Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
54 (End)


__ADS_3

...****************...


...“Setiap kebaikan akan selalu berbuah manis, entah kapan buah itu akan dituai, yang penting berbuat baik saja.”...


...~Author~...


...****************...


Bunga Camelia dan mawar putih yang menjadi favorit Runa, tampak menghiasi dekorasi pernikahan Runa dan Sandy. Resepsi pernikahan itu berlangsung dengan sederhana. Tidak banyak tamu yang diundang. Hanya ada kerabat dekat, tetangga, dan beberapa orang teman yang tampak hadir di resepsi itu.


Sang pengantin wanita tampil memukau dengan riasan sederhana, tetapi membuatnya semakin anggun. Kebaya modern berwarna baby pink tampak pas membalut tubuh rampingnya. Netra Sandy tak pernah lepas dari wajah cantik istrinya.


“Jangan lihatin terus!”


“Lihatin istri sendiri masa nggak boleh?” ucap Sandy sambil tersenyum lucu.


“Malu, Mas.”


“Kenapa harus malu?” Alis Sandy terangkat sebelah. Ia tak mengerti kenapa Runa merasa malu. “Aku beruntung bisa memiliki kamu, Run. Kamu dan Khan adalah pelengkap hidupku. Terima kasih, sudah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dalam hidupmu dan Khan.”


“Aku dan Khan yang beruntung, Mas. Kamu adalah laki-laki yang baik, tapi kamu mau menerima aku dengan masa laluku yang bisa dibilang tidak baik. Terima kasih,” ucap Runa dengan senyum tulus yang membingkai bibirnya.


Pendar cinta itu tak pernah padam dari hati juga mata Sandy. Setelah sekian tahun, akhirnya kisah cintanya berakhir bahagia. “Aku sangat mencintai kamu, Run. Dulu, sekarang, dan selamanya. Hanya kamu yang mampu membuat hatiku berdebar hebat, sampai aku sendiri kewalahan mengatur debarnya saat berada di sisimu.”


Wajah Runa seketika merona mendengar pengakuan cinta dari Sandy, dan Sandy menikmati itu. “Aku juga mencintai kamu, Mas. Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak.”


Sandy mengecup kening Runa. Baru saja adegan romantis itu dimulai, tiba-tiba Khan hadir di tengah-tengah Sandy dan Runa. “Jangan cium Bunda terus, Ayah! Khan juga mau dicium,” protes Khan.


Tingkah Khan tak ayal membuat Runa dan Sandy gemas, hingga Sandy dan Runa mencium Khan bertubi-tubi. Khan tergelak. Ia bahagia. Impiannya untuk memiliki keluarga yang utuh telah tercapai. Semua keluarga yang menyaksikan Khan, Sandy, dan Runa tersenyum bahagia.


Suasana hangat dan kekeluargaan tercipta karena acara itu digelar secara outdoor di halaman depan rumah Runa. Sandy dan Khan tak kalah memesona. Bisik-bisik para tetangga mulai terdengar di telinga. Sanjungan untuk kedua mempelai tak pernah berhenti terdengar.


“Mereka pasangan yang serasi, ya, Jeng?” Ibu RT yang turut hadir menatap pasangan pengantin dengan binar penuh kekaguman.


“Iya. Ini namanya bibit unggul, Jeng. Yang laki ganteng, yang perempuan cantik. Adiknya Khan nanti pasti nggak kalah cakep dari abangnya.” Ibu bergamis merah ikut menimpali.


Ata yang baru saja hadir pun turut mendengar bisik-bisik itu. Ia hanya bisa tersenyum miris. Ia masih belajar untuk ikhlas, karena Runa –wanita yang ia cintai sepenuh hati –itu tidak menjadi jodohnya. Mungkin ini sudah saatnya ia melepaskan semua cinta yang ada di hatinya untuk Runa. Cinta yang tumbuh begitu subur terpaksa ia pangkas habis. Meski berat, ia akan mencoba.


Ata berjalan menghampiri sepasang pengantin yang tengah tersenyum bahagia. Khan –putranya –pun tak kalah bahagia. Semua itu terlihat begitu jelas dari raut wajah mereka yang penuh tawa.


“Hai.” Suara Ata mengalihkan atensi mereka.


“Selamat, ya.” Ata mengulurkan tangan dan disambut hangat oleh Sandy.


“Makasih sudah bersedia hadir di acara sederhana ini.” Sandy memeluk Ata dengan menepuk pelan punggung Ata.


Ata tersenyum, “Aku titip Runa dan Khan. Tolong bahagiakan mereka. Mereka pantas untuk bahagia.”

__ADS_1


“Aku akan berusaha semampuku.”


Ata mengangguk. Kini pandangannya beralih pada Runa yang terlihat sangat cantik di matanya.


“Karma itu benar terjadi, ya, Run? Dulu, aku memaksamu untuk melepaskan cinta yang ada di hatimu. Dan kini, aku merasakannya, Run. Rasanya sakit. Sesak. Bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit. Maafkan aku, Run. Sekarang aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu. Setidaknya aku bersyukur, pernah memiliki dan mencintai wanita hebat sepertimu. Sekarang aku terima, jika aku memang bukan pilihan hatimu,” batin Ata.


“Om?” Panggilan Khan menyadarkan Ata dari lamunannya.


“Hay, Boy.” Ata menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Khan.


“Jangan nangis, ya! Bunda biar sama ayah. Masih ada tante Alea yang cantik di sana,” kata Khan sambil menunjuk ke arah Alea yang tengah duduk sendiri.


“Om janji nggak akan nangis, tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Khan mau manggil om ayah, nggak?”


