
...****************...
..."Ketakutan hanya mendekatkan kamu pada kufur akan kekuasaan Allah. Dia-lah Tuhan yang mempunyai segala jenis obat dari segala penyakit yang ada. Mintalah kepada-Nya, lalu berpasrah diri atas kehendak-Nya. Niscaya ketakutan kamu akan lenyap juga."...
...~Sandyakala~...
...****************...
"Sudahlah, Run. Anak kita pasti kuat. Sekarang lebih baik kita urus perpindahan Khan ke rumah sakit besar di Surabaya. Dengan begitu, Khan bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik di sana, sambil menunggu ada donor jantung yang cocok untuk anak kita." Penuturan Ata membuat Runa menoleh dan menatap wajah ayah kandung dari anaknya tersebut. Hanya sekejap, selebihnya ia mengalihkan pandangannya lagi pada sang anak. Lebih tepatnya, ia masih mengabaikan Ata.
"Bunda akan melakukan apa pun buat selamatkan, Khan. Khan harus kuat, ya, Sayang!" ucap Runa lirih, lalu mencium punggung tangan anaknya sebelum dia keluar dari ruangan PICU. Ata pun mengikuti Runa.
Runa dan Ata melakukan prosedur pemindahan Khan dari rumah sakit tersebut secepatnya. Ada satu hal yang Runa lupakan. Perempuan yang tengah diserang kepanikan itu sampai melupakan Sandy. Ia lupa memberikan kabar kepada laki-laki yang selama ini selalu ada di sampingnya tersebut, karena kebetulan Sandy tengah pulang ke rumahnya untuk menemani sang mama yang masih sakit.
*****
Terik mentari di siang hari tak menggoyahkan niat Sandy untuk melakukan perjalanan. Lelaki itu kini bersiap pergi ke rumah sakit untuk menemui Khan.
"Kamu mau ke rumah sakit lagi, Nak?" tanya Mira kepada Sandy. Wajahnya masih terlihat pucat, karena sakitnya belum sembuh benar.
"Iya, Ma. Aku mau jenguk Khan sebentar, ya! Nanti sore juga pulang lagi. Kalau Mama butuh apa-apa telepon Sandy aja, atau aku minta Mbak Wati ke sini aja buat nemenin Mama."
Mira menggelengkan kepala menolak tawaran Sandy. "Nggak usah, Nak. Mama udah baikan, kok. Jangan khawatirkan mama! Mendingan kamu segera ke rumah sakit dan melihat keadaan Khan. Mama juga penasaran ingin tahu bagaimana keadaan dia. Tolong bilang sama Runa, mama minta maaf karena kondisi mama nggak memungkinkan untuk menengok Khan."
__ADS_1
Sandy menganggukkan kepala sambil mengulas senyum. "Iya, Ma. Nanti Sandy sampaikan," ujar Sandy. Lalu mencium punggung tangan sang mama, "kalau gitu Sandy pergi sekarang, ya. Assalamu'alaikum." Sandy pun melangkah pergi meninggalkan sang mama.
"Waalaikumsalam," balas Mira sembari menatap punggung anaknya yang menjauh menuju mobilnya.
****
Sesampainya di rumah sakit, langkah kaki Sandy langsung mengarah menuju ruangan PICU tempat Khan dirawat sebelumya. Namun, setelah sampai di tempat tersebut, Sandy merasa kebingungan karena tidak melihat keberadaan Khan. Ruangan PICU itu sudah ditempati oleh pasien lain. Begitu pula dengan keberadaan Runa di rumah sakit tersebut. Biasanya perempuan itu selalu berada di sekitar ruang rawat Khan, tetapi kini malah tidak terlihat batang hidungnya.
"Apa Khan sudah dipindahkan ke ruang perawatan?" gumam Sandy berbicara sendiri. Seolah itu menjadi harapan yang terpenuhi, Sandy berdo'a hal itu yang terjadi. Itu artinya Khan sudah lewat dari masa kritis.
Tidak mau hanya menerka-nerka, akhirnya Sandy pun menelepon Runa. Panggilan pun terhubung, tapi tidak ada jawaban dari Runa. Sandy melakukan tiga kali panggilan di teleponnya, hingga panggilan yang ketiga Runa baru mengangkat telepon tersebut. Hal itu membuat hati Sandy sedikit cemas karena tidak biasanya Runa mengabaikan panggilannya.
"Halo, Run. Kamu di mana? Kenapa Khan nggak ada di ruangan rawatnya? Apa dia sudah pindah ruangan?" Sandy langsung memberondong beberapa pertanyaan saat panggilan itu terhubung dengan Runa.
