Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
11


__ADS_3

...******...


..."Kata andai hanya akan membuat seseorang semakin tertekan, jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan."...


..._Byakta Kalingga_...


...*****...


Ata terpaku, terdiam beberapa saat sambil merenungkan sesuatu. Apakah Runa-nya sudah menikah dengan sosok bernama Khan tersebut? Hal itu membuatnya menjadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Debar di hatinya kembali hidup saat melihat Runa, tetapi kini perlahan meredup oleh apa yang didengarnya . Membayangkan itu, hati Ata tiba-tiba mencelos sakit. Ia tidak bisa menerima jika perempuan pengisi singgasana dalam jiwanya itu harus menjadi milik orang lain. Ata lupa, jika dirinya juga sudah bertunangan dengan perempuan lain.


David yang tidak sabar menunggu kedatangan Ata kembali ke saung pun menyusul lelaki itu. Sedikit kelimpungan saat mencari keberadaan sang sahabat, akhirnya David menemukan Ata sedang berdiri termenung di dekat dapur.


David menghampiri Ata, lantas menepuk bahunya. "Ditungguin malah melamun di sini. Katanya ke toilet? Kenapa jadi berdiri di sini, sih? Lo nyasar?" Rentetan pertanyaan David membuat Ata tersentak, ia juga baru sadar jika Runa telah hilang dari pandangan.


"Vid, aku lihat Runa," seru Ata dengan raut wajah serius.


David mengernyitkan keningnya. Tentu saja dia tahu siapa Runa yang dimaksud sahabatnya tersebut. Tiada Runa lain selain mantan pacar Ata yang selalu digaungkannya selama ini. Selama di luar negeri, Ata selalu menyebutkan nama Runa. Ata selalu bercerita jika dirinya masih sangat mencintai perempuan itu.


Namun, setelah beberapa bulan kepergian Ata ke luar negeri, entah kenapa keberadaan Runa jadi sulit terdeteksi. Runa seolah hilang ditelan bumi.


"Runa? Kamu mimpi? Mana mungkin Runa ada di sini," tampik David tidak percaya.


"Aku serius. Tadi aku lihat Runa berdiri di sana." Ata menunjuk tempat Runa tadi berdiri dengan telunjuknya, dan David mengikuti arah telunjuk Ata. Namun, Runa tidak ada di sana.


"Mana? Nggak ada siapa-siapa. Kamu udah terobsesi sama Runa, Ta. Come-on, move on, lah!" seru David sudah mulai kesal. Rasa lapar yang menderanya membuat emosinya cepat terbakar.

__ADS_1


Ata menghela napas kasar. Raut wajahnya pun terlihat gusar. "Aku yakin ngelihat dia, Vid. Aku yakin Runa ada di sini. Bantu aku cari dia, ya!" pinta Ata


David mencibir dengan tatapan tidak percaya. "Tapi aku lapar, Ta. Makan dulu, lah," pintanya kemudian.


"Nanti dia keburu pergi," seru Ata sedikit memaksa.


"Nggak akan. Malah yang ada nanti aku mati kelaparan gara-gara nyariin Runa yang cuma ada dalam khayalan kamu itu." David masih tidak percaya dengan penuturan Ata.


"Aku nggak bohong, Vid. Runa beneran ada di sini."


David sejenak terdiam menatap keseriusan yang terpancar di wajah sahabatnya. Runa memang menghilang dari Surabaya, tetapi jika perempuan itu berada di Dieng, David merasa tidak yakin. Pasalnya, Runa tidak mempunyai kerabat ataupun keluarga lain di kota ini.


"Oke, kita cari Runa sebentar. Abis itu kita makan." Akhirnya David mengalah. Dia tidak tega melihat sahabatnya begitu resah.


Beberapa menit berlalu untuk mereka berputar-putar di tempat itu. Bahkan aksi mereka sempat mencuri perhatian pengunjung yang lain dan juga pelayan. Pelayan pun bertanya mereka sedang mencari apa? Ata mengatakan jika dirinya sedang mencari seseorang. Ia pun memperlihatkan foto Runa yang masih dia simpan di ponsel pintarnya.


"Jadi Runa beneran ada di Dieng?" tukas David melongo tidak percaya.


"Aku udah bilang nggak bohong, kan. Coba kalau tadi kita langsung cari dia. Mungkin Runa masih di sini," sembur Ata memarahi sahabatnya. Hatinya benar-benar dibuat gelisah, memikirkan keberadaan Runa.


