
"Bagaimana ? Kamu sudah menentukan pilihan mu ?" Jaya menatap tajam Moza.
Moza masih diam membisu, dia tak punya jawaban untuk kedua pilihan sulit itu.
Sepertinya kedua pilihan itu tak ada yang menguntungkannya, ini benar benar seperti memakan buah simalakama.
Moza di hadapkan pada pilihan yang sungguh tak dapat dia pilih, bagaimana tidak,, dia harus memilih antara anak dalam kandungannya, atau Azta, sementara keduanya sama sama berarti buat hidup Moza.
Memilih Azta, dia harus kehilangan anak, dan sebliknya andai dia memilih anaknya, dia harus merelakan untuk kehilangan Azta, ini terlalu kejam, tak bisakah dia mendapatkan keduanya,,, anaknya dan juga Azta.
Tak bisakah mereka bertiga hidup bersama dan berbahagia tanpa harus memilih salah satunya, sehingga mereka harus tercerai berai.
Tak bisakah dia egois dan serakah untuk sekali ini saja.?
'Ah, Tuhan...
Aku tau aku bersalah dan telah berbuat dosa teramat besar,
Bukan aku tak tau batasan dalam berpacaran, tapi aku telah dengan sengaja melanggarnya,
Tuhan...
Maaf kan aku yang baru mengingat Mu saat aku merasa gelisah, sedih dan terluka.
Sementara aku tak pernah mengingat Mu saat ku berbuat dosa, dan saat ku bahagia.
Tuhan...
Jika ini jalan yang yang harus ku terima sebagai penebus dosa ku,
Maka aku terima ini dengan ikhlas.'
Begitu kira kira jeritan batin Moza saat dia mendapatkan tekanan untuk memilih dua pilihan sulit dari Jaya itu.
"Saya sudah memutuskan, Tuan." Moza menarik nafas dalam, tangannya bertautan dengan tangan Mira yang menggenggamnya erat memberi dukungan apapun keputusan yang anak asuhnya itu pilih.
__ADS_1
"Saya memilih anak ini." Moza mengelus dan menatap perut ratanya.
Ini keputusan Moza, dia tak ingin menambah dosa dengan membunuh buah cintanya yang tak berdosa.
Sementara tentang dia yang harus merelakan berpisah dengan Azta, dia akan menganggap itu semua hukuman untuknya yang telah melakukan perbuatan terlarang, yang telah melanggar norma dan aturan.
"Itu berarti kamu siap berpisah dengan anak saya ?" Tanya Jaya meyakinkan sekali lagi, apakah pilihan Moza benar benar sudah final atau masih ragu ragu.
"Iya tuan, saya siap." Ucap Moza penuh keyakinan.
"Segera akan aku pesan kan tiket pesawat untuk penerbangan hari ini, untuk sementara kamu akan aku titipkan pada adik ku yang ada di luar kota," Jaya mengotak atik ponselnya seperti sedang menulis atau melakukan sesuatu.
"Luar kota,? Tapi, dimana?" Tanya Mira
"Masih rahasia, dan itu hanya untuk sementara sampai kami selesai mengurus paspor dan visa, untuk Moza. " Ucap Jaya datar.
"Paspor ? visa ? Tuan mau ungsikan Moza kemana ?" Mira memeluk anak asuhnya itu erat.
"Dia harus berada di luar negeri selama Azta masih belum lulus sekolah dan kuliah, agar dia bisa berkonsentrasi pada pendidikannya, dan fokus untuk melanjutkan usaha ku." Jaya menjelaskan.
"Dan sesuai janji ku, biaya hidup mu dan anak itu, aku akan menanggung sepenuhnya, kau juga boleh meneruskan sekolah mu kalau bayi itu sudah lahir." Sambung Jaya.
Tak menunggu esok datang, hari itu juga Moza langsung di kirim jaya ke luar kota sambil menunggu selama pengurusan surat surat untuk kepindahan Moza ke luar negeri selesai.
Seminggu berlalu, tidak ada satu orang pun yang berani membocorkan masalah kehamilan dan kepergian Moza pada Azta, sebaliknya Azta pun seperti kebakaran jenggot sendiri, dia kebingungan mencari keberadaan Moza yang hilang bak di telan bumi.
"Bu Mira, tolong katakan kemana Moza pergi sebenarnya ?" Tanya Azta pada Mira sore itu di panti, Azta swakan putus asa mencari Moza sendirian, makanya dia memberanikan dirinya untuk bertanya pada Bu Mira.
"Kenapa Nak Azta begitu tertarik untuk mengetahui dimana keberadaan Moza.?" Mira pura pura tak tahu menahu dengan hubungan asmara Azta dengan anak asuhnya itu.
"Emh,, saya ada perlu dengannya." Azta kebingungan menjawab pertanyaan Bu Mira, dia masih ingin memegang janji pada Moza kalau hubungan mereka harus di rahasiakan dan tak boleh ada seorang pun yang tahu.
"Maaf, Nak Azta. Moza sudah di bawa keluarganya keluar kota," Bohong Mira.
