
"Kenapa?" Tanya Satria saat melihat Melody yang kini duduk menjauhinya dan hanya menundukkan kepalanya seolah tak ingin melihatnya setelah kejadian barusan.
"Kamu marah? Kamu kecewa sama apa yang sudah terjadi sama aku dan Emily?" Cecar Satria pada Melody yang masih diam mematung.
Karena Melody tak juga menjawabnya, Satria memegang dagu Melody pelan dan mengangkatnya hingga kepala Melody tegap tak lagi menunduk.
"Mbul? Aku salah ya? Kamu boleh marahin aku, tapi jangan diemin aku gitu, please !" Rengek Satria memandang sendu wajah Melody yang masih merona.
Tiba tiba Melody menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, membuat Satria semakin panik.
"Melody,,, please jangan gini, aku minta maaf. Kamu kenapa, aku bingung ?" Satria memeluk Melody yang menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan mungilnya.
" Aku malu....!" Lirih Melodi.
Satria mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuh Melody dari dekapannya, kemudian menjauhkan kedua tangan Melody dari wajahnya yang di sembunyikan.
"Hey, malu kenapa?" Satria tertawa geli melihat raut wajah Melody yang saat ini terlihat lucu karena terus terusan menghindari pandangan matanya.
"Bang Bos ! gak lucu, turun yuk !" ajak Melody menarik tangan Satria.
"Kenapa? Di sini enak pemandangannya bagus, suasananya romantis." Papar Satria.
" Gak mau, di sini banyak setannya." oceh Melody masih menghindari bertatapan langsung dengan mata tajam Satria.
" Setan? Mana ada?" Satria menautkan kedua alisnya.
"Iya, buktinya tadi, kayaknya aku kesurupan setan mesum di sini, jadinya tadi...." Melody menggantung kalimatnya, sungguh dia tak sanggup melanjutkan kata katanya.
Dan seketika tawa Satria pun pecah, sungguh mahluk cantik ini mampu membolak balikan dan menjungkir balikan kehidupan Satria yang tadinya sangat membosankan menjadi penuh warna.
"Tak ada setan di sini, ada juga setan cantik kesayangan ku." Satria merangkul bahu Melody dan mencubit gemas pipi merona itu.
"Maksudnya?" Melody mendongakkan wajahnya mulai berani menatap Satria kembali.
"Kamu setannya, setan cantik yang selalu menghantui hati dan pikiranku setiap waktu." Ucap Satria sambil cengengesan.
"Hueekksss,,, gombal !" Melody pura pura muntah di udara.
"Berarti, kamu sekarang resmi pacar aku ya ?" cengir Satria menagih janji.
"Ih, Bang Bos kayanya bahagia banget, aku sekarang resmi bertitel pelakor." Cebik Melody kesal.
__ADS_1
" Enak aja, kamu tuh the one and only pokokonya di hatiku, cintaku satu satunya." Gemas Satria memeluk Melody dari belakang.
Kebahagiaan menyelimuti mereka berdua, meski mereka pun tak pernah tau mau di bawa kemana akhirnya.
Biarlah setidaknya untuk saat ini mereka merasakan apa yang namanya jatuh cinta, tentang nasib hubungan kedepannya biarkan tangan Tuhan yang bekerja, di samping mereka juga berusaha dan berdoa, agar kebersamaan mereka bisa di pertahankan untuk selamanya.
" Mbul, gak usah berangkat kerja ya, aku mintain ijin ke Bima biar kamu cuti, aku masih kangen banget." Perdebatan dini hari itu terjadi karena Satria yang terbangun saat Melody bersiap siap akan berangkat kerja jam 3 dini hari.
"Bang Bos, memasak adalah hoby ku, hidup ku, jadi please banget jangan larang aku buat bekerja ya !" Ucap Melody memberi pengertian pada Satria pelan pelan.
"Okay inces Mbul ku, aku ngalah. Tapi kamu harus mau aku antar setiap berangkat kerja jam segini dan ku jemput setiap pulang malam." Tegas Satria mengultimatum.
"Gak usah lebay, aku biasa dan bisa sendiri, orang jalan aja gak sampai 10 menit kok." Melody memutar matanya malas.
"Itu hukumnya wajib dan tak boleh di bantah, ingat, berdosa loh melawan suami." Ucap Satria menggerak gerakkan telunjuknya di depan wajah Melody ke kiri dan ke kanan.
"Haish,, suami dari mana, pacaran aja belum ada setengah hari, udah gitu pacar rahasia lagi, ngaku ngaku suami." Cebik Melody yang lalu pergi keluar karena dia hampir terlambat bekerja.
Satria mengekor kekasih gelapnya itu di belakangnya.
"Aku berangkat kerja dulu ya, kamu nanti kerja juga kan," Tanya Melody saat akan turun dari mobil Satria yang mengantarnya bekerja.
