BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Kebohongan


__ADS_3

Satria langsung menuju ke rumah orang tua Melody di Bandung.


Apapun yang akan di lakukan Malik padanya nanti, dia akan menerimanya, yang penting dia harus bisa memastikan kalau Melody ada di rumahnya dengan aman dan selamat.


"Permisi..." Satria mengetuk pintu rumah yang terlihat sudah sepi itu, padahal hari belum begitu larut, masih jam 7 malam.


Anita yang membukakan pintu dari dalam sangat terkejut mendapati Satria nekat datang ke kediaman mereka.


"Nak Johan, ada apa?" Nalurinya sebagai seorang ibu merasa ada yang tidak beres terjadi pada anak gadisnya, sampai laki laki ini nekat datang ke rumah.


"Tante, apa Melody si sini?" Tanya Satria gugup.


"Melody ? Bukankah dia di Jakarta, tapi ada apa dengan Melody ?" Anita mulai panik dan histeris.


Suara histeris Anita mengundang Malik untuk datang menghampiri mereka ke pintu utama,


"Kau, mau apa kau datang kesini ?" Hardik Malik saat melihat wajah Satria tampak dibalik pintu yang terbuka lebar.


"Maaf Om, saya hanya mencari Melody." Ucap Satria sopan.


"Untuk apa kau berpura pura mencari Melody kesini, bukankah kau tau dia sudah tak mungkin ke sini lagi, ?" Malik ber api api.


"Tapi Melody di bawa pergi paksa oleh Azta, Om ! Saya hanya memastikan apa dia membawa Melody ke sini atau tidak." Ucap Satria.


"Tentu saja Azta akan membawa Melody kesini, karena mereka akan segera menikah." Malik tersenyum sinis.


"Tapi Om, Melody pacar saya, saya akan melamarnya secara baik baik dan akan meminta restu dengan cara yang benar pada Om dan tante, karena Melody hanya akan setuju menikah dengan saya apabila Om dan Tante mengijinkan." Papar Satria panjang lebar.


"Jangan mimpi ! tentu saja kami tak akan mengijinkan sampai kapan pun !"


"Tapi kami saling mencintai, Om." Jelas Satria.


"Kau memang benar benar tak tau malu, sudah beristri masih ingin melamar putri ku, cari mati kau ! " Umpat Malik kesal.


"Saya belum menikah Om, demi Tuhan saya masih single !" Satria mengeluarkaan kartu identitasnya dari dompet, dan di sodorkan ke arah Malik.


Namun Malik tak bergeming, dia tak berkeinginan sedikitpun untuk melihat apa lagi menerima kartu identitas diri Satria itu.


"Satria Kaisar Hamzah ?" Anita yang menerima kartu itu melihat ke arah kartu identitas dan wajah satria bergantian, dia menyamakan wajah laki laki di hadapannya dengan foto yang ada di kartu identitas di genggamannya.


Malik langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangan istrinya yang sedang memegang kartu identitas diri Satria itu.


"Saya Satria Om, saya belum menikah, dan saya sangat mencintai putri Om." Ucap Satria lugas.


"Lalu Johan ? Siapa Johan ?" Tanya Malik kebingungan.

__ADS_1


"Saya Om, ini KTP saya, saya yang baru saja menikah." Johan memberikan kartu identitas dirinya.


Kini dua kartu identitas diri itu berada di genggaman kedua tangan Malik.


Malik melihat dan membacanya dengan seksama dan sangat teliti, sesekali pandangannya mengarah ke wajah Satria dan Johan, lalu memandangi dua kartu itu lagi.


"Masuk dan duduk dulu Nak," Ajak Anita mempersilahkan Satria dan Johan masuk ke dalam rumahnya.


Malik pun tak protes dengan ajakan istrinya pada kedua laki laki itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, dan kenapa kalian bisa bertukar nama ?" Tanya Malik yang sekarang sudah bergabung duduk bersama Anita, Satria dan Johan di ruang tamu rumah itu.


"Kami tidak bertukar nama, dari awal hanya sebuah kesalah pahaman saja." Satria menceritakan awal kesalah pahaman dirinya jadi di kira bernama Johan, mulai dari Melody yang mengiranya Johan saat dia ketakutan karena di kejar Azta sampai apartemen, saat Azta meninggalkan Melody di Lembang dan tak sengaja bertemu dengannya, sampai kejadian tadi siang di Mall saat Melody di seret paksa Azta masuk ke dalamobilnya.


Satria juga memperlihatkan rekaman cctv Mall yang sudah dia simpan di ponselnya.


Malik berulang kali mencoba menghubungi Azta, tapi hasilnya nihil, karena ponsel Azta tidak aktif.


***


"Kak Azta, aku lapar, " Rengek Melodi memegangi perutnya yang sebetulnya tidak lapar sama sekali, dia hanya ingin mencari kesempatan agar bisa melarikan diri dari Azta.


