
...****************...
..."Di mana pun kita berada, keluarga akan tetap menjadi rumah ternyaman untuk pulang saat kita merasa lelah."...
...****************...
Waktu seolah berhenti saat Runa melihat ayah, mama, dan adiknya yang berada di depan pintu rumahnya. Tiga orang yang sangat berarti di hidupnya. Apa yang diucapkan Ata waktu itu benar-benar dibuktikannya.
"Run ...," panggil Lukman.
Runa yang dipanggil oleh ayahnya masih tidak beranjak dari tempatnya. Ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, setelah sekian tahun ia tidak bertemu sejak kalimat terakhir yang Lukman lontarkan padanya.
Sedangkan Lina, tanpa menunggu lebih lama ia mendekat ke arah Runa dan langsung memeluknya. Pelukan rindu dari seorang ibu yang sudah lama tidak melihat anaknya. Rasa rindu akibat keegoisannya yang lebih mementingkan rasa malu daripada harus menjaga anak kandungnya.
Pelukan erat Lina masih belum mendapat balasan dari Runa. Ia masih bertahan di posisinya, walaupun air matanya sudah mengalir tanpa henti. Runa berpikir ia masih tidak pantas untuk mendapat pelukan dari Lina. Pelukan tulus seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya apa pun kesalahan yang sudah dilakukan.
Runa cukup mengingat dengan jelas saat air mata dari seorang ibu mengalir deras karena ulahnya. Ibu yang sangat ia banggakan, tetapi ia permalukan dengan tindakan bodohnya.
Runi yang melihat respon Runa langsung ikut memeluk tubuh kakaknya. "Tidak apa, Mbak. Kita sudah memaafkanmu. Kita masih sayang sama Mbak," jelas Runi dengan isak tangisnya.
Dalam pelukan Runi dan Lina, Runa menatap jelas mata ayahnya yang berkaca-kaca. Ingin Runa mendefinisikan bahwa itu adalah air mata kerinduan yang tersimpan selama ia pergi. Namun, ia tidak ingin setinggi itu berharap. Apa seorang anak seperti dirinya masih bisa mendapatkan rasa rindu dari seorang ayah yang sudah ia permalukan?
Ah! Masa bodoh dengan pikiran negatifnya. Runa pun membalas pelukan Lina dan Runi. Ia tumpahkan semua rasa rindu yang selama ini ia tahan. Runa tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia masih membutuhkan sosok ibu sebagai penguat untuk hidupnya, dan menasihati saat ia maelakukan kesalahan.
"Maafkan Runa, Ma, maaf," lirih Runa di tengah tangisnya.
"Iya sayang, Mama maafkan Runa. Mama juga minta maaf, mama tidak bisa menjagamu, Nak." Tangan Lina tak hentinya mengusap kepala Runa. Ia sangat bersyukur akhirnya rasa sayangnya jauh lebih besar daripada gengsinya. Ia mampu menekan egonya untuk bertemu dan memeluk anaknya.
__ADS_1
Melihat Runa yang menangis di pelukan istrinya, membuat Lukman berpikir bagaimana Runa menjalani kehidupannya selama ini saat tidak ada dirinya dan Lina? Melahirkan seorang anak sendirian tanpa ada seseorang yang menemani. Lalu, bagaimana cara dia bertahan hidup setelah melahirkan? Sedangkan di Wonosobo tidak ada seorang pun yang dikenalnya.
Lukman merasa sangat bersalah atas ucapannya terakhir kali. Ia menyesali keputusannya. Karena rasa malu dengan cibiran dan hinaan orang-orang, ia lebih memilih mengusir anaknya dan tidak mengakuinya.
Runa mengurai pelan pelukan Lina dan Runi. Kini, ia kembali menatap ayahnya yang masih tersenyum walaupun matanya sudah berair. "Ayah...," panggil Runa. Ia tahu, bahwa ayahnya bertahan untuk tidak mengeluarkan air matanya, agar terlihat kuat di depan anak-anaknya.
Runa pun langsung mendekati Lukman. Rasa canggung yang ia rasakan membuatnya belum mampu memeluk sang Ayah. "Ayah, Runa minta maaf, Runa salah," ucap Runa sambil menunduk.
"Kenapa, Nak? Kenapa tidak pulang? Apa kamu tidak merindukan ayah dan mamamu?" cerca Lukman sambil mengelus tangan Runa.
"Maafkan Runa, Yah. Runa pikir, Ayah benar-benar tidak ingin menemui Runa lagi. Runa juga tidak ingin menambah beban Ayah dan Mama. Runa hanya mempermalukan Ayah dan Mama."
