
...****************...
...-Pada akhirnya, semua hanya tentang seandainya, karena waktu tidak lagi bisa diulang.-...
...Byakta Kalingga...
...****************...
Setelah berbicara dengan Runi, Runa kembali ke kamar Khan untuk melihat kondisi anaknya. Ia begitu merindukan malaikat kecil yang kini masih terbaring lemah. Ia juga tidak bisa meninggalkan Khan tanpa pengawasannya.
Saat sampai di ruangan Khan, terlihat Khan mungil masih belum sadarkan diri. sedangkan orang tuanya masih berada di tempat duduk tak jauh dari tempat tidur Khan. Runa pun duduk di sebelah Khan. Ia usap lembut kapala anaknya. "Khan sayang, kamu mendengar bunda, Nak? Bunda di sini menunggu kamu, Sayang. Jangan ninggalin bunda, ya! Bertahanlah untuk bunda. Kamu adalah sumber kekuatan bunda. Percaya sama bunda, bunda akan segera menemukan pendonor untukmu. Bertahan ya, Sayang!" Runa masih terisak melihat kondisi Khan. Ia bawa tangan Khan untuk menyentuh pipinya. sesekali ia usap tangan mungil itu, berharap agar Khan mendengar suaranya.
Tidak ada yang bisa Runa lakukan selain berdoa agar dokter segera menemukan pendonor yang tepat untuk anaknya. Ia sudah tak sanggup melihat Khan yang biasanya banyak bicara, kini hanya diam dan tak bergerak. Jika bisa diganti, biarkan ia saja yang terbaring di sana, jangan Khan. Ia masih terlalu kecil untuk merasakan sakit seperti ini.
Lina menghampiri Runa. "Run, makan dulu!" pinta Lina.
"Iya Ma. Nanti Runa makan."
"Run, kamu harus isi perut kamu dulu biar ada tenaga. Sekarang biar mama, ayah, dan Runi yang menjaga Khan. Sejak Khan di rumah sakit, makan kamu nggak teratur, Nak."
"Runa cuma nggak mau ninggalin Khan, Ma. Nanti kalo dia sadar nggak ada Runa, gimana?" keluh Runa.
Runa memang tidak ingin melewatkan satu pun perkembangan Khan. Ia tidak ingin meninggalkan ruangan Khan. Seandainya ia keluar ruangan pun keluar hanya untuk melihat kondisi Sandy yang berada di rumah sakit yang sama. Ia harus jadi orang pertama yang tahu tentang perkembangan kesehatan Khan.
Melihat Kakaknya yang tidak segera beranjak, Runi pun berniat untuk membelikan Runa makanan. Runi tahu, akan percuma meminta Runa meninggalkan Khan di saat kondisi Khan seperti ini. "Biar Runi belikan dulu, Ma."
Saat akan membuka pintu, sesaat Runi menghentikan langkahnya saat melihat Ata yang hanya berdiri di depan pintu. "Mas, kok nggak masuk?" tanya Runi pada Ata.
__ADS_1
"Iya, Run. Nanti aku masuk, aku tidak tega mengganggu kakakmu. Aku takut keberadaanku akan memperburuk suasana dan semakin membuatnya bersedih," jawab Ata sungkan.
"Baik, Mas. Runi keluar dulu, mau membelikan makanan untuk Mbak Runa."
Lukman dan Lina yang melihat betapa terpukulnya Runa, membuat mereka pun tidak tega untuk meninggalkan Runa sendirian menunggu Khan. Sedangkan Ata, ia hanya bisa mengintip Runa dari celah pintu kamar. Ata yang tidak tega melihat Runa yang terus menangisi keadaan Khan hanya bisa menunggu semalaman di luar ruangan, walapun sesekali ia akan masuk ke dalam kamar Khan untuk melihat kondisi anaknya.
***
Pagi ini, Runa terbangun dalam keadaan lelah dan lemas. Bagaimana tidak, tidurnya hanya dua jam dan dalam kondisi duduk di samping tempat tidur Khan. Makanan yang dibelikan Runi pun tidak banyak yang masuk ke dalam mulutnya.
Sedangkan Ata, pagi-pagi sekali Ata sudah berada di dalam ruangan, menyelimuti Khan saat Runa masih terlelap. Kini, lelaki itu duduk dan berbicara dengan Lukman.
