Memalukan saja !" Omel Satria, meniup niup luka Melody dengan penuh sayang.
"Maksudnya?" Tanya Melody.
"Kamu dan Emily memperebutkan kak Putra mu itu kan ?" Sewot Satria.
"Kak Putra ? Aku tak ada hubungan apa apa dengan dia, justru aku bingung kenapa mba Emily marah dan memaki gara gara aku tadi bersama kak Putra." Ujar Melody menjelaskan.
"Kak Putra, Kak Putra, terus saja kamu panggil panggil nama dia, giliran aku, kekasih mu sendiri di panggil Bang Bos, gak ada mesra mesranya," Gerutu Satria.
"Kamu kan memang Bos ku, lalu kamu mau di panggil apa?" Melody kesal sendiri, tiba tiba perkara panggilan Kak, saja jadi masalah.
"Memang yang pantas dapat panggilan Kakak dari mu hanya Kak Azta dan Kak Putra saja ya,?" cibir Satria sambil melengos.
"Astaga, kamu marah marah cuma pengen di panggil aku kakak rupanya,!" Melody tersenyum geli.
"Melody ! Aku gak sudi punya panggilan yang sama seperti mantan tunangan mu dan gebetan baru mu itu." Pekik Satria.
"Hah, gebetan? Siapa maksudnya?" Melodi terbelalak kaget.
"Si Putra yang kamu dan Emily perebutkan itu, siapa lagi."
"Ya Tuhan,,, harus berapa kali aku bilang kalau antara aku dan chef Putra ga ada apa apa, hanya sebatas rekan kerja saja. Kenapa kamu jadi cemburu sama dia?"
"Tapi buktinya kamu tadi lebih memilih pergi sama dia di banding nonton sama aku?" Satria keukeuh dengan tuduhannya.
"Hey, disana ada calon istri anda yang bar bar itu, lagi pula aku kan hanya pacar rahasia kamu saja." Tiba tiba volume suara Melody mengecil, wajahnya kembali menunduk.
__ADS_1
"Tak ada calon istri, tak ada pacar rahasia, hanya ada kamu belahan jiwa ku, teman hidupku sampai tua dan menutup mata." Satria memeluk tubuh mungil Melody dan mengecup pucuk kepalanya, dia tau wanita dalam pelukannya kini sedang merasa tak percaya diri.
"Aku tak ada hubungan apa apa dengan chef Putra, aku juga tak tau kenapa tiba tiba mbak Emily marah dan menyerangku." Ucap Melody dalam pelukan Satria.
"Sudahlah, aku tau, aku tadi mendengar semua pekataan Emily padamu saat di bawah. Aku percaya sama kamu." Satria mengelus lembut punggung Melody yang kini mulai terisak di dadanya.
"Hey, kenapa kamu menangis ? Aku sudah gak marah sama kamu." Satria mengurai pelukannya, melihat wajah Melodi yang berurai air mata.
"Bang Bos pasti akan mendapatkan masalah lagi gara gara aku, tadi mba Emily mengancam akan..."
Cup,,,
Satria tak membiarkan Melody meneruskan kata katanya, dia segera mengecup bibir Melody.
"Aku bisa mengatasinya, kamu cukup percaya saja pada ku, dan tunggu kabar baiknya. Pacarmu ini hebat, tenang saja, ini hanya masalah kecil." Satria meraih kedua pipi Melody dengan kedua tangannya, wajahnya semakin mendekat dengan tatapan mata yang berkabut, nafas yang saling memburu terasa hangat dan lembut di kulit wajah mereka, saat bibirnya hampir mendarat manis di bibir merah Melody, tiba tiba ponselnya berbunyi beberapa kali.
"Di angkat dulu, siapa tau telpon penting." Melody menjauhkan tubuhnya dari Satria.
Satria mengeluarkan ponselnya dari saku celana dengan kesal, karena merasa kegiatan nya terganggu.
Tertera nama IBU di layar ponselnya, tak biasanya Diana sang ibu menelponnya malam malam begini, batinnya.
"Ya bu, ada apa?" Satria dengan nada malas.
"....."
"Baik, aku segera pulang, Bu." Jawab Satria, lalu mengakhiri pembicaraan dwngan ibunya di telpon.
"Ada apa ? Apa sesuatu terjadi ? Apa ibu mu marah ? Apa kamu akan di hukum ? Apa ini ada hubungannya dengan ancaman mba Emily tadi?" Melody tak henti bertanya pada Satria yang terlihat terburu buru pergi.
Cup,,,
Satria menjawab semua pertanyaan Melody dengan ciumannya.
"Semua akan baik baik saja," Satria mengedipkan sebelah matanya menggoda, namun Melody masih saja di landa gelisah, dia takut kalau sampai Emily berbuat nekat dan melakukan ancamannya tadi.
Sepeninggal Satria pulang ke rumah orang tuanya, Melody sedikit tergelitik mengingat wajah Putra yang seakan pernah dia lihat di suatu tempat, tapi dia lupa dimana.
