Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
22


__ADS_3

...******...


...“Kehadiranmu di tengah masa lalu hanya akan menambah masalah baru. Baginya, kamu hanyalah orang asing yang merebut kebahagiaannya. Ingat! Ada masa depan yang harus kamu proiritaskan.”...


...~David~...


...******...


Dengan langkah berat Ata meninggalkan rumah Runa. Rasa sakit yang ia sandang saat ini lebih sakit dari pengusiran yang Runa ucapkan. Ya, sesal itu meremas setiap denyut nadinya. Sesal yang begitu menyiksa membuat napasnya terasa sesak.


"Pantas jika Runa mengusirku. Bahkan, jika Runa membunuhku pun dosaku masih belum terampuni."


Sepanjang perjalanan menuju ke hotel, Ata kembali berpikir. Apakah tidak lebih kejam jika dirinya merebut Khan dari sisi Runa? Namun, sekelebat bayangan keluarga kecil bahagia antara Runa, Sandy, dan Khan benar-benar membuat dirinya cemburu. Dalam benaknya, hanya Ata yang berhak atas Runa dan Khan. Hanya Ata yang pantas berada di tengah-tengah mereka.


Cuaca masih begitu dingin ketika kaki Ata menapaki setiap jengkal lantai hotel. Meskipun sang rawi mulai menampakkan diri, tetapi cahyanya tidak mampu menghangatkan hati Ata yang terlanjur beku.


"Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan. Mengapa semua ini harus terjadi?" Berkali-kali Ata meremas rambutnya. Saat ini dia tidak langsung menuju ke kamarnya. Ata bingung bagaimana harus menjelaskan hal ini kepada David. Ata yakin, sahabatnya itu pasti sedang menunggunya.


Ata memilih berjalan melalui tangga darurat untuk mengulur waktu. Sekaligus memikirkan kalimat apa yang akan dia berikan kepada David. Sahabatnya itu pasti akan mencecarnya habis-habisan. Apalagi, waktu itu Runa juga menanyakan keberadaannya kepada David, dan David pun menjawab sesuai permintaan Ata.


"Maafkan aku, Run. Seandainya waktu itu aku tahu, mungkin waktu itu aku juga tidak bisa membatalkan keberangkatanku, tapi seenggaknya aku bisa menundanya beberapa hari."


Waktu itu terjadi pergolakan hebat dalam diri Ata. Perjuangannya selama bertahun-tahun untuk mengejar beasiswa itu akhirnya bersambut, meskipun untuk itu Ata harus melupakan cintanya. Sebenarnya bukan hal mudah untuk Ata melupakan Runa. Sebab saat itu Runa adalah separuh jiwanya. Namun, Ata tidak bisa memungkiri jika beasiswa itu adalah impiannya. Demi ambisi tersebut, Ata berpikir jika memutus komunikasi dengan gadis pujaannya akan membuat Ata lebih mudah melupakan cintanya. Hingga waktu itu David harus membohongi Runa dengan mengatakan ia tidak mengetahui keberadaan Ata.


Bulan demi bulan terlewati bagaikan siksaan untuk Ata. Nyatanya, melupakan Runa adalah hal terberat sepanjang perjalanan hidupnya. Hingga suatu hari, ketika bayangan wajah sendu Runa dan irama desahann malam itu menjadi puncak kerinduannya, Ata pun segera menghubungi Runa. Namun, apa yang ia dapat, nomor ponsel Runa tidak bisa dihubungi. Ata mulai kelimpungan. Apalagi David belum juga menemukan kabar tentang keberadaan Runa.


“Bagaimana, Vid. Kamu udah menemukan Runa?” tanya Ata suatu hari melalui sambungan ponselnya.

__ADS_1


“Belum. Aku sudah berusaha mencarinya. Bahkan aku sudah menemui Runi. Tapi keluarga mereka juga tidak mengetahuinya,” jawab David lemah.


“Brengsek! Kenapa tidak lapor polisi!” seru Ata yang mulai emosi.


“Ta, nggak mungkin aku lapor polisi. Keluarga Runa aja nggak lapor.”


“Gila! Kalau sampai ada apa-apa dengan Runa siapa yang tanggung jawab? Gimana kalau Runa di bunuh orang?” nada bicara Ata semakin tinggi membuat David menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Ta, yang bener aja. Kamu, tuh, harusnya berdoa untuk keselamatan Runa. Jangan asal ngomong, kamu!” David pun mulai terpancing emosi. “Lagian Runa masih hidup, Ta. Runi cerita kalau Runa beberapa kali mengomentari postingan dia di Instagram. Waktu ulang tahun Runi, Runa juga ngucapin selamat. Waktu ayah Runa masuk rumah sakit, Runa juga mendoakannya.”


“Apa keberadaan Runa nggak bisa dilacak?” tanya Ata yang amarahnya mulai menurun.


