Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
13


__ADS_3

...*******...


...“Kamu boleh berangan, tetapi takdir tetap harus berjalan. Aku tidak tahu siapa jodohku, tetapi aku yakin rencana Tuhan pasti yang terbaik”...


...~Arunika Pramesti~...


...******...


Udara dingin pagi ini di kota Wonosobo, membuat Ata enggan untuk beranjak dari ranjangnya. Lelaki itu masih memejamkan matanya di bawah selimut tebal berwarna putih yang memberinya kehangatan. Semalam Ata tidak bisa tidur meskipun tubuhnya terasa lelah. Seharian dia mencari Runa dengan hasil yang nihil. Malam harinya sosok Runa masih memenuhi pikiran Ata. Entah jam berapa matanya terpejam. Cahaya matahari yang menerobos melalui celah tirai di kamar hotel mengusik tidurnya. Padahal Ata merasa baru sesaat dirinya terbuai mimpi bersama gadis pujaannya. Lelaki itu bukannya terbangun, tetapi malah semakin masuk ke dalam selimut.


Suara ketukan berulang kali dari arah pintu kamar, akhirnya mengusik istirahatnya. Ata sudah bisa menebak siapa orang yang berada di balik pintu kamarnya. Dengan mata berat Ata bangkit dan membukakan pintu untuk David. Matanya sedikit memicing ketika melihat penampilan David yang sudah rapi.


“Loh, kamu belum siap?” David terkejut melihat penampilan Ata yang masih memakai celana training hitam dan sweater abu-abu dengan rambut acak-acakan.


Ata tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Dia malah berbalik dan kembali masuk ke kamar diikuti David. Setelah menutup pintu, David bergegas ke dalam.


“Eh, kok malah tidur lagi, sih! Buruan mandi ntar keburu siang. Katanya mau cari Runa,” gerutu David sembari menarik selimut yang membungkus tubuh Ata.


Mendengar nama Runa disebut, seketika Ata bangkit dan membuka matanya. “Sekarang?”


“Enggak. Besok lusa.” David melotot dan melempar selimut ke arah Ata, “ya, sekarang lah. Emang kamu mau waktu kita terbuang percuma?”


“Okelah, aku mandi dulu.” Ata bergegas ke kamar mandi tanpa mengetahui senyum licik David yang tersungging di bibirnya.


“Kita mulai pencarian dari mana?” tanya Ata beberapa saat setelah dia membersihkan diri.


“Kita mulai dari sarapan,” jawab David.


“Loh, kok sarapan?”


“Eh, dodol. Kita butuh energi untuk memulai berpetualang, tau!” geram David. Setelah mengunci kamar, mereka berdua turun untuk sarapan.


“Habis ini kita mulai pencarian dari mana?” tanya Ata sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


“Kawah Sikidang,” jawab David dengan mata berbinar. Melihat perubahan raut muka Ata, David pun segera meralat ucapannya. “Kemarin kita gagal mencari Runa di kota. Hari ini tidak ada salahnya kalau kita cari di tempat wisata. Ingat kata pelayan resto kemarin, Runa sering mengunjungi Resto Madang. Nanti kita kembali ke sana, siapa tahu Runa ada di sana.”


“Bener juga,” Ata manggut-manggut mendengar penuturan David.

__ADS_1


Melihat Ata menyetujui usulnya, hati David pun bahagia. Pasalnya dia begitu penasaran dengan kawah Sikidang. Belum lengkap rasanya jika sampai di Dieng, tetapi belum mengunjungi dan berfoto di kawah tersebut. Bukannya dirinya tidak memahami kondisi sahabatnya, tetapi David berencana untuk, kembali ke Resto Madang pada jam makan siang nanti. David berharap semoga usahanya kali ini untuk mencari Runa tidak sia-sia.


...*** ...


Mereka menuju kawah Sikidang dengan mengendarai mobil yang mereka sewa kemarin. David memilih menggunakan jasa pengemudi yang tentunya lebih paham daerah Dieng. Hari masih terbilang pagi ketika mereka sampai di lokasi. Setelah melewati komplek Candi Arjuna dan Candi Bima, David segera menarik Ata menuju kawah.


