Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
36


__ADS_3

...****************...


...~ Pergilah dan raihlah semua kebahagiaanmu di pelabuhan hati lain, agar kamu berhenti terluka ~...


...****************...


Dengan kesalnya Hanum berjalan menuju kendaraan yang diparkir di halaman rumah Hasan. Mulutnya terdengar mengeluarkan sumpah serapah memaki Ata dan Hasan. Akankah pertunangan Alea dan Ata dibatalkan begitu saja? Rahman pasti sangat kecewa padanya.


“Aku seperti sudah tak punya muka di hadapan Mas Rahman,” gumamnya.


Hanum terus saja memaki dalam hati sambil memukul stir mobil. Ia sangat geram dengan kelakuan Ata yang dengan mudahnya ingin memutuskan hubungan dua keluarga besar itu. Hanum kehabisan akal untuk membujuk Ata membatalkan pertunangannya. Ia paham, Ata sama kerasnya dengan dirinya. Apa yang diinginkan harus terwujud. Ambisius memang.


“Kalau aku nggak bisa bujuk Ata, aku harus bisa membujuk Alea untuk mempertahankan pertunangannya. Ck! Bisa-bisanya berlian seperti Alea dilepas gitu aja. Keluarga Mas Rahman adalah keluarga terpandang yang tidak bisa disepelekan gitu aja,” gerutunya tak habis-habis.


***


Siang ini Surabaya sedikit hangat, tidak seperti biasanya yang teramat terik. Mendung tampak bergelayut manja di atas sana. Hasan sudah bulat dengan keputusannya. Pertunangan Ata dan Alea harus diakhiri demi cucu mereka yang belum pernah mereka jumpai. Apa pun yang akan terjadi, ia sudah pasrah dan menerima segala macam resiko, sebab ini adalah kesalahan dari pihaknya.


Mobil hitam metalic pun telah sampai di halaman rumah besar nan megah di pinggiran kota pahlawan tersebut. Pendingin di dalam mobil pun tak dapat mengurangi rasa resah yang keluarga itu rasakan.


Suasana jadi sedikit tegang, kala mobil itu memasuki pelataran halaman luas itu. Bunga-bunga hias terlihat tumbuh dengan subur, membuat rumah itu terlihat teduh dan sedap dipandang mata.


Dengan perasaan bercampur aduk, mereka pun masuk menuju teras rumah kedua orang tua Alea. Kabar sudah disampaikan terlebih dulu jika mereka akan berkunjung ke kediaman sahabat Hanum itu.


"Assalamu'alaikum," Hasan memberi salam. Maya hanya mengatupkan kedua tangan ke arah laki-laki berbaju hijau tersebut.


"Waalaikumusalam.” Rahman menjawab dan menyambut hangat kedatangan tamu spesialnya itu.


"Apa kabar, Om?" tanya Ata dengan wajah yang tak bisa digambarkan. Dengan sopan Ata meraih tangan Rahman dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu dengan takzim.


"Alhamdulilah, kabar kami baik. Ayo, kita masuk dulu. Mau santai di dalam atau kita ngobrol di taman belakang saja?" Rahman menawarkan tempat terbaik untuk berbincang.


"Di mana saja, Om. Kami ikut saja,” jawab Ata dengan tegang. Ada rasa bersalah menyelusup dalam hati. Sungguh Alea adalah gadis yang baik. Ata adalah lelaki yang bisa dianggap beruntung karena bisa mendapatkannya, tetapi apa daya saat takdir sepertinya tak berpihak dengan hubungan mereka.

__ADS_1


"Oke. Kita ke taman belakang saja, ya. Alea juga ada di sana, sedang merawat bunga bersama maminya.” Mereka pun berjalan menuju taman belakang yang asri dan rindang.


Alea melihat Ata langsung bangkit dari kesibukannya merawat bunga-bunga kesayangannya.


"Ata," seru Alea dengan mata berbinar manja. Ia langsung berlari kecil menuju ke arah Ata dan memeluknya dengan erat. Tak peduli dengan kehadiran kedua pasang orang tua itu.


Dia hanya begitu bahagia, Ata hadir di waktu yang tepat. Alea merindukan Ata.


"Ata, aku kangen," rengek Alea dengan manjanya. Seperti itulah Alea bila bersama Ata. Bagaimana Hasan dan Maya akan mengatakan maksud perihal kedatangannya pada Alea, saat melihat Alea begitu cintanya kepada anak mereka. Ada rasa bersalah yang luar bisa di benak Hasan, tetapi semua harus ia luruskan kejelasannya. Ini tentang masa depan dan kebaikan semuanya. Ata, Alea dan Runa serta cucunya, Khan.


"Iya.” Ata hanya menjawab singkat dan jelas, ia tak mau Alea akan semakin mederita dengan semua penjelasannya nanti.