“Hei, bangun Lo! Kita bukan mafia atau apa pun kayak di film-film. Kita ini hanya manusia biasa, warga sipil yang sedang berusaha menggapai kehidupan yang lebih layak. Jangankan untuk menyewa detektif, bisa makan sehari tiga kali aja sudah bersyukur!” David mencoba menyadarkan Ata. Saat itu adalah masa sulit mereka. David masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta. Sedangkan Ata, dia harus bekerja sampingan demi kelangsungan hidupnya. Ata tidak mau merepotkan kedua orang tuanya. Karena keberadaannya di Inggris adalah kemauannya sendiri.


Mendekati hari kelulusannya, perlahan bayangan Runa mulai memudar dari ingatan Ata. Apalagi dirinya selalu ditemani gadis cantik nan ceria. Siapa lagi kalau bukan Alea.


“Sudah pulang, kamu? Kirain nggak bakalan pulang,” ucap David tanpa mengalihkan pandangan. Pasalnya bayangan Ata sudah terlihat dari kaca jendela yang terbentang luar dalam kamar itu.


Ata tidak menjawab pertanyaan David. Dia malah menjatuhkan dirinya di atas kasur. Sesekali tangannya meninju kasur untuk meluapkan rasa sesalnya. Sedangkan David hanya memandang iba ke arah sahabatnya.


“Kalau boleh kutebak, kecurigaanku kemarin adalah benar.” David duduk di sofa yang ada di samping ranjang. “Kamu pasti belum makan, aku pesenin sarapan dulu. Kamu mandilah! Biar otakmu kembali segar.”


Seperti anak kecil yang diperintah ibunya, Ata menuruti semua permintaan David. Entah karena Ata merasa tidak mempunyai kekuatan untuk berdebat, atau karena Ata merasa tebakan David benar hingga dirinya tidak bisa mengelak.


Ata berdiri cukup lama di bawah guyuran air hangat. Bayangan Runa kala memohon untuk mengakhiri hubungan mereka kembali muncul di permukaan. Andai saja waktu itu Ata sanggup mengalahkan sedikit egonya, pasti dia tidak akan kehilangan Runa. Bahkan, mungkin saat ini mereka hidup bahagia bersama buah cintanya.


“Ta, buruan! Makanannya udah mulai dingin.” Teriak David dari luar membuat Ata tersadar dan bergegas mengakhiri ritual mandinya.

__ADS_1


Tanpa bicara, Ata memaksakan diri untuk menikmati makanan yang David siapkan. Meskipun selera makannya menguap, tetapi Ata tetap menyuapkan sesendok demi sesendok nasi ke dalam mulutnya. Apalagi Ata sadar, sejak semalam dirinya belum makan. Dia tidak ingin sakit. Karena setelah ini masih banyak hal yang harus Ata lakukan untuk mengejar Runa.


“Jadi gimana?” Suara David kembali mengagetkan Ata.


“Maksudnya?” tanya Ata karena sejujurnya dia bingung mau memulai cerita dari mana.


“Khan anak kamu sama Runa, kan?” David berusaha memperjelas.


“Iya.” Ata meletakkan sendok setelah memasukkan suapan terakhir.


“Runa mengakuinya?” David mendekati Ata. “Terus apa rencanamu?”


“Aku akan merebut Khan,” jawab Ata menatap mata David.


“Lo nggak waras! Ingat, Brow, jangan menambah masalah lagi!” bentak David yang nggak habis pikir dengan rencana Ata.


“Tapi dia anakku. Darah dagingku. Yang paling berhak dipanggil ayah olehnya, ya, cuma aku!” kekeh Ata.


“Benar. Kamu memang ayah biologisnya, tapi apa kamu pernah nafkahin mereka? Apa kamu pernah memberi mereka kasih sayang? Siapa yang selama ini melindungi mereka? Siapa yang selama ini memberi mereka sesuap nasi? Kamu mikir sampai situ, nggak!” David mencoba meredam emosi dengan meraup oksigen sebanyak mungkin. “Ikhlaskan mereka, biarkan mereka bahagia selepas apa yang telah mereka alami selama ini. Kehadiran kamu di tengah masa lalu hanya akan menambah masalah baru. Khan belum tentu menerima kamu. Baginya, kamu hanyalah orang asing yang merebut kebahagiaannya. Dan ingat! Ada masa depan yang harus kamu proiritaskan. Ada Alea yang harus kamu perhatikan.”


Hening. Tidak ada lagi kalimat yang sanggup Ata lontarkan. Pikirannya benar-benar kalut hingga tanpa mereka sadari, ada sepotong hati yang terluka. Gadis itu membekap mulutnya sendiri menahan isak tangis yang sekuat tenaga ia simpan. Nyatanya, ini adalah alasan di balik berubahnya sikap Ata. Alea yang sedari tadi berada di pintu, mendengar semua pembicaraan mereka. Perlahan gadis itu beringsut dari posisinya saat ini. Dia pergi membawa luka yang teramat dalam.


...******...


...to be continued...


...Siapa di sini yang mau nampol Ata? Angkat jempolnya, dong 😅...

__ADS_1


__ADS_2