
...*****...
...~Aku akan terus berusaha untuk mendekatimu, sampai engkau tahu, betapa aku mecintaimu~...
... *Sandyakala*...
...*******...
“Ayah, Khan mau. Khan mau Ayah menikah dengan Bunda. Khan mau kita tinggal bersama, Yah. Khan juga mau, selalu ditemani Ayah. Ditemani saat Khan belajar, ditemani saat Khan ingin bermain, dan saat Khan mau tidur. Khan juga mau diantar dan dijemput Ayah saat ke sekolah, seperti yang selalu dilakukan sama ayahnya teman-teman Khan," terang Khan yang seketika membuat hati Sandy mencelos, karena Khan menginginkan sesuatu yang tidak pernah ia dan Runa berikan, yaitu keutuhan keluarga mereka. Namun di sisi lain, ia juga diliputi perasaan bahagia karena Khan ternyata juga begitu menyayanginya.
“Ayah, Khan mau kalau kita; Ayah, Bunda, nek Mira dan nek Sekar tinggal bersama. Khan mau punya keluarga yang lengkap seperti teman-teman Khan yang lain,” lanjut Khan dengan mata sendu penuh harap.
“Terima kasih, ya, Khan, karena Khan sudah mau menyayangi dan menerima ayah di kehidupan Khan dan Bunda, ayah akan berusaha membujuk Bunda agar kita bisa tinggal bersama,” ucap Sandy seraya mengelus pucuk kepala pria kecil itu dengan penuh rasa sayang, yang dibalas dengan anggukan penuh semangat oleh anak lelaki berwajah imut tersebut.
Setelah selesai mengungkapkan isi hatinya pada Khan, Sandy dan Khan pun mulai menikmati makanan yang mereka pesan di tengah pemandangan gemerlap lampu kota di malam hari.
“Setelah makan, Khan ingin ke mana lagi? Nanti biar ayah antar,” tanya Sandy pada Khan diakhir suapan sosisnya.
“Ayah, bolehkah Khan naik odong-odong di ujung jalan sana? Tadi Khan lihat ada anak seumuran Khan menaikinya.” Khan memohon dengan puppy eyes-nya, yang membuat Sandy mengkerutkan dahi.
“Odong-odong?” tanya Sandy dengan mimik wajah terkejut.
“Iya, Ayah, memangnya kenapa kalau Khan naik odong-odong. Apa tidak boleh?” tanya Khan sambil memanyunkan bibir.
“Bukannya tidak boleh sayang, ayah hanya sedikit terkejut. Karena, tumben anak ayah ini mintanya naik odong-odong. Biasanya Khan mintanya buku gambar dan pewarna yang biasa kita beli di toko buku di dekat sini. Bukannya naik odong-odong.” Sandy mencoba menjelaskan. Sandy sedikit terkejut dengan permintaan Khan karena selama ini Khan selalu bersikap dan bersifat dewasa. Melewati usianya yang sebenarnya masih kanak-kanak.
“Jadi gimana, Yah. Boleh nggak?” tanya Khan sekali lagi.
“Boleh, dong. Tentu saja boleh. Apa pun akan ayah turuti asalkan raja kecil ayah ini bahagia.” Sandy pun tersenyum, ia merasa bahagia jika Khan berani meminta sesuatu padanya, pasalnya selama ini, Khan bukanlah anak yang sering merengek jika meminta sesuatu padanya. Bahkan pada Runa sekalipun. Khan akan menerima apa pun yang ayah dan bundanya berikan.
Setelah puas dan lelah bermain odong-odong, Khan pun meminta Sandy untuk membawanya pulang, karena ia sudah sangat mengantuk.
“Ayah, ayo kita pulang! Khan udah ngantuk,” ucap Khan yang sesekali menguap menandakan anak itu benar-benar mengantuk.
__ADS_1
“Oke, boy, sekarang kita pulang. Sini ayah gendong.” Sandy pun mulai menggendong Khan menuju mobilnya dan mulai memakaikan seatbelt sesaat setelah Sandy menutup pintu mobil.
