
...****************...
...“Bahagia itu nggak bisa diukur dari apa yang akan kita miliki, tapi seberapa banyak kita bersyukur atas apa yang telah kita miliki.”...
...David...
...****************...
“Itu makanan, bukan sajen, Al. Jadi jangan dipelototi aja. Buruan dimakan sebelum dingin. Toh, mereka juga nggak bakalan takut kamu pelototi seperti itu,” sarkas David saat melihat Alea melamun. Makanan yang ada di depan Alea tak tersentuh sama sekali sedangkan nasi pecel miliknya sudah tandas tak bersisa.
David mengembuskan napas dengan kasar. Bingung dengan kelakuan mantan calon istri sahabatnya ini. Alea hanya menatap lantai kafe yang menjadi tempat pilihan mereka untuk sarapan pagi ini dengan pandangan kosong.
“Kamu mau terus-menerus seperti ini?” tanya David sambil memakan rempeyek milik Alea, “aku tuh udah kayak bodyguard kamu dan Ata tahu, nggak? Dipaksa ngintilin kalian berdua ke mana-mana kayak aku nggak ada kerjaan aja. Unfaedah banget hidupku.” David menggerutu karena diabaikan oleh Alea.
Setelah memakan rempeyek itu hampir separuh, ia mencecap hangatnya capuccino pesanannya, sebelum pandangannya tertuju pada lalu lalang kendaraan di luar kafe.
“Hidup itu adalah pilihan, Al. Apa kamu mau mempertahankan cintamu atau melepaskannya dan membuat dirimu berharga dengan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Inget Al, bahagia itu nggak bisa diukur dari apa yang akan kita miliki, tapi seberapa banyak kita bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Jadi pikirkan baik-baik masa depanmu. Jangan terus berkubang pada hal yang sama, apa kamu nggak lelah? Nggak jenuh?”
Alea belum merespons apa yang dikatakan oleh David, membuat David lagi-lagi mengembuskan napas kasar.
“Aku kira kamu wanita yang tangguh. Nyatanya kamu nggak lebih dari wanita labil yang naif. Berharap dengan cara seperti ini Ata akan kembali sama kamu. Kalaupun Ata kembali sama kamu, kamu hanya akan dijadikan tempat pelampiasan aja. Ban serep kasarnya. Mau kamu jadi ban serep? Masa seorang Alea Putri, seorang manajer dari hotel ternama di Surabaya jadi ban serep Ata, kayak nggak ada cowok lain tahu, nggak? Masih mending si Hasbi ke mana-mana,” cerocos David karena dari tadi Alea tidak menanggapinya.
“Ck! Berisik tahu, nggak? Udah kayak kaleng bekas aja mulutmu itu.”
David melongo mendengar tanggapan Alea atas ucapannya. “Kamu nyamain aku sama kaleng bekas?” kesal David.
“Kamu juga nyamain aku kayak ban serep,” balas Alea.
“Makanya move on, biar nggak kayak ban serep. Ata terus yang dipikirin.”
__ADS_1
“Emang siapa yang mikirin Ata?”
“Kamu dari tadi bengong aja, nggak sadar?”
Alea mengabaikan pertanyaan David. Ia menyeruput teh hangat miliknya, lalu mencomot rempeyek yang tersisa di piringnya. “Aku lagi mikirin Runa.”
David mengernyitkan kening, membiarkan Alea melanjutkan ucapannya. “Aku nyesel dulu sempat meminta Khan pada Runa. Aku terlalu gegabah. Aku sama egoisnya seperti Ata. Tanpa aku tahu perjuangan Runa selama ini, dengan seenaknya aku meminta Khan agar Ata mau kembali sama aku.” Alea mengaduk tehnya sebelum membalas tatapan David, “aku udah ikhlas melepas Ata, Vid. Ayok kita kembali ke Surabaya!”
Alea bangkit meninggalkan David yang masih mencerna kalimat yang baru saja diutarakan olehnya. “Alea kesambet apaan bisa langsung berubah pikiran kayak gitu?” tanya David pada dirinya sendiri.
***
Khan masih menutup mata di ruang PICU. Hal itu membuat Runa juga yang lainnya merasa bersedih. Sudah dua hari dirawat, Khan belum menunjukkan kondisi yang lebih baik.
