Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
15


__ADS_3

..."Di dunia yang begitu luas, hanya kamu tempatku kembali"...


...~Byakta Kalingga~...


...*******...


Pagi-pagi sekali, David kembali mengusik kenyamanan tidur Ata. Seperti hari sebelumnya, David sudah siap dengan pakaian rapi saat menemuinya. "Kamu belum mandi, Ta?" tanya David saat melihat Ata belum bersiap.


Ata tidak menggubris pertanyaan David. Ia paham bahwa hari ini ia sudah harus mengakhiri liburannya dan kembali bekerja. Namun, Ata yang masih enggan kembali ke Surabaya, memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya.


"Ta! Kita mesti balik hari ini." David kembali mengingatkan Ata tentang jadwal mereka.


"Emang harus hari ini? Kamu nggak pengen nikmati suasana di kota ini lebih lama? Suasana kayak gini nggak akan ada di Surabaya," jelas Ata dengan mata terpejam.


"Waktu liburan kita udah habis, Ta. Kita harus balik kerja lagi. Dan lihat ini!" David menunjukan ponselnya pada Ata.


Perlahan Ata mencoba untuk duduk dan membuka matanya. Ia begitu kaget melihat nama Lea terpampang di layar ponsel David. "Jangan diangkat, Vid!" perintah Ata cepat.


Ata pun segera mengecek ponselnya. Ia melihat ada lima belas panggilan tak terjawab dan puluhan pesan masuk dari Lea. Namun, dengan santai Ata justru melempar ponselnya di atas kasur dan merebahkan tubuhnya.


Ata memang sama sekali tidak mendengar dering ponselnya. Sejak memutuskan liburan, ia langsung mengaktifkan mode silent di ponselnya. Keberadaan Runa di kota yang sama dengan tempat liburannya pun menambah rasa nyaman Ata saat berada di Kota Wonosobo dan mampu melupakan Lea.


David meletakkan ponsel di atas meja, ia turut mengabaikan ponselnya yang tak berhenti berdering. "Tadi udah sempet kuangkat, makanya aku dateng ke sini. Dan dia nyuruh aku nanya ke kamu, kenapa pesannya nggak dibalas, telponnya juga nggak diangkat? Oh ya, lagi pula kamu betah di sini bukan karena pengen liburan. Pasti karena adanya Runa. Ya, kan?"

__ADS_1


"Nah, itu kamu tau."


"Terus ini Lea gimana? Dia tunangan kamu, Ta. Bahkan sejak semalam dia nggak berhenti telpon dan WA aku. Dia tanya, aku lagi sama kamu atau nggak? Kamu udah makan belum? Kalo kayak gini, berasa aku yang jadi tunangannya tau, nggak? Karena aku yang sering angkat telponnya."


"Udah ... biarin aja dulu, nanti biar aku yang jelasin. Sekarang aku harus ke rumah Runa. Aku nggak akan balik ke Surabaya sebelum bisa ketemu dan minta penjelasan sama Runa tentang lelaki yang bernama Khan itu," ucap Ata. Lalu ia bangkit dan mulai bersiap untuk mandi.


"Khan? Khan siapa?”


Ata hanya mengedikkan bahu. Tanda ia sendiri juga tak tahu siapa Khan. David menghela napas pasrah dengan tingkah sahabatnya.


“Ta, aku rasa kamu udah nggak berhak nuntut penjelasan apa pun dari Runa. Dan tadi kamu bilang tau rumah Runa? Di mana? Sejak kapan kamu tahu? Kenapa kamu nggak bilang? Atau jangan-jangan kamu ninggalin aku semalam karena ngantar Runa pulang?”


David yang penasaran dengan ucapan Ata memberondong Ata dengan banyak pertanyaan, juga mengikuti ke mana pun langkah Ata. Ia bahkan tak sadar sudah mengikutinya sampai ke dalam kamar mandi.


Ata memicingkan mata dan memulai aksinya. Perlahan jemarinya bergerak mengikuti garis wajah David, turun dari pelipis hingga menyentuh mulut David dan membelainya. "Aku masih normal, Vid. Maaf, aku tidak menyukaimu."