Tak lama seorang wanita dengan seragam khusus pun datang, membawa nampan berisi minuman dan kudapan manis, yang disuguhkan untuk tamu majikannya.


“Silakan, Mas Ata, Pak, Bu, diminum tehnya!"


"Iya, terima kasih Mbak Ratih,” jawab Ata. Ia kenal betul dengan Mbak Ratih, sebab ia sering dibuatkan kopi oleh wanita tersebut.


"Sama-sama, Mas Ata. Mari permisi, saya pamit ke dapur lagi." Sambil menundukkan kepalanya dengan sopan Ratih berlalu.


"Ini, loh, Mas, masalah anak-anak kita." Hasan memulai perbincangan dengan sangat hati-hati, agar tak melukai perasaan siapa pun di antara mereka.


"Loh, kenapa dengan anak-anak kita, Mas?” tanya Rahman dengan bingung.


Hening. Tidak ada jawaban dari calon besannya membuat Rahman melempar tanya kembali, “apa mereka mau dimajukan rencana pernikahannya?”


Alea yang menyadari air muka calon mertuanya kini menyadari satu hal tentang kedatangan mereka hari ini. Wajah Alea kini tampak pias. Apakah orang tua Ata pun mendukung keputusan anaknya untuk memutuskan hubungan? Alea dibungkam nestapa. Hatinya kini berduka akan nasib cintanya. Hingga suara Hasan kembali terdengar.


"Sebelumnya, kami sekeluarga minta maaf karena apa yang akan saya sampaikan pasti melukai hati semua orang. Terlebih Alea.” Hasan menatap hampa pada Alea.


Rahman dan sang istri mengerutkan dahi. Mereka masih belum bisa membaca arah pembicaraan sang calon besan.


“Om.” Alea menggelengkan kepala. Butiran bening sudah memupuk di sudut mata.

__ADS_1


“Maafkan om, Al. Om yakin kamu akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik daripada Ata.”


Rahman dan sang istri semakin gelisah tak karuan melihat sang putri sudah bermuram durja. Hasan pun menceritakan semua yang telah terjadi belakangan ini, membuat Rahman dan sang istri tercengang. Alea sudah terisak, sedangkan Ata tertunduk malu.


Maya pun tak sanggup menahan air matanya. Sedih bercampur malu membuat hatinya tak menentu. Duka itu kian terasa saat melihat sang suami seperti tak lagi memiliki harga diri di hadapan Rahman dan keluarganya.


“Jadi kami sekeluarga sungguh meminta maaf jika pertunangan Ata dan Alea terpaksa dibatalkan. Bagaimanapun, Ata harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan,” terang Hasan di akhir penjelasannya.


Melihat sang putri yang terisak membuat Rahman mengepalkan kedua tangan. Sedangkan sang istri sudah tak bisa lagi menyembunyikan kemarahan yang meluap.


“Kalian anggap ini lelucon?” bentak Ana –ibu dari Alea, “kalian dengan sangat mudahnya mematahkan hati putri kami. Kalian mempermainkan keluarga kami, hah?!” Wajah Ana sudah benar-benar memerah.


“Sungguh, kami tidak berniat seperti itu. Kami hanya bisa meminta maaf untuk semua yang telah terjadi,” ucap Hasan dengan wajah tertunduk malu.


“Saya sungguh kecewa,” ucap Rahman dengan wajah mengeras menahan amarah, “tapi jika itu menurut kalian yang terbaik, kami bisa apa? Lebih baik ini diputuskan diawal daripada mereka terlanjur menikah dan ini baru terkuak. Saya terima keputusan kalian. Kal–”


“Aku tidak terima!” Alea yang sudah berderai air mata memotong ucapan ayahnya saat ia sudah tidak bisa menahan semua pelik yang mendera. Semua mata tertuju pada Alea, termasuk Ata.


“Runa sendiri sudah tidak bersedia diperistri oleh Ata.” Kalimat terakhir yang terucap dari Alea membuat mata Ata melebar dengan sempurna.


“Jadi, tidak ada gunanya memutuskan pertunangan ini. Alea akan tetap menikah dengan Ata,” putus Alea.


“Jangan gila kamu, Al!” bentak Ana.


“Aku akan tetap memperjuangkan Runa dan Khan!” tegas Ata.


“Terserah! Tapi yang jelas, Aku hanya akan mundur jika Runa memang bersedia menerima kamu kembali.” Tanpa menunggu respons dari semua, Alea bergegas meninggalkan pertemuan itu. Tekadnya sudah bulat. Ia akan tetap mempertahankan cintanya.


...****************...


...To be continued...


Satu kata, dong, buat Alea 🤔

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar, ya


__ADS_2