Sudah berjam jam lamanya Azta hanya mengajaknya berputar putar tanpa tujuan di Bandung.


Melodi sampai lelah bertanya pada Azta akan di bawa kemana dirinya sebenarnya, karena Azta tak menjawabnya.


Mobil Azta berhenti di depan sebuah rumah sederhana.


"Ini rumah siapa ?" Tanya Melody saat memasuki rumah itu.


"Sudah lah, tak perlu banyak bertanya, untuk sementara kita tinggal di sini dulu.." Ucap Azta sambil memastikan semua pintu dan jendela terkunci, sehingga tak ada kesempatan Melody untuk melarikan diri dari rumah itu.


"Ini rumah kalian?" Tanya Melody saat melihat sebuah bingkai kecil di atas meja di pojok ruangan, terlihat foto Nirel bersama wanita bernama Moza itu.


"Ini rumah Moza. Tenang saja dia masih di Jakarta, tak akan pulang kesini kalau belum aku suruh pulang." Ujar Azta acuh.


"Kak Azta, kenapa kakak jahat banget sama anak dan istri kamu sendiri ?"


"Moza bukan istri ku, harus berapa kali aku bilang, aku belum pernah menikah seperti si Johan pacarmu itu !" Teriak Azta emosinya mulai naik lagi.


Pikiran Melody melayang memikirkan Satria, dia sungguh merindukan kekasihnya itu, Melody lebih memilih melamunkan Satria dari pada meladeni kemarahan Azta.


"Lebih baik kamu masak untuk makan malam kita, bukan kah tadi kamu bilang lapar ? Di dapur sepertinya banyak bahan makanan." Titah Azta.


"Aku sudah tidak berselera makan lagi aku lelah." Ucap Melody malas.

__ADS_1


"Ody, kamu harus percaya, aku selalu menyayangi kamu." Azta mendekati Melody yang sengaja duduk agak jauh dari tempat Azta duduk,


Azta mencoba merangkul bahu Melody.


"Kak Azta ! Jangan macam macam," Melody menepis kasar tangan mantan tunangan nya itu dari bahunya.


Melodi berdiri dan menjauhkan diri lagi dari Azta, dia tak ingin berdekatan dengan laki laki gila itu.


Beberapa menit setelah Azta menghidupkan ponselnya yang sengaja di matikan dari tadi, Azta terlihat tertawa puas saat membaca pesan di ponselnya.


"Lihatlah, papa mu sudah tak sabar ingin menikahkan kita berdua, berkali kali dia menelpon dan mengirimi ku pesan." Azta tersenyum puas.


"Apa maksud nya ?" Heran Melody.


"Papa mu berjanji akan menikahkan kita bila aku berhasil membawa mu pulang ke rumah papa mu." Jawab Azta masih dengan senyumnya.


"Tidak akan pernah ! Aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai, dan itu bukan kamu !" Ketus Melody membangkitkan kembali percikan amarah di hati Azta.


"Cukup ! Kamu keterlaluan, kamu harus di hukum." Azta menarik paksa Melody, dan memasukannya ke sebuah kamar, lalu menguncinya dari luar.


Berulang kali Melody berteriak dan menggedor pintu minta untuk di bukakan, tapi Azta seolah menulikan telinganya.


Tenaga Melody rasanya sudah habis karena terus berteriak dan menggedor pintu, tapi tak membuahkan hasil apa pun.


Melody kini hanya bisa pasrah menunggu Azta berbaik hati membukakan pintu kamar untuknya.


Melodi mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan, sebuah kamar yang tak terlalu luas, tapi terlihat bersih dan rapi, matanya tergelitik untuk melihat bingkai foto yang ada di atas nakas sebelah kanan ranjang.


Nampak foto Azta bersama wanita bernama moza itu memakai seragam SMA dan sedang berpose mesra berdua.


Sebuah album foto juga tergeletak di samping bingkai itu, Melody mulai membuka lembar demi lembar album foto itu.


Di beberapa halaman awal di hiasi foto foto lucu Nirel saat bayi dan saat masih balita, anak itu terlihat cantik dan menggemaskan, perpaduan antara wajah Azta dan wanita itu berkolaborasi menghasilkan wajah cantik Nirel.


Ada sebuah foto di akhir halaman yang membuat Melody ternganga kaget, bagai mana tidak, disana terlihat foto Nirel yang sedang di apit oleh ayah dan ibunya Azta, mereka bertiga tersenyum bahagia.


Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa semuanya seakan menutup nutupi masalah ini, bahkan orang tua Azta pun tau tentang Nirel.


Melodi sungguh tak mengira, tak hanya Azta yang membohonginya selama ini, tapi ayah dan ibunya Azta yang selama ini selalu baik padanya pun ternyata ikut menyembunyikan kebohongan besar ini.


* Akhirnya bisa double up lagi...


Mau sedikit promosi nih kak, intip dan ramein cerita baru othor yuk.. hehe


Semoga kakak semua bahagia selalu ...

__ADS_1



__ADS_2