
'Tuhan,,,tolong selamatkan dia, jangan biarkan hal buruk terjadi pada dia, aku sudah cukup banyak memberinya luka, jangan biarkan dia mengalami hal menyakitkan lainnya.' Jerit Azta dalam hatinya.
Azta duduk sendiri di depan ruang UGD, dia menundukan wajahnya, do'a tak putus dia lantunkan untuk keselamatan wanita tercintanya yang kini sedang di periksa oleh dokter dan beberapa orang perawat di dalam ruangan sana.
Azta sungguh sangat ketakutan, ini pertama kalinya dia melihat Melody pingsan seperti itu.
sungguh ini semua salahnya, andai saja dirinya bisa mengambil sikap pada Moza, mungkin semua ini tak akan terjadi,
Moza,,, kenapa wanita itu harus hadir kembali ke kehidupan Azta yang sudah berbahagia dengan Melody.
Pikiran Azta melayang ke masa 8 tahun yang lalu,
Saat itu dirinya baru saja menjadi siswa berseragam putih abu, Azta yang mempunyai wajah tampan dan asal usul keluarga yang cukup terpandang di Bandung itu langsung menjadi idola para siswi di sekolah, banyak murid murid wanita yang sebaya ataupun kakak kelasnya yang berusaha mendekatinya, tapi sayang, tak ada satu pun yang menarik perhatian Azta.
"Azta, tolong berikan ini ke Bu Mira, di yayasan Kasih ibu. Ayah harus ke luar kota, siang ini." Titah Jaya, ayahnya Azta seraya menyodorkan amplop berwarna coklat ke hadapan anaknya.
Ayahnya Azta, Jaya Permana adalah pengusaha furniture yang sukses dan terkenal di Bandung, dia juga salah satu pendiri dan donatur tetap pada sebuah panti asuhan yang mendidik dan memelihara anak yatim piatu dan anak terlantar.
Azta meraih amplop berwarna coklat itu dari tangan Jaya, ayahnya, dengan penuh semangat dia bersiap dan segera berangkat ke panti.
Azta memang selalu bersemangat kalau di suruh ayahnya ke panti, bukan apa apa,,, sebenarnya alasannya karena ada satu anak panti yang diam diam dia sukai.
Gadis panti itu seusia dengan Azta, dia siswi sebuah SMU pada sekolah yang berada di bawah naungan yayasan yang juga menaungi panti asuhan tempatnya tinggal dan bertumbuh.
"Hai, Moza..." Sapa Azta tersenyum ramah saat melihat gadis yang di sukainya sedang membereskan mainan yang berserakan karena baru saja di mainkan adik adiknya di panti bermain main.
"Eh, Tuan Azta." Moza membalas senyuman Azta dengan senyuman termanisnya.
"Sudah berapa kali aku bilang, panggil nama ku saja tak perlu embel embel apapun, kita seumuran." Protes Azta yang baru saja selesai bertemu Bu Mira memeberikan titipan ayahnya.
"Ah, iya,, udah kebiasaan jadi agak susah dan suka lupa." Moza yang parasnya terbilang cantik dengan kulit yang hitam manis dan badan tinggi semampai itu memang sangat menarik perhatian Azta dari awal mereka bertemu.
Saat Azta masih duduk di bangku kelas satu SMP ayahnya sudah sering mengajak Azta berkunjung ke panti, untuk menanamkan rasa kepedulian sosial pada anak semata wayangnya itu, saat itulah Azta mulai berkenalan dan akrab dengan Moza setiap ayahnya membawa dirinya berkunjung ke panti.
"Ish, menyebalkan, sudah bertahun tahun aku ingatkan masih saja lupa." Cebik Azta sambil ikut membantu Moza memunguti mainan yang berserakan itu dan memasukannya ke dalam sebuah keranjang besar.
"Moza, tolong kamu belikan keperluan bulanan untuk adik adik, popok dan susu nya sudah hampir habis." Bu Mira tiba tiba datang ke ruang bermain yang luas itu.
Anak anak panti yang sudah dewasa seperti Moza memang biasa di latih untuk di beri tugas dan tanggung jawab di panti, seperti Moza, dia bertanggung jawab mengurus beberapa adik adiknya yang masih balita termasuk segala kebutuhannya.
"Baik Bun," Jawab Moza pada Mira yang di panggil Bunda oleh semua anak anak panti itu.
"Saya antar, boleh ?" Tanya Azta menawarkan diri.
__ADS_1
"Oh, boleh, tapi setelah selesai langsung pulang ya, tidak boleh kemana mana." Mira mewanti wanti, dan di jawab dengan anggukan dan senyuman dari Azta.
Azta sungguh bahagia, akhirnya setelah sekian lama dia mempunyai kesempatan untuk pergi berdua dengan Moza keluar.
"Moza, bagaimana bila aku suka kamu ?" Tanya Azta saat mereka berada di dalam mobil.
"Maksud kamu ?" Moza sedikit kaget mendengar pertanyaan Azta barusan.
"Aku sudah lama suka sama kamu, aku gak bisa nyimpen perasaan ini lebih lama lagi,"
"Lalu ?" Tanya Moza polos.
"Kamu mau gak jadi pacar aku ?" Tembak Azta.
"Aku ?" Moza terbelalak sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ada yang salah?"
