
...*****...
...“Wanita yang hebat adalah wanita yang bisa melalui masa terpuruknya. Meski ia harus melewati kerikil tajam dan membuatnya berjalan dengan penuh luka untuk menggapai akhir yang sempurna.”...
...~Sandyakala~...
...*****...
“Run?” Sandy menghampiri Runa yang tengah duduk di ruang tengah. Ia pun mengambil duduk di samping wanita itu.
Runa bergeming. Sandy menatap lekat wajah pujaan hati yang terlihat risau. Setelah pertemuan singkat antara Runa, Sandy, Khan, Ata, David, dan Alea, Runa menjadi pendiam. Banyak hal berkecamuk dalam pikiran Runa. Sedangkan Khan sudah terlelap sejak 15 menit yang lalu setelah puas bermain dengan Sandy.
“A-aku.” Runa tergagap. Hadirnya Ata kembali dalam hidupnya membuat Runa bingung dalam bersikap.
“Tenangkan dirimu dulu! Aku tahu ini semua mengejutkanmu. Ada aku, jangan khawatir.”
Genggaman hangat dari Sandy yang melingkupi jemari Runa membuat Runa sedikit tenang. Sandy selalu bisa diandalkannya. Runa menyandarkan kepala di bahu pria yang selalu ada untuknya itu, dan Sandy menyambut dengan melingkarkan tangan di bahu Runa.
“Sebelum tadi, aku juga sudah bertemu dengannya,” terang Runa.
“Kapan?” tanya Sandy dengan intonasi lemah. Sandy tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ia mengira jika tadi adalah pertemuan pertama antara Ata dengan Runa, setelah mereka berpisah lama. Ternyata ia salah.
“Sudah beberapa hari yang lalu, waktu di resto. Kami tidak sengaja bertemu.”
Hening.
Sandy belum mengeluarkan sanggahan apa pun dari kalimat yang baru saja ia dengar, hingga Runa melanjutkan ceritanya. “Kami hanya sempat ngobrol sebentar, bertanya seputar kabar. Sudah itu saja.”
“Lalu, bagaimana perasaanmu?”
“Perasaan mana yang Mas maksud?”
Sandy terdiam. Sesungguhnya ia ingin mengetahui apa Runa masih mencintai Ata, atau sudah mengubur perasaan cinta yang dulu begitu menggebu.
“Jika yang Mas maksud tentang perasaan cinta yang dulu pernah ada, itu sudah lama menghilang, Mas. Seiiring dengan kepergiannya dulu.”
Sandy mengembuskan napas lega. Sungguh, ia tak ingin kehilangan Runa setelah semua yang mereka lewati bersama. Dulu, ia mampu memendam cintanya dan merelakan Runa bahagia dengan Ata. Tidak untuk kali ini. Katakanlah Sandy egois, tapi rasa cintanya yang sekarang jauh lebih besar dibanding dulu. Ia bisa mati tanpa Runa dan Khan di sampingnya.
“Tapi, Run, aku melihat masih ada cinta di mata Ata buat kamu.”
Runa mendongak, menatap wajah Sandy yang berkharisma, “Itu hanya perasaanmu saja, Mas. Ata sudah memiliki Alea. Dan aku sudah memiliki Khan juga kamu. Jadi, jangan berpikir aneh-aneh!” pinta Runa.
“Aku percaya sama kamu. Tapi sebagai sesama lelaki, aku tahu betul bahwa masih ada banyak cinta di hati Ata buat kamu,” batin Sandy. Namun, untuk menenangkan hati wanitanya, ia mengangguk saja atas permintaan Runa.
Sandy mendekap Runa dengan erat, “Aku takut kehilangan kamu dan Khan.”
“Aku bukan pilihannya. Lalu apa yang Mas takutkan? Aku tidak mungkin kembali padanya. Aku lihat Alea juga wanita yang baik. Mereka pasangan yang serasi. Dan Ata beruntung mendapatkan gadis cantik seperti Alea.”
__ADS_1
“Aku lebih beruntung mendapatkan kamu, Run.”