"Iya, iya. Aku minta maaf. Tapi sekarang aku lapar. Kita makan dulu, ya!" David memasang wajah memelas. Berharap sahabatnya mengerti dengan nasib perutnya saat ini. Ata juga sebenarnya sudah lapar. Namun, rasa lapar itu tiba-tiba hilang manakala ia melihat Runa.


"Mbak, kalau boleh tahu, perempuan yang tadi itu suka ke sini?" Ata mengabaikan David sebentar. Ia bertanya perihal Runa kepada pelayan tadi.


"Iya, Mas. Mbak Runa itu sering ke sini. Soalnya dia itu—"

__ADS_1


"Dini!" Seseorang yang memakai seragam yang sama dengan pelayan itu memanggilnya dari belakang. Pelayan yang bernama Dini itu menoleh ke asal suara. Membuat obrolannya dengan Ata jadi terjeda.


"Kamu disuruh nganterin pesenan ke meja delapan!" seru pelayan yang memanggil Dini tadi.


"Oh, iya. Sebentar," ucap Dini kepada temannya. Lalu ia beralih kepada Ata, "maaf, Mas. Saya harus kerja lagi." Setelah berkata seperti itu, Dini langsung pergi meninggalkan Ata yang masih termangu.


"Udah, deh. Besok kita ke sini lagi. Mungkin bisa ketemu sama Runa lagi. Kamu denger sendiri, kan, dari pelayan tadi. Kalau Runa sering datang ke sini. Mungkin dia pelanggan setia di rumah makan ini. Aku jadi nggak sabar pengin rasain masakannya. Kayaknya bener-bener enak, Ta." David memberikan usulan. Di benaknya sudah terbayang betapa nikmatnya menyantap hidangan yang sempat mereka abaikan.


Ata tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih ingin mencari Runa, tetapi kasihan juga melihat David yang kelaparan. Pun tidak bisa dipungkiri rasa lapar di perutnya juga masih ada. Hanya saja teralihkan oleh keberadaan Runa. Ata dan David pun kembali ke saung tempat mereka memesan makanan sebelumnya. Lalu menyantap hidangan yang sudah dipesan. Masakan Resto Madang memang tidak diragukan. Rasanya membuat setiap orang yang pernah makan di sana jadi ketagihan.


Selama sesi menyantap makanan, pikiran Ata masih melayang. Memikirkan setiap kenangan yang ia lalui dulu bersama Runa. Rasa makanan yang begitu enak itu tidak menarik perhatian Ata, karena di otak dan pikirannya hanya ada wajah Runa yang tadi tersenyum di depannya. Runa masih sangat terlihat cantik, membuat rasa rindu yang terpendam dalam hati Ata kembali terusik.


Andai saja tadi dia langsung menemui perempuan itu. Mungkin saja ia tidak akan kehilangan jejak Runa lagi. Namun, Ata segera sadar. Kata andai hanya akan membuat seseorang semakin tertekan, jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.


"Gila, Bro. Ini, sih, beneran enak! Nggak salah kamu memilih resto ini. Recomended banget pokoknya!" seru David memuji makanan mereka. Namun, Ata masih sibuk dengan pikirannya. Ia tidak memperhatikan perkataan sahabatnya.


"Woy, mikirin apa, sih? Masih mikirin Runa?" tukas David sambil menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Ata.


Ata berjengit kaget. Bahkan ia sampai tersedak dan langsung menyeruput teh purwaceng yang ada di depannya. Guna melancarkan makanan yang sempat tersangkut di tenggorakannya. Hal itu membuat David jadi tertawa.


"Resek banget, sih!" sembur Ata setelah mengelap mulutnya sendiri.


"Lagian makan sambil ngelamun. Gimana mau nikmatin makanannya coba?" cibir David lalu menyelesaikan sesi makannya dengan meminum teh purwaceng miliknya.


"Abis ini antar aku cari Runa lagi, ya!" Kali ini giliran David yang tersedak dengan minumannya. Ia terkejut dengan permintaan Ata untuk mencari Runa di kota Dieng yang begitu luas itu. Mereka saja baru ke tempat itu. Bagaimana caranya menemukan seorang perempuan tanpa tahu alamat yang dituju.

__ADS_1


...****...


...to be continued...


__ADS_2