Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
40


__ADS_3

...****************...


...Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Beruntunglah manusia yang masih diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan itu. Sekarang waktunya untuk kita memperbaiki semuanya....


...~Yulina Ambarwati~...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Udara hangat khas kota Surabaya menemani kesendirian seorang wanita paruh baya yang duduk di beranda samping rumah bernuansa hijau. Sorot mata sendunya tidak bisa membohongi rasa rindu yang selama tujuh tahun ia pendam. Sebesar apa pun kesalahan seorang anak, akan selalu termaafkan di hati wanita yang telah melahirkannya. Itulah hati lembut seorang ibu. Lina sadar kejadian itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Runa. Namun, ia juga turut andil di dalamnya. Kelalaiannya sebagai seorang ibu sudah menjadi siksaan terberat selama ini. Ditambah pengusiran Lukman atas putrinya membuat dirinya semakin tertekan.


Di setiap sepertiga malam, Lina selalu mohon ampunan dan meminta perlindungan untuk putrinya. Ia tak henti memohon agar Tuhan selalu menjaga putri sulungnya di saat dirinya tak lagi di sisinya. Lina berdoa agar putrinya tidak melakukan dosa yang lebih besar lagi.


Sepertinya Tuhan mengabulkan doanya. Mendengar cucunya saat ini dalam keadaan sehat, membuat dirinya bernapas lega. Ternyata Runa tidak melakukan hal bodoh setelah kejadian itu.


Malam ini, bintang menghiasi langit kota Surabaya. Sudah dua jam Lina duduk di kursi itu sambil menatap langit. Sesekali ia tersenyum mengingat kenangan beberapa tahun silam ketika Runa masih berada di tengah-tengah mereka.


Tanpa Lina sadari, suaminya sedari tadi berdiri di pintu dan memperhatikan wanita itu. Dalam benak Lukman, ia sedih melihat Lina selama beberapa tahun terakhir. Senyum wanita itu tidak secerah dulu. Ia menyesal mengapa dulu begitu mudah mengusir putrinya. Seharusnya waktu itu dia melindungi gadis itu. Namun nyatanya, saat itu amarah telah membutakan mata hatinya. Melihat wanita yang hampir seperempat abad menemani perjalanan hidupnya, keegoisan Lukman perlahan mencair. Ia juga membenarkan kata-kata Runi beberapa waktu lalu.


“Ma, sudah malam. Ayo masuk! Nanti sakit.” Perlahan Lukman menyentuh pundak sang istri yang masih menikmati indahnya langit.


“Sebentar, Yah.” Wanita itu menoleh dan tersenyum ketika melihat suaminya sudah berada di sisinya. Lukman menyadari senyum penuh keterpaksaan yang dihadirkan Lina setiap kali mereka bersama.


Lukman duduk di sisi istri tercinta. Lelaki itu ikut menikmati indahnya malam. “Tidak terasa anak-anak sudah besar ya, Ma. Mungkin sebentar lagi Runi juga akan ninggalin kita.” Terdengar helaan napas berat dari mulut lelaki yang tak lagi muda itu. “Andai aja Runa ada di sini, pasti rumah ini ramai. Mainan berantakan di mana-mana, dan kita akan lelah dibuatnya.” Lukman tersenyum membayangkan Khan berlarian di dalam rumah mereka.


“Yah.” Lina memicing menatap ekspresi wajah suaminya. Tangannya meraih jemari tangan sang suami. Ia berusaha menguatkan lelakinya, seperti hari-hari lalu yang telah mereka lalui bersama.


“Ayo kita jemput Runa dan cucu kita!” Lukman membalas genggaman tangan sang istri. Ditatapnya wanita yang menjadi ratu dalam hidupnya itu penuh sayang.


“Ayah serius?” lirih Lina meminta kepastian. “Ayah sudah memaafkan Runa?”


“Ma, apakah selama ini ayah sudah menjadi ayah terjahat di dunia?” Pertanyaan Lukman yang sarat akan penyesalan membuat air mata Lina perlahan mengalir dari muaranya. Wanita itu menggeleng sembari menggenggam erat tangan Lukman.


“Tidak, Yah. Ayah adalah lelaki terhebat. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Kita adalah manusia beruntung yang masih diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan itu. Sekarang waktunya untuk kita bersama memperbaiki semuanya.”


“Kita persiapkan segalanya untuk menjemput Runa, Ma. Nanti setelah Runi pulang, ayah akan kasih tahu dia.”

__ADS_1


“Terima kasih, Yah.” Lina tidak bisa menahan rasa haru. Air matanya mengalir semakin deras di dalam pelukan sang suami. Selama tujuh tahun ia seperti menyimpan bom waktu yang dapat meledak setiap saat. Malam ini, bom waktu itu berhenti berdetak. Kelegaan terpancar dari kedua pasang mata di usia senja, ketika memaafkan telah mengalahkan amarah.


***


Sementara di tempat lain, lampu kerlap-kerlip diiringi hingar-bingar musik DJ mengalun dengan kerasnya. Di sudut sebuah bar, Alea duduk seorang diri. Wanita itu sudah berkali-kali meminta bartender membuka botol minuman. Entah sudah berapa lama Alea duduk di sana. Suasana ramai di sekeliling wanita itu sama sekali tidak mengusiknya. Perlahan Alea menikmati setiap tegukan dari gelas kecil yang tersedia di meja. Sesekali wanita itu tersenyum, tetapi tak jarang pula ia menangis.


