
"Melody !" Panggil Satria saat kekasihnya itu berjalan menjauh.
Melodi berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Nikah yuk !" Ucap Satria dengan tatapan penuh harapnya.
"Apaan sih Bang," Pundak Melody meremang, mendengar ucapan Satria.
"Aku mau kita secepatnya menikah. Kamu mau kan nikah sama sama aku ?"
"Ish, apa Abang sedang melamarku ? Gak romantis banget !" Melody melanjutkan langkahnya ke dapur, dia memilih untuk tak meladeni ocehan Satria yang jujur berhasil membuat jantungnya berdebar sangat kencang.
Melodi sangat gugup saat ini, padahal ini bukan pertama kalinya dia di lamar seorang pria, sebelumnya Azta pernah beberapa kali dulu mengucapkan hal yang sama seperti yang Satria ucapkan padanya barusan, tapi Melody selalu berkata kalau dia belum siap dan meminta waktu, sehingga mereka memilih untuk bertunangan yang ternyata harus berakhir tragis.
Namun saat Satria mengatakan hal itu padanya barusan, Melody seakan tercekat, tak ada sepatah kata pun yang keluar untuk menjawab pertanyaan Satria itu, yang dia rasakan hanya pundak yang tiba tiba meremang, hati yang menghangat dan perasaan bahagia yang tiba tiba saja hadir dan menyelimuti dirinya.
"Kamu ingin di lamar dengan cara bagaimana, hemh ?" Satria mendekati Melody yang tiba tiba menyibukan diri di depan kompor, Satria memeluk pinggang wanita itu dari belakang dan berbisik tepat di telinga Melody yang semakin gugup di buatnya.
"Aku akan menikah dengan abang, bila Papah dan Mamah merestui kita." Jawab Melody, hatinya kini mulai sedikit perih, dia rindu dengan kedua orang tua yang sangat di sayanginya itu.
"Kenapa menangis?" Satria merasakan sikap Melody yang tiba tiba terdiam, dan saat membalikakn tubuh wanita itu menghadap ke arahnya, benar saja pipi wanita kesayangannya itu basah di aliri lelehan bening dari mata indahnya.
"Kangen mamah..." Melody terisak dan menangis sambil menyembunyikan wajah nya di dada hangat Satria.
Satria menarik nafasnya dalam, dia bisa merasakan kesedihan dan kepedihan yang kini di rasakan Melody, di peluknya tubuh mungil itu, Satria mengelus punggung Melody yang bergetar karena tangisannya.
"Maaf, aku bikin kamu sedih." Ucap Satria pelan, dia mengecupi puncak kepala Melody yang tenggelam dalam pelukannya.
Melodi tak menjawab atau menanggapi apa yang Satria ucapkan, dia hanya terus menangis disana, menumpahkan segala kesedihan hatinya.
"Aku janji akan membuat papa dan mama mu kembali menerima dan memeluk kamu dengan hangat, meski untuk itu aku harus kehilangan kamu." Lirih Satria terbata bata, dia tak ingin kekasih hatinya ini sedih berkepanjangan karena merindukan orang tuanya.
Satria bertekad, dia akan berusaha mempersatukan kembali Melody dengan orang tuanya, sesulit apapun rintangannya.
***
__ADS_1
Di Bandung,
Beberapa hari setelah kunjungannya menemui Presdir EmHa, Azta kini kembali ke Bandung, selain untuk mengurus kembali perusaannya yang selama beberapa hari belakangan sering di tinggal karena harus bolak balik Jakarta mengurus proyek kerjanya di Blue Palace dan juga proyek hatinya, yaitu berusaha mengejar kembali cinta Melody dan merebut hatinya kembali, dia juga tak sabar ingin bertemu dengan Malik, papanya Melody.
Azta ingin mengadukan tentang apa yang dia tau, dia liat, dan dia alami sendiri mengenai Melody dan Satria. Dia yakin kalau saat ini hanya Malik yang bisa di andalkan dan berpihak padanya, setelah harapannya pada presdir EmHa yang dia katakan gila itu pupus.
Azta memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Malik, saat turun dari kendaraannya, terlihat Malik sedang menyemproti tanaman tanaman hiasnya dengan semprotan air di genggaman tangan kanannya.
"Selamat sore, om !" Sapa Azta pada Malik, suaranya menghentikan kegiatan favorit pria tua itu.
"Oh, Azta. Tumben kesini, ada keperluan apa.?" Heran Malik yang mendapati Azta tiba tiba datang ke rumahnya, lama Azta tak bertandang ke rumahnya semenjak Melody bekerja dan tinggal di Jakarta.
"Ada hal yang harus saya bicarakan dengan Om perihal Melody." Ucap Azta.
"Hmm, Melody...." Malik tersenyum sinis, hatinya teriris saat mendengar nama Anak kesayangannya di sebut Azta.
"Ada apa lagi dengan anak itu?" Sambung Malik.
"Melody masih berhubungan dengan Johan, Om. Bahkan meski saat ini Johan sudah menika dan berstatus suami orang." Azta mengompori Malik.
