Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
26


__ADS_3

...*******...


...“Jika seorang ibu mampu bertaruh nyawa untuk buah hatinya, maka seorang ayah pun mampu mengorbankan segalanya untuk membuat anaknya bahagia.”...


...~Byakta Kalingga~...


...******...


Setelah terdiam beberapa menit, akhirnya Khan pun mulai bersuara dan menanyakan semua kebenarannya pada Runa.


“Bunda, apa benar yang dikatakan Om ini, jika ayah Khan adalah Om ini, dan bukan ayah Sandy?” Runa yang mendapat pertanyaan dari Khan sejenak terdiam. Bulir bening itu kian deras membasahi wajah Runa. Melihat bundanya menangis, Khan pun mulai mendekati bundanya dan memeluk tubuh Runa dengan sayang. Runa pun kini duduk berjongkok guna menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Khan.


“Maafkan bunda, Khan. Maafkan bunda.” Runa terus menangis dan hanya kata itu saja yang mampu diucapkan oleh Runa.


“Bunda jangan nangis! Khan sedih kalau lihat bunda nangis.” Khan dengan sabar mengelus dan menyeka buliran bening yang membasahi pipi mulus Runa.


Melihat Runa yang terus menangis dan tidak mampu menjelaskan tentang siapa dirinya pada Khan, membuat Ata sedikit kesal dan akhirnya bicara.


“Iya, Sayang. Om adalah ayah Khan, jadi om minta mulai sekarang Khan harus memanggil om dengan sebutan ayah,” terang Ata dengan senyum penuh kebanggaan, karena telah berhasil mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya di hadapan Khan.


“Cukup, Ta! Biar aku yang menjelaskannya pada Khan.” Runa yang awalnya berjongkok kemudian berdiri. Karena Runa merasa Ata sudah cukup keterlaluan.


“Aku ingin kamu menjelaskan pada Khan sekarang! Kalau sebenarnya akulah ayah kandungnya. Dan aku tidak mau menunggu terlalu lama,” desak Ata pada Runa.


“Aku butuh waktu, Ta. Aku butuh waktu untuk bicara dengan Khan. Karena menjelaskan hal sebesar ini pada Khan tidaklah mudah. Jadi, aku mohon pergilah!” Runa mencoba mengusir Ata secara halus, agar Khan tidak perlu melihat pertengkaran mereka.


“Baiklah, aku kasih kamu waktu satu hari, setelah itu aku mau putraku mengenal aku sebagai ayahnya. Bukan pria bernama Sandy itu!” tegas Ata.


“Maaf, Ta, aku tidak bisa berjanji. Aku tidak ingin membuat Khan bingung dengan semua kejadian ini dan aku tidak ingin memaksanya untuk memahami apa yang sudah terjadi di antara kita. Maaf aku harus pergi.” Setelah mengatakan semua hal itu Runa pun pergi bersama Khan, dan meninggalkan Ata yang terdiam seorang diri.


“Baik. Pergilah, Runa. Tapi aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan terus berjuang sampai aku bisa memiliki kamu lagi beserta buah cinta kita,” gumam Ata dengan senyum smirk-nya.


“Jika seorang ibu mampu bertaruh nyawa untuk buah hatinya, maka seorang ayah pun mampu mengorbankan segalanya untuk membuat anaknya bahagia. Itu tekadku, Run. Aku akan membuat kamu juga Khan bahagia bersamaku,” batin Ata.


***


Di perjalanan pulang menuju rumah terasa begitu hening. Runa dan Khan tidak ada yang mengeluarkan suara setelah terjadi perdebatan antara Runa dan Ata. Bocah lelaki itu duduk tenang di boncengan motor matic yang dikendarai oleh Runa.

__ADS_1


“Bunda. Bunda jangan sedih, ya. Kalau bunda sedih, Khan juga sedih. Apa lagi kalau bunda nangis,” ucap Khan sambil memeluk pinggang bundanya untuk mencari kenyamanan setelah cukup lama mereka hanya diam.


“Enggak Sayang. Bunda nggak kenapa-kenapa, kok. Bunda nangis karena bunda sayang dan takut kehilangan Khan,” terang Runa sambil melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


“Bunda?” Panggil Khan dengan suara lembutnya.


“Iya, Sayang,” jawab Runa.


“Bunda, Khan janji. Khan akan selalu ada untuk Bunda. Khan nggak akan pernah ninggalin Bunda, apa pun yang terjadi. Dan tentang om yang tadi ada di sekolah Khan. Walaupun om tadi bilang kalau om tadi adalah ayah Khan, Khan tetap merasa ayah Sandy-lah ayah Khan yang sebenarnya, karena yang selalu ada untuk Khan dan bunda adalah ayah Sandy,” ucap Khan sambil mempererat pelukannya.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih, Khan. Karena Khan sudah menyayangi bunda dan ayah Sandy dengan tulus,” ucap Runa sambil mengelus punggung tangan Khan yang sedang memeluknya.


Tanpa terasa perjalanan mereka pun telah usai. Runa dan Khan pun mulai memasuk ke dalam rumah mereka.


Khan yang mandiri pun mulai memasuki kamarnya, mengganti pakaian seragam sekolahnya dengan pakaian rumah yang biasa ia gunakan sehari-hari. Sedangkan Runa, ia langsung menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan segera meneguknya guna mencari kesegaran. Berharap dengan meminum air dingin dapat meluluhkan hatinya yang panas. Kemudian menyiapkan makan siang untuk Khan.


