
...****************...
...Air mata akan berbicara saat mulut tak mampu lagi menjelaskan sebuah rasa. ...
...~Arunika Pramesti~...
...****************...
Malam semakin larut, tetapi jalanan di kota Surabaya masih terlihat banyak kendaraan yang melintas. Mungkin karena akhir pekan juga, jadi semakin malam pengunjung di salah satu Club yang cukup terkenal di Surabaya ini juga semakin banyak. Tak ingin mencuri perhatian dari pengunjung lain, David lekas membopong Alea masuk ke dalam mobilnya.
"Al, sadar, Al." David mencoba menyadarkan Alea lagi dengan menepuk-nepuk pipi Alea. Namun, Alea masih belum ada tanda-tanda untuk sadar. David mulai resah, ia bingung harus membawa Alea ke mana. Apalagi hari sudah larut, kalau sampai orang tua Alea tau anaknya pulang dalam keadaan mabuk seperti ini. Pasti akan jadi panjang urusannya.
David mengacak rambutnya frustrasi. Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. "Huft ... aku harus bawa kamu ke mana, Al? Nggak mungkin, kan, aku antar kamu pulang dengan kondisi seperti ini. Bisa-bisa malah aku yang dihajar sama papa kamu." David menggerutu, bayang-bayang Papa Alea yang mengamuk sudah berputar-putar di otaknya. membuat ia bergidik sendiri.
"Ah ... sial, bener-bener brengsek kamu, Ta." David memukul stir mobilnya. Ia benar-benar jengkel dengan sikap Ata yang akhir-akhir ini menambah beban pikirannya juga. Selang beberapa detik, tiba-tiba David menjentikkan jari telunjuknya. Matanya berbinar seolah sudah menemukan solusi untuk permasalahannya.
"Aku telepon Ata saja, biar dia yang ngurusin Alea," gumam David. David segera mengambil ponsel di sakunya dan segera menekan nomor Ata.
Beruntung sekali David, baru sekali nada tunggu berdering, Ata sudah mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum, Ta, aku tunggu kamu di apartemen aku sekarang. Nggak pake lama, ada hal penting yang harus aku omongin ke kamu. Inget ya, Ta. Sekarang, buruan!" tanpa menunggu jawaban dari Ata, David segera mematikan teleponnya.
"Lega," batin David. Ia pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya.
...****************...
Sementara di dalam sebuah kamar yang di dominasi dengan warna hitam dan cokelat, terlihat seorang pria yang mengenakan kaos polo warna putih sedang memegang ponsel sambil sesekali mengumpat. Dia adalah Ata, yang begitu kesal karena baru saja menerima telepon dari David.
"Waalaikumsalam, eh, Vid. Halo ... halo ... sial! Belum juga dijawab, udah main tutup aja. Tapi, kira-kira ada apa, ya, David nyuruh aku ke apartemennya malem-malem gini?" Ata melihat jam di ponselnya, "apa dia nggak lihat jam? Ini udah waktunya orang merem. Atau mungkin ada hal mendesak, ya? Nggak mungkin juga kalo nggak penting dia nekat nelepon tengah malem gini." Ata masih saja mengoceh sambil menyambar jaket denim dan juga kunci mobilnya.
Ata segera melajukan mobil sport warna merah miliknya menuju apartemen David.
...****************...
Tiba di apartemen, David segera membaringkan Alea di sofa. Kemudian David bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bau alkohol begitu menyengat, karena Alea tadi sempat muntah saat David membopongnya menuju kamar apartemen.
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, Ata pun sampai di apartemen David.
__ADS_1
"Vid, kamu sadar nggak, sih, ini jam berapa? Bisa-bisanya kamu nyuruh aku ke sini, udah kayak orang ngungsi tau nggak, Vid. Mau merem saja, aku harus ke sini." Ata memberengut kesal, ia lepas jaket yang ia kenakan lalu duduk di sofa.
"Astaga, Alea. Kamu kenapa?" Ata terkejut melihat Alea yang tidur di sofa dengan bau alkohol yang masih begitu menyengat.
"Vid, kamu apain, Alea? Kok, bisa dia di sini? Kamu jangan macem-macem, ya! Alea bukan gadis sembarangan." Ata berdiri menghampiri David, ia mencengkram kerah baju David dengan sorot mata menahan amarah menuntut penjelasan dari David.
David melepas cengkraman tangan Ata, lalu mengajak Ata ke balkon kamar. David menjelaskan semuanya kepada Ata. Termasuk alasan kenapa David membawa Alea ke apartemennya. Akhirya Ata pun mengerti.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Ata memutuskan untuk menginap di apartemen David. Rencananya ia yang akan mengantarkan Alea pulang besok, tentunya setelah Alea sadar.
...****************...
Pagi ini kota Surabaya begitu cerah, tak seperti beberapa hari sebelumnya yang selalu dihiasi mendung dan rintik hujan. Suara kicau burung bernyanyi bersautan, menambah suasana pagi ini begitu sejuk dan indah.
"Ma, gimana? Sudah siap semuanya? Tadi Ayah sudah telepon Ata kalau kita ketemu di stasiun saja. Ayah tidak ingin merepotkan keluarga Ata, Ma. Bagaimanapun, belum ada ikatan resmi di antara Ata dan Runa," ucap Lukman yang sudah berdiri di depan teras rumahnya.
