
APA, KAK PUTRA !?!" Pekik Satria dan Emily bersamaan saat mendengar Melody memanggil chef Putra dengan panggilan 'Kak Putra' seakan tak percaya dengan pendengaran mereka sendiri.
"Kenapa kamu ikut ikutan kaget?" Tanya Emily yang melihat Satria seperti sama terkejutnya dengan dirinya saat Melody mengucapkan sebutan Kak Putra.
"Ah, itu,, hanya sedikit heran saja, apa mereka itu kakak adik, kok sepertinya gak mirip sama sekali," Kilah Satria mencari cari alasan kebohongan untuk menutupi rasa kaget nya karena panggilan Melody yang cukup akrab pada laki laki asing tadi membuat dirinya di liputi rasa cemburu dan marah sekaligus.
"Apa kamu kenal laki laki tadi itu ? sepertinya tadi dia menyapaku dan menyapamu dengan sebutan nona Emily ?" Tanya Satria, berusaha menyembunyikan apa yang saat ini sedang di rasakan nya.
"Ish, kamu ini, tentu saja laki laki itu menyapa kita, dia salah satu chef di Blue Palace, aku yang tidak bekerja di sana saja tau, kamu bos nya masa gak tau, sih !" Ucap Emily kesal.
"Apa ada peraturan kalau bos harus tau semua wajah dan nama karyawannya, padahal jumlahnya ratusan bahkan ribuan,?" Kesal Satria.
"Lagipula, terang saja kamu banyak mengenal para karyawan ku, setiap hari kamu berkeliaran dan bergentayangan tak jelas di sekitar kantor ku." Sinis Satria mengomentari ucapan Emily tadi yang mengatakan kalu dirinya bos yang tak mengenal karyawan nya sendiri.
Emily hanya memutarkan bola matanya jengah, dia juga terlihat memperhatikan kemana Melody pergi.
Sepertinya dia begitu tertarik dengan kebersamaan Melody dan Putra, sampai seperti sedikit mengabaikan kehadiran Satria di sana.
"Ayo pergi dari sini, aku sudah tak berselera makan lagi." Ketus Satria bergegas pergi dari restoran mewah itu tanpa menunggu Emily yang masih sibuk dengan barang barang belanjaan yang dia bawa sedari tadi.
"Satria, tunggu ! kamu mau kemana lagi setelah ini?" Tanya Emily dengan bersusah payah menyusul dan menyamakan langkahnya dengan Satria yang terlihat seperti tergesa gesa entah apa yang sedang di kejarnya.
"Aku mau pulang." Ucap Satria datar dan dingin.
"Aku ikut pulang dengan mu." Rengek Emily.
"Kamu datang kesini sendiri, ya pulang pun sendiri lah," Satria melengos, seakan enggan pulang bersama Emily, sebenarnya itu karena dirinya berniat mencari Melody dulu dan pulang ke penthouse nya setelah itu.
Satria berjalan memutari Mall itu dengan menajamkan matanya mencari keberadaan Melody, wanita yang kini sangat membuatnya di penuhi amarah.
Berulangkali dia mencoba menghubungi ponsel Melody dan mengirim pesan, tapi tak ada jawaban, bahkan telpon darinya di abaikan Melody.
Kontan saja hati Satria semakin panas di buatnya.
***
Sementara di sebuah warung tenda tak jauh dari Mall itu, Melody dan Putra sedang menikmati pecel lele yang mereka pesan di warung itu.
"Kamu ada masalah apa dengan calon istri Pak Satria?" Tanya Putra setelah dari tadi menahan rasa penasarannya ingin menanyakan hal itu.
"Mba Emily,?" Melody malah balik bertanya.
__ADS_1
"Memangnya Pak Satria punya calon istri yang lainnya selain dia?" Putra tersenyum mendengar pertanyaan konyol Melody barusan.
"Hehe, mana saya tau, kak. Orang berhak untuk menyukai dan membenci saya, saya mah santai orangnya, biarin aja." Ujar Melody cuek, dia tak berminat membahas masalah yang menurutnya tak penting itu
"Oh, mungkin Emily mengira..." Putra tak melanjutkan perkataannya.
