
" Bagaimana perasaan mu padaku? apa kamu menyukaiku juga atau....?" Satria tak berani meneruskan kata katanya.
" Apa harus banget aku jawab?" cengir Melodi.
" Mbul ! aku penasaran, please jawab" mohon Satria.
" Bang Bos pengen aku jawab apa?" Melodi mengernyit.
" Ya, Jawab apa yang sebenarnya kamu rasakan padaku." Satria penuh harap.
" gila, aku di suruh mengungkapkan isi hatiku pada calon suami orang ?" pekik Melody membelalakan matanya.
Melodi bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Satria padanya.
Apa dia harus jawab sebenarnya dia menyukai laki laki milik perempuan lain itu, laki laki yang sudah mempunyai calon istri itu ?
Atau malah dia harus menyangkal dan berbohong dengan mengatakan kalau sebenarnya dia tidak punya perasaan apa apa pada Satria yang jelas jelas sudah berhasil merebut hati dan perasaannya.
" Mbul, gak usah di jawab deh, aku belum siap di tolak sama kamu." Satria melangkah menuju ruang tengah lalu merebahkan dirinya di sofa, tubuh, hati dan pikirannya sungguh lelah, dia merasa tak sanggup menerima kenyataan bila ternyata cintanya pada Melody hanya bertepuk sebelah tangan.
Biarlah, lebih baik dia tak pernah tau bagaimana perasaan Melody terhadapnya yang sebenarnya, yang terpenting dia sudah mengungkapkan isi hatinya pada Melody, dan dia akan memperjuangkan perasaannya sampai kapanpun, adapun masalah Emily, dia yakin Tuhan akan memberinya jalan terbaik.
" Bang Bos," panggil Melody saat mendekati Satria yang ternyata sudah terlelap di sofa empuk itu.
' Sepertinya dia sangat kelelahan, apa perasaan ku salah mencintai laki laki ini ? apa yang terjadi antara Satria dan Emily, sampai Satria harus tetap menikahi wanita itu meski dia selalu bilang tak pernah mencintai Emily?' tanya Melody dalam hati saat memandangi wajah lelah Satria yang terlelap.
" Selamat tidur, kekasih orang !" ucap Melody lirih, meninggalkan Satria di sofa ruang tengah itu setelah sebelumnya dia mengelus lembut rambut lelaki tampan itu.
Karena dirinya pun merasa lelah juga, akhirnya Melody ikut terlelap di sofa seberang Satria.
Tak terasa hari mulai gelap, Melody terbangun dari tidurnya, saat melirik sofa tempat Satria tadi tertidur, ternyata dia sudah tak ada di sana, bahkan badannya sudah di tutupi selimut yang tebal dan lembut, sepertinya tadi Satria menyelimutinya.
"Sudah bangun Mbul?" Tanya Satria yang berjalan ke arah nya dengan dua buah plastik besar berlogo ayam cepat saji di tangannya.
" Kok, kamu ikut ikutan tidur di sofa ?" sambung Satria.
"Aku gak tau kamar mana yang boleh di pake aku." Melody masih terkantuk kantuk dengan badan yang masih menyender ke sofa yang nyaman itu.
" Semua kamar boleh kamu pake, pilih aja yang mana yang kamu suka." jawab Satria sambil menata beberapa makanan yang dia bawa di meja makan.
" Kalau gitu, aku mau pilih kamar yang di dekat tangga itu saja, aku malas kalau kamar di lantai atas, cape naik turun." ucap Melody, padahal penthouse itu di lengkapi lift sendiri di dalam.
" Boleh, boleh banget malahan." Satria tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Bang Bos !" teriak Melody dari dalam kamar histeris.
Satria menghampirinya dengan senyuman manisnya di bibir tampak menambah ketampanannya.
" Apa sih Mbul, pake teriak teriak segala?" tanya Satria dari ambang pintu kamar.
" Pantesan aku boleh banget milih kamar ini, ternyata isinya barang barang Bang Bos semua," dengus Melody kesal menunjuk lemari yang berisi baju baju Satria.
" iya lah, ini kan kamar ku, isinya ya barang barangku, tapi kalau kamu mau di sini juga, aku gak keberatan kok berbagi kamar dengan mu." Satria senyum menggoda.
" Haish, mau nya !" Melody menggeret kopernya keluar dari kamar itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk memilih kamar tepat di sebelah kamar Satria, hanya ada dua kamar itu yang letaknya di lantai satu, sementara tiga kamar yang lainnya terletak di lantai atas.
" Mbul, mau aku liatin tempat yang bagus banget disini gak?" tawar Satria menghampiri Melodi yang sedang menheluarkan bajunya dari koper lalu memasukan dan menatanya di lemari yang berada di lamr itu.
