
...****************...
..."Menjadi seorang ayah bukan hanya sekadar menitipkan setetes benih pada rahim seorang perempuan, tetapi seorang ayah sebenarnya adalah yang menjaga dan membuat benih itu tetap subur dan tumbuh menjadi anak yang membanggakan."...
...~Sandyakala~...
...****************...
"Belum puas kamu membuatku menderita, hahhh?!"
Runa memegangi dadanya yang kian terasa terhimpit. Ruang udara di dalamnya seakan telah menguap seiring luapan emosinya.
"Justru karena itu Runa, beri aku ruang untuk membayar semua yang telah terjadi. Kita sama-sama memperbaiki keadaan ini," bujuk Ata berusaha memegang bahu Runa yang bergetar seiring air mata yang mulai menganak sungai.
Runa kini menatap tajam pada Ata. "Kau yang seharusnya menghentikan kegilaan ini, Ata!" Runa tersenyum meremehkan. Ia melirik sekilas pada Alea yang matanya kini sudah sembab. Sebagai wanita, Runa sangat paham bagaimana posisi Alea.
Runa tersenyum di antara isak tangisnya, membuat Hasan, Maya, Ata, David, dan Alea justru semakin pilu, ikut kesal akan keras hati Ata.
"Bagaimana aku bisa kembali pada orang sepertimu, Ata? Seorang yang tak punya hati menggores hati banyak orang!" Runa mengambil udara banyak-banyak, memberi ruang agar kata-kata yang ia keluarkan membuat Ata sadar akan perbuatannya.
Hasan dan Maya sebagai orang tua Ata tak berani menyela.
Sementara Alea yang berdiri di belakang Maya, hanya bisa diam. Sakit yang Alea rasakan sudah tak berbentuk. Begitu juga dengan David yang tak bisa berbuat banyak.
"Lihat!" Runa menunjuk Alea yang sedang menahan isak tangisnya, "apa kau tak pernah berpikir, bagaimana perasaannya?" lanjut Runa sambil terus menghapus kasar air matanya.
Ata baru mengikuti arah telunjuk Runa, tetapi segera kembali pada Runa yang terlihat lelah.
"Lihat baik-baik, Ata! Bagaimana aku bisa ikut kembali dengan orang yang tak punya perasaan sepertimu! Kamu perlakukan semua orang seperti barang. Kamu buang begitu saja saat kau mendapatkan kesenangan baru! Dulu aku, sekarang Alea. Menurutmu aku akan mudah percaya dengan semua ucapanmu? Aku tidak bisa hidup dengan orang seperti itu, Ata. Hanya orang bodoh yang mau masuk ke dalam lubang kesalahan yang sama dan itu bukan aku.” Runa menggeleng, mempertegas keputusannya.
"Al, akan mengerti seiring berjalannya waktu, Runa. Percayalah!" Ata masih meyakinkan Runa.
Alea yang sejak tadi berdiri di belakang Maya, menyaksikan sendiri dirinya tak terlihat sedikitpun di mata Ata.
"Kamu benar-benar sudah gila, Ata. Kamu nggak waras! Sadar, Ta. Ini semua hanya obsesimu belaka!" teriak Runa frustrasi.
"Iya! Aku memang sudah gila jika itu tentang kamu dan Khan." Ata balas teriak.
Perkataan Ata justru membuat tangis Alea semakin tergugu. Seyakin itu Ata menganggapnya kuat. Padahal hati sudah remuk redam terpatahkan keadaan.
Beruntung ada David yang kini sudah menenangkan Alea. Sedangkan Hasan dan Maya memandang pilu bagaimana anaknya berusaha meraih haknya.
Sementara di dalam rumah, Sandy gagal mengalihkan perhatian Khan. Hingga Khan berlari saat mendengar ibunya berteriak bahkan sayup-sayup suara Ata dan Runa sudah sejak tadi terdengar di telinga Khan.
__ADS_1
"Bunda," lirih Khan terpaku di depan pintu utama. Mainan pesawat remote di tangan bahkan jatuh begitu saja melihat ibunya berderai air mata.
Khan yang begitu menyayangi sang bunda tahu, bundanya sedang tidak baik-baik saja. Hal itu memicu kerja otak dan jantung Khan begitu keras untuk anak seusianya.
Mata kecil itu perlahan meredup. Pandangannya tiba-tiba menggelap seiring tubuh kecil itu luruh jatuh di atas lantai keramik.
Ata dan Runa yang baru menyadari kehadiran Khan terpaku di tempat. Emosi yang tadi membara menguap begitu saja saat melihat tubuh kecil itu tergolek lemah. Hal yang sama terjadi pada Sandy yang datang terlambat dari dalam rumah.
Sandy yang lebih dulu sadar dari keadaan segera berlari mendekati Khan. Runa dan Ata pun menyusul mendekati tubuh tak berdaya Khan.
"Khan!" Runa merebut Khan dari dalam dekapan Sandy. Seolah takut Khan-nya dibawa siapa saja pergi menjauh darinya.
"Khan, bangun, Sayang!" Ata tak kalah panik mendapati tubuh lemas putranya.
Sandy sendiri sudah melesat dari kerumunan satu keluarga itu, dengan taktis ia membawa mobilnya agar lebih mudah untuk membawa Khan ke rumah sakit.
Bunyi klakson dari mobil Sandy menyadarkan Ata dan Runa. Membuat Runa segera mengangkat beban tubuh Khan. Namun, ia sedikit kewalahan. Sebab, yang biasa memindahkan Khan saat tidur adalah Sandy.