"Mengira apa kak,? Melody memandang wajah Putra dengan penuh rasa penasaran.
"Emh, tidak, tidak ! Tapi kenapa kamu melihat aku seperti itu?" Ujar Putra merasa risih karena Melody memandangi wajahnya dengan intens seperti sedang memperhatikan atau menelaah sesuatu pada dirinya.
"Apa Kak Putra mengenal Mba Emily ?" Tanya Melody ragu ragu.
"Ish, pertanyaan mu lucu sekali, tentu saja aku kenal, dia calon istri bos besar kita." Jawab Putra sambil tertawa renyah.
"Bukan itu, maksudnya apa kak putra mengenal secara pribadi dengan Mba Emily, teman sekolah atau apa gitu." Sambung Melody.
"Oh, itu,, tidak. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Sangkal Putra.
"Bukan apa apa, mungkin saya salah lihat," Ucap Melody menepis pikirannya sendiri.
"Salah lihat, maksudnya ?" Putra tak mengerti maksud pembicaraan Melody.
"Ah, lupakan saja, bukan hal penting." Melody mengibaskan tangannya tanda kalau tak usah di bahas lagi.
"Aku antar kamu pulang ya !" Putra menawarkan diri.
"Emh, tidak usah, saya tak mau merepotkan kak Putra, biar saya naik taksi atau ojek on line saja." Tolak Melody halus.
"Ini sudah malam, bahaya bila perempuan pylang sendirian, ayo aku antar saja, apa kamu takut pacar mu marah.? Tenang saja, aku sudah punya pacar, nanti akau jelaskan pada pacar mu kalau sampai dia marah." Goda Putra.
"Haish,, kak putra ini ada ada saja, ya sudah baiklah. Tapi saya gak tanggung resiko ya kalau ternyata pacar Kak Putra yang nanti marah." Melody tergelak.
"Hmm, pacarku itu sudah tau kalau aku cinta mati sama dia, jadi tak mungkin dia percaya kalau aku sanggup berselingkuh darinya." Oceh Putra.
"Wuih,,,, ternyata kak Putra bucin juga ya, beruntung sekali wanita yang menjadi pacar kak Putra itu." Ucap Melody kagum dengan sikap Putra yang sepertinya sangat mencintai pacarnya itu, terbukti dari cara dia bercerita, Putra tak sungkan mengakui kalau dirinya sangat mencintai pacarnya, dan dengan bangga tak menyembunyikan status dirinya yang sudah punya kekasih, padahal kebanyakan pria biasanya mengaku dirinya masih lajang bila sedanga bersama wanita secantik Melody, yah entah sekedar untuk tebar pesona atau menarik perhatian, tapi Putra tidak seperti itu, sepertinya dia laki laki setia.
"Iya, saking bucinnya, aku sampai bersedia merelakan dia pura pura berpacaran bersama pria pilihan orangtuanya." Curhat Putra tanpa sadar.
"Ckckck, Ternyata, selain bucin Kak Putra Sad Boy juga?" Melody mengeleng gelengkan kepalanya.
"Entah lah, aku sangat menyayangi dia lebih dari apapun, kami berpacaran sudah lama semenjak kami kuliah. Tapi ya gitu lah, nasib pacaran back street, orang tuanya gak setuju." Sambung Putra.
__ADS_1
"Malah curcol, tragis amat kisah cintanya kak, yang sabar ya, kalau kalian saling mencintai, pasti ada jalannya." Melody merasa iba dengan kisah cinta Putra dan pacarnya.
"Ya, beruntungnya kami saling mencintai." Putra tersenyum lalu menghentikan mobilnya di depan loby apartemen tempat tinggal Melody.