"Astaga! Ata!" David segera menepis tangan Ata dan berlari keluar saat sadar apa yang dilakukan Ata padanya. Tak lama, suara gelak tawa Ata terdengar kencang walaupun pintu sudah tertutup.


"Gila! Dia kira aku homo? Ih!" David bergidik ngeri saat kembali mengingat tangan Ata yang merayap di atas wajahnya.


...******...


Setelah meninggalkan David sendirian di hotel yang sedang menahan amarah, Ata langsung pergi menuju tempat yang ia duga adalah rumah Runa. Ia belum puas berbicara dengan Runa kemarin. Ia masih ingin menanyakan banyak hal, apalagi mengenai lelaki yang bernama Khan. Apakah Runa sudah menikah? Siapa Khan? Mengapa ia begitu mesra berbicara dengan lelaki itu?

__ADS_1


Semua pertanyaan itu sudah ia simpan dan siapkan sebelum menuju rumah Runa. Ia berharap kali ini Runa mau berbicara padanya dan memberikan penjelasan, sebab ia masih tidak terima jika Runa memiliki kekasih baru. Ia masih mencintai Runa.


Kini, Ata sudah berada di radius beberapa meter dari rumah Runa. Ia melihat ada sebuah mobil yang tergolong mewah terparkir di depan rumah tersebut. "Apa mungkin itu mobil Runa? Atau ini bukan rumah Runa? Ah, sudahlah. Itu tidak penting."


Ata tak ambil pusing dengan keberadaan mobil di depan rumah Runa. Ia hanya fokus pada pintu utama rumah untuk menanti sang tuan rumah keluar. Namun, ponsel Ata kembali berdering dan nama Lea kembali memenuhi layar ponselnya. Tak hanya itu, pesan masuk dari Lea yang belum terbaca pun semakin bertambah.


"Huft!" Ata menghela napasnya. Ata memang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat bertemu Runa. Wanita yang dulu ia cintai kini kembali hadir di hidupnya. Namun, melihat nama Lea membuatnya bimbang. Andaikan ia belum memiliki Lea. Andaikan ia masih menjaga cintanya pada Runa.


Akhirnya Ata hanya membiarkan ponselnya berdering dan mengabaikannya. "Maafkan aku Lea," gumam Ata.


Tak lama, Ata melihat pintu rumah Runa terbuka, menampilkan sosok wanita yang selama ini ia cintai. Ata pun tak sabar ingin menghampirinya. Belum sempat ia melangkah, dilihatnya seorang anak laki-laki keluar dengan menggandeng tangan seorang lelaki dewasa yang memiliki tubuh tinggi dan berkulit putih.


"Mereka siapa?" Ata masih bertanya-tanya tentang siapa kedua laki-laki berbeda umur yang baru saja keluar bersama Runa. "Apa mereka suami dan anak Runa?"


Ata tak berhenti berdoa, berharap semoga apa yang ia pikirkan adalah salah. Paling tidak, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali bersama Runa. Masalah Lea, ia akan mencari cara agar pertunangan mereka dibatalkan saja.


Sayangnya, Ata lebih dulu dibuat kecewa dengan harapannya, sebab ia baru saja melihat anak laki-laki itu mencium dan memeluk mesra Runa, lalu berganti memeluk dan mencium lelaki dewasa yang kini berdiri di samping Runa. Tak hanya itu, lelaki dewasa itu berani mengelus kepala Runa yang bahkan kini tak bisa ia lakukan.


"Jadi kamu memang benar-benar sudah menikah, Run? Lalu, di antara mereka siapa yang kamu panggil dengan nama Khan? Suamimukah? Atau anakmu?" Bulir air mata itu kembali menetes untuk Runa. Ternyata waktu sudah mengubah semuanya. Runa tak lagi menjadi wanita yang mencintainya. Runa memiliki seorang baru di hidupnya dan sudah bisa melupakan Ata.


"Maafkan aku Run, bahkan sampai saat ini pun namamu masih saja terngiang di kepalaku. Dan sekarang? Sekarang kamu sudah memiliki keluarga baru. Kamu sudah memiliki penggantiku. Sedangkan Aku? Adanya Lea di hidupku tak membuat namamu begitu saja hilang, Run. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah aku merebutmu, Run?"


...*****...

__ADS_1


...to be continued...


__ADS_2