Kemarin, saat Ata meminta Khan segera dipindahkan ke Surabaya, dokter memberi saran agar menunggu kondisi Khan stabil sehingga Khan ditempatkan di ruang PICU. Runa tak sekalipun meninggalkan sang putra. Sedangkan Sandy hari ini tidak bisa menemani karena harus merawat Mira yang drop setelah mendengar keadaan Khan. Tensi darahnya naik drastis.
“Cepat bangun, ya, Sayang. Nanti yangti (eyang putri) ajak Khan jalan-jalan. Kita ke Jatim Park, ke BNS, Selecta, ke mana aja yang Khan mau, pasti yangti turuti. Khan harus sembuh, ya, Nak.”
Maya menahan sesak di dada melihat keadaan cucunya. Rasa sesal itu kian menggunung. Baru beberapa hari ia melihat cucunya, kini cucunya tengah terbaring di ranjang pesakitan. Air matanya sudah menganak sungai tanpa bisa ia cegah. Hasan mengusap lembut punggung sang istri, berharap mampu memberi kekuatan untuk istrinya.
“Run, kami kembali ke Surabaya dulu. Kalau ada apa-apa, tolong segera kabari,” pinta Hasan.
Runa hanya mengangguk lemah. Ia sudah lelah berdebat. Ia sudah lelah dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. Kehadiran Ata kembali dalam hidupnya mampu menjungkirbalikkan dunianya yang baru saja tertata rapi. Ata pun pamit untuk mengantarkan orang tuanya ke stasiun.
Wajah-wajah lelah itu menyiratkan penyesalan, terlebih Ata. Keterangan dari dokter kemarin menyentil hatinya.
“Seandainya Ata nggak gegabah, Khan nggak akan seperti sekarang. Khan pasti masih bisa tersenyum dan bermain,” lirih Ata saat mendampingi orang tuanya di stasiun.
“Semua yang terjadi sudah menjadi suratan. Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Jadikan apa yang terjadi sebuah pelajaran agar kelak tidak melakukan kesalahan yang sama, dan semakin bijaklah dalam mengambil keputusan.” Hasan mencoba menguatkan sang putra.
__ADS_1
“Aku nyesel, Yah. Aku tahu aku egois, tapi aku hanya ingin Khan dan Runa ada di sisiku. Mereka sumber kebahagiaanku.”
“Nak, adakalanya kita harus melepaskan sesuatu yang memang tidak diperuntukkan untuk kita. Jangan memaksakan kehendak, jika itu semakin menyakiti Runa dan Khan. Apa kamu mau melihat mereka menderita berada di sisimu? Apa kamu bisa bahagia di atas luka mereka? Pikirkan baik-baik. Kamu sudah dewasa, sekali-kali pikirkan perasaan orang lain bukan hanya perasaanmu sendiri.” Hasan menepuk pundak sang putra sebelum masuk ke dalam gerbong kereta yang akan membawa mereka kembali ke Surabaya.
***
“Pasien sudah bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar,” kata sang dokter setelah memeriksa keadaan Khan.
“Tapi kenapa anak saya masih belum sadar, Dok?” Runa menatap sang dokter yang menangani Khan dengan pias.
“Banyak berdoa, ya, Buk. Hanya itu yang bisa saya sarankan.”
“Apa kondisi keponakan saya separah itu, Dok?” Runi ikut menyela perbincangan.
“Kemungkinan pasien membutuhkan donor jantung.”
Kalimat terakhir sang dokter menjebol pertahanan Runa. Tubuhnya seketika oleng, beruntung Ata datang tepat waktu sehingga mampu menahan tubuh Runa yang akan terhempas ke lantai.
“Saya akan segera urus semuanya. Saya mohon berikan yang terbaik untuk anak saya,” pinta Ata.
Ata segera mengurus segala persiapan juga administrasi untuk membawa Khan ke Surabaya, sedangkan Runi, Lina, dan Lukman berusaha menguatkan Runa.
“Jangan tinggalkan bunda, Nak. Bunda mohon. Setelah tujuh tahun kita berjuang bersama, jangan tinggalkan bunda untuk melangkah sendirian. Perjuangan kita belum berakhir, Khan. Bunda mohon,” lirih Runa di samping ranjang putranya.
...****************...
...To be continued...
Jangan lupa like dan komentar, ya 👍
__ADS_1