Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
27


__ADS_3

...******...


..."Kesempatan itu sudah lenyap seperti api melahap kayu bakar. Tinggal abunya yang tersisa dan mengotori sekitarnya."...


...Aruna Pramesti...


≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nggak," lirih Ata sambil menggeleng pelan, "nggak mungkin!" Ata menatap tajam pada Runa dan Sandy bergantian. Ia mencari sebuah kebohongan dari sana, tetapi tidak ia temukan.


Runa sendiri masih terpaku atas penuturan Sandy. Dirinya memang pernah membahas hal ini. Namun, ia tak menyangka Sandy akan mengatakannya dengan yakin di saat seperti ini.


Sandy melirik Runa yang masih terkejut. Ia mengangguk sekali, berharap Runa yakin akan niatnya.


"Runa!" Ata mendekati Runa dan menghentak kedua bahu Runa, "katakan ini tidak benar! Katakan!"


"Cukup!"


Runa sudah tak tahan lagi. Ia ingin sekali untuk membungkam mulut Ata, apalagi Khan ada di antara mereka tengah menangis ketakutan.


Dengan sekuat tenaga, Runa mengentak tangan Ata di bahunya hingga terlepas. Lalu dengan cepat ia menarik Khan agar bersembunyi di belakangnya. Sandy sendiri sudah begitu geram, tetapi ia masih memberi ruang bagi Runa untuk membela diri.


"Apa yang dikatakan Mas Sandy benar adanya. Aku akan menikah dengannya. Jadi, jangan usik lagi hidupku juga Khan." Runa menatap tajam pada Ata yang menganga karena tak siap akan pengakuan Runa.


"Runa, itu bukan keputusan yang baik. Akan lebih baik jika Khan hidup bersama ayah kandungnya. Bukan dengan ayah sambung."


"Mas Sandy adalah cerminan sosok ayah kandung, tetapi tersesat sebagai ayah sambung, Ata. Dan aku sangat mengakui hal itu." Dengan geram Runa melawan Ata. Perkataan lirih, tetapi penuh penekanan itu seakan kembali menguliti Ata.


"Runa, cobalah beri aku kesempatan," pinta Ata. Kali ini ia menurunkan intonasi suaranya. Melihat Khan ketakutan, terlihat dari eratnya tangan kecil itu menggenggam tangan Runa, membuatnya melunak.

__ADS_1


"Kesempatan mana yang kamu minta, Ata? Kesempatan itu sudah lenyap seperti api melahap kayu bakar. Tinggal abunya yang tersisa dan mengotori sekitarnya."


"Abu itu masih bisa di gunakan, Runa. Ia bisa jadi pupuk untuk menyuburkan kembali tanaman yang sudah layu." Ata masih pada pendiriannya. "Aku yang seharusnya menjalankan kewajiban untuk menjaga Khan dan kamu, Runa, bukan dia."


Kali ini Sandy membawa Khan ke dalam gendongannya dan menyembunyikan wajah Khan di bahunya. Tak ada penolakan dari anak itu, yang ada hanya rasa nyaman. Meski ia sadar ada sosok yang lebih berhak atas diri Khan, tetapi kebersamaan yang sudah ia bina sejak Khan masih dalam kandungan membuat rasa sayang pada Khan melebihi apa pun. Ada rasa tak rela bila Khan berhasil direbut oleh Ata.


"Tolonglah, Ata. Tolong, jangan paksa aku untuk berlaku melebihi batasan!" Runa sudah lelah ditekan keadaan. Belum lagi psikis Khan setelah ini.


"Kalau begitu, maka berikan aku ijin untuk menikahimu." Ata mencoba mendekati Runa. Namun, Runa segera mundur, "setidaknya demi Khan," tambah Ata lagi.


"Selama ini Khan baik-baik saja hidup denganku. Dan akan terus baik-baik saja tanpamu." Terlalu takut Runa kehilangan Khan hingga ia harus egois demi menjaga Khan. Khan adalah hidupnya, dan ia tak membutuhkan siapa pun lagi.


Sandy semakin erat memeluk Khan dengan sesekali mengusap punggung kecil itu. Tak bisa dipungkiri, ada darah Ata dalam diri Khan yang tidak akan bisa diubah oleh apa pun di dunia ini.