"Selamat pagi," sapa dokter yang masuk ke ruangan Khan bersama perawat di belakangnya.
"Pagi, Dok."
"Baik, Dok," jawab Runa sambil bergeser, memberikan ruang untuk dokter lebih leluasa memeriksa anaknya.
"Orang tua dari Khan?" tanya dokter begitu ia selesai memeriksa.
"Saya, Dok," jawab Ata dan Runa bersamaan. Mereka pun segera berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan Khan, Dok?" tanya Runa antusias.
"Puji syukur, ada kabar gembira untuk Khan. Kita sudah menemukan pendonor jantung yang tepat. Jadi, saya harap Ibu dan Bapak bisa menemui saya untuk tanda tangan berkas dan ke bagian adminitrasi untuk mengurus surat-suratnya, agar bisa segera ditangani," jelas dokter.
Betapa bahagianya Runa saat mendengar apa yang diucapkan dokter. Tidak hentinya ia mengucapkan syukur atas kabar bahagia tersebut. Runa langsung memeluk tubuh Khan dan menciuminya. Ia begitu bahagia, karena sebentar lagi Khan akan tumbuh menjdi anak normal lainya. Ia tidak akan merasakan sakit lagi.
__ADS_1
Sama seperti Runa, Ata pun menggenggam tangan mungil Khan. "Bertahan, ya, anak ayah yang kuat. Ayah yakin, Khan pasti sembuh. Ayah janji, kalau Khan sembuh, ayah akan membuat Khan bahagia. Apa pun yang Khan minta akan ayah kabulkan. Apa pun itu, Nak! Ayah janji!" ucap Ata bersungguh-sungguh. Ia begitu serius dengan apa yang ia ucapkan. Seolah-olah kebahagian Khan adalah segalanya baginya, walaupun belum lama mereka bertemu.
Sepeninggal dokter dari ruangan, Runa pun segera bersiap menemui dokter untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
"Ma, Yah, Runa titip Khan dulu. Runa harus menyiapkan keperluan-keperluan untuk operasi Khan,"
"Iya, Sayang. Kamu minta temani Ata, ya?" pinta Lukman. Runa Runa melirik Ata sebentar, lalu mengiyakannya.
Sebelum mengurus surat, Runa terlebih dahulu berjalan menuju ruang rawat Sandy, ia ingin melihat kondisi lelaki itu. "Kamu mau ke mana, Run?" tanya Ata yang melihat arah langkah Runa yang berlawanan dengan ruang dokter dan bagian administrasi.
"Aku mau lihat kondisi Mas Sandy."
"Aku temani, Run."
Dari luar ruangan, terlihat Mira dan Sekar menemani Sandy. Niat Runa ingin masuk akhirnya diurungkan. Ia tidak ingin membuat keributan di sana. Ia tahu, Sekar belum bisa menerimanya, apalagi melihat kondisi Sandy yang seperti ini, membuat Sekar semakin membencinya. Kini, Khan sudah mendapat donor jantung, lalu bagaimana dengan Sandy? Apa kondisinya sudah membaik?
Tidak sedikit rasa bersalah yang ia rasakan saat ini. Mengingat karena ialah Sandy menyusulnya hingga menyebabkan kecelakaan. Namun, bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Runa sangat ingin menemui Sandy.
Ata mengamati cara Runa melihat Sandy. Tersirat rasa yang tidak bisa ia katakan. Rasa yang dulu pernah ia miliki, tetapi saat ini sudah tidak lagi ia dapatkan. Jika saja dulu ia tidak meninggalkan Runa, saat ini ia pasti sudah bersama Runa dan Khan. Menjadi keluarga yang dipenuhi kebahagiaan.
Namun, pada akhirnya semua hanya tentang seandainya. Waktu tidak lagi bisa diulang. Penyesalan tidak akan mengubah masa lalunya. Ata sungguh ingin melihat Runa memiliki kebahagiaan. Sudah cukup bagi Runa untuk menderita setelah kepergiannya yang tanpa ia sadari meninggalkan beban yang berat bagi Runa. Jika kebahagiaan Runa dan Khan bukan ada padanya, ia harus belajar ikhlas untuk menerimanya. Mungkin ini adalah balasan yang harus ia terima.
...****************...
...To be continued...
Kira-kira jantung siapa yang didonorkan buat Khan? 🤔
__ADS_1