
...****************...
...Terkadang, kita memerlukan tamparan keras untuk menyadarkan arti sebuah kesalahan. ...
...Author...
...****************...
Sudah hampir tiga jam Runa berada di depan ruang operasi. Berkali-kali ia duduk dan berdiri, sering pula wanita itu mondar-mandir terlihat begitu khawatir.
“Runi, mbak ke kamar Khan dulu, ya. Mbak mau lihat kondisi Khan saat ini,” ucap Runa sambil menyentuh pundak Runi.
“Mbak tenang saja, Mama barusan WA katanya Khan sudah stabil meskipun dia belum sadar. Mbak Runa di sini saja, Mama sama perawat sudah nemenin Khan.” Runi tersenyum menggenggam tangan Runa yang begitu dingin. Terlihat jelas kekhawatiran terpancar dari wajah cantik yang sedikit pucat itu.
Detik demi detik terasa bertahun-tahun untuk Runa. Lukman yang melihat putrinya bertingkah seperti itu, bisa menyimpulkan jika Sandy adalah seseorang yang menempati singgasana teristimewa dalam hati Runa.
“Di saat seperti ini, lebih baik kita berdoa, Runa. Tenangkan dirimu, pasrahkan semua kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan begini niscaya hatimu tenang, Nak. Kamu juga harus menjaga kondisimu. Ingat saat ini Khan dan juga Sandy membutuhkanmu. Jangan sampai kekhawatiranmu mengakibatkan fisikmu melemah.” Lukman yang sedih melihat kondisi Runa pun membimbing Runa untuk duduk di sampingnya.
Runa menuruti kata-kata ayahnya. Runa membenarkan kalimat Lukman. Dia duduk di antara Runi dan Lukman. Kepalanya menunduk, ia memejamkan mata dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan kesembuhan untuk orang-orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
Sesaat suasana hening menyelimuti ruangan itu. Ata yang sedari tadi diam dan melihat semuanya, harus merelakan jika kehadirannya seperti tak kasatmata bagi Runa. Bahkan makanan yang ia beli untuk Runa belum sempat ia berikan. Di satu sisi hatinya mulai berdenyut perih, Ata melihat begitu berartinya Sandy untuk seorang Runa.
Tiga puluh menit berlalu, Runa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tunggu. Wajahnya tampak lebih tenang dari beberapa menit lalu. Ata memberanikan diri untuk mendekati Runa.
“Run, minum dulu.” Ata mengulurkan sebotol air mineral yang segera diterima dan diteguk oleh Runa. “Ini untuk mengganjal perut kamu. Dari pagi kamu belum makan.” Ata kembali mengulurkan sebungkus roti, ia paham jika dalam kondisi seperti ini Runa pasti tidak akan mau untuk makan nasi.
“Terima kasih, Ta,” jawab Runa singkat.
“Makanlah dulu, setelah ini kamu harus benar-benar menjadi wanita kuat.” Lukman mengelus pucuk kepala Runa.
Dengan berat Runa memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Waktu terus berjalan. Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala. Tidak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari arah luar.
“Tante Mira.” Runa bangkit dan segera berhambur ke dalam pelukan wanita itu.
“Keadaan Sandy bagaimana, Sayang?” tanya Mira dengan air mata berderai.
“Masih ditangani dokter, Tan.”
__ADS_1
“Silakan duduk, Mbak.” Lukman berdiri dan menggeser posisinya ke samping Ata.
“Terima kasih, Mas. Maaf sudah merepotkan ayahnya Runa. Saya tidak tahu harus bagaimana saat tadi mendengar kabar ini. Sekali lagi terima kasih sudah meng-handle semua yang di sini hingga Sandy bisa secepatnya memperoleh perawatan terbaik.” Mira membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menghormati Lukman.
“Apa yang saya lakukan saat ini, belum sebanding dengan apa yang mbak Mira lakukan untuk putri saya.”
Suara derit pintu ruang operasi mengalihkan atensi semua yang ada di sana. Mira dan Runa bergegas mendekati dokter yang masih mengenakan scrub suits berwarna hijau.
“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya Mira kepada dokter itu.
“Operasinya berjalan lancar. Namun, kami belum bisa memastikan kondisi pasien. Jika pasien bisa melewati masa kritisnya malam ini, kami berharap kondisinya secepatnya membaik. Untuk sementara, pasien masih dalam pengawasan. Hanya satu orang yang diperbolehkan untuk menemaninya.”
“Terima kasih, Dokter,” ucap Mira.
“Mbak, kami kembali ke Khan, ya. Kalau ada apa-apa hubungi kami,” ucap Runi sebelum Runa mengikuti perawat yang membawa Sandy dari ruang operasi ke ruang recovery.
“Iya, Runi. Mbak titip Khan dulu. Secepatnya mbak akan kembali.”
Mereka pun berpisah. Runa dan Mira mengikuti ke mana Sandy dibawa oleh petugas. Sedangkan yang lain kembali ke kamar Khan.
“Bagaimana keadaan, Tante? Maafkan Runa. Tante sakit pasti gegara Runa,” lirih Runa dalam perjalanan mereka meyusuri koridor rumah sakit.