"Keluarganya ? Tapi bukankah Moza tak punya keluarga atau siapapun lagi ?" Azta meminta penjelasan pada Mira yang terpaksa harus terus mengucapkan satu kebohongan dan kebohongan lainnya untuk menutupi semua ini, demi janjinya yang telah di sepakati dengan Moza dan juga orang tua Azta.
__ADS_1
"Iya, Moza ternyata masih punya keluarga jauh," Ucap Bu Mira.
"Lalu kemana mereka membawa Moza pergi ?"
"Maaf Nak Azta, saya tak bisa mengatakannya, karena Nak Azta tidak berkepentingan untuk tau hal itu." Tegas Mira.
"Tapi saya pacarnya, kami sudah berpacaran hampir dua tahun lamanya, maaf menyembunyikan ini dari anda, saya mohon beri tahu saya kemana Moza pergi." Rahasia itu terucap juga dari mulut Azta.
"Kalian berpacaran ?" Tanya Mira, terkejut ternyata Azta berani mengatakan hubungan yang sebenarnya dengan Moza.
"Iya,,, maaf, tapi kami saling mencintai, tolong katakan dimana Moza." Azta memohon dengan mata yang berkaca kaca kedua tangannya bahkan dia satukan di depan dadanya tanda memohon yang sungguh sungguh pada pengurus panti itu agar mau memberitahu dimana keberadaan wanita belahan hatinya itu.
"Hmm,,, sepertinya Nak Azta harus melupakan Moza mulai saat ini." Mira menghela nafas dalam, jauh di lubuk hatinya dia merasa menjadi wanita paling jahat karena telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, bahkan memisahkan seorang Calon anak yang tak berdosa dari ayahnya.
"Apa maksud Bu Mira ? Kenapa saya harus melupakan Moza ? Itu tidak mungkin, saya mencintainya, kami saling mencintai." Azta berulang kali mengatakan dan meyakinkan Mira kalau dirinya dan Moza saling mencintai, agar wanita di depannya itu dapat memahami apa yang dia rasakan dan mau berbaik hati memberi tau keberadaan Moza saat ini.
"Moza sudah di jodohkan, dan dia sudah menikah beberapa hari yang lalu, maaf..." Batin Mira sungguh nyeri saat mengatakan kebohongan itu pada Azta, bagaimana tidak, dia menyiksa hati sepasang kekasih yang di paksa untuk berpisah demi ke egoisan dan nama baik dari orang tua Azta.
Terlepas dari dosa yang sudah Azta dan Moza lakukan, tapi bukankah mereka punya hak untuk bersama dan mempertahan kan cinta mereka, dan punya hak untuk memperbaiki kesalahannya.
Tapi Mira bisa apa ? Dia tak bisa melawan keadaan, dia juga tak ingin masalah ini berdampak pada panti yang saat ini dia kelola, banyak anak yang harus dia selamatkan dan dia urus di panti itu.
Bagaimana pun Tuan Jaya punya andil dan kuasa di yayasan.
"Apa, menikah ? Tolong jangan katakan kebohongan se kejam ini, Bu ! Moza masih sekolah, dia tidak mungkin menikah !" Bentak Azta.
Dunia Azta seakan runtuh seketika, sangat sulit mencerna dan menerima kenyataan yang di ucapkan Bu Mira, itu sungguh tak mungkin, hati dan kepalanya menolak untuk percaya, Moza sudah menikah ?
Bahkan seminggu lalu mereka masih bersama dan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya tentang perjodohan dan pernikahan, padahal di antara mereka Azta rasa tak pernah ada rahasia.
"Maaf Nak Azta, tapi itu benar. Moza sudah menikah sekarang. Tolong jangan ganggu rumah tangga Moza, dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya." Lirih Mira tertunduk, tak tega melihat wajah Azta di hadapannya yang sungguh terlihat sangat menyedihkan, hati Mira tak sanggup lagi melihat itu semua, Mira pun akhirnya meninggalkan Azta sendiri dalam ketidak percayaan yang harus di terimanya.
"Moza !" Pekik Azta perih.
Ruang kerja Bu Mira menjadi saksi kehancuran Azta saat itu, hatinya nyeri seperti di remas, Moza meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun, padahal Azta tak merasa berbuat salah padanya sedikitpun, mereka sedang baik baik saja, tak ada masalah apapun.
__ADS_1
Se tidak berharga ini kah Azta untuk Moza, bahkan tak ada pamit untuk sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal padanya, hanya pahit, getir dan sakit saat ini yang dia rasakan, semudah itu kebersamaan yang di lalui hampir dua tahun harus kandas begitu saja.
Terlalu mencintai seseorang lantas di kecewakan akan membentuk benci yang tak kalah besarnya di hati, itulah yang di rasakan Azta saat ini, seiring berjalan nya waktu, rasa cinta Azta yang begitu besar untuk Moza perlahan membentuk kebencian yang menggunung dan memenuhi seluruh ruang sekat hatinya, dia tak ingin lagi mengingat tentang kebersamaannya dengan Moza, tak ingin lagi mengingat rupa Moza, bahkan tak ingin mendengar lagi nama Moza di telinganya, kebenciannya pada Moza benar benar telah sangat membatu dalam dirinya.