Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
52


__ADS_3

...****************...


...Kamu berhak bahagia walau bahagiamu bukan tercipta dari diriku. Carilah kebahagian itu dengan cara dan impianmu....


...~Byakta Kalingga~...


...****************...


Runa masih saja berdiri di depan ruang rawat Sandy. Kondisi Sandy membuat Runa ikut merasakan sakit. Runa memejamkan matanya berharap Sandy terbangun dari koma. Ata pun hanya bisa memandang wajah cantik itu. Sorot matanya terlihat begitu peduli dan sayang kepada Sandy. Hal itu membuat hatinya terasa nyeri. Apakah masih ada harapan untuk dirinya kembali kepada sang pujaan hati yang ia tinggalkan tujuh tahun yang lalu? Ata tidak yakin. Penyesalan selalu datang terlambat, ia begitu cemburu melihat sikap yang Runa tunjukkan untuk Sandy.


Hari semakin beranjak siang, tim dokter pun sudah memberitahukan kapan operasi akan dilaksanakan. Runa dan yang lainnya berharap semuanya berjalan dengan lancar.


"Kamu kuat, Sayang. Kamu pasti mampu bertahan untuk bunda," Runa berbisik pelan di telinga Khan, memberikan semangat kepada buah hatinya. Runa ingin agar Khan tahu, jika bundanya sangat menyayanginya.


"Runa, sini, Nak! Kita doakan yang terbaik untuk Khan," Lina berkata sambil menggenggam tangan Runa. Runa hanya mengangguk, jiwanya lesu, pandangannya kosong. Hanya air mata sebagai penanda jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Setelah tiga jam terlewati, akhirnya operasi pun berakhir. Dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang terlihat lelah. Melihat hal itu, Runa pun bergegas mendekati sang dokter. Dengan raut wajah sendu, Runa menanyakan keadaan putranya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter? Apakah operasinya berjalan dengan lancar? Apakah ia baik-baik saja." Runa memberondong berbagai macam pertanyaan dengan suara pelan dan bergetar.


"Operasinya berjalan dengan lancar. Sekarang kita hanya perlu berdoa agar pasien dapat melewati masa kritisnya. Setelah itu, pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan, jadi harap ibu dapat bersabar." Dokter berkacamata itu memberikan jawaban atas pertanyaan Runa dan memberikan ketenangan.


"Terima kasih, Dok." Runa mengatupkan tangannya tanda ia berterima kasih.


"Sama-sama, Bu, itu sudah menjadi tugas kami. Kami permisi dulu.” Setelah mengucapkan hal itu, dokter pun berlalu dari hadapan Runa.


Sepeninggal dokter, Runa masih belum bisa tenang. Pasalnya Khan masih belum melewati masa kritisnya. Runa berdoa agar Khan segera sadar. Selama masa transisi, Runa tidak sedetik pun beranjak dari sisi Khan. Runa dan Ata berada di samping Khan semalaman, sedangkan Lukman, Lina, dan Runi kembali ke kamar perawatan Khan.


"Runa, maafkan semua kesalahanku," ucap Ata pelan. Lelaki itu melihat betapa lelahnya Runa dengan semua kejadian yang telah menimpanya. Ata mulai menyadari, jika dirinya yang terlalu gegabah telah menyebabkan Khan dan Sandy seperti ini. Ata semakin sedih ketika semua ini menyebabkan Runa sangat menderita.


“Aku ingin kamu bahagia, dan aku tahu bahagiamu bukan dengan diriku.” Ata menundukan kepalanya hingga air matanya mulai menetes. “Maafkan aku telah egois.”


"Sudahlah, Ta. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada Khan. Hanya dia sumber kebahagiaanku. Dia adalah nyawaku. Selebihnya adalah bonus yang diberikan Tuhan untuk kehidupanku. Berhentilah berkutat dengan rasa bersalahmu. Bagaimanapun, Khan sudah ada di tengah-tengah kita. Sekarang tugas kita hanya menjaganya. Menjaganya tidak berarti kita harus selalu bersama, tetapi memberikan apa yang terbaik untuk dia.”


