
...****************...
...~ Hidup ini bagai buah simalakama, maju salah, mundur pun salah.~...
...Hasan Barasena...
...****************...
“Ya, Allah ... maafkanlah hamba-Mu ini, yang ternyata tidak becus dalam mendidik anak. Hamba mohon ampunilah segala salah dan khilaf yang pernah putra hamba perbuat, ampunilah segala dosa dan kesalahannya.” Itulah do'a yang diucapkan seorang Hasan Barasena di atas sebuah sajadah, dengan diiringi sebuah isak tangis yang menyayat hati, juga Maya yang menjadi makmumnya.
Setelah mengetahui kenyataan bahwa putra semata wayangnya telah memiliki anak berusia enam tahun, dari sebuah kesalahan yang dilakukan Ata di masa mudanya, membuat Maya terus saja menangism. Ia menyesali sikap dan perbuatannya dulu yang sering memanjakan putranya, sehingga membuat putranya memiliki sifat egois dan ambisius untuk apa yang diinginkannya.
Setelah Maya menyalami Hasan seusai sholat berjamaah, Maya pun memulai percakapannya.
“Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Maya pada suaminya yang sekilas sedang memijat kening, pertanda bahwa suaminya ini sedang pusing.
“Entahlah, Ma. Ayah pun bingung harus berbuat apa saat ini,” ucap Hasan dengan pandangan yang menerawang jauh ke depan.
“Bagaimana kalau sampai pertunangan antara Ata dan Alea harus berakhir, Yah? Keluarga Mas Rahman sudah terlalu baik pada keluarga kita, dan mama juga sudah menyayangi Alea seperti putri kita sendiri,” ucap Maya di sela isak tangisnya.
“Lantas bagaimana dengan Runa, Mah. Gadis itu juga sudah dibuat menderita oleh anak kita. Bahkan gadis itu sudah membesarkan cucu kita seorang diri. Bayangkan betapa menderitanya gadis itu saat terusir dan dikucilkan oleh keluarganya. Kita tidak boleh egois, Mah.” Hasan sudah mendengar cerita tentang Runa dari Ata, tentang bagaimana hidup gadis itu setelah mengandung cucunya. Oleh karena itu, Hasan berusaha meyakinkan Maya untuk menerima Runa menjadi menantunya.
“Mah, ayah benar-benar menyesal atas kejadian ini, dan ayah juga sudah memutuskan. Ayah berniat ingin berkunjung ke rumah keluarga Runa untuk meminta maaf sekaligus melamarnya untuk anak kita, Ata. Sekaligus akan berkunjung ke rumah Rahman, untuk memutus pertunangan antara Ata dan Alea.” Perkataan yang keluar dari mulut Hasan sontak membuat Maya terkejut.
__ADS_1
“Kenapa secepat itu, Yah. Ini terlalu mendadak. Kita perlu berdiskusi dulu dengan keluarga besar kita. Termasuk Hanum, karena Hanum–lah kita bisa mengenal keluarga Mas Rahman dengan baik,” ucap Maya dengan ekspresi terkejutnya.
“Kita sudah membuang waktu kita selama enam tahun ini untuk cucu kita, Mah. Kini saatnya kita harus memperjuangkan dan menyayanginya,” ucap Hasan dengan penuh keyakinan. Membuat Maya mengangguk lemah.
“Baiklah, Yah. Mama akan mengikuti apa saja yang Ayah anggap baik. Mama tahu, apa pun yang Ayah rencanakan semua demi kebaikan kita semua.” Akhirnya Maya pun menerima semua keputusan Hasan dengan berbesar hati.
“Baiklah, Mah. Nanti kamu hubungi Hanum, biar besok dia bisa datang ke mari. Kita harus memberi tahu dia, walau bagaimana pun Hanum adalah adikku. Satu-satunya keluarga yang ayah punya,” terang Hasan.
***
Siang yang cukup terik di kawasan kota Surabaya, seperti mencerminkan suasana hati seorang. Ya, seseorang itu adalah Hanum, yang tak lain dan tak bukan adalah adik dari Hasan yang berarti ia adalah bibinya Ata. Setelah menerima telepon dari Maya, mengenai pembatalan pertunangan antara Ata dan Alea, membuat Hanum sangat berang. Hanum pun segera bergegas menuju ke rumah Hasan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah miliknya.
Sesampainya Hanum di halaman rumah Hasan, Hanum pun segera memarkirkan kendaraannya, kemudian turun dan segera bergegas masuk menuju ke dalam rumah Hasan.
Amarahnya langsung memuncak ke ubun-ubun saat mendengar kabar pertunangan Ata dengan Alea yang akan dibatalkan. Sungguh, mau ditaruh di mana mukanya jika bertemu Rahman nanti. Pasalnya, dia sendiri yang menyodorkan keponakannya untuk bertunangan dengan Alea –anak dari sahabatnya.
“Assalamualaikum. Salam dulu kalau mau masuk ke dalam rumah, bukan dengan cara berteriak-teriak,” ucap Hasan dengan tenang.
