
...****************...
...~ Tetaplah menjadi baik walau seisi dunia membencimu. Sebab baik adalah pilihanmu, isi dunia hanya keadaan~...
...🌸 Eska'Er 🌸...
...****************...
"Khan adalah dunia buat Runa, Yah. Bersyukur ia tak pernah rewel sedari bayi hingga sebesar ini. Mungkin ia paham kalau bundanya hanya sendiri mengurusnya. Semoga akan selalu seperti itu, Yah.”
Runa melanjutkan cerita tentang Khan setelah semua tamunya duduk di ruang tamu, “Runa juga beruntung bertemu dengan Mas Sandy serta ibunya yang mau membantu Runa di masa tersulit Runa. Mereka selalu ada buat Runa.” Mata Runa berbinar saat mengenang semua kebaikan Sandy juga Mira.
Lukman begitu bahagia melihat anak dan cucunya sehat dan berada di antara orang-orang baik. Ia sangat menyesal dengan semua kejadian di masa lalu yang membuat anaknya berjuang sendiri.
Kecanggungan jelas terlihat antara Runa dengan keluarga Ata. Bagaimanapun, ini kali pertama mereka bertemu. Sesungguhnya, Runa menyesalkan sikap Ata yang membawa orang tua Ata ke Wonosobo.
Bertemu kembali dengan orang tuanya saja, Runa masih merasa canggung setelah tujuh tahun tak bersua. Namun, demi menghargai tamu, Runa mengizinkan orang tua Ata ikut serta dalam perbincangan mereka.
Runa bercerita tentang keluarga Sandy di Wonosobo, bagaimana keluarga itu memperlakukan Runa dan Khan. Walau Nenek Sekar tidak pernah suka akan mereka berdua, tetapi Runa begitu bahagia.
Terlihat binar kekaguman dari Maya pada sosok Runa. Ia tak menyangka putranya tak salah memilih wanita yang tangguh untuk dijadikan ibu dari cucu-cucunya kelak. Sorot haru juga tampak pada netra Hasan. Ia yakin, Runa adalah wanita istimewa. Tak diragukan lagi, jika wanita seperti Runa mampu membuat anaknya kelimpungan.
Setelah berbincang santai, mereka pun makan siang bersama penuh keakraban walau ada sedikit kecanggungan saat berhadapan dengan keluarga Ata.
__ADS_1
Runi selalu saja dekat dengan keponakannya yang mengemaskan itu. Bermain mobil-mobilan dan pesawat mainan yang mereka bawa dari Surabaya.
***
Menjelang sore suasana Wonosobo begitu dingin dan sejuk. Mereka duduk santai di teras sambil menikmati teh hangat dan wedang jahe, serta beberapa makanan khas daerah tersebut. Ada cenil, geblek, tempe kemul, dan juga opak singkong di dalam toples kaca.
Setelah berbincang lama, Lukman pun mengutarakan niatnya membawa Runa dan Khan ke Surabaya untuk berkumpul kembali bersama mereka.
"Nak, bagaimana kalau kalian berdua kembali ke Surabaya?" Lukman memulai perbincangan dengan anaknya dengan sangat hati-hati. Ia ingin mengetahui pendapat Runa mengenai usulannya, bagaimanapun Runa pernah tersakiti olehnya.
Lina, Hasan, dan Maya hanya menatap dan mengiyakan ajakan Lukman, agar Runa dan Khan mau ikut mereka ke Surabaya.
"Yah, Ma, bukannya Runa nggak mau kembali ke rumah, tapi di sini ada yang harus dipertanggungjawabkan. Runa punya usaha dan ada anak buah yang harus diperhatikan. Semua itu Runa rintis dari nol dan hingga kini masih berjalan dengan baik." Runa begitu berat meninggalkan banyak kenangan di Wonosobo. Lagi pula Runa tidak ingin meninggalkan Sandy dan semua orang yang berada di sini, karena sudah begitu baik menerima semua keadaan Runa kala itu.