Meskipun Sandy sudah mendapatkan jawaban dari Runa, ada segurat resah yang menghampiri wajah tegas itu. Ya, Runa tak menyampaikan secara langsung padanya. Tapi, melalui jawaban Runa pada Ata, Sandy sudah dapat menyimpulkannya. Sejauh mana posisinya di hati Runa dan Khan.


"Tidak bisa segampang itu, Arunika Pramesti. Bagaimanapun darah tetap lebih kental dari air. Kamu jangan lupakan satu hal itu."


"Aku tidak lupa, Byakta Kalingga. Aku masih sadar, bahkan setiap aku melihat Khan kenyataan itu sungguh membuatku ingin menyangkalnya. Khan itu hanya milikku. Milikku!" Kembali air mata yang sedari tadi Runa pertahankan kembali membanjiri pipinya. Akan terasa lebih sakit jika ia menahannya.


"Kenapa kamu jadi seegois ini, Run—"


"Itu karena kamu yang mengajarkan aku jadi begini, Ata," sambar Runa cepat.


Sandy yang sudah menghalangi telinga Khan dengan telapak tangannya sudah tak tahan. Merasa pembicaraan ini akan merusak mental Khan. Ia segera membawa Khan untuk masuk ke dalam rumah meski teriakan Ata memanggil nama Khan masih begitu jelas terdengar.


Ata ingin mengejar, baru saja ia ingin melangkah, tangan Runa mencengkeram erat lengan Ata.


"Sandy mau ke mana kamu?"

__ADS_1


Sandy mengabaikan teriakan Ata. Ia tetap melangkah menjauh dari keadaan yang tidak kondusif itu.


"Khan," teriak Ata yang ingin melepaskan cekalan Runa. "Lepas, Run! Kenapa kamu membiarkan lelaki itu menjauhkan Khan dari aku? Dia hanya orang luar yang sudah ikut campur dalam urusan keluarga kita, Run. Keluarga yang seharusnya," sungut Ata.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Ata. Ia merasa Ata sungguh keterlaluan menyalahkan Sandy. "Lihat! Lihat dengan jelas dia yang telah kamu sebut sebagai 'orang luar'. Dia bahkan lebih peduli pada Khan dengan menjauhkan suara-suara yang tak seharusnya ia dengar. Apa kamu memedulikan perasaan Khan sekarang ini? Pernahkah kamu berpikir jika Khan tidak pantas mendengar pertengkaran ini? Kamu itu egois, Ata. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri. Kamu tak benar-benar menyayangi Khan."


Ada segurat penyesalan yang begitu terlihat dari wajah sendu Ata, melihat Khan di bawa Sandy menghilang di balik pintu .


"Pergilah, Ata. Dan jangan kembali lagi!"


"Nggak akan, Runa. Aku hanya akan pergi, jika kamu dan Khan turut serta setelah kita menikah." Kembali Ata membujuk Runa. Kali ini dengan nada lebih lembut.


"Aku tidak perlu berpikir untuk yang kesekian, Ata. Aku jelas akan menolakmu. Janganlah kamu membuang sesuatu jika pada akhirnya akan kamu pungut kembali. Kita telah usai Ata, sejak hari itu," tegas Runa.


Ya. Itulah kenyataan yang teramat Ata sesali. Sejujurnya Ata tak pernah berniat membuang Runa. Ia hanya tak ingin membuat Runa dalam penantian saat itu. Ia pikir, saat itu adalah jalan yang terbaik untuk keduanya. Tentu semua itu sebelum ia tahu akan hadirnya Khan. Kini, hanyalah penyesalan yang sedang menghukum Ata.


***


Sejak hari itu, Ata tidak sekalipun menghubungi Alea, membuat Alea dirundung duka. Ia lebih banyak melamun dan menyendiri. Hilang sudah pribadi Alea yang ceria, yang ada kini hanya Alea yang bermuram durja.


Meski begitu, ia tetap profesional dalam pekerjaannya. Ia sembunyikan sebaik mungkin luka yang menganga di hati, diganti dengan senyum penuh kepalsuan.


Seperti kali ini, ia kembali dipeluk nestapa saat melihat chat juga teleponnya diabaikan oleh Ata. “Mungkin, aku memang tidak ada artinya buat kamu. Kebersamaan kita selama ini tidak berkesan sama sekali bagimu, Ta.” Setitik butiran bening itu merembas ke luar dari muaranya. Disusul butiran selanjutnya yang membuatnya terisak di dalam kamar hingga ia tertidur karena kelelahan.


...******...


...to be continued...

__ADS_1


__ADS_2