Khan diam. Ia mendongak, melihat bunda dan ayahnya. Runa dan Sandy mengangguk, menyetujui.


“Ayah Khan cuma satu, Ayah Sandy.”


Ata terdiam. Sulit sekali meluluhkan hati anaknya sendiri. “Baiklah. Om paham.” Ata mengusap lembut kepala Khan, “jadi anak yang baik, ya!” Ata bangkit, netranya menemukan netra Runa yang dipenuhi rasa bersalah.


“Pelan-pelan, ya, Ta,” pinta Runa.


“Makasih," balas Runa.


Ata baru saja hendak melangkah saat suara Khan menginterupsi niatnya. “Tapi Khan bisa panggil papa meski nggak bisa panggil ayah.” Seketika itu tubuh Ata membeku di tempat.


Ia meyakinkan diri jika ia tidak salah dengar. Satu detik, dua detik, hingga dihitungan ke sepuluh, suara Khan kembali terdengar. “Papa,” panggilnya.


Saat itu pula Ata langsung berbalik dan memeluk Khan dengan erat. Air matanya tidak bisa dibendung. Ata terisak memeluk Khan.


“Makasih, Sayang. Makasih. Papa sayang sama Khan. Papa sayang Khan,” ucapnya berkali-kali.


“Khan tahu, Papa.”


Suasana haru seketika menyelimuti. Runa pun tak kuasa membendung air matanya. Sandy yang melihat Runa menangis langsung mendekapnya dalam pelukan.


***


Ata membawa Khan jalan-jalan. Semakin hari hubungannya bersama sang putra semakin baik, hingga permintaan Khan hari ini membuat Ata mati kutu. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Alea turut hadir di antara ia dan Khan. Itu semua atas permintaan Khan.


“Papa harus bahagia seperti bunda dan ayah. Tante Al cantik, loh, Pa. Tante mau, kan, jadi mamanya Khan?” pinta bocah kecil itu.


Alea hanya tersenyum mendengar permintaan Khan, sedangkan Ata terbelalak tak percaya.

__ADS_1


“Kenapa kalian para orang dewasa begitu rumit? Suka sekali menangis, padahal bahagia itu mudah.” Khan melirik Ata dan Alea yang diam membisu. “Kalian nggak asyik. Khan pulang aja. Udah dijemput sama Bunda. Bye, Pa, Tante Al.” Khan mengecup singkat pipi Ata dan Alea, lalu berlari menuju sang bunda yang sudah menjemputnya di luar kafe. Meninggalkan Ata dan Alea yang tidak mampu bersuara.


***


Ata dan Alea kembali dekat sejak hari itu. Mereka memutuskan untuk berteman kembali. Alea seakan menjadi obat untuk luka di hati Ata. Kehadirannya mampu mengalihkan pikiran Ata yang terkadang masih memikirkan Runa. Pembawaan Alea yang ceria nyatanya menjadi hiburan tersendiri bagi Ata.


“Lusa mau pergi sama aku ke Wonosobo?” tanya Ata.


“Kayaknya nggak bisa, Ta.”


“Kerjaan lagi banyak, ya?” tanya Ata.


“Enggak juga, sih. Cuma nggak janji dapat izin dari ayah aja.”


“Om masih marah banget, ya?”


Alea mengedikkan bahu. Ia sendiri pun tak tahu.


“Bakal susah minta restu lagi ini,” lirih Ata, tetapi masih bisa didengar oleh Alea.


“Maksud kamu?”


Ata menghela napas panjang sebelum mengutarakan maksudnya. “Al, mungkin ini terkesan buruk buat kamu, tapi aku berharap kamu mau kasih aku kesempatan. Aku ingin memulai kembali hubungan kita. Aku tahu, aku pria brengsek, tapi percayalah. Untuk kali ini aku hanya ingin bersama kamu, Al. Kamu mau kasih aku kesempatan?”


Alea diam. Ia bingung harus menjawab apa. Jika menuruti hatinya, ingin sekali ia memberikan kesempatan pada Ata. Hatinya masih dipenuhi oleh nama Ata. Hanya saja, ia takut kecewa kembali menyapa.


“Al?”


“Aku takut, Ta.”


“Apa yang kamu takutkan?”


“Aku takut kamu ninggalin aku lagi," lirih Alea.


“Kali ini aku janji, Al. Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku harap kamu percaya.” Ata menggenggam erat tangan Alea, “please, kasih aku kesempatan.”


Entah setan atau malaikat yang tengah merasuki Alea. Kepalanya mengangguk begitu saja dan itu membuat Ata tersenyum bahagia. “Makasih, Al. Aku janji kali ini nggak akan kecewakan kamu.”


“Jangan berjanji, Ta. Aku mau bukti,” tegas Alea.


“Pasti, Al. Akan aku buktikan.” Kali ini Ata menjawab dengan mantap. Membuat Alea menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.


Sepenuhnya Alea sadar, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan setiap manusia berhak diberikan kesempatan untuk membuktikan diri menjadi lebih baik. Alea pasrah dengan takdir yang sudah digariskan untuknya, karena hidup itu pilihan. Ia percaya, setiap kebaikan akan selalu berbuah manis, entah kapan buah itu akan dituai, yang penting berbuat baik saja.


...~Happy Ending~...


...Udah ending, man teman. Makasih, ya, atas kebersamaan kalian sampai novel ini selesai. Mohon maaf jika belum memberikan bacaan yang memuaskan. Kami masih terus belajar dan belajar. Semoga kalian masih setia menunggu karya kami selanjutnya 🤗...

__ADS_1


...Salam hangat team Eska'er 🙏🥰...


__ADS_2