Sandy kecup pucuk kepala Runa dengan sayang. Runa bisa merasakan seberapa besar cinta Sandy untuknya.
“Wanita yang hebat adalah wanita yang bisa melalui masa terpuruknya. Meski ia harus melewati kerikil tajam dan membuatnya berjalan dengan penuh luka untuk menggapai akhir yang sempurna. Dan wanita itu adalah kamu, Arunika Pramesti. Aku tak akan lagi melepasmu. Biarkan aku menjadi egois untuk sekarang dan aku berjanji untuk selalu membahagiakanmu,” batin Sandy.
***
“Aku kira Mbak Runa sama Mas Sandy itu klien kamu, Sayang. Ternyata teman kuliahmu.” Alea bergelayut manja di lengan Ata saat mereka menyusuri lorong menuju kamar Alea. Ata hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan Alea. Pikirannya berkecamuk memikirkan Runa dan keluarga kecilnya.
“Anak mereka ganteng, ya. Nanti kalau kita punya anak laki-laki aku harap bisa seganteng Khan."
“Sudah malam, tidurlah!” Ata lagi-lagi tidak menanggapi ucapan sang kekasih. Ia justru menyuruh Alea untuk segera masuk ke dalam kamarnya, saat mereka tiba di depan pintu kamar Alea.
“Apa kamu mau langsung pergi?” Alea menatap Ata dengan sendu. Meski ia terlihat ceria, nyatanya hatinya terasa sesak saat calon suaminya bersikap dingin semenjak Alea tiba di Wonosobo.
“Sudah malam, Al. Aku juga lelah, ingin istirahat.”
“Apa aku berbuat salah?” tanya Alea. Netra hazelnya sudah memupuk cairan bening yang mendesak untuk ke luar dari peraduan.
“Maksud kamu?” Ata menatap lekat wajah Alea yang terlihat sayu.
“Kamu mengabaikanku. Apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman saat ada aku di sampingmu?”
Hati Ata terasa tercubit. Harusnya dia yang meminta maaf pada Alea atas sikapnya akhir-akhir ini. Ata meraih dagu Alea. Seketika pandangan mereka bertemu.
“Bukan kamu yang salah, Al. Justru aku yang minta maaf sama kamu. Maafkan aku atas sikapku yang tidak baik akhir-akhir ini.”
“Jangan mengabaikan aku lagi. Aku tersiksa dengan sikapmu yang seperti kemarin. Aku merindukan Ata-ku yang dulu,” pinta Alea.
Ata mengangguk. Alea segera melesak masuk dalam dekapan hangat sang calon suami. Ia rindu dekapan dada bidang ini, aroma parfum ini. Ia merindukan momen romantis bersama Ata.
“Sudah, jangan menangis. Ini sudah malam. Istirahatlah!” Ata mengurai pelukan dari Alea lalu membuka pintu kamar milik Alea. “Tidur yang nyenyak, Sayang.” Satu kecupan ia daratkan pada kening Alea, membuat Alea merasa damai.
Saat Ata hendak beranjak pergi, Alea menarik tangan Ata. “Ada apa?” tanya Ata.
Alea memangkas jarak dan entah ia mendapat keberanian dari mana, ia raup bibir Ata. Mungkin karena rasa rindunya yang sudah membuncah. Ia mencecap bibir itu, melummatnya dengan penuh kelembutan.
Awalnya Ata terkejut dengan perlakuan Alea. Pasalnya, selama ini hanya Ata yang memulai untuk mencium Alea. Meski begitu, Ata menyambut ciuman hangat yang ditawarkan oleh calon istrinya. Ia balas melummat bibir yang begitu menggoda.
Ciuman yang awalnya lembut itu berubah menjadi menggebu dan menuntut. Ata menekan tengkuk Alea agar ciuman mereka semakin dalam. Ada hasrat yang tiba-tiba tak terbendung dan ingin dituntaskan. Perlahan Ata mendorong Alea menuju ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Mendorong pelan agar tubuh Alea rebah.