Ata merasa tertampar dengan ucapan Runa. Ya, jika Ata merasa bertanggung jawab, tidak seharusnya dia memaksakan kehendaknya untuk memiliki mereka berdua. Ata bisa menunjukkan rasa tanggung jawab itu dengan tindakan lain yang tidak menyakiti Khan dan juga Runa. Beberapa saat mereka saling diam. Ata sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Runa terus menggenggam tangan Khan sembari memohon kesembuhan untuk putranya.


Malam semakin larut, Runa pun tertidur dengan meletakkan kepalanya di ranjang Khan. Tangan mungil Khan tidak pernah lepas dari genggaman Runa. Sesekali Ata membetulkan selimut Khan. Ata tidak tidur sama sekali, ia berkali-kali mengecek tetesan demi tetesan dalam botol infus yang tergantung di samping ranjang Khan. Ata segera melaporkan kepada perawat jika cairan itu hampir habis. Kali ini Ata benar-benar menjadi ayah siaga.

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara azan, Runa tersadar dan merasa punggungnya sakit. Ia mengangkat kepalanya. Tiba-tiba tangannya terusik oleh gerakan lembut dari tangan mungil yang berada dalam genggamannya.


“Khan,” ucap Runa lembut. Ia ingin memastikan apakah Khan sudah sadar ataukah hanya ilusinya saja.


Ata yang mendengar Runa menyebut nama Khan, bergegas mendekati bocah itu. “Khan. Khan bisa dengar suara ayah?”


Runa berdiri menatap wajah putranya. Diciumnya tangan kecil itu. “Sayang, Khan bisa dengar bunda? Bangun, Sayang. Khan jangan buat bunda sedih. Bukannya Khan pernah janji akan selalu buat bunda bahagia.” Runa membelai rambut Khan dengan air mata yang kembali berderai.


“Bun-da.”


“Khan!”


“Khan!”


Runa dan Ata bersamaan memanggil bocah itu. Rasa syukur terpancar dari keduanya ketika melihat Khan membuka matanya. Air mata bahagia kembali mengalir di pipi Runa, sedangkan Ata segera memencet tombol darurat, guna memanggil perawat untuk mengabarkan kondisi Khan.


“Bunda jangan nangis. Maaf Khan sudah buat Bunda menangis,” ucap Khan yang masih lemah.


“Tidak Khan, anak bunda tidak salah. Tidak seharusnya Khan minta maaf pada bunda. Bunda yang minta maaf karena lalai menjaga Khan.”


“Ayah mana, Bun?” tanya Khan yang terlihat begitu bingung dengan banyaknya orang asing di ruangan tersebut. Runa tentu siapa sosok ayah yang Khan tanyakan. Dialah Sandy.


“Khan tenang, ya. Ayah nunggu di luar bersama Nenek Mira. Di sini tidak boleh banyak orang. Nanti kalau Khan sudah sembuh, Khan bisa keluar dari sini dan bertemu ayah.” Runa mencoba menenangkan Khan agar tidak gelisah. Khan hanya mengangguk menanggapi kalimat Runa.


“Alhamdulillah, kondisi Khan sudah stabil, Bu,” ucap Dokter yang memeriksa Khan. “Sebentar lagi Khan akan pindah ke kamar lain, ya. Nanti di sana Khan bisa bertemu banyak orang. Bisa ketemu Ayah juga. Turutin kata dokter biar lekas pulih, ya,” imbuh Dokter itu sambal mengelus puncak kepala Khan.


“Terima kasih, Dokter. Khan bisa dipindahkan kapan, ya?” tanya Runa tidak sabar.


“Sebentar lagi, Bu. Nunggu kamar selesai dibereskan. Oya, Khan harus tetap semangat, ya,” ucap Dokter sebelum meninggalkan ruangan itu.


***


Menjelang sore ruang VVIP itu dipenuhi oleh keluarga Ata dan Runa. Nampak pula Mira--ibunda Sandy berada di tengah-tengah mereka. Mira bergegas ke ruangan Khan yang sudah dianggap sebagai cucu sendiri olehnya, setelah mempunyai kesempatan untuk meninggalkan Sandy. Begitu mendengar kabar jika Khan sudah sadar, Mira begitu bahagia. Meskipun tidak bisa secepatnya menemui Khan, sebab Mira juga tidak tega jika harus meninggalkan Sandy sendirian dengan kondisi yang masih koma.


