BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Seandainya


__ADS_3

Semalaman Melody tak berani memejamkan matanya barang semenit pun, dia takut Azta berbuat nekat dan melakukan hal hal yang di luar dugaan padanya.


Melodi melirik jam yang menggantung di dinding kamar itu, ternyata waktu sudah jam 8 pagi, dan Azta belum menunjukkan tanda tanda akan mengeluarkan dirinya dari kamar itu.


Setengah jam berlalu, Melody terperanjat mendengar suara kunci pintu di putar dari luar, lalu hendle pintu bergerak dan Azta muncul dari balik pintu yang kini setengah terbuka.


"Maaf, membuat kamu menunggu lama, aku tadi membeli bubur ayam di tempat kesukaan mu, ayo sarapan dulu." Ucap Azta dari ambang pintu, dia tak masuk ke dalam kamar, tapi dia langsung menunggu Melody di meja makan untuk sarapan.


Melodi diam saja tak menjawab, dia lalu berdiri dari tepi ranjang tempatnya duduk semalaman.


"Tolong jelaskan tentang ini !" Ucap Melody saat sampai di meja makan, menunjukkan album foto halaman terakhir yang berisi gambar Nirel yang sedang di apit oleh ayah dan Ibu Azta.


"Sarapan dulu, kamu belum makan dari kemarin siang." Azta menyingkirkan album foto itu di sudut meja makan, lalu menyodorkan satu mangkok bubur ayam sebagai gantinya ke hadapan Melody.


"Aku gak lapar, !" Melody menggeserkan jauh mangkok berisi bubur ayam kesukaannya itu.


"Aku akan menyuapi mu." Azta mengambil mangkok itu dan menyendokan bubur lalu mengangkat sendok berisi bubur itu ke depan mulut Melody yang tertutup rapat.


"Aku bukan anak kecil !" Melody menepis tangan Azta yang memegang sendok itu.


"Maka jangan bertingkah seperti anak kecil, makan lah !" Ucap Azta.


"Aku hanya ingin tau itu, tak ingin makan !" Ketus Melody.


"Apa yang ingin kamu tau lagi ? Kamu sudah mengetahui semua dengan sendirinya." Azta melirik album foto yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya, dia melihat lembar demi lembar, halaman demi halaman, kadang bibirnya membentuk senyuman saat melihat pose lucu putrinya di album itu.


"Kak Azta, banyak hal asing yang aku temukan tentang diri kakak, ternyata kakak bukan seperti yang aku pikirkan sebelumnya." Lirih Melody.


"Aku tau aku menyakitimu, aku tau aku punya sisi gelap, tapi maukah kamu menunjukkan pada ku apa yang harus aku lakukan ? Aku ingin kamu menemani aku untuk menjadi manusia yang lebih baik, aku bisa menjadi baik, bahkan sangat baik bila bersama mu." Azta menatap Melody dalam.


"Aku merasa tidak tau siapa kamu sebenarnya, kamu terlalu asing buat ku, Kak." Melody membuang jauh pandangannya ketika matanya tak sengaja beradu pandang dengan mata Azta.


"Aku masih Azta yang dulu, yang mencintai dan menyayangi mu dari awal kita bersama, tak ada yang berubah sampai detik ini." Yakin Azta.

__ADS_1


"Bahkan orang tua mu menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Ini terlalu menyakitkan." Sinis Melody.


"Aku tau kamu marah dan sakit hati, dan aku penyebab semuanya, tapi ijinkan aku memperbaiki semuanya, bukankah kita saling mencintai ?" Tatapan Azta mengiba.


"Maaf, tapi aku tidak mencintai kamu lagi !" Tegas Melody yang terdengar seperti sambaran petir di telinga Azta.


"Setiap perasaan, setiap kenangan yang kita lalui, kebersamaan yang hampir enam tahun lamanya, senang, sedih, semua hal yang kita lewati bersama apa semua itu tak berarti buat mu ? Semudah itu kamu melupakan semuanya ?" Emosi Azta meluap luap, mengingat kebersamaan nya bersama Melodi yang tak pernah sedikitpun hilang dari memori ingatannya.


"Aku tak mungkin melupakannya seumur hidupku, tak ada seorang pun yang pernah membuatku merasa se bodoh dan se menyedihkan ini, selain kamu, Azta Permana." Sungguh dada Melody saat ini sangat sesak, perih, meratapi nasib dirinya yang terlalu gampang di bodohi oleh Azta selama ini, bahkan oleh keluarganya.


