
"Abang, aku mau dibawa ke mana?" tanya Melody saat Satria membawanya pergi dari rumah sakit, karena dokter sudah mengijinkannya pulang seiring keadaan Melodyyang sudah semakin membaik.
"Pulang," jawab Satria singkat.
Hati Satria masih merasa tak tenang setelah mengalami serangkaian kejadian yang di alaminya, yaitu tentang hilangnya Melody, lalu tiba tiba menemukan Melody terbaring lemah di rumah sakit, itu semua membuat hati Satria kini selalu di liputi kecemasan yang teramat sangat, sifat posesif nya pada gadis itu pun seakan meningkat seribu kali lipat.
"Sayang, kamu resign aja ya dari hotel, atau kalau nggak cuti dulu lah beberapa waktu," Satria memecah keheningan di mobil saat itu, sesaat setelah memikirkan bagaimana cara dia melindungi Melody, dia tak ingin Azta kembali menculik kekasihnya itu.
"Gak bisa gitu dong, Bang! itu sama saja abang membunuhku pelan pelan, memasak itu hoby ku, hidup ku, Bang," protes Melody kesal karena tiba tiba Satria melarangnya bekerja, dan itu dirasa berlebihan bagi Melody.
"Tapi, bagaimana kalau dia menculik mu lagi?" berang Satria, dia sungguh masih sangat ketakutan kalau Melody hilang lagi dari sisinya.
"Atau jangan jangan kamu malah senang di bawa pergi laki laki bajing_an itu," sambung Satria.
"Ih, kok ngomongnya gitu Bang," tampik Melody tak terima dengan tuduhan Satria.
"Habisnya kamu kaya betah banget sama si Kakak Azta mu itu, ga ada pengen niatan kabur, apa teriak gitu ?" kesal Satria, mencari pelampiasan gundah yang sebenarnya marah pada dirinya sendiri.
"Aku percaya dia tak akan menyakiti ku, aku ingin berbicara baik baik dengan dia, tapi sepertinya dia juga sedang dalam posisi sulit saat ini." papar Melody.
"Bicara baik baik ? Dari hati ke hati penuh cinta seperti dulu ?" Ledek Satria menirukan omongan Azta saat di ruang rawat rumah sakit tadi siang.
"Astaga abang, gak seperti itu juga maksudnya, aku juga sudah berusaha lari dari rumah itu tapi aku di kunci di kamar." jelas Melodi yang mulai menyadari kalau saat ini Satria sedang kesal, apa pun yang dikatakan nya pasti akan di debat laki laki itu.
Melodi menyandarkan kepalanya di bahu Satria, dia tak ingin berdebat lebih jauh dengan laki laki yang kini mengisi setiap ruang hatinya itu, dan tak menyisakan ruang untuk siapa pun singgah di hatinya.
"Aku ketakutan sampai rasanya mau mati, aku takut tidak bertemu dengan mu lagi." Satria mengusap kepala Melody yang menyandar di bahunya, membuat rasa kesal dan marah menguap seketika.
"Jangan mati dulu, kita belum nikah," goda Melody.
"Aku akan segera menikahi mu, kalau perlu hari ini juga," tegas Satria tersenyum menggoda.
"Ish, aku udah bilang, tanpa restu dari papah dan mamah ku, aku gak mau kita nikah." cebik Melody.
"Ya sudah, ayo minta restu papa dan mama mu, mumpung di Bandung," tantang Satria.
"Jangan macem macem Bang, aku masih lemes gini, jangan nyari penyakit, nanti kamu kena marah papah," tukas Melody mengingatkan.
Bukan apa apa, dia takut kalau sampai papanya berbuat nekat dan terjadi apa apa dengan Satria, tapi perkataan Melody hanya di jawab dengan senyuman saja oleh Satria.
__ADS_1
"Bang, ini kan jalan ke rumah papa? Bang puter balik bang, please !" mohon Melody tak ingin menambah permasalahan pada hidup Satria saat ini, dia yakin Malik pasti akan sangat murka bila Satria nekat meminta restu untuk menikahinya, jangankan meminta restu, sekedar melihat wajah satria saja Malik pasti akan sangat marah, pikir Melody.
"Tenang saja, aku sudah siap dengan segala resikonya, sayang," ucap Satria penuh keyakinan, seakan tak ada beban dan tak gentar sedikit pun.
"Bang, ayolah jangan sekarang" bujuk Melody lagi, tapi sayangnya kini mobil Satria sudah terparkir di depan rumah orang tua Melody.
"Aku tak mau turun." cicit Melody merapatkan diririnya di sandaran jok mobil.
"Ya sudah, aku yang turun sendirian." Satria membuka pintu mobilnya dan turun dari kendaraan mewah itu.
"Tunggu ! Aku ikut," pekik Melody menarik belakang kaos yang di pakai Satria.
"Ish, katanya gak ikut," desis Satria, seraya mengulum senyum geli melihat polah kekasih tercintanya itu.