"Iya, Yah. Mama setuju. Sebentar kita nunggu Runi, Yah. Ada yang ketinggalan katanya, makanya dia masuk kamar lagi tadi," tutur Lina sambil menggenggam tangan Lukman suaminya.
"Maaf, Yah. Jadi nungguin Runi. Ini Runi barusan ambil hadiah buat ponakan Runi. Hampir saja ketinggalan, untung saja tadi inget. Semoga Khan nanti suka dengan mainan robot ini. Yuk, Ma, Yah, kita berangkat! Runi udah nggak sabar pengen ketemu Mbak Runa sama Khan. Udah kangen banget." Runi segera menggandeng kedua orang tuanya. Senyumnya terus mengembang menghiasi wajah cantik Runi.
"Nah, itu mereka, Yah." Ata menunjuk ke arah keluarga Runa yang berjalan menghampiri Ata dan kedua orang tuanya. Ata pun melambaikan tangan ke arah mereka.
Kedua keluarga itu pun sedikit berbincang sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta yang akan mereka tumpangi. Sebenarnya Ata sudah menawarkan agar mereka naik pesawat saja, tetapi Lukman menolak. Lukman ingin perjalanan mereka lebih santai dan sedikit mengenang masa-masa saat Runa kecil dulu. Runa senang sekali jika diajak naik kereta api.
"Ata, tunggu, aku ikut!" Suara seorang gadis yang melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan membuat atensi Ata dan orangtuanya juga keluarga Runa pun tertuju pada gadis itu.
Alea sedikit berlari dengan menarik sebuah koper diiringi David di belakangnya. Mereka berdua akhirnya tiba di depan Ata dan keluarganya.
"Al, kamu ngapain ke sini?" tanya Ata pada Alea, lalu beralih pada David, "Vid, jangan bilang kalian mau ikut menemui Runa juga?" tanya Ata memastikan.
"Aku udah bujuk Alea, Ta. Tapi dia kekeh mau ikut ke Wonosobo. Dia maksa minta aku antar ke sini. Apalagi dia juga udah dapet tiket keretanya. Jadi, ya, mau gimana lagi. Aku nggak mau pusing, Ta. Biar semuanya cepet selesai," terang David.
"Tenang saja, aku nggak akan merepotkan. Aku hanya ingin memastikan saja." Alea menjeda kalimatnya, bulir bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba menahan agar air mata itu tak meluncur.
"Jika nanti Runa memang mau menerima kamu lagi, aku akan mundur, Ta. Aku rela jika memang Runa benar-benar mau kembali padamu. Aku akan pergi." Alea kembali berkaca-kaca menatap Ata.
__ADS_1
Ata memegang bahu Alea, ada rasa iba menyelimuti hatinya. Melihat Alea yang begitu menginginkannya. Namun, Ata tetap ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di masa lalu terhadap Runa. Kini tujuan hidupnya hanyalah Runa dan Khan.
"Baiklah, Al, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu." ucap Ata.
Panggilan keberangkatan membuat mereka semua segera bersiap masuk ke dalam kereta.
...****************...
"Bunda, kok, ayah belum datang, sih? Katanya tadi mau jemput Khan buat jalan-jalan," ucap Khan. Bocah itu terus saja memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sabar, Sayang. Mungkin Ayah masih ada kerjaan, jadi sedikit terlambat." Runa menghampiri putranya yang sedang duduk di ruang tengah.
Anak itu sedikit manyun karena merasa sudah menunggu cukup lama. Namun, Ayah Sandy-nya belum juga tiba. Runa tersenyum, ia jadi gemas melihat wajah putranya itu.
Tak berselang lama, terdengar suara bel pintu rumah berbunyi. Wajah Khan yang tadi ditekuk langsung berbinar.
"Itu pasti Ayah, biar aku saja yang buka, Bun." Khan langsung berlari menuju ke arah pintu.
"Sayang, hati-hati! Jangan lari, nanti jatuh." Runa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Khan.
Ada rasa haru dan bahagia saat melihat Khan yang begitu menyayangi Sandy, begitu pula sebaliknya. Sandy juga sangat menyayangi Khan meskipun di antara mereka tidak ada ikatan darah. Kedekatan mereka benar-benar sudah seperti seorang ayah dan anak kandung.
"Ayah ...." teriak Khan saat membuka pintu. Betapa kecewanya Khan saat melihat yang datang bukanlah Sandy.
"Bunda, bukan ayah yang datang, tapi Om," teriak Khan lagi.
Runa yang mendengar panggilan Khan segera menghampiri Khan ke ruang depan.
"Om si—" ucapan Runa tak mampu ia selesaikan.
Langkah Runa terhenti di samping Khan. Wajahnya pias menatap segerombolan orang yang kini berdiri di depan pintu. Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak. Tidak ada kata yang mampu berucap hanya bulir bening tiba-tiba luruh begitu saja membasahi pipi. Ia memukul pipinya sendiri, mencoba membangunkan dirinya jika itu dirasa mimpi.
"A-ayah ..." Terbata Runa mengucap satu kata itu. Ia tak mampu mengutarakan apa yang ada di hatinya. Hanya air mata yang semakin deras mewakili perasaan Runa saat ini, karena air mata akan berbicara saat mulut tak mampu lagi menjelaskan sebuah rasa.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...