
...****************...
...Tidak selamanya sesuatu yang kita anggap baik akan baik pula untuk orang lain....
...Author...
...****************...
Mira masih mencoba menenangkan Sekar, bagaimanapun Sekar adalah ibunya. Ia tak ingin menyakiti hati wanita yang telah melahirkannya. Mira juga seorang Ibu, ia tahu betul bagaimana sakitnya jika sang anak yang dilahirkan dengan bertaruh nyawa sampai menyakiti hati seorang Ibu. Bukan berarti Mira membenarkan pendapat Sekar, Mira hanya tidak ingin Sandy terusik kembali karena kegaduhan yang dibuat Sekar.
Mira berpikir, mungkin lain waktu ia akan pelan-pelan memberikan pengertian kepada Sekar, jika Runa tidak seburuk yang Sekar pikirkan. Akan teapi, untuk sekarang lebih baik ia fokus untuk kesembuhan Sandy dulu.
"Kenapa masih berdiri disitu? Dasar wanita murahan, benar-benar tidak punya malu kamu. Apa kamu mau melihat cucuku meninggal, baru kamu puas dan pergi mencari mangsa yang baru?" teriak Sekar.
"Astaghfirullah, Ma, jangan bicara seperti itu! Istighfar, Ma, kata-kata adalah do'a. Mama jangan menyalahkan Runa terus-menerus. Runa tidak seperti itu, jangan sampai Mama menyesal sudah menuduh Runa yang bukan-bukan! Semua ini sudah suratan takdir dari Yang Kuasa, Sandy pasti sembuh, Ma. Mira mohon, jangan berkata seperti itu lagi, lebih baik sekarang kita berdoa untuk kesembuhan Sandy." Mira mengusap bahu Sekar, agar Sekar sedikit lebih tenang. Kemudian Mira mengajak Sekar untuk duduk. Mira juga memberikan segelas air putih untuk Sekar, berharap agar Sekar sedikit tenang.
Runa yang sejak tadi masih berdiri di sebelah ranjang Sandy dan berusaha tegar, tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Melihat tubuh Sandy yang terbaring lemah saat ini, air mata Runa sudah membanjiri kedua pipinya. Ditambah lagi dengan kata-kata Sekar bagai sembilu yang menyayat hatinya.
Ingin ia menyangkal, jika semua yang dituduhkan Sekar padanya tidak benar. Namun, ia tak seberani itu. Sekarang Runa semakin menyadari jika keberadaan Sandy begitu berarti baginya, tanpa Sandy ia begitu rapuh. Ia kehilangan semangat hidupnya.
"Maafkan, Runa, Nek," ucap Runa yang kemudian berlari keluar dari kamar tempat Sandy dirawat. Runa sudah tak tahan lagi berada di sana.
"Runa," Mira mencoba untuk mengejar Runa. Namun, tangannya sedikit ditarik oleh Sekar. Membuat Mira menoleh dan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Biarkan dia pergi, Mira. Kesehatan Sandy lebih penting," tegas Sekar.
***
Setelah keluar dari kamar tempat Sandy dirawat, Runa masih terisak. Matanya begitu sembab karena terlalu lama menangis. Sampai Runa tak berani kembali menuju kamar tempat Khan dirawat. Ia tak ingin membuat semua keluarganya khawatir melihat keadaannya sekarang.
Akhirnya, Runa pun memilih duduk di sebuah bangku yang berada tak jauh dari kamar perawatan Khan. Ia ingin menenangkan diri sejenak, dari semua masalah dan cobaan yang akhir-akhir ini bertubi-tubi menimpanya.
Runa kembali meneteskan air mata mengingat kondisi Khan dan Sandy saat ini. Dua orang yang begitu berarti bagi dirinya, kini keduanya tengah terbaring lemah tak berdaya. Mereka berdua sedang sama-sama berjuang antara hidup dan mati. Runa semakin tergugu mengingat masa-masa indah saat bersama Khan dan Sandy dulu.
Runa memandang wajah manis Khan yang berada di layar depan ponselnya. "Khan, maafkan bunda, Nak. Seharusnya dulu bunda tidak mengabaikan kamu. Maafkan bunda yang sudah egois, sampai mengajakmu untuk bekerja keras waktu kamu masih dalam kandungan bunda, Nak. Seharusnya dulu bunda lebih memperhatikan kamu, sehingga kamu bisa tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Maafkan bunda, sayang." Dada Runa semakin sesak, saat mengingat perjuangannya mengandung Khan tujuh tahun lalu.
Begitu berat masa-masa itu hingga Sandy dan Tante Mira datang, bak malaikat yang membantu Runa bangkit dari keterpurukannya. Ketulusan Mira dan Sandy mampu membuat Runa kembali menjadi wanita yang tegar dan kuat.
"Mbak, Mbak Runa kenapa?" Runi yang saat itu keluar dari kamar tempat Khan dirawat, melihat Runa yang sedang menangis segera menghampirinya.
