
"Bunda,,,!" seru Nirel saat melihat Moza menyambut kedatangan nya bersama Azta yang mengantarkannya pulang.
"Kenapa pulang sampai sore begini ?" Protes Moza.
"Aku hanya membawanya makan siang, lalu bermain main sebentar, kenapa kau protes ?" ketus Azta.
"Emh, tidak. Aku,,, aku hanya bertanya saja, kenapa kamu marah?" gugup Moza, merasa sepertinya dirinya sudah salah bicara lagi.
"Aku hanya bermain sebentar dengan putri ku, kau sudah protes, sementara kau menyembunyikannya selama bertahun tahun dari ku dan aku tak boleh protes atau marah ?" teriak Azta, dengan amarah yang meledak ledak.
"Aku tak punya pilihan, aku ingin menyelamatkan buah cinta kita," isak Moza menahan tangisnya, karena teringat Nirel masih berada di antara pertengkaran mereka.
"Nirel, sayang, kamu masuk ke kamar mu dulu ya ganti baju, nanti bunda menyusul mu," ucap Moza pada Nirel.
"Kau egois, hanya memikirkan dirimu saja tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku, kau anggap apa aku, masalah sepenting itu kau tak membicarakannya padaku sedikit saja !" cerca Azta.
"Aku kalut, saat itu aku juga takut," lirih Moza.
"Aku bisa berkorban apapun bila saat itu kau bicara pada ku, apa yang kau takutkan, aku sangat mencintaimu saat itu, atau mungkin kau tak yakin bila aku benar benar mencintaimu sehingga kau memilih meninggalkan aku." ucapan demi ucapan Azta sungguh bagai tikaman di ulu hati Moza, perih dan sesak.
"Aku bersalah, dan aku selalu bilang kalau aku bersalah, tapi apa kamu mau mendengar penjelasan ku ? kamu selalu berteriak dan memaki ku, bahkan di depan anak kita, kamu tak memberi ku kesempatan untuk bercerita." erang Moza dalam kesakitan hatinya.
"Apa yang kau inginkan sekarang ? menonton dan menyoraki kehancuran ku karena kehadiran mu kembali ke hidupku ?" tuduh Azta.
"Tidak, aku tidak berniat seperti itu." geleng Moza.
"Kenyataannya kehadiran mu menghancurkan hubungan ku dengan Melody, menghancurkan pertunangan ku, kau tau, hanya dia yang mampu membuatku lupa dengan sakit yang sudah kau beri padaku, lalu tiba tiba kau datang dan menghancurkan hidupku untuk yang kedua kalinya." murka Azta tak dapat lagi membendung amarahnya.
"Bahkan di hatiku tak pernah ada orang lain selain kamu dan Nirel, aku selalu mencintaimu, menjaga cinta kita sampai detik ini, maaf kalau kehadiran ku telah menghancurkan hidupmu untuk yang kedua kalinya. Aku sungguh tak bermaksud seperti itu," sesal Moza.
"Seharusnya sekarang aku sedang berbahagia dengan Melody, andai saja kau tak datang dan merenggut kebahagiaanku," ketus Azta.
"Ya, seharusnya aku berbahagia melihat kamu bahagia dengan Melody, namun sayang, aku tak bisa membohongi hati dan perasaan ku, ternyata aku sakit melihat kalian berbahagia malam itu, aku marah, kenapa hanya aku yang masih mempertahankan perasaan kita, sementara kamu dengan mudahnya berpaling, kenapa hanya aku yang setia, sementara kamu berpindah hati dengan mudahnya !" Tegas Moza mengungkapkan isi hatinya yang tertahan.
"Kau,,, kau sengaja menghancurkan malam pertunangan ku ?" nafas Azta memburu karena marah, tangannya menunjuk wajah Moza, matanya memerah.
__ADS_1
"Ya, aku memang sengaja datang di malam itu, aku pikir aku bisa bahagia jika melihat kamu hancur seperti diriku, tapi melihatmu seperti ini sekarang, hati ku lebih tersiksa, hatiku lebih sakit melihat kamu hancur seperti ini, maaf !" ungkap Moza menyesal.
"Kau... Kau memang wanita jahat," teriak Azta.
Tapi sejurus kemudian Moza memeluk erat tubuh Azta yang sedang di landa Amarah yang meluap luap itu.
"Azta, sayang,,, aku mencintai mu, aku merindukan mu, aku sangat mencintai mu dan tak sanggup kehilangan mu untuk kedua kalinya" ucap Moza terisak di dada Azta yang mematung.
"Moza, aku,,, jangan seperti ini." Azta melirihkan suaranya, dan mencoba mengurai pelukan Moza, tapi tangan Moza semakin erat melingkar di pinggang Azta.
"Aku telah menunggu mu selama lebih dari enam tahun lamanya, untuk bersama mu dan memeluk mu seperti ini, aku tak akan melepaskan mu lagi," ucap Moza seakan menenggelamkan dirinya di dada Azta.
"Moza," lirih Azta, hatinya tiba tiba berdenyut saat menyebut nama ibu dari anaknya itu, denyut yang sama seperti saat delapan tahun yang lalu saat mereka masih berpacaran.
"Aku mencintaimu, aku masih mencintaimu sayang," Moza menyambar bibir Azta, mengecupnya, dia sungguh merindukan laki laki itu, tapi Azta tetap hanya diam tak menolak atau pun membalas ciumannya.