"iya, aku kerja, yang penting kiss dulu" Satria memonyongkan bibirnya.
Hari itu Melody bekerja dengan ceria, senyuman tak pernah lepas dari bibir merahnya.
Sampai jam kerja selesai pun Melody tak menyadarinya saking menikmati hari ini.
Melody keluar dari pantry hotel masih dengan wajah yang sumringah, tapi Bu Maya mengejarnya dan memanggil namanya.
"Melody, tunggu ! Kamu di tunggu Bos Bima di ruangannya." Ucap wanita berkaca mata itu.
Melody hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih tanpa ingin berbasa basi terlalu lama dengan Bu Maya.
Dia berjalan menuju ruangan presdir, hatinya bertanya tanya, ada apa Bima memanggilnya.
Untuk kali kedua Melody berdiri di depan pintu tinggi besar milik ruangan presdir itu, dia mengetuk pintu, lalu suara Bima terdengar mempersilahkan dirinya untuk masuk.
"Selamat siang chef, eh Bos !" Sapa Melody yang masih terbiasa memanggil Bima chef.
Bima hanya tersenyum dan mempersilahkan Melody untuk duduk di sofa yang dulu dia pernah tidur di atasnya, kilas balik memory tentang malam itu berseliweran di kepala Melody, karena kejadian malam itu yang membuat dirinya menjadi akrab dengan Satria.
__ADS_1
"Ada apa? apa yang lucu?" Tanya Bima heran melihat Melody yang senyum senyum sendiri sambil memandangi sofa yang ada di ruang kerjanya.
Namun tiba tiba Satria muncul dari balik pintu di susul oleh Johan di belakangnya.
"Mungkin dia punya kenangan manis di sana" Goda Satria dengan senyum manisnya.
"Bang bos, kenapa ada disini? Kan Bang Bos dan Mas Johan sudah tak bekerja disini." Melody terperanjat kaget.
"Aku bebas bekerja di mana saja, bahkan memanggil mu kapan saja." Ucap Satria santai.
" Berarti yang manggil ku kesini itu, kamu?" Melody melirik tajam ke arah Satria yang kini berdiri di sebelahnya.
"Aku kangen," Bisik Satria membungkukkan badannya tepat di telinga Melody, yang kontan saja sukses membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika.
Melody hanya mendesis sambil melebarkan matanya ke arah Satria yang tidak bisa menahan dirinya.
" Kenapa, malu? Johan dan Bima sudah tau tentang kita." Sambung Satria santai mengecup kening Melodi.
"Gak ada orang disini, anggap aja aku dan Mas Johan itu tumpukan dokumen tak berguna !" teriak Bima kesal melihat tingkah sepasang kekasih baru di hadapannya.
"Maklum, abege tua baru mengenal cinta!" ledek Johan.
Tentu saja ledekan mereka membuat wajah Melody panas dan memerah seketika.
Satria memang memberi tahu perihal hubungannya yang baru di resmikan dengan Melody semalam itu pada Johan dan Bima, kalau untuk Johan, memang dari dulu tak pernah ada satu hal pun yang di rahasiakan tentang hidupnya, kalau Bima, ini karena dia mau tidak mau harus memberi tahu, karena kedepannya Satria akan sering menemui Melody di Blue palace, dan dia pasti butuh bantuan Bima.
" Jadi gini, karena minggu depan Johan akan menikah di Banyumas, aku ingin kamu ikut kesana juga, kamu juga ingin hadir di pernikahan Johan kan?" Satria membuka pembicaraannya.
Dan di jawab dengan anggukan kepala Melody.
"Tapi, apa gak jadi masalah nantinya?" tanya Melody mengingat Emily yang juga pasti hadir di sana, dan pasti akan mencari cari masalah dengannya seperti biasanya setiap mereka berremu.
"Tenang saja, kamu datang sebagai pasangan ku." cengir Bima yang langsung di pelototi Satria sang kakak.
"PURA PURA!" Bentak Satria ketus.
"Iya, posesif amat !" Jawab Bima.
Pembicaraan tentang mereka yang akan datang menghadiri pesta pernikahan Johan pun berjalan lancar dan terencana dengan matang, Satria pamit keluar karena menerima panggilan telepon dari klien nya, Bima sedang ke toilet yang ada di ruangan kerjanya, tinggalah Johan dan Melody menikmati sisa sisa makanan yang tadi mereka pesan di restoran hotel untuk mereka ber empat makan.
Tiba tiba pintu di buka dengan kasar tanpa di ketuk terlebih dahulu,
__ADS_1
" Oh, begini ya kelakuan perempuan murahan tak tau diri kalau sedang berpacaran, menjijikan!" Emily tanpa basa basi langsung memaki Melody yang sedang asik mengobrol dengan Johan.