Perjalanan menuju ke rumah Runa tidak membutuhkan waktu lama, karena hari yang sudah malam. Pun di sebelah kursi pengemudi Khan sudah tertidur dengan lelap. Sedang di sebelahnya Sandy tersenyum senang.
“Aku akan terus berusaha untuk mendekatimu, sampai engkau tau betapa aku mencintaimu, Runa,” batin Sandy di sela perjalanannya menuju rumah Runa.
Sesampainya mobil Sandy di halaman rumah Runa yang berhiaskan dengan barisan bunga camelia yang indah, terlihat wanita cantik itu duduk di teras menunggu kehadirannya dan Khan. Senyum senang jelas terukir di wajah ayu milik Runa. Sesaat setelah mobil terparkir dengan rapi, Runa pun segera bergegas menuju ke sisi kiri mobil di mana Khan berada. Rupanya Sandy yang ternyata sudah turun pun menatap wajah ayu Runa dengan senyum yang meneduhkan, membuat jantungnya terus berdegup kencang.
“Apa Khan tidur, Mas?” tanya Runa pada Sandy
“Iya, Run, tadi katanya dia lelah karena kelamaan naik odong-odongnya,” jelas Sandy.
“Apa, Mas, naik odong-odong? Tumben Khan mau naik odong-odong. Apa tadi Khan menyusahkanmu, Mas?” tanya Runa lagi.
“Khan yang menginginkannya Run, katanya dia melihat ada anak sebayanya yang menaiki odong-odong. Makanya aku ajak. Lagi pula hari ini Khan sama seperti kemarin. Khan tetap menjadi anak yang baik dan pandai, sama sekali tidak menyusahkanku,” ucap Sandy dengan yakin.
“Mas, terima kasih, ya, karena kamu selalu ada untukku dan Khan. Dan maafkan aku karena kami selalu merepotkan dan menyusahkanmu,” ucap Runa seraya menundukkan wajah. Wanita itu benar-benar merasa tidak enak atas semua kebaikan Sandy.
“Baiklah, Mas. Ini sudah malam, aku akan membawa Khan masuk. Sebaiknya Mas pulang.” Bukannya Runa ingin mengusir Sandy. Walaupun hubungan mereka terlihat baik, tetapi tidak pernah sekalipun Runa membiarkan Sandy masuk ke dalam rumahnya tanpa didampingi Bu Mira atau orang dewasa lainnya. Karena Runa takut akan menimbulkan fitnah.
Setelah membantu memindahkan Khan ke dalam pelukan Runa. Sandy pun pamit untuk pulang.
“Oke, aku akan pulang sekarang. Good night and sweet dreams,” ucap Sandy sambil tersenyum kemudian mengelus pucuk kepala Runa.
Yang dibalas dengan gumaman kecil oleh Runa. “Good night, Mas.”
***
Pagi menjelang siang, cuaca di Wonosobo cukup kondusif bagi para wisatawan. Banyak wisatawan lokal maupun interlokal yang mulai menjejakkan kaki ke tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Berbeda dengan para wisatawan lain, Ata justru memilih Resto ‘Madang' sebagai tempat tujuannya. Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit pagi ini dengan David, akhirnya sampailah ia di restoran tersebut. Perdebatan antara memilih bertahan di Wonosobo atau kembali ke Surabaya, akhirnya Ata memilih untuk tetap berada di Wonosobo sedangkan David harus kembali ke Surabaya karena ada pertemuan yang tidak bisa diwakilkan.
Sedangkan Ata, kali ini ia akan berusaha lebih keras lagi agar ia bisa menemui dan bicara dengan Runa, wanita yang selama ini ia rindukan. Hari ini Ata memilih untuk duduk di saung yang berada di antara bunga camelia, ia sengaja memilih saung itu karena lokasinya yang tidak jauh dengan kantor dan dapur milik Runa. Semalam Ata sudah mencari informasi dari supir sewaannya tentang keberadaan Runa di resto ‘Madang', dan informasi yang Ata dapatkan bahwa Runalah pemilik dari restoran yang cukup ramai tersebut. Pun dari tempat itu, Ata bisa melihat keberadaan Runa-nya nanti. Karena Ata memiliki rencana, jika nanti ia melihat Runa, ia akan segera menghampiri dan akan menjelaskan semuanya. Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada Ata, karena belum lama Ata menunggu, wanita yang selama ini ia rindukan tiba-tiba muncul dari arah dapur menuju ruang kantornya. Ata yang melihat hal itu segera menghampirinya dengan tergesa.