“Kamu bodoh, Ata. Kamu sudah mencampakkan aku. Apa, sih, kurangnya aku? Bahkan aku bisa memberikan lebih dari yang Runa berikan.” Alea mulai meracau tidak jelas.


Tanpa Alea sadari, dari sudut ruangan ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi. Lelaki misterius itu mengagumi cara minum Alea. Ketika melihat Alea mulai kehilangan kesadaran, lelaki itu mendekat dan duduk di sampingnya.


“Satu botol lagi untuknya!” seru orang itu kepada bartender yang melayani Alea.


“Baik, Tuan.”


“Nggak enak minum sendirian. Ini aku traktir kamu. Mari kita minum bersama!” ucap lelaki itu kepada Alea.


Alea menoleh dan tersenyum kepada orang itu, “Terima kasih.”


“Kamu sendirian?” pancing lelaki itu sambil menikmati minuman yang sudah berada di genggaman tangannya.


“Iya,” jawab Alea diiringi tawa sinis, pasalnya tiba-tiba bayangan Ata berkelebat dalam benak wanita itu. “Kamu sendiri juga?”


Alea tertawa lebar mendengar pertanyaan orang itu. “Takut? Yang aku takutkan cuma satu, yaitu ketika tunanganku menikahi wanita lain.” Alea kembali meneguk minumannya.


“Oh, jadi tunanganmu berselingkuh,” tebak lelaki itu.


“No! Tunanganku tidak berselingkuh,” jawab Alea keras sambil mengangkat telunjuknya di depan wajah lelaki itu.


“Lantas?” Lelaki yang tertarik akan kecantikan Alea itu mulai memancing lebih dalam.


“Kamu kayak detektif saja,” jawab Alea ketus membuat lelaki itu tersenyum.


Menyadari wanita incarannya masih sadar, ia lantas meminta minuman termahal di bar itu untuk Alea. “Ini special untuk kamu. Wanita terspesial malam ini.” Lelaki itu menyodorkan sebuah minuman di hadapan Alea.


Malam semakin larut, Alea pun semakin tidak menyadari posisinya hingga ia tidak bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


“Kamu tahu, semua lelaki di dunia ini brengsek. Tunanganku rela memutuskan hubungan kami demi kembali ke wanita ****** itu. Padahal aku juga mampu memberinya kepuasan, bahkan lebih dari yang wanita itu berikan.” Alea sudah mulai meracau tak karuan.


Lelaki itu hanya tersenyum miring menanggapi racauan Alea. Dia segera mengambil ponselnya.


“Pesankan aku sebuah kamar di hotel terdekat! Sebentar lagi aku ke sana,” ucapnya kepada seseorang. Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Lelaki itu tersenyum melihat apa yang ia inginkan perlahan ia genggam.


Setelah meninggalkan uang tips di meja, lelaki itu memapah Alea meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menuju mobil lelaki misterius itu di tempat parkir. Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana di sekitar tempat itu masih ramai. David yang saat itu berada di dalam mobil di tempat parkir yang sama, melihat Alea mabuk berat dalam dekapan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Tanpa berpikir panjang, David keluar dari mobilnya dan menghampiri mereka berdua.


“Alea!”


Teriakan David membuat kedua orang itu menoleh. Alea tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah David. “Hai, Vid! Kamu ngapain di sini?”


“Aku yang harusnya tanya, ngapain kamu di sini, Al? Dia siapa?” tunjuk David ke arah lelaki itu dengan sorot matanya.


“Masak kamu lupa, Vid. Dia Ata, Byakta Kalingga. Kamu lucu, deh. Masak sama sahabat sendiri kamu lupa.” Alea tertawa keras menjawab pertanyaan David.


“Sadar, Al!” David menarik tangan Alea agar terlepas dari rengkuhan lelaki itu.


“Hei! Ini bukan urusanmu. Enyahlah dari hadapanku!” Lelaki itu menahan pinggang Alea agar tetap dalam rengkuhannya.


“Dia sepupuku. Sudah seharusnya hal ini menjadi urusanku. Lepaskan dia atau aku harus menggunakan kekerasan!” ucap David dengan sorot mata tajamnya.


“Tidak peduli dia sepupumu atau istrimu. Yang penting aku sudah membayarnya mahal untuk menemaniku malam ini.” Lelaki itu membuka pintu mobil hendak menyuruh Alea masuk. Tiba-tiba saja tarikan kasar dari arah belakan membuat lelaki itu melepaskan Alea hingga wanita itu terjatuh.


“Bangsatt, kamu!” David melayangkan pukulan di wajah orang itu hingga terjadilah perkelahian.


Alea yang kesadarannya belum pulih sepenuhnya, meringis merasakan perih di kepalanya akibat terbentur lantai. Melihat dua orang berkelahi, Alea perlahan menjauh.


“Pergi, kamu! Jangan sampai kita bertemu lagi!” teriak David pada lelaki yang berlari dengan muka babak belur.


“Al!” David terhenyak melihat Alea tidak sadarkan diri di dekat mobilnya. Ia berlari menghampiri gadis itu. “Al, sadar!” David menepuk pipi Alea dengan kasar. Ada rasa khawatir melihat kondisi Alea.


“Semua ini gara-gara Ata,” ucap David penuh amarah.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


Jangan lupa like dan komentar, ya 👍


__ADS_2