Setelah berterimakasih dan berpamitan, Melody turun dari mobil Putra yang hanya mengantarkan nya sampai depan loby, itu pun dia tak turun dari mobilnya, karena Melody menolak untuk di antar sampai dalam loby
Melody berjalan memasuki loby setelah mobil Putra pergi menjauh, tanpa di sadari seseorang ternyata mengikutinya semenjak tadi bahkan sampai ikut masuk ke loby apartemen.
Saat dirinya hendak mengeluarkan kartu akses yang biasanya dia simpan di tas nya, agar bisa menaiki lift untuk pulang ke penthouse nya, seseorang mencengkram lengannya sangat keras dan kasar sampai Melody meringis kesakitan di buatnya.
"Auwww !" Pekik Melody kesakitan.
"Hey jal**lang sialan, kau boleh ambil seluruh laki laki di dunia ini untuk kau jadikan pacarmu atau selingkuhan mu atau apapun itu, tapi jangan coba coba kau ganggu Putra, sekali lagi ku lihat kau menggodanya, aku tak segan segan untuk menfhancurkan hidupmu sampai se hancur hancurnya. Ingat itu !" Ucap seorang wanita dengan penuh amarah memperingati Melody yang ternganga kaget dan tak percaya dengan apa yang dia dengar juga lihat saat ini, belum lagi menahan rasa sakit lengannya yang masih di cengkram erat wanita yang seperti kalap dan kesetanan saat berbicara dengan Melody.
Beberapa saat melody hanya bisa terdiam sambil menahan sakit, lalu dia mulai tersadar dan menyesuaikan dengan keadaan saai ini.
"Aku tak ada hubungan apa apa dengan Kak Putra, kami hanya sebatas rekan kerja saja." Melody membela diri, sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan wanita itu.
"Lancang ! Bahkan kau memanggilnya dengan panggilan sok akrab seperti itu ?" wanita itu justru semakin beringas, dia melepaskan cengkraman tangannya di lengan Melody, tapi justru mengangkat tangannya ke udara, tamparannya siap mengayun ke pipi mulus Melody.
Tapi sebelum ayunan tangan itu sampai mendarat ke pipi Melody, sebuah tangan kekar menangkap dan menggagalkan usaha wanita itu untuk menyakiti Melody.
"Apa yang akan kau lakukan pada kekasihku, berengssekk ?!" Ucap suara berat itu menggema di loby yang saat itu sepi.
"Sa- Satria, ? Apa kamu bilang, kekasih?"
Giliran Emily yang kini meringis kesakitan karena tangannya di cengkram Satria dengan kasar.
Ya, wanita yang tadi memaki dan hendak menyakiti Melody itu ternyata Emily.
"Ya, dia, wanita ini, Melody, dia kekasihku. Jangan coba coba mengusik wanita yang aku cintai ini, apalagi sampai berusaha menyakitinya dengan tangan kotormu ini.!" Satria menghempaskan tangan Emily dalam cengkramannya dengan kasar.
"Bang Bos," Lirih Melody, tak tau harus berbuat dan berkata apa saat di posisinya saat ini, di bingung menentukan sikap nya, apa lagi Satria tiba tiba dengan lantang mengatakan dan mengakui kalau dirinya adalah kekasih yang di cintai laki laki itu pada Emily yang jelas jelas calon istrinya.
"Kau, wanita murahan ! Berani beraninya mengambil semua milik ku, awas saja aku akan membalasmu !" Pekik Emily menunjuk wajah Melodi.
"Tutup mulutmu, aku sudah bilang, jangan coba coba berani mengusik kekasih ku kalau tidak kau akan menyesal se umur hidupmu !" Satria membelalakan matanya ke arah Emily yang juga di selimuti amarah.
"Satria, kau yang akan menyesal memperlakukan aku seperti ini, aku akan menghancurkan mu dan keluargamu sekalian, ingat itu, kartu mu ada padaku !" Ancam Emily meninggalkan Satria yang menatapnya tajam dan Melody yang semakin khawatir dan ketakutan dengan ancaman Emily terhadap Satria.
* Di like dulu yuk kakak,
__ADS_1
kali aja nambah semangat othor buat up lagi nanti sore.
semoga kakak semua bahagia selalu....*