“Runa?” panggil Ata yang seketika membuat Runa diam membeku karena mengenali suara itu, dan dengan napas memburu Ata pun menghampiri Runa.
__ADS_1
“Runa, jangan pergi lagi. Kumohon dengarkan penjelasanku dulu.” Ata yang sudah berada di belakang tubuh Runa pun segera memegang pergelangan tangan kiri Runa dan membalikkan tubuhnya, sehingga sekarang mereka berdua saling berhadapan.
“Maafkan aku, Ta. Sepertinya saat ini tidak ada satu hal pun yang ingin aku dengar atau aku bicarakan denganmu,” ucap Runa dengan nada yang cukup tegas, membuat Ata seketika terdiam membeku, karena dulu Runa-nya tidak pernah bersikap seperti itu padanya.
“Aku mohon, Run. Agar suatu saat tidak ada lagi penyesalan dalam diriku.” Ata mulai memohon dan seketika membuat hati Runa luluh.
“Baiklah, kita bicara sebentar, tapi waktuku tidak banyak,” jelas Runa yang merasa tidak nyaman Ata berada di dekatnya.
“Oke, makasih, Run. Terima kasih. Aku sangat menghargai itu,” ucap Ata dengan wajah bahagia.
Namun, kebahagiaan yang Ata rasakan harus terjeda karena ada suara teriakan anak kecil yang cukup mengganggu hati dan pikirannya.
“Bunda ...,” teriak Khan dari arah depan resto yang diikuti oleh seorang lelaki bertubuh tinggi.
“Hai, Sayang. Jangan lari-lari, nanti jatuh,” ucap Runa seraya duduk menyamai tinggi tubuh putranya.
“Maafin Khan, ya, Bun. Khan sudah bikin Bunda khawatir.” Khan merasa bersalah karena sudah membuat bundanya khawatir.
“It’s okay, Sayang. Lain kali jangan diulangi, ya!" Runa mencoba menasihati Khan yang dibalas dengan senyum dan anggukan polos milik Khan.
“Run?” Suara Sandy mengalihkan atensi Runa dari Khan. Laki-laki berkaos navy dengan setelan jeans hitam mendekat ke hadapan Runa
“Mas, aku minta maaf karena minta kamu buat jemput Khan di sekolah.” Runa merasa bersalah karena terus-terusan merepotkan Sandy, yang justru dibalas Sandy dengan usapan lembut di pucuk kepala Runa.
“Kenapa harus minta maaf, sih, Run? Bukankah itu kewajibanku sebagai ayahnya Khan? Jadi wajarlah kalau aku yang menjemput putraku di sekolah. Iya, nggak, jagoan ayah?” tanya Sandy pada Khan yang juga memberikan telapak tangannya untuk melakukan high five yang ternyata juga dibalas oleh Khan.
“Khan seneng, kok, Bun, kalau dijemput Ayah. Malah Khan maunya di jemput Ayah setiap hari.” Khan mulai berkata dengan polosnya. Namun, tanpa mereka sadari ada seseorang di antara mereka yang ternyata merasakan sakit yang teramat sangat melihat keharmonisan keluarga tersebut. Iya, dia adalah Ata, pria yang sedang terbakar api cemburu.
“Seharusnya itu aku. Seharusnya akulah yang berada di posisi itu. Harusnya akulah yang menjadi suami Runa, menjadi ayah untuk anak-anak Runa, bukan pria itu.” Protes itu hanya mampu Ata utarakan di dalam hatinya. Hati Ata begitu nelangsa melihat kebersamaan keluarga kecil itu. Ia berpikir, jika Sandy adalah suaminya Runa.
...****** ...
...To be continued...
__ADS_1