BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Suara Hati Satria


__ADS_3

" Apa kalian akan disini sampai besok, dan tak berniat pulang?" Suara seorang laki laki mengagetkan mereka.


" Chef Bima?" pekik Melody pelan, dia kaget, kebersamaannya dengan Satria di pergoki juga oleh salah satu orang hotel.


" Kenapa? kaget ? hebat juga kamu, orang baru tapi sudah bisa menjerat dua petinggi Blue Palace sekaligus !" Sinis Bima.


" Apa maksud Chef ?" lirih Melody.


" Di saat kekasih mu Johan, keluar kota karena mengurus pernikahannya, sekarang kau berhasil menggoda presdir? ternyata, sepertinya bakat mu tidak cuma hebat di dapur, tapi juga hebat memuaskan para lelaki di kasur.!" Cibir Bima dengan pandangan merendahkan.


" A- apa ?" Melody terhenyak mendengar ucapan Bima yang di tujukan padanya.


" Tak usah berpura pura polos di hadapanku ! aku tau kau berhasil merayu presdir sampai dia mau menginap di apartemenmu sementara Johan tak ada di sana!" Kata kata Bima sungguh melukai harga diri Melody, matanya yang sejak tadi berkaca kaca, kini meneteskan buliran buliran bening yang meluncur sempurna di pipi mulusnya.


" Bima cukup ! kamu keterlaluan !" Satria mencengkram kerah Bima, kepalan tangannya mengayun, namun tertahan di udara saat akan sampai di kulit wajah laki laki di hadapannya itu.


" Mau memukul ku ? oh, apa yang sudah di berikan wanita ini padamu, sampai kamu bisa berubah seperti ini, kak ?" Tantang Bima.


" Kak ?" Melody membeo,


" iya, presdir yang kamu kencani sekarang ini adalah kakak ku, dan Ririn yang tunangannya kau pacari juga sepupuku, puas kamu !" bentak Bima dalam marahnya,


" Apa yang kau cari, huh? uang ? atau sekedar kepuasan?" Sambung Bima seakan belum puas merendahkan Melody yang semakin ter isak.


" Kau keterlaluan Bima !" Satria meninggalkan Bima yang masih di penuhi emosi, dia mengejar Melody yang berlari ke luar gedung.


Sayangnya, saat Satria menyusul Melody ke luar gedung, Melody sudah menaiki taksi dan pergi sebelum dia berhasil mengejarnya.


" Aahh...! siaaal, Bima, !" Satria kembali memasuki convension hall, dia menggeram kesal, entah kenapa dadanya terasa sesak saat melihat Melody menangis di hadapannya tadi.


" Sadarlah kak, biarkan saja wanita itu pergi, kalau perlu pecat segera dia dari hotel, dia bukan wanita baik baik," Bima mendekati Satria yang berjalan gontai di pintu masuk gedung.


" Diam lah, kau sudah salah paham, kau akan sangat merasa bersalah bila tak segera meminta maaf padanya." Satria memejamkan matanya dan menarik lalu membuang nafas dalam, meredam emosi yang memuncak.


" Masih saja, melindungi wanita itu,cih !" ketus Bima.


" Bima,,, Melody tak ada hubungan apa apa baik dengan Johan ataupun dengan ku, KAMU SALAH PAHAM !" geram Satria dengan suara tertahan.


" Semua orang di hotel sudah tau, kalau dia itu selingkuhan mas Johan, bahkan mereka mengakui hal itu pada Bu Maya, dan sekarang malah merayu mu kak, bahkan kamu sampai tak pulang demi menghabiskan waktu bersama dia di apartemennya." keukeuh Bima.

__ADS_1


" Aku sakit, dia hanya ku suruh untuk merawatku." Ucap Satria lirih.