"Runa, kamu masih di sana?"
"Eh, iya, Mas. Maaf, aku lupa ngasih tahu kamu kalau Khan sudah dipindahkan ke rumah sakit besar di Surabaya," terang Runa.
Sandy tercekat mendengar itu. Sepintas otaknya berpikir jika keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi oleh Runa dan Khan. Ia tahu, jika keputusan untuk membawa Khan ke rumah sakit di Surabaya adalah usul Ata. Dengan membawa Khan ke sana, berarti secara tidak langsung Runa telah menurut pada permintaan Ata. Apa itu artinya Runa sudah berdamai dengan lelaki itu?
"Nggak, Runa pasti lebih mementingkan kesehatan Khan. Runa tidak mungkin secepat itu menerima Ata kembali. Jelas-jelas aku lihat kebenciannya masih begitu dalam kepada Ata," batin Sandy menolak jika kenyataan buruk itu terjadi.
"Mas?" Suara Runa mengembalikan pikiran Sandy yang sempat berkelana. Ia pun kembali fokus pada teleponnya.
__ADS_1
"Iya, Run. Kenapa mendadak sekali kamu memindahkan Khan ke sana? Apa Ata yang memaksa kamu melakukan itu?" tanya Sandy. Lebih tepatnya ia tengah meyakinkan hatinya, jika Ata belum memiliki peran penting sebagai ayah kandung Khan.
"Nggak, Mas. Ini adalah saran dari dokter yang menangani Khan. Nggak ada cara lain selain memindahkan Khan ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap dan itu ada di sini. Kata dokter, kondisi Khan sepertinya serius ... kemungkinan Khan membutuhkan donor jantung, Mas ...." Suara Runa seperti tertahan saat mengatakan kalimat terakhirnya. Seiring dengan butiran bening yang mengalir di pelupuk matanya. Runa tersedu menceritakan hal itu kepada Sandy.
"Run, kamu harus tegar dan sabar! Runa yang selama ini aku kenal bukanlah orang yang mudah menyerah. Perempuan yang kuat dan sabar dalam menghadapi setiap masalah. Aku yakin Khan akan baik-baik saja." Mendengar isakan tangis Runa, Sandy pun menguatkan hati perempuan itu lagi.
"Tapi aku takut, Mas," tukas Runa masih berderai air mata. Hingga layar depan ponselnya pun basah karenanya.
"Jangan takut, Run. Ketakutan hanya mendekatkan kamu pada kufur akan kekuasaan Allah. Dia-lah Tuhan yang mempunyai segala jenis obat dari segala penyakit yang ada. Mintalah kepada-Nya, lalu berpasrah diri atas kehendak-Nya. Niscaya ketakutan kamu akan lenyap juga."
Ucapan Sandy memberikan ketenangan tersendiri di hati Runa. Ia menghapus air matanya dengan kasar dan berusaha untuk kembali tegar. Sandy benar, rasa sabar bisa membuat pikiran bisa berpikir jernih dan lancar, sedangkan rasa takut hanya akan membuat pikiran jadi buntu dan bertambah kalut.
"Aku akan menyusulmu ke sana. Tolong kamu share lokasi rumah sakitnya ke HP aku," pinta Sandy kemudian.
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan mama kamu? Bukannya dia masih sakit. Kalau kamu tinggal ke Surabaya, nanti Tante Mira sama siapa?" Runa teringat dengan kondisi Mira yang tengah sakit.
Sandy terdiam lagi. Benar juga kata Runa. Sekarang ibunya hanya tinggal sendirian saja. Jika dirinya ke Surabaya, ibunya pasti akan kesulitan jika memerlukan apa-apa. Namun, rasa khawatirnya pada Khan dan Runa sama besarnya. Apalagi di sana ada Ata yang akan terus mencari kesempatan untuk mendekati Runa-nya. Sandy tidak ingin menyesal jika kelengahannya menjadi kemenangan bagi Ata. Ia harus selalu berada di samping Runa, guna meminimalisir kesempatan Ata untuk berduaan dengan Runa.
"Aku akan minta Mbak Wati untuk menemani mama. Sepertinya keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Mama bilang tubuhnya udah agak mendingan," tutur Sandy setelah berpikir sejenak. Runa pun percaya. Akhirnya perempuan itu mengirimkan lokasi rumah sakit tempat Khan dirawat. Sesungguhnya, Runa juga membutuhkan kehadiran Sandy untuk menguatkan dirinya.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar, ya