
Azta termenung di ruang kantornya, memikirkan apa yang di ucapkan Melody padanya kemarin saat mereka mengobrol di rumahnya, apa benar dirinya masih mencintai Moza, apa benar cinta itu masih menetap dan tinggal di hatinya ?
Tok,,, tok,,, tok,,,
Pintu ruangan kantornya di ketuk seseorang dari luar, membuyarkan lamunannya.
"Masuk !" seru Azta, mempersilahkan orang di balik pintu itu.
"Apa aku mengganggu mu?" Moza muncul dari balik pintu,
"Hmm" Deham Azta sambil mengangguk, sikapnya masih dingin seperti biasanya bila dia bertemu dengan Moza.
"Maaf !" lirih Moza.
"Kata kan apa kepentingan mu menemui ku, lalu cepat pergi," ketus Azta.
"Aku,,, aku,,, emh, apa kamu sudah berbaikan dengan Melody ?" tanya Moza hati hati, dia tak ingin salah ucap dan menyinggung perasaan Azta.
"Apa peduli mu? apa untungnya bagimu mengetahui aku berbaikan atau tidak dengan Melody?" ucap Azta mulai tersulut amarah, hatinya selalu murka bila itu berhubungan dengan Moza.
"Apa kamu berharap jika aku tak bersama Melody, lantas aku kembali padamu ? Jangan mimpi !" sinis Azta.
Moza hanya diam tertunduk, sungguh bukan itu maksud dirinya bertanya seperti itu, tapi sayang, apapun yang dia lakukan kini selalu salah di mata Azta.
"Aku bahkan, tak pernah membayangkan hal itu, aku kesini hanya ingin meminta tolong padamu, siang ini ada acara pentas seni di sekolah Nirel, maukah kamu menggantikan aku untuk hadir dan nenemaninya di sana, aku harus menghadiri rapat bersama para donatur panti siang ini." pinta Moza.
"Huh, menyusahkan saja, kenapa tiba tiba sekarang kamu jadi manja, dulu bertahun tahun mengurus anak itu sendirian, kamu bisa !" sinis Azta.
"Hmm, ya sudah kalau kamu tak bisa, aku tidak akan memaksa," lirih Moza, membalikkan badannya meninggalkan ruangan Azta.
"Tunggu, aku akan datang ke sekolah nya dan menemani anak itu," ucap Azta dingin.
Moza terseenyum simpul dan meninggalkan ruangan tanpa membalikan badannya lagi, hatinya sudah cukup berbahagia, Azta mau menyempatkan waktunya menemani anak mereka.
***
"Abang !" jerit Melody saat melihat Satria tengah duduk di ruang tamu bersama Malik sang papa, Melody yang pagi itu baru pulang mengantar Anita, mamanya berbelanja di pasar di kejutkan dengan kedatangan tiba tiba Satria, apalagi dia datang di temani kedua orang tuanya.
__ADS_1
Melody memang mengajukan cuti satu minggu ke depan, dan dia memutuskan untuk ber istirahat di rumah orang tuanya di Bandung.
"Ody, duduk disini," titah Malik menepuk nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Kenapa papah tak berangkat ke kantor?" bisik Melody saat mendudukan dirinya di sofa sebelah papa nya.
"Papah cuti, karena Satria dan Pak Emir mau datang ke sini" jawab Malik santai.
"Apa ! Papah sudah tau kalau Satria dan orang tuanya mau datang kesini, tapi gak ngasih tau Ody?" geram Melody pelan, sementara Malik hanya cuek saja dengan kekesalan putrinya itu.
Melodi lantas bangkit dari duduknya dan menyalami Emir dan Diana secara bergantian, sikapnya langsung terlihat canggung dan serba salah.
"Apa kamu tak senang dengan kedatangan kami, Nak ?" tanya Emir yang selalu bersikap datar dan dingin itu.
"Ti- tidak, tentu saja tidak seperti itu," gugup Melody.
"Berarti kamu senang dengan kedatangan kami ?" tanya Emir lagi, tapi pertanyaan Emir kali ini tak mendapatkan jawaban apa pun dari Melody yang hanya terdiam malu, itu tampak dari pipinya yang tiba tiba merah merona.
"Kami berdua di paksa anak ini untuk ikut datang ke sini, katanya kami di suruh melamar anak gadis anda," seloroh Emir membuka pembicaraan sambil menunjuk ke arah Satria, anak pertamanya.
"Apa Nak Satria tak berani melamar Ody sendirian ?" sindir Malik terkekeh.
"Ish, anak kurang ajar ! orang tua mu di bawa kesini hanya untuk di jadikan tameng saja ?" gerundel Emir.
"Kami sebagai orang tua menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kalian selaku anak, selama itu terbaik buat kalian, kami mengikuti saja, sehebat apapun kamu atau orang tua mu, kalau anak saya tidak berkenan, saya tak bisa memaksanya." ujar Malik panjang lebar.
"Apa kamu mau menerima lamaran anak saya?" tanya Diana menatap calon menantunya dalam.