Saat Moza akan melepaskan ciumannya yang tak berbalas dari Azta, tiba tiba Azta menahan tengkuk Moza, Azta membalas dan memperdalam ciuman itu, ciuman Azta yang ganas dan sangat menuntut, tanpa di sadari keduanya, ternyata Azta sudah menggendong tubuh kurus Moza ala koala di depannya dengan tanpa melepas pagutannya.
Azta membawa Moza ke kamar tempat dirinya menyekap Melody saat itu, Azta menurunkan tubuh Moza dari gendongannya dan merapatkan tubuh wanita masa lalunya itu ke dinding.
"Azta, sayang,,, aku merindukan mu," des_ah Moza menggoda, matanya menatap nakal wajah Azta.
"Aku membenci mu, aku sangat membenci mu Moza," bisik Azta penuh penekanan dengan suara serak dan mata sayu berkabut gairah.
Namun sayang, sungguh mulut dan tubuh Azta berbeda pilihan, tubuh azta memilih untuk menjelajahi tubuh wanita di hadapannya.
Bibir Azta mulai merayap menciumi leher jenjang Moza, bahkan tangan Azta dengan cekatan membuka satu persatu kancing depan blouse Moza, sampai dua gumpalan di dadanya hampir ter ekspose sempurna, hanya kain hitam berenda saja yang menutupi separuh kedua benda itu.
Nafas Azta semakin memburu, matanya tak lepas dari dua gundukan penuh di depannya yang sungguh menghilangkan akal sehatnya, membuat dia semakin menggila, dia mengeluarkan benda kenyal itu dari kain hitam berenda yang menghalanginya, lantas dia memainkan benda itu dengan telapak tangan dan jari jemarinya dengan penuh gairah.
Moza yang terhanyut dengan permainan Azta, hanya bisa menikmati ulah laki laki yang berhasil membawanya terbang saat ini, jujur saja Moza sangat merindukan belaiannya, des_ahan dari mulutnya hampir saja keluar, tapi Azta segera membungkam bibir tipis itu dengan bibirnya dengan rakus.
"Ayah,,, Bunda,,, kalian dimana ?" suara panggilan Nirel menghentikan kegiatan mereka di dalam kamar.
"Iya, kami di sini, Nak. Tunggu sebentar" Moza buru buru merapikan blouse yang di pakainya, dan menjauhkan diri dari himpitan Azta.
__ADS_1
Setelah mematut diri di cermin, dia membuka pintu dan menghampiri putri kecilnya itu.
Azta mengusap wajahnya kasar, dia tak habis pikir kenapa dirinya bisa terhanyut dengan suasana dan terjebak dengan perasaan hatinya, bagaimana pun di laki laki normal, tak mungkin dia bisa menghindar dari kejadian seperti tadi, apalagi wanita yang bersamanya adalah wanita masa lalu yang pernah sangat dia cintai.
Sekilas hatinya bertanya, benarkah dia masih mencintai wanita itu, atau ini hanya reaksi dia sebagai laki laki normal saja, benarkah kalau selama ini dirinya masih sangat mencintai Moza, dan masih merindukannya sampai detik ini.
"Aah,,, aku membencinya, aku sudah tidak mencintainya lagi !" gumamnya kesal dengan perasaannya sendiri yang tak bisa dia tebak bagaimana perasaan dia sebenarnya pada ibu dari anaknya itu.
"Aku pulang !" ketus Azta melewati Moza dan Nirel yang sedang duduk di ruang tengah, Azta bahkan tak melirik mereka sedikit pun, hanya berlalu begitu saja.
"Ayah, tunggu" panggil Nirel.
Azta menghentikan langkahnya saat putri kecilnya mengejar dan menarik tangannya.
"Ayah tidak tidur di sini saja ?" tanya anak kecil itu polos.
"Emh, tidak. Ayah harus pulang, banyak pekerjaan yang harus ayah kerjakan" ucap Azta tiba tiba gugup hanya karena di tanya oleh anak kecil.
"Ya sudah, tapi besok ayah kesini lagi, ya !" pinta Nirel.
Azta mengangguk lalu mencium pipi gadis kecil itu.
"Kenapa ayah tidak mencium Bunda juga ?" celoteh Nirel melirik bundanya yang kini berdiri di sampingnya.
"Apa harus seperti itu ?" ketus Azta memalingkan muka.
Tapi lagi lagi tubuhnya menghianati lagi ucapannya barusan, Azta mendekati wajah Moza, mengecup sekilas pipi Moza, seraya berkata,
"Kau masih berhutang kelanjutan yang tadi di kamar, wanita jahat !" bisiknya tepat di telinga Moza.
Moza langsung meremang, pipinya semerah tomat, dia teringat kejadian dirinya dan Azta, barusan di kamar yang terhenti.
Azta melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumah Moza sambil merutuki kebodohannya sendiri.
"Shiiittt,, ! Kenapa aku jarus berbicara seperti itu pada wanita jahat itu, bodoh,,, bodoh,,,!" geramnya sambil mengacak rambutnya sendiri dan menyumpah serapah mulutnya yang lancang berkata seperti itu pada Moza.
__ADS_1
*Maaf kakak kakak, bab ini othor nyeritain Azta sama Moza dulu, biar semuanya selesai, gak ada yang gantung,,, bab selanjutnya orhor cerita Melody sama babang Satria lagi kok.
Sehat sehat semuanya kakak kakak kesayangan...*