Lama Melody berpikir dan dia terhenyak, Melody menutup mulutnya dengan kesua tangan, dia baru ingat kalau Putra adalah Laki laki yang dulu dia lihat sedang berciuman dengan Emily di taman pagi pagi.
'Mba Emily dan chef Putra ? ' Dia bertanya tanya dalam hatinya, kalau benar itu mereka, berarti wanita yang Putra bilang kekasih yang sangat di cintainya dan sudah berhubungan sejak mereka kuliah itu apa mungkin Emily ? Dan Kalau itu benar, berarti Emily selama ini hanya terpaksa berpacaran dengan Satria karena desakan orang tuanya saja?
Kepala Melody seakan mau meledak memikirkan itu semua, kenapa semuanya jadi begitu rumit.
***
Di rumah orang tua Satria.
Plak,,, Plak,,,!
__ADS_1
Emir langsung menghajar Satria tanpa ampun saat Satria baru saja melangkah memasuki pintu rumahnya.
"Ayah !" Bima dan Diana memegangi Emir yang terus memukuli anak sulungnya membabi buta, tenaga istri dan anak bungsunya bahkan tak kuat menahan tenaga laki laki paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Anak kurang ajar, bajing_an, berani beraninya kau mau menghancurkan bisnis dan nama baik ku, Hah !?" Teriak Emir memekakan telinga.
"Nak Satria, laki laki yang di pegang itu ucapannya, andai saja Nak Satria tidak berselingkuh dan memenuhi janji, semua ini tak akan terjadi, tante selalu menutup rapat masalah ini dari kedua orang tua mu, tapi apa balasan nya? " Rika menangis tersedu sedu.
"Kamu sudah merusak masa depan anak tante, dan sekarang kamu menyakiti hati nya juga, lihat dia, lihat Emily yang seolah tak punya lagi semangat hidup." Rika memainkan drama nya.
"Kau, besok harus menikah dengan Emily." Ucap Emir penuh penekanan.
Kontan saja Rika langsung tersenyum bahagia, dia melirik Emily yang kini sedang menangis dibpelukan Diana.
"Tidak Akan pernah ! dan jangan harap !" Tolak Satria tegas.
"Bajing_an.. karena kelakuan bejat mu bisnis dan nama baik keluarga kita akan hancur." Pekik Emir yang lagi lagi memukul wajah Satria dengan tinjunya yang keras.
Satria terhuyung kembali setelah sekuat tenaga bangkit untuk berdiri, Bima lalu mendekati kakaknya dan membantunya berdiri.
Bima sangat sedih melihat kakaknya babak belur mempertahankan cintanya untuk wanita yang di kasihinya.
"Siapa wanita itu? Siapa wanita yang kau pacari secara sembunyi sembunyi itu ?" Emir mencengkram kerah baju Satria, dia hendak memukulinya lagi, tapi Bima berhasil melindunginya, sehingga pukulan Emir mengenai punggung Bima.
"Jal**lang itu bernama Melody, dia kerja di Blue Palace sebagai asisten chef rendahan." Emily membuka suaranya.
"Tutup mulut mu wanita murahan tak tau diri, mulut busuk mu tak pantas menyebut nama kekasih ku." Ucap Satria lantang menunjuk ke arah Emily.
"Satria ! Kenapa kata katamu kamu kasar sekali pada Emi ?" Protes Diana merasa anaknya keterlaluan memperlakukan calon menantu kesayangannya.
"Kau, Mulut mu semakin lancang dan berani setelah berpacaran dengan wanita pantry itu?" Geram Emir mencengkram keras mulut Satria dengan satu tangannya.
"Melody, ayah,,, nama kekasih ku MELODY !" Satria bahkan sengaja mengeja nya.
"Kau ! Pengawal...! Kurung dia di kamar, jangan sampai dia kabur sampai acara pernikahannya besok !" Teriak Emir memanggil beberapa bodyguard yang selalu siap berjaga di rumah mewahnya.
Beberapa orang berperawakan tinggi besar dan memakai pakaian serba hitam membawa paksa tubuh Satria yang babak belur karena di siksa Emir ayahnya.
Rika dan Emily tersenyum penuh kemenangan, hanya tinggal selangkah lagi mereka akan menjadi iastri dan mertua dari salah satu pemilik perusahaan terbesar di negara ini.
Bayangan uang yang berhamburan, tubuh yang di hiasi penuh dengan berlian, mobil dan rumah mewah, kini menari nari di pelupuk mata dan kepala mereka.
Sungguh perjuangan dan kerja kerasnya selama bertahun tahun akhirnya membuahkan hasil, tak peduli walau akhirnya mereka harus menempuh jalan pemaksaan, karena Satria sudah tak mau melakukannya secara sukarela.
*Othor tarik nafas dulu sebentar,
kakak kakak nge like dulu sebentar,
ninggalin jejak di komentar juga boleh,
__ADS_1
besok di lanjut lagi ya,
semoga kita semua sehat dan panjang umur....*