" Lalu kalau kakak sakit, kenapa harus pulang ke tempatnya ? seolah tak punya keluarga saja !" Sinis Bima


" Keluarga ? kalian, keluargaku apa ada yang peduli dengan ku? sehatkah aku? sakitkah aku? lelahkah aku ? bahagiakah aku ? apa kalian tau?" tanya Satria dengan nafas memburu.


" Bukankah masih ada kak Emily?" potong Bima.


" Cih,,,! kalian sama saja, ayah hanya menuntutku untuk kerja, kerja, dan semua hal tentang pekerjaan, tanpa pernah memberi apresiasi atas pencapaian ku, baginya apa yang aku lakukan untuk perusahaan selalu saja kurang. Ibu, dia hanya menuntutku untuk segera menikah, punya cucu, memaksaku menikah dengan Emily tanpa pernah bertanya bagaimana perasaan ku padanya, dan Emily,,,yang dia tau hanya meminta uang, mengajak belanja, tanpa pernah memberi ku perhatian sedikit saja, buatku yang lelah." keluh Satria mengeluarkan unek unek yang selama ini di pendamnya.


" Dan kamu,,, kamu egois, tak pernah sedikitpun ingin membantu perusahaan walau aku kerepotan dan kelelahan, kamu hanya menjalankan hidup sesuai keinginanmu, sesuai hoby mu, idealis mu, kamu ingin menjadi chef, aku turuti, ingin bermain musik klasik,,, aku dukung, kamu bahkan tak tau kan, aku menonton pertunjukan mu meski masih dalam keadaan sakit?" Satria terduduk di lantai, badannya seakan seringan kapas setelah mengeluarkan beban yang selama ini menghimpit dadanya.


Bima membisu, dia baru menyadari beban yang di pikul kakaknya sungguh berat, sementara dirinya yang egois, hanya menjalankan semua hobynya,kesenangannya, tanpa mau tau dan peduli dengan perusahaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya juga, bukan hanya menjadi tanggung jawab Satria, sang kakak.


" Bang bos,,,!" Melody tiba tiba sudah berdiri di hadapan Satria yang duduk di lantai sambil tertunduk lesu.


" Melody, kamu kembali?" Satria mengangkat wajahnya menengadah menatap wajah teduh Melody yang seakan memeluknya hangat.


" Baru jalan beberapa meter, aku inget tas, dompet dan kartu akses apartemen ketinggalan di mobil." ucap Melody pelan.


" Ayo pulang bersamaku, sekalian tolong setirin ya, sepertinya aku demam lagi." Satria tersenyum manis.


" haha, untung masih deket, gimana kalo kamu sadarnya saat sudah nyampe apartemen mu.?" Satria mengulurkan kedua tangannya meminta bantuan Melody untuk bangun dari duduknya di lantai.


" Ish, pak tua ! awas encok !" goda Melody, di sambut gelak tawa Satria.


setelah membayar taksi yang tadi di tumpangi Melody, mereka berjalan ke basement meninggalkan Bima yang tak lepas memandangi kakaknya bersama Melody.


Belum pernah Bima melihat wajah Satria se bahagia itu, bahkan saat kakaknya sedang bersama Emily. Melody mampu membuat sinar mata Satria terpancar penuh kebahagiaan.


" Biar, aku saja yang mengemudi,!" Bima menyambar kunci mobil dari tangan Melody, dan duduk di balik kemudi mobil Satria.


Melody diam tak melawan sedikitpun, dia berdiri di samping mobil sambil tertunduk.


" Tolong Bim, aku lelah, aku ingin istirahat, biarkan aku dan Melody pergi." lirih Satria.


" Aku akan mengantar kalian, hey, kau masuklah!" Bima melirik ke arah Melody, seraya menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Melody masuk ke dalam kursi penumpang, setelah Satria mengangguk dan mengisyaratkan dirinya untuk ikut masuk.

