Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
34


__ADS_3

...****************...


...~ Maafkanlah masa lalumu, walau tak dapat dilupakan. Setidaknya kita bisa melangkah dengan pasti dan ikhlas ~...


...~ Maya Dewi ~...


Dengan langkah gontai Ata pun kembali pulang, setelah berbicara dengan Runi. Pastinya hati dan jiwanya pun sakit mendengar semua penjelasan dari adik wanita yang amat ia cintai. Sebegitu menderitanya Runa kala itu. Sekarang ia harus berbuat apa dengan keadaan yang ia ciptakan sendiri di masa lalu. Arunika Pramesti harus terusir dari rumahnya sendiri dengan membawa aib yang tak termaafkan. “Maafkan aku, Run,” bisiknya lirih pada diri sendiri.


Sesampainya di teras rumah, Ata disambut dengan senyum terindah dari wanita yang telah melahirkannya itu. Maya Dewi–sang mama tercinta yang begitu bangga dengan semua kesuksesan yang telah diraih Ata. Dengan semua prestasi dan pekerjaannya saat ini. Ia tak tahu kalau anaknya menyimpan luka di masa lalu.


“Kamu dari mana saja?” tanya sang mama saat melihat putranya baru saja datang, tetapi tak kunjung mendapat jawaban dari anaknya.


Ata hanya memandang sang mama dengan tatapan bersalah. Apakah ia harus menceritakan kehidupannya kala bersama Runa saat itu? Akankah sang mama menerima semuanya atau malahan ia mengalami hal yang sama dengan Runa. Dengan penuh kebimbangan, ia pun menghampiri wanita berkerudung biru itu. Berharap bisa tenang dan mendapatkan jalan keluar dengan semua permasalahan ini.


Tanpa kata yang terucap, Ata langsung masuk dalam dekapan Maya, membuat Maya dan Hasan yang baru ikut bergabung, bingung akan tingkahnya. Dalam dekapan hangat wanita yang telah melahirkannya, menangislah Ata. Menumpahkan semua tekanan dan penyesalan yang ada dalam dirinya.


Kesalahan atas dosa yang ia perbuat dengan Runa, dan pergi meninggalkannya di saat perempuan itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Penyesalan karena sudah membuat perempuan itu dibenci dan dihina oleh orang tuanya sendiri. Ata dilema dengan semua perasaan yang ada. Ia merasa bersalah pada kedua orang tuanya. Pasti keduanya akan kecewa dengan semua penjelasan Ata pada akhirnya.


"Ada apa, Nak? Sampai kamu menangis sepilu ini. Apa terjadi sesuatu?” tanya Maya pada anak lelakinya itu.


"Mah, apakah mama dan ayah akan membenciku bila aku jujur?” Dengan suara pelan Ata bertanya kepada mamanya.


"Jujur tentang masalah apa?” Maya mengerutkan kening, merasa heran dengan tingkah putranya.


“Nak, coba kamu jelaskan sama mama dan Ayah, mungkin kita berdua bisa sedikit membantu dan meringankan apa yang kamu rasakan."


Ata hanya diam membisu. Ia pun bingung harus memulai dari mana. Begitu sesak dadanya bila mengenang semua pengorbanan Runa buat anaknya–Khan.

__ADS_1


“Kita masuk dulu.” Hasan menggiring anak dan istrinya untuk duduk di ruang tamu.


Maya dan Hasan pun hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara, sampai Ata yang mulai berbicara.


"Aku sudah punya anak, Mah."


Ata memulai pembicaraan dengan kedua orang tuanya dengan wajah tertunduk. Rasanya ia tak mampu melihat wajah penuh kecewa dari orang yang ia cintai. Ucapan Ata sontak membuat Hasan dan Maya melebarkan mata. Hasan dan Maya saling tatap, tanda tak mengerti maksud ucapan anaknya.


Keduanya hanya memandang anaknya dengan wajah penuh kebingungan, mengapa tiba-tiba Ata berbicara seperti itu.


"Apa maksudnya, Ta? Anak? Anak siapa?” Maya yang pertama kali melempar tanya untuk memastikan pendengaran tadi.


“A-anakku, Ma. Darah dagingku.” Tergagap Ata menjawab pertanyaan sang mama.


"Anak? Anakmu dengan siapa? Jangan aneh-aneh kamu, Ta!” bentak Hasan dengan sedikit emosi. Bukan saatnya bercanda di situasi sekarang ini. Sebab Ata adalah tunangan dari Alea Putri—anak dari sahabat Hanum. Sekarang dengan mudahnya Ata mengatakan hal itu.


“Jangan bercanda! Ini tidak pantas buat dijadikan lelucon. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Alea,” sarkas Hasan.


"Jangan mengada-ada, Ta! Kamu mengarang cerita hanya untuk mengakhiri hubunganmu dengan Alea? Apa salah Alea sama kamu?” Hasan menggeleng. Lalu melanjutkan ucapannya, “jangan harap kami akan percaya begitu saja dengan semua omong kosong yang keluar dari mulutmu itu!” pekik Hasan semakin marah dan sorot mata yang terlihat tajam kearah laki-laki tampan berhidung mancung itu.


"Sungguh, Ayah, aku tidak sedang bersandiwara atau mengada-ada. Semua yang aku jelaskan benar adanya." Ata mencoba meyakinkan kedua orang tuanya. Ia selalu teringat semua penderitaan Runa-nya kala itu.