Hamparan tanah tandus dan letupan-letupan kecil yang menghasilkan uap putih menjadi daya tarik di tempat ini. David begitu menikmati fenomena alam yang baru kali ini dia temui, hingga tidak hanya sekali dia mengambil gambar di lokasi tersebut.


Berbeda dengan David, perhatian Ata justru tertuju kepada para pengunjung. Dia berharap jika Runa-nya berada di antara mereka. Setiap rombongan yang datang selalu menjadi prioritas Ata untuk memindainya. Namun, hingga matahari beranjak tinggi tidak tampak tanda-tanda Runa-nya berada di sana. Akhirnya Ata pun mendekati David yang masih berfoto.


Beberapa saat lamanya mereka berada di sana. Mendekati waktu makan siang David segera mengajak Ata untuk turun. Tujuan mereka kali ini adalah kembali ke Resto Madang. Pengemudi sudah siap di samping mobil ketika mereka berdua tiba di tempat parkir. Mereka bergegas masuk untuk melanjutkan perjalanan.


“Sekarang tujuan kita ke mana, Mas?” tanya pengemudi itu dengan sopan.


“Kita makan di Resto yang dekat dengan tempat kerja Bapak saja,” jawab David.


“Oh, Resto Madang? Wah, Mas-nya ini pasti sudah ketagihan dengan masakan di sana, ya?” ucap sang bapak sambil bercanda.


“Iya, Pak. Masakannya cocok di lidah kami. Meskipun masakannya unik, tapi enak-enak aja,” jawab David.


“Dulunya Resto itu sepi, Mas. Masakannya cuma itu-itu saja. Maklum dulu yang masak Bu Mira. Janda yang ditinggal mati suaminya. Untuk mencari kesibukan, Bu Mira buka warung. Padahal harta peninggalan suaminya banyak. Makanya Bu Mira tidak terlalu mengurus usaha warung makannya. Mungkin buat hiburan saja, ya, Mas. Bisa bertemu banyak orang yang makan di warungnya membuat Bu Mira tidak kesepian. Sekarang setelah diteruskan yang lebih muda, usahanya lancar dan menjadi besar seperti saat ini,” cerita bapak pengemudi yang direspon David dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Tidak, Mas. Istri saya yang asli sini. Saya berasal dari Parakan,” jawab Bapak Pengemudi.


“Oh.” Ata dan David hampir bersamaan merespon ucapan si Bapak.


“Bahkan usaha persewaan mobil ini milik putranya Bu Mira, Mas,” imbuh sang Bapak.


“Wah, hebat, ya Bu Mira,” sambung David.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di parkiran Resto Madang. Lagi-lagi Ata terpesona akan kecantikan penataan tanaman yang ada di sekitar resto. Melihat kecantikan tabebuya yang masih mekar dan yang paling Ata sukai adalah sebentar lagi dia akan bertemu dengan bunga camelia. Bunga yang sempat membawa kenangan masa lalunya muncul ke permukaan.


“Mas, nanti kalau sudah selesai tinggal WA saya, ya,” pinta sang Bapak.


“Loh, Bapak ikut makan dulu!” seru David.


“Terima kasih, Mas. Saya tak tinggal ke rumah sebentar. Tadi istri saya bilang hari ini masak kesukaan saya. Nah, mau ngajak mas-nya makan di rumah saya takutnya ndak doyan. Maklum hanya kuban urap sama ikan asin,” ucap Bapak membuat Ata dan David tertawa.

__ADS_1


...*** ...


Kali ini Ata memilih saung yang lebih dekat dengan pintu masuk yang posisinya bisa melihat ke arah pintu dengan jelas. Bukan tanpa sebab Ata memilih saung tersebut. Dia ingin lebih leluasa melihat siapa pun yang datang tanpa menimbulkan kesan yang tidak baik.


