Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
33


__ADS_3

...*******...


...Sesal saja tidak cukup. Hukuman terberat untuk kecerobohan yang menyebabkan kehancuran sebuah keluarga adalah penolakan dari orang-orang yang begitu dicintainya....


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Ata masih menatap pintu berwarna hijau itu penuh sesal. Ia teringat Runa. Dulu, gadis itu adalah kebanggaan orang tuanya. Runa pun sangat mencintai keluarganya. Setiap kali Runa bercerita tentang ibunya, matanya selalu berbinar. Ia selalu menyanjung wanita yang telah melahirkannya. Bahkan dulu Runa mempunyai mimpi untuk melakukan ibadah umroh bersama ayah, ibu, dan juga adiknya. Akan tetapi, sepertinya mimpi itu harus ia pupus sebelum menjadi kenyataan dan sebab permasalahan yang terjadi dalam keluarga Runa adalah dirinya, seorang Byakta Kalingga.


"Maaf, Anda siapa?" Suara seorang wanita muda yang melihat pengusiran itu mengembalikan Ata dari lamunan tentang Runa.


Ata menghapus jejak air mata di pipinya sebelum ia menoleh ke arah pemilik suara itu. "Runi."


Runi mengenyit ketika merasa namanya dipanggil. "Anda tahu nama saya? Siapa Anda sebenarnya?"


Ata bangkit dan mengulurkan tangan ke arah Runi. "Saya Byakta Kalingga. Seseorang yang pernah menjadi orang terdekat Runa. Dulu kita pernah bertemu waktu saya dan Runa menjemput kamu di sekolah."


Merasa Runi tidak membalas uluran tangannya, Ata pun menariknya kembali. Apalagi melihat tatapan mata Runi yang begitu tajam, membuat Ata semakin merasa bersalah.


"Bisa kita bicara sebentar? Tolong beri saya sedikit waktu untuk menceritakan keadaan Runa saat ini. Runa berada di Wonosobo." Dengan memelas Ata memohon kepada gadis itu.

__ADS_1


"Dari mana Anda tahu Mbak Runa berada di Wonosobo?" Runi tidak mau percaya begitu saja. Apalagi Ata adalah orang asing di mata Runi.


"Kemarin saya bertemu Runa di kawasan wisata Dieng. Kalau kamu tidak percaya, lihatlah ini!" Ata mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mencari sesuatu untuk meyakinkan Runi. Tidak lama kemudian, Ata menunjukkan foto Runa sedang memeluk bocah lelaki usia sekolah dasar di sebuah halaman sekolah.


Tampak mata cantik itu terkejut setelah melihat foto yang diperlihatkan oleh Ata. Ada sorot kerinduan dan juga kesedihan di sana. Dada Runi bergemuruh hebat. Hampir saja ia tidak bisa menguasai diri. Menghirup napas sebanyak-banyaknya, Runi mencoba menguasai hati yang dilanda sesak.


“Ikuti aku! Kita bicara di luar.” Runi meninggalkan rumah bernuansa hijau tersebut dan diikuti Ata di belakangnya.


Gadis itu menuju ke sebuah kedai es krim tidak jauh dari rumahnya. Karena bukan hari libur, Runi dapat memesan di kedai tersebut dengan cepat. Mereka duduk di sudut taman sambil menikmati es krim yang saat ini sedang viral di mana-mana.


“Maaf jika saya membawa Anda ke mari. Ayah dan ibu saya terlalu sensitif jika menyangkut nama Mbak Runa. Kita tidak mungkin membicarakan masalah ini di depan mereka.” Runa memainkan sendoknya di atas es krim yang sudah terhidang. Sesekali ia memasukkan sesuap makanan dingin itu ke dalam mulutnya. “Apa yang mau Anda bicarakan tentang kakak saya?”


“Khan? Siapa dia?” Runi ingin memastikan firasat yang sedari tadi mengusiknya. Sesungguhnya gadis itu sangat merindukan Runa. Namun, ego kedua orang tuanya yang terlalu besar membuat gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. “Apakah dia yang ada dalam foto itu?”