“Maaf. Assalamualaikum,” ralat Hanum, lantas memberi Salam dengan terpaksa seperti apa yang kakaknya katakan. Sehingga membuat para penghuninya sontak menjawab salam tersebut.
“Waalaaikumusalam,” jawab Hasan, Maya, dan Ata secara bersamaan.
“Mas. Hanum nggak ngerti dengan apa yang terjadi antara Ata dan Alea. Yang Hanum tahu kalau selama ini hubungan antara Ata dan Alea itu baik-baik saja. Lantas sekarang, kenapa tiba-tiba Mas ingin membatalkan pertunangan mereka secara sepihak? Mas nggak mikirin gimana nanti malunya Hanum saat bertemu dengan Mas Rahman?” Napas Hanum tersengal saat meluapkan emosi. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kakaknya.
__ADS_1
“sudahlah, Mas, kita lanjutkan saja pertunangan ini dan kita lupakan saja gadis yang berada di masa lalu Ata itu.” Perkataan panjang lebar yang dikatakan Hanum sontak membuat Ata geram. Karena dengan mudahnya bibinya itu menyuruhnya melupakan Runa, gadis pengisi hatinya selama enam tahun ini.
“Apa maksud Bibi? Bibi pikir mudah melupakan orang yang kita cintai? Apalagi sekarang Runa tengah merawat putra semata wayang Ata seorang diri. Itu tidak mudah, Bi!” ucap Ata dengan penuh amarah.
“Dengar, Ta! Bibi tahu kondisi gadis itu dari mamamu tadi, saat mamamu menelepon bibi. Tapi bibi rasa selama ini gadis itu pun baik-baik saja tanpa kamu. Jadi, harusnya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi, kan?” terang Hanum dengan sikap tenang, karena tidak ingin memancing emosi Ata lebih jauh lagi.
“Bagaimana kalau kita ambil saja putramu darinya dan kamu tetap meneruskan pertunangan ini dengan Alea. Jadi kamu akan tetap bisa merawat dan menyayangi putramu. Tanpa harus menyakiti perasaan Alea dan keluarganya,” lanjut Hanum mencoba menawarkan solusi yang ternyata malah membuat Ata geram.
“Bibi pikir aku hanya menginginkan putraku. Tidak, Bi! Aku pun sangat mencintai Runa. Selama ini Bibi yang menginginkan pertunangan ini dan aku menerima pertunangan ini karena keluarga Alea baik padaku, tapi Aku tidak pernah mencintainya, Bi.” Ata meraup wajahnya dengan kasar. Ia merasa frustrasi dengan apa yang diinginkan oleh Hanum.
“Sebelum Bibi bicara seperti tadi, harusnya Bibi sebagai seorang wanita sadar dengan pemikiran picik itu. Bagaimana jika itu terjadi pada Bibi? Apa Bibi akan merelakan anak yang sudah Bibi lahirkan dan besarkan seorang diri diambil begitu saja? Di mana letak nurani Bibi sebagai sesama wanita?”
Ata memandang sang bibi dengan penuh penyesalan. Bagaimana bisa bibinya berencana mengambil Khan dari Runa. Khan adalah napas Runa. Khan adalah hidup Runa. Jika Ata mengambil Khan dari Runa, itu sama saja Ata membunuh Rina secara perlahan.
Tidak. Ata tidak mau itu terjadi. Yang Ata inginkan adalah paket komplit. Khan beserta Runa. Mereka berdua adalah tujuan hidupnya saat ini. Sang bibi terlihat begitu geram dengan penuturan Ata. Hasan yang melihat kondisi putra dan adiknya yang terbakar emosi mulai menjadi penengah.
“Sudah-sudah. Sudah hentikan perdebatan ini. Hanum, besok lusa mas akan berkunjung ke rumah keluarga Runa untuk meminta maaf sekaligus akan melamarnya untuk menjadi menantu di keluarga ini. Mas sudah cukup merasa bersalah karena sudah gagal mendidik putra mas satu-satunya dan mas tidak mau merasa bersalah untuk kedua kalinya karena sudah mengabaikan cucu mas satu-satunya. Mas juga akan datang ke rumah Rahman. Mas akan meminta maaf kepadanya karena sudah membuat putri kesayangannya terluka karena sikap putra mas,” ucap Hasan dengan tenang membuat Ata tersenyum senang dan Hanum semakin geram.
“Tapi Mas–“ Belum sempat Hanum menyelesaikan perkataannya Hasan sudah memotong perkataannya.
“Hanum. Mas tidak ingin dibantah!” ucap Hasan. Mas rasa ini adalah keputusan terbaik yang bisa mas ambil saat ini. Keputusan itu tentu saja membuat Hanum kesal dan meninggalkan rumah Hasan dengan emosi. Tak segan-segan ia membanting daun pintu hingga terdengar suara 'brak' membuat penghuni rumah kaget dibuatnya.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...