“Masih belum ada kemajuan yang berarti, Tan. Semoga saja Khan segera menemukan pendonor yang cocok,” lirih Runa.
***
Malam harinya, Mira menemani Sandy seorang diri. Dengan sabar Mira berdoa di sisi putra semata wayangnya. Bohong jika saat ini Mira mengatakan dirinya baik-baik saja. Rasa takut kehilangan begitu menghantui perasaannya. Sepeninggal suaminya, Mira hanya hidup berdua dengan Sandy. Jadi di saat seperti ini, ketakutannya akan kehilangan sebenarnya sudah menyiksa sejak awal. Namun, Mira berpura-pura kuat. Hal itu semata karena dia tidak ingin Runa mengetahui rasa takut itu. Mira paham jika Runa butuh dukungannya. Kalau sampai Runa tahu bahwa dirinya ketakutan, lantas siapa yang akan membesarkan hati Runa?
“Sandy!” seru Mira ketika merasakan pergerakan jemari sang putra. Mira melirik jam dinding dalam ruangan itu. Waktu menunjukkan pukul 02.30 WIB. Semenjak kedatangannya, Mira sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
“Ma ….” Suara Sandy terdengar jelas meskipun begitu lemah.
“Ya, Sayang. Mama di sini. Di mana yang sakit?” tanya Mira mendekat ke arah Sandy.
“Maafkan, Sandy sudah merepotkan.” Suara Sandy makin melemah.
“Jangan terlalu banyak bicara, Nak. Istirahatlah!” titah Mira yang tidak dihiraukan oleh Sandy.
__ADS_1
“Sandy takut tidak punya waktu lagi, Ma.”
“Jangan bicara yang enggak-enggak. Anak mama pasti sembuh. Karena anak mama adalah orang yang kuat,” bantah Mira dengan air mata yang mulai mengalir.
“Ma-ma ja-ngan na-ngis” Kalimat Sandy terbata-bata, menyesuaikan dengan irama jantungnya yang belum stabil. “Gimana kondi-si Khan?”
“Kamu jangan pikiran Khan dulu. Khan udah ditemenin banyak orang. Sekarang kamu harus berjuang agar bisa bergabung di tengah-tengah mereka.” Mira berusaha memacu semangat putranya.
“Ma, jika terjadi se-su-a-tu sama Sandy, tolong Mama jangan sedih, ya. Sandy ingin hidup dan matiku bermanfaat untuk orang lain.” Sandy menghela napas sesaat. “Jika terjadi hal bu-ruk tolong berikan jantung Sandy untuk Khan.”
“Sandy, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu harus sembuh, Nak. Kamu harus kuat. Siapa yang akan nemenin mama kalau kamu juga pergi.” Tangis Mira pecah ketika monitor perekam detak jantung Sandy berbunyi tidak beraturan.
Suara gaduh mulai terdengar dalam ruangan itu. Para tenaga medis sibuk melakukan pertolongan untuk Sandy. Mira keluar dari ruangan tersebut dan segera menghubungi Runa. Hanya dalam hitungan menit, Runa tiba di samping Mira. Pagi itu adalah pagi yang begitu mencekam untuk mereka.
***
Sinar matahari menyusup melalui celah tirai di kamar Sandy. Runa membetulkan posisi selimut di tubuh Mira. Wanita itu terlihat begitu lelah, hingga Runa tidak ingin mengusik tidurnya. Apalagi, Mira baru tidur pukul enam pagi setelah dokter menyatakan kondisi Sandy kembali stabil dan memindahkan ke ruangan ini meskipun Sandy belum juga sadar.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Runa menoleh dan melihat kehadiran sosok wanita tua yang begitu tegas itu sudah berdiri di sana. Matanya nanar menatap Runa dan Sandy secara bergantian. Perlahan wanita itu melangkah mendekati Runa.
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Runa.
“Semua ini gara-gara kamu! Berkali-kali aku bilang, jauhi Sandy! Tapi kamu selalu mengabaikan permintaanku. Kalau sudah begini bagaimana? Apa kamu bisa mengganti nyawa cucuku?”
Runa bergeming. Air mata sudah menganak sungai di pipinya. Runa merasa sangat bersalah atas kecelakaan yang menimpa Sandy.
"Benar kata nenek Sekar. Aku selalu merepotkan mas Sandy. Bahkan saat ini aku sudah melukainya,” tuturnya dalam hati.
Mira yang terusik oleh kegaduhan di kamar tersebut pun segera terjaga.
“Nenek? Nenek tidak boleh menyalahkan Runa. Runa juga tidak ingin hal ini terjadi. Semua ini sudah takdir Allah. Kita tidak bisa menolaknya.” Mira mendekati nenek Sekar dan berbisik di telinga wanita tua itu. “Nek, Mira mohon untuk kali ini saja, jangan bikin ribut. Kasihan Sandy.”
Runa memegangi pipinya yang terasa panas. Sebuah tamparan itu belum seberapa dibandingkan kelimat Sekar yang menampar hatinya. Terkadang, kita memerlukan tamparan keras untuk menyadarkan arti sebuah kesalahan. Runa mengerti, pasti saat ini hati Sekar sesakit apa yang ia rasakan.
...****************...
__ADS_1
...To be continued...
Jangan lupa like dan komentar, ya