Ata mengangguk lemah. Ia tidak berani menatap mata lawan bicaranya yang begitu tajam. Sorot mata yang bagi Ata terasa ingin membunuh dirinya.


“Apakah Khan adalah anak Mbak Runa?” Amarah Runi semakin terlihat jelas di matanya ketika Ata mengangguk lemah menjawab pertanyaannya. “Jadi kamu adalah penyebab dari semua penderitaan Mbak Runa selama ini?”


Suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai taman terdengar sangat kasar ketika Runi bangkit dari duduknya. Tentu saja hal itu membuat Ata terkejut. Begitu pula dengan beberapa pengunjung yang duduk tidak jauh dari mereka. Tangan Runi mengepal dengan kuat. Amarah sudah menguasai dirinya.

__ADS_1


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Ata. Jarak mereka yang hanya dibatasi sebuah meja kecil sangat memungkinkan untuk Runi melayangkan tamparan tersebut. Beberapa orang memandang mereka sambal berbisik-bisik. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Runi kembali duduk. Meskipun amarah dalam dadanya belum padam, tetapi gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri.


“Aku memang pantas menerima ini semua. Bahkan waktu itu aku sangat berharap Runa melakukan hal yang sama.” Tidak ada lagi kata saya terucap dari mulut Ata. Dia menatap gadis di hadapannya. Di sudut mata indah itu terlihat kilau bening yang setiap saat bisa meluncur begitu saja di pipinya.


Keheningan kembali menyelimuti dua orang yang dilanda gelisah. Dalam benak mereka, terlalu banyak luapan emosi yang sudah mereka tahan sedari dulu. Terutama Runi. Selama tujuh tahun gadis itu pura-pura kuat. Padahal setiap detik yang ia lalui dalam hidupnya adalah rasa khawatir akan keadaan kakaknya. Runi yakin, sebenarnya kedua orang tuanya juga sama seperti dirinya. Namun, menyebut nama Runa di tengah-tengah mereka justru akan memperparah keadaan. Runi tidak ingin ayahnya jatuh sakit lagi akibat hypertensi yang dideritanya sejak kejadian tujuh tahun silam.


“Apa kamu tahu bagaimana Mbak Runa meninggalkan rumah waktu itu?” ucap Runi setelah dia bisa menguasai diri. “Ayah mengusirnya karena Mbak Runa tidak bisa membawa lelaki yang harus bertanggung jawab atas dirinya. Ayah sedang emosi. Beliau berucap bahwa Mbak Runa bukan lagi putrinya sampai Mbak Runa bisa membawa lelaki itu ke hadapan ayah.”


Ata begitu sakit mendengar penuturan Runi. Gadis itu kembali diam. Tangan lentiknya beberapa kali menyeka air mata yang mengalir di pipinya. “Waktu itu perut Mbak Runa terlihat sudah membesar. Menjelang waktu isya, Mbak Runa pergi dari rumah hanya membawa dompet dan ponsel. Aku tahu waktu itu Mbak Runa tidak punya uang. Karena setelah wisuda Mbak Runa tidak bekerja. Ayah marah besar hingga beliau mengusir Mbak Runa. Sejak malam itu, Ayah sering sakit-sakitan. Kami terpuruk dan kehilangan semangat hidup. Dulu Mbak Runa layaknya lentera dalam keluarga kami. Mbak Runa selalu bisa menghidupkan suasana dan pandai membuat orang tua bahagia. Namun, ternyata Mbak Runa juga yang akhirnya mematikan senyum di wajah mereka. Itu semua gara-gara kamu!”


Tanpa diperintah, air mata Ata pun turut mengalir. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya Runa kala itu. Sungguh, sesal itu sangat menyiksa. Ata merasa kesulitan untuk bernapas. Ia tidak pernah membayangkan jika dirinya menjadi penyebab kehancuran sebuah keluarga yang selama itu terlihat baik-baik saja. Sesal itu datang ketika Runa sudah tidak berada di sisinya. Dan penolakan Runa terasa sebagai hukuman berat atas perbuatan Ata di masa lalu.


...******...


...to be continued...


Maafkan jika yang update pertama bukan yang ini 🙏. Aku salah upload bab 😭😭

__ADS_1


__ADS_2