"Ta- tapi aku gak pantes buat kamu, aku cuma..." Moza menundukan wajahnya tak kuasa meneruskan kalimatnya, bagaimana pun dia sangatlah cukup tau diri dengan keadaan dirinya yang hanya seorang yatim piatu dan tinggal di panti asuhan, sementara Azta bagai bintang di langit yang tak bisa dia raih walaupun indah dan ingin dia ambil.
"Moza,,, cinta tidak memandang siapa kamu siapa aku, karena cinta tidak bisa memilih kepada hati siapa dia akan singgah."Azta meraih tangan sebelah kanan Moza, dan menggenggamnya.
"Maaf ini tidak mungkin,," Moza melepaskan tangannya dari genggaman Azta, jantungnya berdegup sangat kencang.
Jujur, Moza sudah lama menyimpan perasaan suka pada Azta, tapi dia hanya ingin menyimpan untuk dirinya saja, karena dia merasa itu hal yang sangat tidak mungkin. Dia berpikir kalau dia hanya bertepuk sebelah tangan saja.
"Bukan seperti itu, aku,,, juga suka sama kamu, tapi sepertinya ini salah." Lirih Moza.
"Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa !" Azta menghentikan mobilnya tiba tiba di bahu jalan, dia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, ternyata Moza merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.
"Kamu menyukai ku juga ? Lalu apa masalahnya, kita punya perasaan yang sama, kenapa tak mencoba untuk menjalaninya." Azta menatap wajah Moza yang mmasih tertunduk.
"Tuan, emh,, Azta, aku tak berani." Ucap Moza pelan.
"Aku bersama mu, kita hadapi berdua." Azta menggenggam lagi tangan Moza yang tadi terlepas.
"Tapi, bagaimana bila Bunda dan Tuan Jaya sampai tau, mereka pasti akan marah."
"Kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidup kita, jalani saja, siapa tau mereka justru mendukung kita." Kata Azta optimis.
"Emh, aku seruju kita pacaran, tapi aku ada satu permintaan." Ucap Moza setelah berpikir beberapa saat.
"Oke, apa itu ?"
__ADS_1
"Aku mau hubungan kita di rahasiakan, jangan sampai ada yang tau, cukup kita saja yang tau." Moza memberanikan diri mengangkat wajahnya, membalas tatapan mata Azta.
"Tapi kenapa ?" Tanya Azta, menyatukan kedua alisnya.
"Aku belum siap, kalau ternyata Bunda dan orang tua mu tak setuju dan menentang hubungan kita." Ucap Moza takut takut.
"Hmm, baiklah selama itu membuatmu nyaman dan kita bisa tetap terus bersama, aku setuju." Azta tersenyum dan mencium lembut tangan Moza yang berada di genggamannya.
***
Waktu terus berjalan, hubungan rahasia antara dan Moza berjalan sempurna, tak ada seorang pun yang tau tentang hubungan mereka.
Azta menjadi sering ke panti tanpa ada yang curiga dengan intens nya Azta berkunjung kesana, sesekali Azta juga mencuri curi waktu mengajak Moza pergi sekedar makan di luar atau nonton, dengan berbagai alasan yang di berikan pada Mira pengurus panti.
Tak terasa hampir dua tahun sudah hubungan mereka berjalan, sekalipun tak pernah di warnai perrengkaran atau masalah apapun, mereka hanya menjalani hibungan itu dengan kebahagiaan dan keceriaan meski hanya mereka berdua saja yang tau.
Saat itu pengurus panti di sibukan dengan persiapan acara ulang taun yayasan yang akan di adakan di puncak, karena acara itu sekalian sebagai ajang silaturahmi para donatur dari berbagai daerah.
Moza di tunjuk sebagai salah satu panitia yang akan ikut ke puncak untuk membantu mengurus segala kebutuhan acara itu.
Azta tentu saja ikut ke acara besar itu, dia datang bersama ayah dan ibunya yang merupakan salah satu pendiri dan donatur tetap yayasan itu.
Acara yang di laksanakan selama dua hari dua malam itu merupakan acara yang sangat di tunggu tunggu oleh Azta dan Moza karena dengan begitu mereka bisa bebas menyelinap untuk berduaan saat orang orang sedang di sibukan dan fokus pada acara itu, membuat mereka tak ada yang curiga pada gerak gerik pasangan muda itu.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, semua orang sudah lelah dan masuk ke kamarnya masing masing yang sudah di sediakan di villa dan penginapan sekitar sana, untuk beristirahat karena besok masih ada acara yang akan di laksanakan.
Azta pelan pelan menyelinap dan masuk ke kamar Moza yang ternyata tidak terjunci,
"Ke- kenapa kamu kesini ?" Tanya Moza panik.
"Aku merindukan mu." Azta memeluk Moza yang baru saja akan beristirahat.
"Nanti ada yang lihat,,"
"Aku sudah memastikan, semuanya aman." Azta semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi, kalau nanti ada orang yang tau gimana ?" Oceh Moza ketakutan.
Azta tak menanggapi ocehan Moza, dia malah membungkam bibir gadis itu dengan mulutnya.
Lama mereka berciuman, sehingga keinginan lain pun semakin menuntut.
"Moza... Aku menginginkan mu.!" Bisik Azta dengan matanya yang sayu dan berkabut menahan hasrat yang membara memenuhi jiwanya.
__ADS_1
*Udah ah heup,,,, hareudang othornya,
semoga kakak semua selalu bahagia....