Melody berjalan takut takut, bersembunyi di belakang punggung Satria, sambil melangkah pelan.
"Lihat Om, benar kan, apa yang saya bilang, laki laki ber istri itu membawa Melody," tuduh Azta menunjuk ke arah Satria yang baru saja sampai di ambang pintu, bahkan belum sempat mengucap salam, sudah di hardik Azta.
"Kalian berdua masuk lah, dan kamu, Ody, cepat masuk ke dalam!" titah Malik dengan wajah seriusnya.
"Tidak pah, Ody mau di sini saja menemani Abang." Melody memegangi lengan Satria, dia tak ingin meninggalkan Satria di ruangan itu bersama Azta dan Malik.
"Tidak, aku mau di sini saja Bang, aku takut terjadi apa apa sama abang." Melody makin mengeratkan pelukannya pada lengan laki laki gagah itu.
"Cih,, kamu pikir papa akan berbuat apa sama dia, hem?" decih Malik.
"Ody takut papa sama Azta mencelakai kekasih Ody!" cebik Melody, yang lantas di sambut senyum gemas Satria.
"Kekasih mu ini jagoan, sayang. Kamu jangan hawatir, sana masuk," bujuk Satria berbisik, tapi Melodi tetap bergeming, dia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak mau !" tegas Melody.
"Sudah lah, kamu boleh ikut di sini." Malik mengalah, membiarkan anaknya ikut duduk bersama mereka di ruang tamu.
"Saya tagih janji Om, saya sudah berhasil membawa Ody pulang." ucap Azta pada Malik.
"Janji ?" Tanya Melody.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau papa mu sudah berjanji akan menikahkan kamu dengan ku jika aku berhasil membawa mu pulang." jelas Azta.
__ADS_1
"Tapi yang membawa aku pulang ke rumah ini Abang, bukan kamu, kalau begitu berarti aku harus menikah dengan dia," berang Melody.
"Apa kamu mau, di jadikan istri ke dua nya, huh ?" hardik Azta membelalakkan matanya.
"Dia belum punya istri, kau yang sudah punya anak dan istri !" jerit Melody kesal karena Azta terus terusan mengatakan kalau Satria sudah menikah, padahal jelas jelas dia yang sudah punya anak dari wanita bernama Moza itu.
"Hentikan,!" sergah Malik lantang.
"Tapi pah, Ody gak mau nikah sama dia, asal papah tau, dia sudah punya anak," adu Melody pada Malik sang ayah.
"Papah tau," ujar Malik datar.
"Apa,? papah sudah tau, dan masih mau menikahkan Ody dengan dia,? Dia ayah dari seorang putri yang selalu merindukan kasih sayang nya selama ini ?" pekik Melody tak percaya.
"Kita bisa mengurus Nirel bersama sama," bujuk Azta.
"Azta tadi sudah menceritakan semuanya pada papah, tentang masa lalunya." ungkap Malik tenang.
"Ssshh,,,lantas, papah masih mau menikahkan Ody dengan dia ?" desis Melody seraya meminta jawaban dari papahnya.
"Ya," jawab Malik.
"Pah, tolong berpikir rasional sedikit, kenapa papah malah menginginkan Ody menikah dengan laki laki macam dia ?" tunjuk Melody mengarah pada Azta yqang sepertinya sedang tersenyum puas.
"Azta tidak sepenuhnya salah dalam hal ini, dia juga tidak tau menahu mengenai hal itu," papar Malik.
"Apa papah tega memisahkan seorang anak dengan ayahnya?" cecar Melody tak habis pikir dengan jalan pikiran Malik saat ini.
"Papah tak memisahkan anak itu dengan ayahnya, seperti yang Azta bilang tadi, kalian bisa mengurusnya,"
"Pah ! Tolong jangan seperti ini." tetesan bening itu mulai senetes dari kedua netra Melody.
"Hmm, jangan memotong ucapan papah mu terus menerus Ody, dengarkan dulu papah berbicara sampai selesai," dengus Malik kesal karena Melody terus saja memotong dan mendebat kalimatnya.
"Papah sudah mendengar cerita tentang Azta, dia sudah jujur pada papah, itu sangat papah hargai, tidak mudah menceritakan aib kita sendiri, dan papah bisa menerima Azta dan putrinya, dengan satu syarat," Malik menjeda kalimatnya, dia melirik ke arah Azta yang sejak tadi serius mendengarkan apa yang di ucapkan nya dengan sesekali mengurai senyum di bibirnya.
Lalu Malik beralih melirik ke arah Melody, putri semata wayangnya yang sedang terisak di pelukan Satria yang berusaha menenangkan gadis itu dengan mengusap lembut punggung Melody.
Padahal jauh di lubuk hatinya dia pun sedang merasa sangat gelisah mendengar penuturan Malik barusan, tapi dia harus tetap tenang demi Melody.
__ADS_1
*Sehat sehat yaaa semuanya, kakak kakak kesayangan othor.... *