"Tapi Om, kalau di biarkan, itu akan merusak nama baik Om, bagaimana pun Om seorang pejabat yang di kenal banyak orang di sini." Sulut Azta, memancing emosi Malik saat itu.
"Lantas Om harus berbuat apa ? Menyeretnya pulang dan mengurungnya di sini ?" Pekik Malik kesal, entahlah sebenarnya dia hanya kesal pada dirinya sendiri yang seakan tak bisa berbuat apa apa dalam menghadapi masalah anak perempuannya ini.
"Om, saya akan membawa Melody pulang kesini, tapi..." Azta menjeda ucapannya saat Anita mama nya Melody datang dan bergabung bersama kedua pria itu.
"Nak Azta, Tante pikir, Melody bukan perempuan yang seperti itu, dia anak tante satu satunya, tante yang membesarkan dan mendidiknya selama ini. Jadi, tante tidak percaya kalau Melody sanggup berpacaran dengan laki laki yang bersuami." Tegas Diana, telinganya terasa panas saat Azta mengatakan kalau Melody, anaknya menjalin hubungan dengan laki laki yang telah ber istri, hatinya tak dapat terima tuduhan keji yang tertuju pada anak semata wayangnya itu.
"Maaf tante, tapi itu kenyataannya, Johan beberapa hari yang lalu baru melangsungkan pernikahan, tapi saat saya janjian dengan Melody, justru yang datang menemui saya malah Johan, katanya dia di utus melodi untuk menggantikannya menemui saya, bahkan...." Lagi lagi Azta menggantung ucapannya,
"Bahkan apa?" Tanya Malik tak sabar mendengar cerita selanjutnya.
"Bahkan Johan berkata kalau dia akan mempertahankan Melody sampai kapan pun, walau jadi simpanannya saja." Ucap Azta.
"Bajing_an, laki laki itu cari mati rupanya !" Umpat Malik, yang tentu saja membuat hati Azta tersenyum puas dalam hatinya, dia merasa berhasil membuat laki laki tua itu terpancing emosinya.
__ADS_1
Anita mendekati suaminya, mengusap bahu Malik berusaha menenangkan laki laki yang selalu keras kepala dan emosi yang kadang terlalu meledak ledak itu.
"Saya akan berusaha membawa Melody pulang ke sini Om, tapi... Saya minta Om menikahkan kami secepatnya setelah Melody kembali kesini, sekuat dan se berkuasa apapun Johan, kalau Melody telah menjadi istri saya yang sah, dia tak akan bisa berkutik, karena kalau dia masih nekat saya bisa menuntutnya melaui jalur hukum." Bujuk Azta di bumbui penekanan dan sedikit paksaan.
"Bawa dia pulang, Om akan menikahkan kalian !" ucap Malik dengan mata yangbmenyala nyala karena amarah.
"Pah, jangan terburu buru, kita belum tau cerita yang sebenarnya, kita belum tau cerita versi Melody, anak kita." Protes Anita, merasa tak setuju dengan kesepakatan Azta dan suaminya.
"Terburu buru kata mu ? Apa kamu mau menunggu anak kita di permalukan di hadapan semua orang karena mereka mengetahui kalau anak kita seorang wanita perebut suami orang ?" Bentak Malik pada Diana, istrinya.
"Tapi pah,,,"
"Percaya pada saya tante, sebelum semuanya terlanjur jauh. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Melody, saya mencintai Melody, sangat mencintai nya." Azta juga mencoba meyakinkan Diana sang calon ibu mertuanya.
Tapi Diana hanya melengos, dia tak menghiraukan semua perkataan manis Azta.
"Sudahlah, kamu tak usah ikut campur dalam masalah ini, biar aku dan Azta yang mengurus masalah Melody." Ucap Malik dengan keras kepalanya.
"Terima kasih Om, saya akan berusaha membawa Melody pulang secepat mungkin." Kata Azta penuh keyakinan.
"Om percaya pada mu, dan sesuai janji Om, begitu Melody pulang, kamu dan dia akan segera menikah." Malik menepuk nepuk bahu Azta.
Sungguh saat ini Azta merasa sedang di atas angin, merasa mendapat dukungan dari orang yang tepat, bagaimana pun Malik lebih berhak dari siapapun karena dia ayahnya, dan sekuat apapun Johan ingin menikah dengan Melody, itu tak akan terjadi bila Malik tak mau memberikan mereka restu dan menjadi wali dalam pernikahan anaknya.
Kini restu telah di daparkan oleh Azta, tentu saja skor Azta kini lebih tinggi di banding Johan, pikirnya.
Semangat Azta untuk merebut kembali Melody ke pelukannya pun semakin membara, sekarang tinggal memikirkan rencana apa agar dia bisa membawa wanita cantik pujaan hatinya itu pulang ke Bandung.
Tentu saja agar dia bisa segera menikah dengan Melody seperti yang di janjikan Malik padanya bila dia berhasil membawa anaknya kembali ke rumah mereka.
Azta memang pantas berbangga diri, karena usaha kerasnya kini nyaris membuahkan hasil seperti yang dia inginkan.
* Terima kasih masih menemani Melody dan Satria disini,
Di like dulu yuk kakak...
__ADS_1
Semoga kakak semuanya sehat selalu...*