Selama menunggu makanan yang mereka pesan, mata Ata selalu waspada menelisik setiap sudut ruangan. Bahkan David pura-pura mengelilingi taman hanya untuk menyusuri satu per satu saung yang ada di sana. Dia berpikir mungkin Runa berada di salah satu saung di taman itu. Setelah tidak menemukan apa yang dicari, David kembali ke saung tempat Ata memantau pintu masuk.


“Vid, aku ke kamar kecil dulu, ya. Tolong, kamu jangan sampai lengah mengawasi arah depan!”


“Oke!” jawab David.


Ata berjalan melewati beberapa pohon bunga camelia. Sebenarnya dia tidak berkeinginan ke kamar kecil. Namun, hatinya terusik untuk kembali ke tempat di mana ia melihat Runa tempo hari. Langkahnya pelan, dia benar-benar menyisir tempat itu dengan sempurna. Entah mengapa hatinya terasa tidak enak. Ata berhenti di tempat dia menemukan Runa. Dilihatnya beberapa wanita yang sibuk di dapur menyiapkan pesanan para pengunjung.


“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sapa Wati yang melihat kehadiran Ata.


“Oh, maaf. Saya mau ke kamar kecil. Tapi lupa di sebelah mana, ya?” Ata tergagap menjawab pertanyaan Wati. Pasalnya lelaki itu merasa sedang tertangkap basah.


“Oh, itu lurus saja nanti belok kanan.”


“Terima kasih, Mbak.” Ata pun meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa. Ternyata Runa-nya tidak ada di sini.


Setelah dari kamar kecil, Ata mendatangi taman di sisi kiri. Di sana terdapat bunga camelia yang lain. Ata mendekat. Seolah hatinya mengarahkan kaki jenjangnya untuk melangkah ke sana.


“Iya, Sayang.”


“Oke, nanti malam kita makan ke tempat yang kemarin.”


“Bye, Khan sayang,”


Lagi-lagi Ata terusik dengan suara itu. Dia merasa kewarasannya terganggu akibat memikirkan Runa. Namun, apa yang dia dengar kali ini bukanlah mimpi. Itu adalah suara Runa. Ata mendekat dan benar saja. Dibalik bunga camelia itu duduk sosok wanita cantik memakai gaun selutut berwarna toska. Ata mengucek matanya, itukah Runa-nya?


Ata teringat saat terakhir kali mereka bertemu. Memakai kebaya toska saat wisuda di taman kampus. Hati Ata berbunga, dia ingin memeluk Runa-nya dan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dia simpan dalam hatinya. Baru satu langkah dari tempatnya berdiri, Ata membeku. Dia teringat kata ‘sayang’ yang Runa ucapkan beberapa saat lalu. Masih pantaskah dirinya menyebut wanita itu sebagia Runa-nya? Sedangkan dia kini sudah bertunangan dengan wanita lain. Dan apakah Runa yang ada di hadapannya masih seperti Runa yang dulu? Seketika kepala Ata rasanya mau pecah. Ata hendak meninggalkan tempat itu ketika Runa bangkit dan berbalik ke arah Ata.


“Byakta Kalingga,” gumam Runa tidak kalah terkejut melihat kehadiran Ata di sana. Seketika tubuhnya membeku. Mereka saling pandang tanpa mampu mengucapkan kata apa kabar. Setumpuk kerinduan di mata mereka yang terpaksa harus dipupus karena keadaan.


Cinta antara mereka dulu harus berakhir paksa. Bukan karena mereka telah abai, melainkan karena rasa sayang yang begitu dalam, dan ketika mereka dipertemukan kembali, semua telah berubah.


“Kamu boleh berangan, tetapi takdir tetap harus berjalan. Aku tidak tahu siapa jodohku, tetapi aku yakin rencana Tuhan pasti yang terbaik,” gumam Runa dalam hati ketika dia teringat kalimat terakhir Ata sebelum mereka berpisah.

__ADS_1


...*****...


...to be continued...


__ADS_2