Begitu Sekar datang, Mira berdalih ingin membeli makan. Mira yakin jika ia mengatakan yang sesungguhnya, Sekar pasti akan marah. Untuk kali ini Mira masih harus bersabar menghadapi ibunya yang masih belum memberikan restu untuk hubungan cucunya dengan Runa.


"Bunda, Ayah mana?" Khan menanyakan kembali keberadaan Sandy yang tidak ada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Khan kangen sama Ayah, Bun. Ayah mana, kenapa Bunda diam saja.” Runa bingung harus menjawab apa. Semua yang berada di dalam ruangan itu pun turut terenyuh mendengar rengekan Khan yang mencari keberadaan Sandy semenjak dia sadar pagi tadi.


“Sabar, ya sayang. Tadi mendadak Ayah ada urusan. Tapi sebelum pergi, Ayah nitip pesen, loh, sama nenek. Khan mau tahu apa pesennya?” Kali ini Mira ikut menenangkan Khan.


“Apa, Nek?”


“Ayah bilang Khan harus nurut apa kata Dokter, nurut sama Bunda, makan yang banyak, istirahat yang cukup. Biar besok kalau Ayah datang, Ayah bisa ngajak Khan makan es krim,” terang Mira membuat hati Khan sedikit tenang.


Ata hanya terdiam melihat buah hatinya begitu merindukan orang lain. Sedih? Sudah pasti. Kehadirannya seperti tidak dianggap oleh Khan. Ata merasa kecewa dan marah pada diri sendiri. Seperti inikah rasanya diabaikan. Hatinya pilu bagai teriris ribuan belati. Perih.


***


Waktu berjalan dengan cepat, Khan telah dinyatakan sehat oleh tim dokter. Namun, ia masih harus minum obat secara teratur, banyak istirahat dan kontrol dengan rutin. Tim dokter sudah mengizinkan Khan pulang. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Runa pulang ke rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah sakit.


Khan kembali menanyakan keberadaan Sandy karena selama itu Sandy tidak pernah menemuinya, atau bahkan sekedar meneleponnya. Khan mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang Runa sembunyikan tentang Sandy.


"Bunda, Ayah mana, sih? Khan nggak lihat dari kemarin. Apa Ayah sudah tidak sayang sama Khan?” tanyanya ketika mereka duduk-duduk di teras samping rumah bernuansa hijau.


"Bukan begitu, Sayang. Ayah Sandy ...." Runa diam sejenak, ia berpikir untuk mencari kalimat yang mudah dipahami Khan tentang kondisi Sandy.


"Apa karena Khan nakal, ayah Sandy tidak mau ketemu sama Khan?" lirih Khan dengan mata yang mulai berembun. Anak itu benar-benar merindukan Sandy.


"Nggak, sayang, nggak. Ayah Sandy sayang sama Khan. Ayah belum bisa bertemu Khan karena saat ini Ayah sedang sakit,” terang Runa sambil melengkung tubuh mungil Khan ke dalam pelukan.


"Ayah Sandy sakit apa, Bunda?" tanya Khan pada Runa.


Runa melerai pelukannya. Pelan-pelan ia bercerita pada Khan kalau Sandy masih terbaring lemah di rumah sakit. Khan pun mengerti, Runa menjelaskan semuanya dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh Khan.


“Khan mau ketemu Ayah, Bunda,” rengek Khan dengan tangisnya setelah mendengar penjelasan Runa.


"Nanti, ya, Sayang. Sekarang kita berdoa dulu untuk ayah Sandy. Semoga Ayah cepat sembuh dan kembali kumpul bersama kita. Bersama Khan, Bunda, dan Nenek Mira." Khan menganggukkan kepalanya lemah. Dalam hatinya berdoa untuk kesembuhan ayah angkatnya.


...****************...


...To be continued...


Jangan lupa like dan komentar, ya

__ADS_1


__ADS_2