Sepertinya kejadian hari ini membuat Runa merasa sedikit lelah, dan hari ini ia putuskan tidak akan pergi bekerja, karena itu ia pun meminta Mbak Wati untuk mengurus restonya yang tidak pernah sepi pengunjung.


***


“Maaf, Pak Sandy, seharian ini Bu Runa tidak datang ke resto, katanya beliau sedang lelah. Jadi Bu Runa menitipkan restonya kepada saya,” terang Wati saat Sandy menanyakan tentang keberadaan Runa.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Wati, Sandy pun segera bergegas ke rumah Runa, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resto tersebut.


Setelah sampai di halaman rumah Runa, hati Sandy pun diliputi perasaan gembira. Pasalnya, orang yang selama ini ia rindukan ternyata sedang berada di halaman rumah menikmati keindahan sore hari.


“Ayah ....” Khan berlari menghampiri Sandy yang berada di depannya saat menyadari kehadiran Sandy.


Sandy yang melihat Khan berlari ke arahnya pun segera merentangkan kedua tangan, bersiap untuk menangkap dan menggendong putra kesayangannya itu.


“Wah, anak ayah sudah besar, ya. Ayah sampai nggak kuat, loh, gendongnya,” ucap Sandy saat ia mulai menggendong Khan layaknya pesawat terbang.


“Khan, kan, rajin minum susu dan makan sayur, Yah, makanya Khan cepat besar,” ucap Khan dengan kekehan kecil saat Sandy mulai menciumi perutnya seperti sedang menggelitiknya.


“Anak ayah memang hebat, deh, pokoknya. Anak ayah yang ter-the best.” Sandy pun mulai menciumi pipi gembul milik Khan, kemudian menurunkan bocah kecil itu.


“Ayo, kita temui bunda, sepertinya bunda akan cemburu kalau melihat Khan terus-terusan memeluk ayah.” Sandy pun mulai berjalan menuju di mana Runa berada.

__ADS_1


Runa yang melihat interaksi antara Sandy dan Khan pun perasaannya menjadi menghangat. Karena selama ini hanya Sandy yang mampu mengerti dan memahami tentang keadaannya dan Khan.


“Run, kamu sakit?” tanya Sandy


“Enggak, Mas. Aku baik-baik aja kok, memangnya kenapa, Mas?”


“Gak papa, sih, tapi aneh aja, enggak biasanya kamu nitipin resto ke Wati.” Sandy menatap Runa dengan tatapan tidak percaya.


“Tadi Ata datang ke sekolah Khan, Mas, dan dia mengatakan semuanya pada Khan. Dia mengatakan kalau sebenarnya dia adalah ayah kandung Khan.” Tatapan mata Runa kembali berembun. Runa menatap nanar Khan yang sedang bermain seorang diri di halaman rumahnya.


Runa pun menceritakan semua yang terjadi hari ini pada Sandy tanpa ia kurangi atau ia lebihkan. Sandy yang mendengarkan cerita Runa pun menjadi geram akan sikap Ata.


Tanpa diduga sore itu Ata datang ke rumah Runa dan saat itu juga ia bertemu dengan Sandy, lelaki saingannya untuk mendapatkan hati Runa. Khan yang melihat kedatangan Ata pun segera berlari ke belakang tubuh ramping Runa untuk bersembunyi.


“Mau apa lagi kamu datang ke sini, Ta? Aku rasa pembicaraan kita tadi siang sudah cukup jelas. Jadi aku mohon agar kamu segera pergi dari sini,” ucap Runa dengan tegas.


“Aku datang ke sini ingin meminta ijin untuk menghabiskan waktu bersama Khan. Aku akan mengajaknya bermain dan membelikan semua mainan kesukaannya,” terang Ata dengan santainya seolah-olah di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.


“Maaf, Om. Khan tidak pernah pergi dengan orang asing,” ucap Khan dari balik tubuh Runa.


“Om bukan orang asing, Sayang. Om adalah ayah kandung kamu. Ayah sebenarnya yang Khan punya.” Ata mulai mendekati Khan, tetapi Khan terus bersembunyi dan menjauh.


“Enggak. Pokoknya Khan nggak mau pergi sama Om. Om orang jahat. Om sudah bikin bunda sedih,” ucap Khan.


“Khan ikut ayah, ya. Ayah akan belikan semua yang Khan mau. Ayah janji, ayah tidak akan membuat bunda sedih lagi,” mohon Ata, tetapi permohonan Ata itu terkesan sedikit memaksa sehingga membuat Khan menangis.


“Khan tidak mau, kamu tidak bisa paksa Khan agar menuruti semua keinginanmu, Ata. Dia masih kecil.” Pemaksaan Ata terhadap Khan membuat Sandy meradang.


“Siapa kamu berani mengatur-ngatur saya?! Di sini kamu tidak punya hak apa-apa. Hanya aku dan Runa-lah yang berhak mengatur dan memberi kasih sayang pada diri Khan,” ucap Ata dengan wajah penuh amarah.


“Saya calon suami Runa. Saya dan Runa akan segera menikah. Jadi jangan pernah seenakmu sendiri merecoki hidup Khan. Jika kamu tidak terima, silakan menempuh jalur hukum atas Khan. Tapi ingat satu hal! Saya dan Runa tidak akan diam saja. Kami berdua akan memperjuangkan Khan,” ucap Sandy dengan tegas sehingga membuat Ata mengepalkan tangan.


...*****...


...to be continued...


...Nah, makin panas, kan? Yok, tambahin panas di kolom komentar 😂...

__ADS_1


__ADS_2