Runi duduk di sebelah Runa, sambil mengusap bahu Runa. Runi tahu kakaknya sedang tidak baik-baik saja. Runi pun tidak banyak bertanya lagi , ia biarkan Runa menangis dalam pelukannya. Hati Runi begitu perih melihat kakaknya yang menangis sesenggukan, seolah sedang menyimpan beban yang begitu berat.
Setelah beberapa saat, Runa yang masih sedikit terisak melerai pelukan Runi. "Mbak jahat, ya, Run? Mbak sudah membuat anak kandung mbak sendiri sekarang terbaring tak berdaya. Semua karena kecerobohan mbak, Run. Mungkin karena itu Khan marah dan kecewa sama mbak. Jadi Khan memilih pergi dari mbak." Runa menjeda sesaat kalimatnya. Diiringi suara tangis yang kembali terisak.
"Nenek Sekar benar, Run. Seharusnya dari dulu mbak mendengarkan nasehatnya. Seharusnya mbak pergi dari kehidupan Mas Sandy. Seharusnya mbak nggak bermimpi untuk menjadi Cinderella. Mungkin jika mbak nggak egois, Mas Sandy pasti sekarang masih sehat, dan hidup bahagia dengan wanita pilihan Nenek Sekar." Tangis Runa semakin pecah setelah mengatakan semua isi hatinya pada Runi.
"Mbak Runa, nggak boleh ngomong gitu. Ini semua bukan salah kamu, Mbak. Khan pasti sembuh. Mbak adalah wanita yang hebat. Mbak Runa ibu yang luar biasa. Khan pasti bangga sama kamu, Mbak. Jangan menyalahkan diri Mbak sendiri. Mas Sandy juga pasti sembuh. Mbak harus yakin itu. Semua yang terjadi pada Khan dan Mas Sandy bukan salah mbak Runa." Runi mencoba meyakinkan Runa.
__ADS_1
"Khan adalah hidup mbak, Run. Hanya Khan yang menjadi penyemangat hidup mbak. Selama tujuh tahun terakhir ini, Mas Sandy juga orang yang sangat berarti dalam hidup mbak. Mas Sandy selalu bantu mbak merawat Khan. Memberikan kasih sayangnya untuk Khan. Sehingga Khan bisa tumbuh selayaknya anak-anak yang lain, tapi sekarang mereka berdua terbaring tak berdaya. Itu salah mbak, Run. Mbak nggak akan bisa memaafkan diri mbak, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Khan dan mas Sandy. Mbak takut sendirian, Run. Hanya mereka harta berharga Mbak." Runa sudah tak kuasa menahan tangisnya.
"Mbak Runa nggak sendiri, Mbak. Lihat aku!" Runi yang sudah mulai berkaca-kaca sedikit mengguncangkan kedua bahu Runa.
"Ada aku, Mama, dan Ayah. Kami ini keluarga Mbak Runa. Mbak Runa nggak sendirian. Kita akan selalu bersama mbak Runa. Mas Sandy dan Khan pasti sembuh, Mbak. Kamu harus yakin itu, Mbak. Semua akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita doakan yang terbaik buat mas Sandy dan Khan, ya!" Runi kembali memeluk kakaknya. Ia usap punggung kakak perempuannya penuh sayang.
Runi tahu, semua kejadian yang begitu mendadak ini, pasti sangat berat untuk Runa. Sebisa mungkin Runi akan selalu mendukung Runa. Ia tak akan membiarkan Runa semakin terpuruk dengan keadaan yang saat ini menimpa kakaknya.
****
Sementara tak jauh dari tempat di mana Runa dan Runi berada, ada Ata yang sejak tadi melihat dan mengamati interaksi antara kedua kakak beradik itu.
Awalnya Ata ingin menjenguk Khan di kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Runa yang sedang menangis dalam pelukan Runi. Ingin Ata mendekat, tetapi niat itu ia urungkan. Ata hanya bisa mendengarkan tangisan dan ungkapan hati Runa dari balik pintu.
"Runa, maafkan aku yang terlalu egois. Kini aku sadar. Kenapa Khan begitu menyayangi Sandy. Ternyata memang dia sebaik itu. Maafkan aku sudah membuat kalian terluka," lirih Ata.
Ata tak tega melihat Runa yang begitu rapuh. Tak terasa ia pun meneteskan air mata. Ata menarik napas dalam-dalam, lalu ia embuskan. Ia pun akhirnya memilih pergi dari rumah sakit dan tidak jadi menjenguk Khan.
Benar kata pepatah, tidak selamanya sesuatu yang kita anggap baik akan baik pula untuk orang lain. Ada kalanya kita harus mengikhlaskan sesuatu yang kita sayangi demi kebahagiaan orang lain. Keegoisan hanya akan membawa kita pada kehancuran.
...****************...
...To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar, ya