"Sa- saya..." Melody seakan tak bisa mengeluarkan kata kata dari mulutnya, kerongkongannya seakan tak sanggup bersuara.
"Ibu, Melody mau, pasti mau, tapi dia malu menjawabnya, iya kan sayang ?" sambar Satria yang melihat kekasih hatinya seakan kesusahan menjawab pertanyaan ibunya.
"Papah, tolong Ody," bisik Melody pada Malik.
"Tolong apa ?" Malik mengangkat kedua alisnya.
"Tolong sampaikan kalau Ody mau menerima lamaran Abang" rengek Melody merajuk pada papa nya.
__ADS_1
Malik dan Anita yang yang mengapitnya di sofa panjang itu kontan saja tergelak, menertawakan sikap konyol putri kesayangan mereka, di susul gelak tawa Emir dan Diana yang juga ikut mendengar gumaman Melody pada papanya, tentu saja hal itu membuat Melody semakin malu.
Sementara Satria menahan rasa gemasnya pada kekasihnya itu, dia sangat ingin memeluk wanita mungil itu andai tak ada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Melody.
***
Azta melangkah menuju gerbang sebuah sekolah taman kanak kanak, disana sudah terlihat banyak orang tua murid yang memenuhi sebuah aula tempat anak anak mereka menampilkan berbagai pertunjukan seni, seperti seni musik, tari, drama, dan berbagai macam kreatifitas seni lainnya.
Azta mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putri kecilnya, di antara ratusan anak yang berlarian kesana kemari di ruangan besar itu.
"Ayah !" suara anak perempuan kecil mengalihlan pandangannya, Azta menoleh ke arah sumber suara.
Seorang anak dengan kostum balet melambai lambaikan tangan ke arah nya, lalu tersenyum sambil berlari berhamburan memeluk kedua kakinya.
"Ayah, ayah datang ? Nirel bahagia sekali, walaupun ayah datang nya terlambat, Nirel sudah tampil satu jam yang lalu." gadis kecil itu terus memeluk erat dan menempel di kedua kaki Azta.
Azta hanya bisa mematung, ada perasaan lain di hatinya yang tak bisa di gambarkan dan di ungkapkan dengan kata kata, tapi hatinya menghangat saat anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ayah dengan senyum di bibir mungilnya.
Azta berjongkok, menyamakan tinggi putrinya yang hanya sebatas pahanya saja itu, dia memandangi wajah putrinya itu dalam sekali,
Rambut yang ikal seperti rambutnya, hidung yang mancung seperti hidungnya, mata yang bulat seperti matanya, seolah dia sedang bercermin, anak itu sungguh mirip sekali dengan dirinya, hanya bibir tipisnya saja yang mirip bibir Moza, bundanya.
"Maaf, tadi ayah harus menyelesaikan pekerjaan ayah dulu di kantor," sesal Azta memeluk tubuh kecil putrinya, ini pelukan pertama Azta untuk putri cantiknya itu.
Memeluk Nirel membuat hati Azta merasa nyeri entah mengapa, ada perasaan menyesal yang begitu dalam, dia merasa begitu sangat jahat pada anak itu, selama lebih dari enam tahun dan baru sekarang dia bisa memeluk darah dagingnya itu, tiba tiba dia merasa begitu marah pada Moza yang dengan tega memisahkan dirinya dengan putri kecilnya itu.
"Ayah menangis ? Tak apa ayah, Nirel tidak marah sama ayah, dengan ayah datang kesini saja, Nirel udah seneng banget" bocah kecil itu mengusap pipi Azta yang basah dengan tangan mungilnya.
"Ah, tidak,, mata ayah hanya sedikit perih karena terlalu lama bekerja di depan layar komputer tadi," elak Azta, dia mengangkat putri cantiknya itu dengan sebelah tangan kekarnya, di gendongnya bocah itu di depan dada kanannya, sementara tangan kirinya memegang tas mungil milik Nirel.
"Ayah, aku sudah besar, tahun ini aku sudah mau masuk sekolah dasar, kenapa menggendongku ?" protes Nirel mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Azta.
"Diamlah, ayah hanya ingin kita cepat sampai mobil, jalan mu lambat !" ucap Azta dingin.
Padahal jauh di lubuk hatinya terasa perih, membayangkan betapa bahagianya dia bisa berkesempatan menggendong putrinya itu, saat Nirel masih bayi dia tak punya kesempatan untuk menggendong bocah itu, bahkan tak tau kalau ada buah cinta nya dengan Moza terlahir di dunia ini, dan itu sangat melukai perasaannya, dan semakin memupuk rasa bencinya pada Moza.
'Moza, aku tak akan pernah memaafkan mu, kau wanita terjahat di di muka bumi ini, kau wanita yang paling menyakiti ku, kau tega memisahkan aku dengan putri kecil ku, aku sangat membenci mu !' geram Azta dalam batinnya.
__ADS_1
*Like nya kakak,,, udah mau final niih...
semoga kakak semua bahagia selalu...*