"Apa sifat Ayah seperti itu? Saat itu ayah hanya menggertakmu agar kamu memiliki rasa tanggung jawab atas kesalahan yang kamu lakukan. Ayah sayang sama anak-anak ayah. Maafkan ayah karena saat itu ayah benar-benar marah, sehingga tidak memikirkan apa yang ayah ucapkan padamu, Nak. Ayah terlalu kaget saat mendengar kehamilanmu, membuat kamu menjadi sasaran atas kemarahan ayah. Pasti saat itu kamu sangat sedih saat mendengar ucapan ayah. Maafkan ayahmu ini, Nak," ucap Lukman dengan memandangi wajah Runa. Ia begitu merasa bersalah atas ucapannya yang mengakibatkan anaknya harus menjalani kehidupan yang seperti ini.
"Ayah, Ayah sana sekali tidak bersalah. Runa yang bersalah karena melakukan hal yang tidak seharusnya Runa lakukan, dan Runa pun pantas mendapatkan ini semua sebagai balasan tindakan Runa," jelas Runa tak kalah sendu, karena memang ia merasa bersalah pada ayahnya.
"Itu!" tunjuk Runa pada Khan. Lelaki kecil yang terlihat polos saat melihat adegan orang dewasa yang saling menangis, tanpa ia tahu siapa mereka.
"Khan, sini, Nak!" pinta Runa. Sedangkan si kecil pun langsung berlari dan memeluk erat kaki Runa.
"Bun, mereka siapa?" tanya Khan.
"Khan ingat, Om Ata pernah mengajak Khan ke Surabaya untuk bertemu dengan nenek dan kakek?" tanya Runa, dan Khan mengangguk. "Ini mereka, Nak. Kakek dan nenek Khan yang ada di Surabaya," jelas Run pelan. Ia tidak ingin anaknya kembali kaget dan bingung dengan kenyataan baru yang harus ia terima, setelah pengakuan Ata.
Bicara tentang Ata, ia beranjak meninggalkan mereka. Ia juga mengajak Alea dan David untuk sejenak meninggalkan rumah Runa walaupun hanya di depan rumah. Ia ingin memberi waktu pada Runa dan keluarganya melepaskan rindunya.
"Sini, Khan!" ajak Runi. Ia dan Lina yang kini sudah berdiri di samping Lukman pun tersenyum saat melihat anak kecil yang memeluk Runa.
__ADS_1
"Tante ada hadiah untuk Khan. Mau nggak?" tawar Runi. Ia paham pasti Khan masih sangat ragu untuk mendekatinya, sebab merasa bahwa mereka adalah orang asing. Bagaimana tidak dianggap seperti orang asing, saat ia tidak pernah bertemu mereka.
"Itu apa?" Walaupun masih merasa takut, Khan tetap bertanya. Untuk urusan mainan, dia pasti akan luluh sebab itu memang menjadi kelemahannya.
"Sini, dong! Mendekat sama tante."
Dengan perlahan, Khan berjalan mendekati Runi.
"Lebih deket lagi, Khan!" ucap Runi saat melihat Khan masih tampak ragu dan diturutinya permintaan dari Runi. "Ini," ucap Runi sambil menyerahkan hadiah yang sudah ia siapkan untuk Khan.
Melihat wadahnya yang besar, Khan berpikir apa yang ada di dalamnya. "Apa mobil-mobilan? Kalau latto pasti terlalu besar wadahnya. Apa pesawat ya?" pikir Khan sambil membuka goddie bag, dibantu oleh Runi.
"Hah? Bagus sekali Tante," ucap Khan kegirangan saat mengetahui apa hadiahnya. Sebuah robot besar dan pesawat.
"Khan suka?" tanya Runi, dan Khan mengangguk.
"Khan, salim dulu sama nenek dan kakek," pinta Runa, tetapi Khan menggelengkan kepalanya. "Khan...," ulang Runa dan masih tidak mendapat respon dari Khan.
"Maafkan Khan, ya, Yah, Ma. Mungkin karena belum pernah bertemu, Khan jadi bersikap hati-hati. Runa selalu mengajarkan dia untuk berhati-hati dengan orang yang baru saja ia temui. Nanti saat sudah terbiasa, Khan pasti dengan mudah akan dekat dengan Ayah dan Mama," jelas Runa
"Iya, Run, nggak apa. Wajar kalau Khan seperti itu. Dia tumbuh dengan sehat seperti ini, ayah dan mama sudah sangat bahagia. Maaf, ya, Nak, kita tidak bisa mendampingimu saat itu," ucap Lukman. "Kamu bahagia, kan, Nak?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, Yah. Khan menjadi alasan untuk Runa bertahan. Selama memiliki Khan, Runa sangat bahagia."
...****************...
...To be continued...
__ADS_1