Hasan dan Maya pun tidak luput mendukung usulan dari kedua orang tua Runa, agar Runa dan Khan bisa ikut serta kembali ke Surabaya. Hasan dan Maya pun berjanji akan menjamin semua kebutuhan Runa dan Khan di Surabaya nanti. Ata pun sama, ia pun ikut serta membujuk dan mengutarakan maksud yang sama dengan yang dilakukan kedua orang tua Runa, dan kedua orang tuanya untuk mengajak Runa dan Khan ikut kembali ke Surabaya, tetapi Runa tetap pada pendiriannya. Menetap di Wonosobo.
"Maaf, Tante. Saya masih mau menetap di sini.”
"Apakah karena Sandy, kamu mau menetap di sini dan tidak mau ikut dengan kami?" sarkas Ata dengan kesalnya.
"Apa pun alasannya, kamu tidak berhak memaksaku, Ata." Runa tak kalah sarkas.
"Aku berhak tahu, karena Khan darah dagingku."
__ADS_1
Runa tersenyum remeh, "Itu tidak menjamin kamu berhak atas kami. Yang pasti aku punya alasan tersendiri."
"Lalu apa alasan itu, Runa. Aku mau tahu!" Suara tegas Ata kembali terdengar.
"Oke, aku kasih tahu. Alasanku ingin tetap di sini karena ada rasa nyaman yang aku rasakan di sini. Rasa itu yang belum tentu aku dapatkan lagi tempat baru nanti, walau itu rumah di mana aku besar dan diberikan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Dapatkah kamu memberikan rasa itu, Byakta Kalingga?” Runa sangat geram dengan sikap pemaksa Ata, hingga ia tak bisa mengontrol nada tinggi suaranya. Meski di sana telah berkumpul kedua orang tua Runa dan Ata, Runa tak segan membentak lelaki itu.
Beruntung Runi dan Khan sedang bermain di ruang tengah bersama David juga Alea, sehingga tidak mendengar suara tinggi dari Runa. David dan Alea merasa tidak berhak ikut dalam perbincangan para orang tua itu. Meski sebenarnya pikiran mereka penasaran dengan apa yang mereka obrolkan, terlebih Alea.
"Yah, Mah, Tante, dan Om, mohon maaf Runa nggak bisa ikut dengan kalian. Biarkanlah kami di sini menikmati semua apa yang seharusnya kami rasakan. Tolong hargai semua yang sudah menjadi keputusan Runa. Bukan hal yang mudah untuk memutuskan masalah ini. Namun, sekali lagi Runa berterima kasih kepada Om dan Tante yang sudah mau berkunjung ke sini.” Runa menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya,
"teruntuk Ayah dan Mama, semoga keputusan ini tidak membuat kalian kecewa. Walau berat, tapi ini jawaban dari Runa. Menjauh bukan berarti kita tak bahagia, mungkin dengan jarak yang jauh kita bisa saling merasakan apa artinya rindu. Semoga apa yang sudah Runa putuskan ini membuat hati kalian bahagia dan tidak lagi diliputi rasa bersalah." Runa berbicara dengan suara bergetar menahan tangis.
Runa berjalan ke arah Lina–sang mama, lalu ia memeluk dengan berderai air mata. Rasa perih di hatinya tidak bisa tertahan lagi. Ia mengerti perasaan wanita paruh baya itu, tetapi inilah kehidupan, tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Adakalanya kita harus mengambil sikap tegas atas apa yang sudah menjadi keputusan diri kita.
Runa bahagia telah bertemu kembali dengan keluarganya, walau ia tidak dapat ikut serta bersama mereka kembali ke tempat asalnya –Surabaya.
Meski begitu besar jaminan kebahagiaan yang akan Ata janjikan, tetapi Runa tidak tergoda. Sebab kebahagiaan itu adalah kedamaian di mana Runa bisa menerima semua tanpa tekanan dan keegoisan.
Tidak bisa dipungkiri. Ada raut kecewa di wajah orang tua Runa juga orang tua Ata, atas keputusan yang Runa ambil. Namun, Sekai lagi mereka tak mampu memaksakan kehendak, sedangkan Ata sendiri terlihat begitu geram dan tidak mau menerimanya begitu saja.
“Aku janji, apa pun yang terjadi, kamu dan Khan akan tetap ikut ke Surabaya. Kita akan menjadi keluarga yang utuh,” batin Ata.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
Jangan lupa like dan komentar, ya