"Aku pernah melakukan perbuatan dosa yang dibenci Allah bersama Runa, saat kami mengetahui bahwa kami dinyatakan lulus dalam sidang skripsi.” Ata pun kembali menangis pelan tanpa suara, “saat itu aku tidak tahu ternyata perbuatan kami membuat Runa hamil. Bahkan aku pernah mencampakkannya, tepat di hari kelulusan kami. Seminggu sebelum keberangkatanku ke Inggris.”


Ata menghela napas dengan gusar. Bayang-bayang di mana Runa meminta Ata untuk mempertahankan hubungan mereka menari di ingatan.


“Selama Runa hamil, ia banyak mengalami kepahitan. Ia terusir dari rumahnya, dan sampai sekarang Runa belum kembali kepada keluarganya. Runa diusir karena dianggap mencoreng nama besar keluarganya.“ Ata memandang kedua orang tuanya dengan tatapan sendu, “ini semua gara-gara aku, Ma, Ayah. Aku yang membuat Runa berpisah dengan keluarganya. Hingga ia harus berjuang sendiri untuk membesarkan anak kami.”

__ADS_1


Maya mendekati Ata lalu memberikan pelukan pada sang putra. Pandangan Ata jatuh kepada Maya sembari memegang kedua tangan mamanya. “Cucu kalian saat ini sudah berusia enam tahun. Wajahnya sangat mirip aku sewaktu kecil, Ma, Ayah. Namanya Khan. Ia sangat pintar dan santun. Aku yakin Runa sangat baik mendidik dan merawatnya.”


Ata pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memperlihatkan foto Khan saat berada di sekolah. Foto yang diambil Ata secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Runa dan Sandy.


Lalu menunjukkan foto yang lainnya. Terlihat anak laki-laki berdiri di samping wanita cantik dengan rambut tergerai panjang, berpakaian couple berwarna marun, terlihat begitu tampan ketika tertawa. Hasan dan Maya yang melihat foto tersebut saling berpandangan dan iam seribu bahasa.


Saat ini mereka tidak tahu harus berbuat apa. Karena wajah Khan sangat mirip dengan Ata waktu kecil. Sungguh ini begitu mengejutkan bagi Hasan dan Maya. Mereka tidak pernah menyangka ada takdir pelik yang terselip dalam perjalanan hidup yang mereka titi.


Lama terdiam keduanya pun tersadar dengan semua lamunannya. "Langkah apa yang akan kamu lakukan, Ta? Bagaimana dengan Alea? Itu semua harus kamu pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu membuat kesalahan yang sama." Hasan memberikan nasihat kepada anaknya, agar mempertimbangkan apa yang harus dilakukan.


"Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku dengan menikahi Runa, Yah. Aku juga sudah memutuskan hubunganku dengan Alea. Mungkin lusa aku akan ke rumahnya untuk bertemu dengan Om Rahman, untuk menjelaskan semua permasalahanku. Semoga Om Rahman bisa memakluminya dan menerima keputusanku." Ata bersuara tegas. Ia sudah bertekad akan melaksanakan semua rencananya.


"Kamu terlalu gegabah, Ta. Pertunanganmu dan Alea dilakukan dengan sangat baik, tapi kenapa kamu tidak dengan hormatnya memutuskan apa yang sudah diketahui dan disetujui oleh kedua keluarga. Pakai akal sehatmu, Ta. Bagaimana perasaan keluarga Alea dan Alea sendiri? Jangan menyakiti hati perempuan itu, Ta. Hati mereka lebih lembut dan bagaikan cermin bila sudah pecah tak akan bisa kembali seperti sediakala." Hasan dengan tegas menolak apa yang Ata ungkapkan, ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Mempunyai anak yang amat keras kepala akan pendiriannya.


"Itu sudah menjadi tekadku. Ayah dan Mama hanya mendukung saja, biarlah semua menjadi tanggung jawabku terhadap keluarga besar Alea.”


“Byakta Kalingga, cobalah pertimbangkan kembali dengan baik, Nak.” Maya mengusap punggung anaknya dengan penuh kasih sayang, agar Ata mengurungkan niatnya. Ia bukan tidak mendukung Ata menikahi Runa, hanya saja berharap Ata menyelesaikan semuanya dengan baik.


Ia mendukung langkah yang Ata ambil untuk menikahi Runa, tapi Ata juga harus mengurus pertunangannya dengan baik. Kalau harus dibatalkan harus ada jawaban yang tepat, agar tak ada lagi permasalahan di kemudian hari.


“Terkadang apa yang kita inginkan tak selalu dapat diraih walau sekuat apa pun usaha yang kita lakukan. Akan ada pembelajaran di setiap peristiwa dan ada hikmah di balik semua kejadian yang kita alami. Semua butuh proses untuk menjadi lebih baik.” Maya mengusap lembut punggung putranya.


“Kalau apa-apa yang kamu harapkan belum terwujud. Bisa jadi ada dua kemungkinan, Allah suruh kita sabar karena tahu mana yang lebih baik dari harapan kita.” Pesan sang mama begitu bijak, agar Ata tak melakukan kesalahan yang sama di lain kesempatan.


Ata hanya menganggukkan kepala tanda ia mengerti dengan apa yang dibicarakan mamanya. Sambil menggenggam tangan wanita itu, ia mohon restu agar semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan.


Hasan hanya mendengkus pasrah. Ia tak menyangka akan ada peristiwa serumit ini di masa tuanya. Ia pun berniat mengajak sang istri dan Hanum untuk bertandang ke kediaman Rahman guna membantu Ata menyelesaikan masalah yang terjadi.

__ADS_1


...****************...


...To be continued...


__ADS_2