__ADS_1


Tak ada satu orang pun yang membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan menuju apartemen Seruni, tempat dimana Melody tinggal. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


' Bang bos, ternyata hidup mu sungguh berat, aku tak menyangka kalau kamu ternyata berperan menjadi lilin sepanjang hidupmu, berkorban demi orang orang di sekitarmu agar tak kegelapan, maafkan aku yang pernah berprasangka buruk terhadapmu.' ucap Melody dalam batinnya, setelah dia mendengar pertengkaran antara Satria dan Bima, dan mendengar ungkapan hati Satria,tadi. dia merasa iba dengan apa yang di alami bosnya itu, ternyata di balik sikap arogan dan tempramen nya terdapat luka dan kesakitan di hatinya.


" Kamu pulanglah Bim, aku masih akan tinggal di tempat Melody, senin aku akan pulang." Ucap Satria saat mereka sudah sampai di loby apartemen.


" Boleh aku ikut ke tempat mu? aku ingin numpang ke toilet." Bima menoleh ke arah Melody, dan di jawab dengan anggukan kepala Melody.


Satria seperti biasa duduk di sofa ruang tengah, Bima sedang membersihkan diri di toilet kamar tamu yang Satria tempati, lalu Melody, setelah berganti pakaian, dia menyiapakan makan malam yang terlambat untuk mereka ber tiga.


" Sini, makan dulu Bim, Melody sudah membuatkan kita makan malam." ajak Satria dari ruang makan, saat melihat Bima yang sudah segar.


" Kak ? kamu makan sup ayam?" kaget Bima mendekati Satria yang sedang asik memakan semangkuk sup ayam.


" Biasa aja ekspresinya, gak usah gitu banget !" Satria masih serius dengan sup nya.


" Heh, kau,,! resep apa yang kau pakai untuk memasak itu, kenapa kakak ku jadi mau makan makanan yang tak sukainya semenjak kecil?" Tanya Bima pada Melody yang duduk terdiam di meja makan.


" Resep cinta, ya kan?" goda Satria tersenyum ke arah Melody.


" Ish, Bang Bos, jangan mancing mancing deh, nanti chef Bima murka lagi." Melody mendengus malas.


" Haha,,, sini Bim duduk dekat ku, aku akan menceritakan kebenaran tentang gosip yang beredar mengenai masalah Melody dan Johan, juga tuduhan mu tentang hubunganku dengan Melody." Satria menarik kursi di sebelahnya, agar adiknya itu duduki.


Secara perlahan dan panjang lebar, Satria menceritakan awal mula perjumpaannya dengan Melody di apartemen Johan, tentang Azta dan Maya, tentang kesalah pahaman dirinya di awal perjumpaannya dengan Melody, lalu tentang Melody yang menemukan dirinya dalam keadaan pingsan karena kelelahan bekerja, lalu merawat dirinya, semua Satria ceritakan dengan mendetail sampai Bima paham dan percaya dengan apa yang di katakan kakaknya itu.


" Aku minta maaf, sudah berkata jahat padamu." Lirih Bima menatap Melody.


" Iya chef, tak apa, aku sudah memaafkannya." jawab Melody tulus.


" Terimaksih, panggil namaku saja, kita sepertinya seumuran." ucap Bima.


" Oh iya Melody, ini sudah jam dua belas malam, boleh kan aku ikut istirahat disini, bukankah kita harus berangkat kerja setengah empat pagi nanti," Pinta Bima.


" Ah, tentu saja boleh, chef- eh Bim, silahkan." Melody tulus.


" Ah iya, sampai lupa, suami pengangguran ini harus mengantar istrinya bekerja nanti subuh !" celoteh Satria.


" Suami pengangguran? siapa?" Bima bingung, dia tak mengerti apa maksud dari perkataan kakanya barusan.

__ADS_1


" Bang bos,! diamlah !" Melody dan Satria terbahak bersama, karena hanya mereka yang mengerti apa maksud yang di katakan Satria.


__ADS_2