
...*****...
...“Saat mahkota camelia gugur, kelopaknya pun turut gugur. Itulah kenapa camelia disebut lambang keabadian atau pengabdian juga kesetiaan. Kelak aku berharap, cintamu seperti camelia. Yang akan abadi dan setia.”...
...~Arunika Pramesti~...
...*****...
Ata menatap kagum resto yang menjadi pilihannya untuk makan malam. “Ramainya,” gumam Ata dengan mata berbinar.
“Kenapa pilih makan di sini, nggak di hotel aja?” tanya David saat melihat resto pilihan Ata begitu ramai.
“Feeling aja. Kelihatannya enak, sampai berjubel gitu pengunjungnya. Lagian kalau makan di hotel udah biasa. Bukankah kita mau mencari suasana yang berbeda?”
“Bener juga, sih.”
David menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, merasa konyol dengan pertanyaan yang ia ajukan. Mereka berdua menapaki jalan setapak menuju resto dengan penuh semangat. Resto bernuansa joglo dengan pemandangan yang asri tentunya. Banyak bunga mawar aneka warna menghiasi taman yang tertata begitu rapi di bagian sudut kanan dan kiri jalan. Beberapa pohon cemara juga berjejer di sisi jalan setapak menuju resto membuat suasana kian terlihat sejuk.
Pohon Tabebuya berwarna kuning berada di samping kanan dan kiri pintu masuk seakan melambai, menyambut kedatangan para pengunjung. Masuk ke dalam area resto, Ata dan David disuguhkan pemandangan yang tak kalah asri. Di setiap sudut, terdapat bonsai bunga kamboja aneka warna. Pemandangan yang sungguh menyegarkan mata.
Ucapan selamat datang dari seorang karyawan resto terdengar begitu ramah. Karyawan itu pun menanyakan pada Ata dan David ingin suasana indoor atau outdoor. Dengan senang hati Ata dan David memilih outdoor. Dengan ramah, karyawan itu mengajak Ata dan David ke bagian belakang resto. Sesekali juga menimpali pertanyaan David dan Ata seputar resto.
Di bagian belakang resto ternyata pemandangan tak kalah menakjubkan. Ata dan David dibuat terpana. Mereka seakan tengah berkebun di dalam resto. Ada banyak tanaman sayuran mengelilingi saung-saung yang menjadi tempat mereka menyantap makanan.
“Vid, lihat! Terongnya gede-gede,” seru Ata seakan tidak pernah melihat terong.
“Jangan ke kotaan, Ta. Aku paham kamu nggak punya kampung halaman, tapi jangan seheboh itu.”
“Ck! Menyebalkan.”
“Lagian, kamu kayak nggak pernah lihat terong aja. Bukannya situ juga punya terong?” ledek David sambil melirik area bawah Ata.
“Bacot!”
__ADS_1
David tertawa renyah melihat kekesalan Ata.
Hilang sudah kesan dewasa yang mereka tunjukkan sedari tadi. Seakan mereka kembali seperti anak muda berumur di bawah 25 tahun. Karyawan yang mendampingi mereka hanya tersenyum menanggapi kehebohan dua pemuda tampan yang berada di belakangnya.
“Silakan.” Karyawan yang mengantar David dan Ata mengarahkan mereka ke saung dekat kolam ikan.
Setelah Ata dan David duduk dengan nyaman, mereka segera membuka buku menu yang ada di atas meja. Ada mi ongklok, nasi megono, dan soto golak yang menjadi makanan khas Wonosobo dalam daftar menu. Ada juga menu rumahan yang menjadi menu di resto Madang, seperti sayur asem, rawon, lodeh, nasi goreng, gurame bakar, dan masih banyak lagi.
“Aku mau nyoba mi ongklok,” ucap Ata pada karyawan resto yang siap mencatat pesanan.
“Aku nasi megono.” David juga ingin mencicipi makanan khas Wonosobo itu.
“Minumnya apa, Mas?”
“Teh purwaceng saja.” David menjawab dan mendapat persetujuan dari Ata.
Untuk cemilan Ata dan David memesan manisan carica, geblek, juga cenil. Meski cenil juga bisa ditemukan di Surabaya, tetapi Ata dan David ingin mencoba cenil dari Wonosobo. Di Surabaya sendiri sebagian orang menyebutnya klanting.
“Aku ke kamar mandi dulu,” pamit Ata.
David mengangguk. Ata segera berlalu, mengikuti arah tanda panah menuju toilet. Ata berjalan santai. Netra coklatnya tak henti memindai bunga warna-warni yang tampak segar. Saat berada di ujung dekat toilet, netranya menangkap sesuatu yang tak asing.
Di sana, di bagian pojok. Seakan ada medan magnet yang menariknya untuk mendekat. Langkah kakinya tiba-tiba saja berayun mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Luapan rasa rindu menggulung kalbu. Membuatnya lupa dengan tujuannya.