" Mau, mau " Jawab Melody penuh semangat.
Melody mengikuti langkah Satria sambil membawa makanan di nampan beserta minumannya masuk ke dalam lift.
Ternyata Satria mengajaknya ke roof top, sebuah ruangan luas yang beratapkan langit penuh bintang, satu set meja dan kursi taman berbahan besi warna putih menghiasi ruangan itu dengan manis, tak banyak barang barang disana, hanya ada ayunan besar di sudut ruangan dengan payung raksasa sebagai atapnya.
" indah banget" ucap Melody takjub, melihat pemandangan indah kota Jakarta di malam hari, dengan kelap kelip lampu di setiap sudutnya, gedung gedung pencakar langit yang menjulang pun seakan menambah keindahan pemandangan dari tempat itu, rumah rumah dan mobil di jalanan yang terlihat sangat kecil jika di lihat dari tempat itu.
"Bang Bos, nanti aku taruh tanaman yang banyak di sini ya, di sini juga, terus di sana" tunjuk Melody pada tempat tempat pilihannya untuk di letakkan tanaman.
Satria hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, dia memandangi Melody yang sepertinya sangat bersemangat dan menyukai tempat itu.
Satria menemani Melody duduk di ayunan panjang itu, beberapa saat mereka hanya terdiam tak ada yang bersuara, mereka hanya di sibukkan dengan lamunan nya masing masing.
" Mba Emily pasti sering di ajak kesini ya, tempatnya romantis banget." Melody memandang langit dengan sepotong ayam goreng dan sebungkus nasi di tangannya.
" Belum ada yang pernah di ajak kesini, cuma kamu perempuan pertama yang pernah masuk ke tempat ini, bahkan ibu ku dan Bima saja tak tau kalau aku punya apartemen ini." terang Satria membersihkan beberapa nasi yang tersisa di pipi Melody.
" Kenapa ?" tanya Melody heran.
" Aku ingin tempat ini menjadi tempat rahasia ku, hanya Johan dan kamu yang tahu tempat ini." ujar Satria.
" Kenapa aku?" Melody menatap intens Satria.
" Karena, tempat rahasia paling cocok kalau di tempati bersama wanita istimewa rahasia ku !" Satria mengacak pucuk kepala Melody.
" Hah, Bang Bos pengen jadiin aku kekasih rahasia gitu ?" Melody menggelembungkan kedua pipinya.
__ADS_1
" kita main sephia sephiaan yuk Mbul !" celoteh Satria.
" ih, kekasih gelap dong !" cebik Melody.
" Kekasih gelap yang selalu menerangi jiwaku !" cengir Satria.
" Bisa ae si Bang Bos" Melody tertawa geli mendengar gombalan Satria.
" Bodo amat, pokoknya aku anggap kamu setuju." ucap Satria.
" Setuju apaan ?" Melody bingung.
" setuju jadi kekasih gelap yang selalu menerangi jiwa ku !" ulang Satria.
" ih, pemaksaan, Bang Bos gak pengen tau gimana perasaan aku sama Bang Bos gitu?" tanya Melody.
" Gak, aku gak siap di tolak dan gak siap patah hati." tolak Satria tegas.
" ya udah." Melody melanjutkan makan ayam goreng favorit nya.
Kali ini dia merasa tak bisa menolak perasaan bahagia karena bisa berduaan dengan Satria di tempat se romantis ini.
Biarlah dia menjadi egois dan jahat sebentar saja, karena merasa begitu bahagia bersama kekasih orang.
Tapi bukan kah Satria tidak mencintai Emily?
"Bang Bos, aku mau ngasih penawaran nih, berani gak ?" tanya Melody.
" Penawaran apa?" Satria mengernyitkan dahinya.
" Bang Bos ceritakan apa yang terjadi dengan Mba Emily, kenapa alasan sampai Bang Bos harus menikahi Mba Emily, padahal Bang Bos selalu bilang kalau Bang Bos tidak mencintai Mbak Emily" tantang Melody.
" Kalau aku menceritakan nya, aku dapat apa?" tanya Satria.
" Dapet cinta dari aku hahaha " tawa Melody.
"serius ?" Satria tersenyum hatinya serasa menghangat mendengar kata kata cinta dari Melody.
" Kalau Bang Bos mau bercerita yang jujur dan tak ada yang di sembunyiin, aku bakal balas perasaan Bang Bos, walau hanya jadi sephia mu." Melody benar benar nekat, dia sudah tak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya ingin mengikuti kata hatinya saja.
* Jangan lupa di pencet tombol like nya dan tinggalkan jejak di komen ya kakak,,,, biar kita bisa saling sapa
semoga kakak kakak semuanya sehat selalu....*
__ADS_1