Namun, saat Ata hendak memulai menuntaskan hasrat yang sudah di ujung tanduk, wajah Runa berkelebat dalam ingatan. Memaksa Ata untuk mengakhiri ciuman panasnya bersama Alea.
“Kenapa?” tanya Alea yang kebingungan dengan sikap Ata.
“Aku harus kembali. David pasti menungguku.” Ata bangkit dari kungkungannya.
__ADS_1
“David pasti bisa ngerti. Kita sedang melepas rindu.” Wajah kecewa tak lagi bisa disembunyikannya.
“Ada beberapa hal yang harus aku urus dengan David. Aku pergi.” Tanpa menunggu jawaban dari Alea, Ata pergi meninggalkan Alea yang menatapnya nanar.
“Shittt! Bodoh kamu, Ta!” umpatnya pada diri sendiri setelah menutup pintu kamar Alea dan berjalan menuju kamarnya.
“Run, aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku tidak akan terbuai lagi dengan hasrat semu ini karena hanya kamu yang aku cintai,” batin Ata.
Ata berjalan dengan tergesa menuju kamarnya. Usai membuka pintu, wajah David yang terlihat tegang sudah menyambutnya.
“Akhirnya kamu balik juga. Ada hal yang mau aku omongin.”
“Serius amat, sih, Vid.”
Ata mengambil duduk di sofa sambil memejamkan mata, sedangkan David duduk bersila di atas ranjang.
“Ini tentang Khan.”
“Khan?” David berhasil mencuri atensi Ata saat satu nama itu disebut.
“Kamu merhatiin Khan, nggak, sih?” tanya David.
“Maksudmu?” Ata masih belum bisa menebak arah pembicaraan sahabatnya.
“Jujur sama aku, Ta. Kamu pernah melakukannya bersama Runa, kan?”
Ata memicing menatap David. Bagaimana bisa sahabatnya itu berpikir terlalu jauh.
“Khan.” Lagi, nama itu disebut oleh sahabatnya, “anak itu mirip sekali denganmu. Kamu nggak bisa menyangkalnya, Ta.”
Seketika tubuh Ata bagai terpaku. Hingga sebuah ingatan bergulir dalam benaknya. Saat Ata dan Runa dinyatakan lulus dari sidang skripsi. Karena saking bahagianya, mereka sampai lupa segalanya. Meski Runa sempat menolak, nyatanya Ata berhasil mengambil harta paling berharga milik Runa.
“Brengsek!” Ata memaki diri sendiri. Kedua tangannya mengepal hingga buku-buku jemarinya memutih.
“Jadi benar?” David mencoba memastikan lagi setelah melihat air muka Ata. Ia bangkit dari ranjang guna memenangkan Ata.
Ada kemarahan, kekecewaan, penyesalan, kebahagiaan, dan entah rasa apalagi yang sedang Ata rasakan saat ini.
“Aku harus menemui Runa.” Ata bangkit hendak ke luar kamar.
“Ini sudah malam, Ta.” David mencekal bahu Ata.
“Aku harus memastikan semuanya, Vid. Aku harus memastikan bahwa aku adalah seorang ayah. Aku harus memastikan bahwa aku adalah laki-laki terbejat yang pernah ada. Aku harus memastikan bahwa Khan adalah putraku.”
Air mata itu tiba-tiba mengalir dari sudut mata Ata. Ia kini ditikam rasa penyesalan yang begitu dalam. Rasanya begitu sesak. Apakah ini yang dimaksud Runa saat ia memutuskan Runa dulu. Setelah semua yang mereka lewati bersama. Meski hanya sekali mereka melakukannya, nyatanya mahkota dalam diri Runa telah Ata renggut dan ia mencampakkan Runa begitu saja demi ambisinya menjadi arsitek terkenal.
‘Bajingann’ satu kata itu yang akan terus melekat dalam diri Ata. Ia adalah laki-laki terbrengsek menurut versinya sendiri. Ata luruh ke lantai bersandarkan sofa. Ia Jambak rambutnya sendiri guna melampiaskan ketidakberdayaannya. Sementara David hanya mampu menatap nanar sahabatnya.
__ADS_1
...*****...
...To be continued...