"Melody,,, tolong jangan membenciku, sungguh ini tidak seperti yang kamu pikirkan, kamu belum sepenuhnya mengenalku dengan baik, tolong beri aku kesempatan, aku ingin kita bersama lagi seperti dulu, ayo kita perbaiki semuanya," Bujuk Azta memohon.


"Maaf, aku tidak menginginkan mu lagi, aku bahkan tak ingin mengenal mu lagi .!" Ucap Melody, bersikap tak peduli dengan bujuk rayu Azta.


Azta meremas dan menjambak rambutnya sendiri, dia tak tau lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan Melody bahwa dirinya benar benar masih mencintai dan menyayangi wanita di hadapannya itu.


Dia sadar kalau dirinya sudah sangat menyakiti batin Melody sedemikian rupa, tapi menurutnya itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, keadaan yang memang menjadikan dirinya seolah laki laki paling bajing_an di muka bumi ini.


Bukannya tak ingin menceritakan tentang sisi gelap dirinya dari semenjak dulu, tapi keadaan memang tak memungkinkan untuk dia bercerita pada Melody, belum lagi rasa takut kehilangan yang sangat besar.


Tapi dia juga takut kehilangan Putrinya bila dia tak bisa menerima kembali masa lalunya itu, bagaimana pun Nirel adalah darah dagingnya yang terlahir dari wanita yang pernah sangat di cintainya dulu, jauh sebelum dia kenal dengan Melody.


Walau pun sampai kini dirinya belum bisa memaafkan Moza, wanita dari masa lalunya itu,


meski kenyataannya dia ibu dari putri yang jujur sangat ingin dia sayangi, tapi rasa benci nya pada Moza, bak tebing tinggi di hati Azta yang menghalanginya untuk menyayangi Nirel.


Terlalu banyak hal yang terjadi secara tiba tiba pada diri Azta, membuat dirinya seakan tak bisa berpikir secara rasional, banyak kata SEANDAINYA di kepala Azta,


Seandainya dia masih bersama Moza,,,,


Seandainya perpisahan tidak terjadi pada dirinya dan Moza,,,,


Seandainya Moza tak kembali membawa Nirel yang merupakan darah dagingnya,,,,

__ADS_1


Seandainya dia berani jujur pada Melody,,,,


Tapi itu hanya sebatas andai andai Azta saja.


***


Melody terlihat limbung saat dia akan berdiri dari kursi tempatnya duduk, wajahnya sangat pucat, dari kemarin Melody belum makan apapun, belum lagi semalaman dia tidak tidur.


"Ody...!" Teriak Azta lalu menghampiri dan menangkap tubuh Melody yang hampir terjatuh menyentuh lantai dan kepalanya nyaris menghantam ujung meja yang lancip.


Jantung Azta seakan loncat dari tempatnya melihat Melody yang tiba tiba jatuh pingsan.


Azta membopong tubuh mungil melody ke atas sofa ruang tamu, kepanikan langsung melanda dirinya.


"Ody,,, sayang... bangun.." Azta menepuk nepuk pipi mulus Melody.


Tapi wanita cantik itu tetap terdiam seribu bahasa dengan mata yang tertutup sempurna.


Azta berjalan tak tentu arah di dalam rumah itu, mencari cari cari kotak P3K yang tak tau di letakan di mana, tapi matanya melihat sebotol kecil minyak kayu putih di kamar Nirel, dia segera menyambarnya dan membawanya ke depan.


Melodi masih terbaring lemah di sofa itu, Azta mencoba mengoles kan minyak kayu putih itu di kening dan pelipis Melody, dia juga menaruh botol kecil itu di depan hidung Melody, berharap upayanya membuahkan hasil dan bisa membuat Melody segera siuman.


Tapi sayang, usahanya sia sia, Melody belum mau membuka matanya.


Karena rasa paniknya dan rasa ketakutan terjadi sesuatu hal pada wanita yang di cintainya itu, akhirnya Azta kembali menggendong Melody dan memasukannya ke mobil.


Azta melajukan mobilnya seperti kesetanan, hanya satu tujuannya, dia ingin cepat cepat membawa pujaan hatinya itu ke rumah sakit segera.


Demi tuhan dia sangat ketakutan, apa lagi saat melihat Melody tergeletak tak berdaya di dorong di atas brankar menuju ruang UGD rumah sakit.


'Tuhan selamatkan dia, jangan biarkan hal buruk terjadi pada dia, aku sudah cukup banyak memberinya luka, jangan biarkan dia mengalami hal menyakitkan lainnya.' Jerit Azta dalam hatinya.


*Terimakasih masih di sini mendukung othor,,,

__ADS_1


Semoga kakak semuanya sehat selalu....*


__ADS_2