Ata semakin mendekat. Ia tak lagi sanggup membendung rasa haru yang menyeru. Ia meraih dan mencium bunga camelia yang menjadi pusat perhatiannya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Pada seseorang yang sangat menyukai bunga itu.
“Kenapa kamu sangat menyukainya?” tanyanya kala itu saat mendapati gadis pujaannya begitu mengagumi si cantik camelia.
“Karena camelia melambangkan keabadian.”
“Kok bisa?”
“Aku pernah membaca satu artikel. Saat bunga-bunga yang lain mahkotanya gugur dari kelopak, maka kelopak itu akan tetap berada pada tangkainya. Dia tidak akan gugur seperti mahkota itu. Akan tetapi, camelia berbeda. Saat mahkota camelia gugur, kelopaknya pun turut gugur. Itulah kenapa camelia disebut lambang keabadian atau pengabdian juga kesetiaan.” Runa menatap Ata lekat, “kelak aku berharap, cintamu seperti camelia. Yang akan abadi dan setia.”
__ADS_1
Tanpa sadar, butiran bening itu mendesak ke luar dari sudut mata Ata. Masih teringat jelas dalam ingatan bagaimana senyum Runa begitu lebar saat ia memberikan buket bunga camelia di hari ulang tahunnya.
“Sudah tujuh tahun lebih berlalu, Run. Apa kabarmu? Kamu di mana sekarang? Apa kamu tidak merasakan rinduku yang teramat besar? Kenapa kamu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak?”
Semua pertanyaan itu selalu berputar di otak Ata. Camelia mengingatkan Ata dengan cintanya yang terpaksa ia tinggalkan. Puas memandangi dan mencium wangi camelia, Ata beranjak untuk menuntaskan hajatnya. Kandung kemihnya sudah terasa sangat penuh.
Selesai dengan urusannya, ponsel Ata terasa berdering di saku celana. Nama David tertera pada layar ponsel saat ia mengeluarkan ponselnya. Segera Ata menjawab panggilan telepon itu.
“Iya, udah selesai. Aku ke sana sekarang.” Ata segera mematikan sambungan telepon karena tak ingin membuang waktu.
David sudah kelaparan karena menunggunya, sehingga memintanya untuk segera kembali ke saung. Juga karena pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Tepat saat ia berbelok hendak menuju saungnya, lagi-lagi jantungnya dibuat berdebar kencang. Ia bahkan mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya benar.
Sosok itu, sosok yang baru saja ia pikirkan berdiri di dekat saung bersebelahan dengan dapur resto. Menggunakan dress selutut berwarna baby pink, Runa-nya terlihat begitu cantik. Ata yakin, itu adalah Runa-nya meski sudah sekian lama tak bersua. Ata tidak mungkin salah mengenali karena Runa menjadi penghuni tetap hati juga pikirannya.
Ata kehilangan kendali. Ia berlari kecil menuju sosok yang dirindukannya. Kali ini ia tidak akan membiarkan Runa-nya kembali menghilang dari hidupnya. Kurang dari satu meter Ata menghentikan langkah. Kebingungan serta kegugupan seketika menyerang jiwanya. Banyak hal tiba-tiba memenuhi pikiran Ata.
Apa yang harus Ata lakukan saat kali pertama bertemu dengan pujaan hati setelah tujuh tahun tidak bersua. Langsung memeluk dan mengucap rindu, atau sekedar menyapa layaknya teman lama? Sungguh, Ata dibuat kelimpungan dengan kondisi ini. Ata pun tidak kuasa lagi untuk melangkah. Bisakah Runa menerima kehadirannya kembali? Atau Runa kini telah membencinya?
Tidak berani mendekat, Ata memilih untuk memperhatikan Runa. Menelisik wajah yang ia rindukan itu yang semakin cantik dan terlihat begitu dewasa. Tubuhnya masih ramping seperti dulu meski pipinya tak lagi chubby. Wajah cantik itu terlihat lebih tirus dibanding dulu.
“Iya. Sudah pasti rindu.”
Ata tidak menyangka akan kembali mendengar suara renyah milik Runa. Ia menunggu Runa menyelesaikan panggilan telepon baru Ata akan menguatkan tekad untuk menyapa Runa. Melihat Runa yang sibuk menatap dapur, Ata bisa menikmati wajah itu dari samping. Bibir tipis itu tengah tersenyum. Wajah cantik itu begitu berbinar, meski Runa tampak tidak menyadari keberadaannya.
“Kenapa harus tanya itu, Khan? Sudah pasti sayang. Iya, iya pulang sekarang. Tunggu, ya! Love you more, Khan.”
Ata membatu saat Runa mengucap kata cinta, tetapi menyebut nama pria lain. ‘Khan’ satu nama yang terus berdengung di indera pendengarannya hingga membuatnya tak sadar jika Runa telah hilang dari pandangan.
...*****...
...To be continued...
...Akhirnya Runa ketemu Ata. Gimana reaksi mereka saat bertemu, ya? Jangan lupa klik tombol favoritnya, biar dapat pesan cinta dari Runa 🥰...
__ADS_1