Mau tak mau Runa membiarkan Ata mengangkat tubuh putranya ke dalam mobil Sandy.
David, Alea, dan kedua orang tua Ata mengikuti dari belakang dengan mobil Ata.
Sandy yang berada di belakang kemudi merasa panik. Begitu juga dua orang yang kini duduk bersisian sambil berusaha menyadarkan Khan di kursi tengah.
Kini, kepingan puzzle yang asli telah datang ingin menempati haknya. Lalu bagaimanakah dengan dirinya?
Tidak. Sandy berusaha menepis segala pemikiran menakutkan itu. Yang ia pedulikan adalah Khan. Khan yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Sandy tetap pada keyakinannya, yakni menjadi seorang ayah bukan hanya sekadar menitipkan setetes benih pada rahim seorang perempuan, tetapi seorang ayah sebenarnya adalah yang menjaga dan membuat benih itu tetap subur dan tumbuh menjadi anak yang membanggakan.
Sandy di belakang kemudi sesekali melirik ke belakang. Memperhatikan wajah panik Runa dan Ata yang mencoba menenangkan Runa.
Dua puluh menit berlalu. Khan sudah tiba di rumah sakit terdekat. Begitu sampai, Khan langsung mendapatkan penanganan di ruang tindakan.
Runa masih belum sadar jika ia tengah berada di dalam pelukan Ata. Saat itulah Sandy merasa hatinya begitu sakit. Namun, ia kesampingkan rasa itu dengan terus menatap pintu ruangan di mana Khan berada.
Suara langkah kaki berlarian mulai terdengar. Orang tua Ata beserta Alea dan David datang. Runi serta kedua orang tuanya pun terlihat panik saat mendapat kabar dari Maya tentang kondisi Khan hingga akhirnya mereka segera menyusul ke rumah sakit.
“Mbak?” Runi mengusap lembut punggung Runa.
Saat itulah Runa segera sadar dan melepaskan diri dari Ata. Ia segera menghampiri pintu tindakan yang tak kunjung terbuka.
"Runa," lirih Sandy dan membuat Runa lekas berhambur pada lelaki itu.
"Khan, Mas. Aku nggak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Khan," ucap Runa dengan sisa isak tangisnya.
__ADS_1
"Khan kita akan baik-baik saja, Runa. Berdoalah!" Sandy mengusap punggung Runa yang bergetar. Ia harus menjadi penenang yang baik seperti sebelumnya. Mengabaikan rasa khawatirnya akan keadaan Khan yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Lima menit menunggu, dokter keluar dan memanggil orang tua Khan.
"Orang tua pasien!"
Saat itulah tiga orang dewasa kompak mendekati sang dokter hingga membuatnya mengeryit.
"Saya bundanya, Dokter. Bagaimana anak saya?" tanya Runa cepat-cepat.
"Sebaiknya, anak ibu harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Kondisi rumah sakit kami yang merupakan anak cabang tak selengkap fasilitas rumah sakit yang ada di kota. Oleh sebab itu, anak ibu harus kita carikan rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya," terang pria berbaju snelli.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan cucu saya, Dok?” Lukman yang mendengar kondisi sang cucu juga turut tak sabar.
"Kalau begitu, biar kami bawa ke Surabaya, Dokter. Saya yakin fasilitas di sana sangat lengkap." Pernyataan Ata membuat sang dokter urung memberikan jawaban pada Lukman. Ata merasa ini adalah peluang baginya membawa Khan. Di samping keinginan pribadinya.
Berbeda dengan Sandy yang semakin gusar. "Dok, sebenarnya apa diagnosa sementara untuk anak saya, sampai ia memerlukan rumah sakit yang lengkap fasilitasnya?"
Dokter memandang satu persatu orang-orang dengan wajah kawatir yang sama.
“Diagnosa sementara, putra Bapak mengalami gagal jantung.”
“A-apa?” Tubuh Runa tumbang. Kabar ini terlalu mengejutkan. Selama ini Khan terlihat sehat. “Bagaimana mungkin, Dok? Selama ini anak saya sehat,” lirih Runa.
Runi yang melihat kakaknya terpekur di lantai segera mendekapnya dalam pelukan.
“Hal ini bisa terjadi karena ada cacat jantung bawaan dari lahir. Apakah putra ibu lahir secara prematur?” Runa mengangguk lemah, “kelainan jantung ini bisa terjadi karena ductus arteriosus tetap terbuka setelah bayi lahir. Bisa jadi ductus arteriosus putra Ibu hanya terbuka kecil sehingga tidak menimbulkan gejala, atau mungkin akhir-akhir ini putra Ibu mengalami hal-hal yang mengejutkan sehingga memacu gejala tersebut untuk timbul. Jadi saya sarankan untuk dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap agar pasien bisa segera ditangani,” lanjut sang dokter.
Semua orang yang mendengar penuturan sang dokter pun terkejut. Terlebih Runa dan Sandy. Mereka berdua merasa kecolongan dalam menjaga Khan. Harusnya mereka tahu jika bayi lahir prematur harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nyatanya, melihat Khan yang tumbuh sehat membuat Runa dan Sandy lalai dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan.
“Saya permisi,” pamit sang dokter setelah melihat keluarga pasien dapat menerima penjelasannya.
Setelah kepergian Dokter, Ata memasang badan. "Tolong, Runa, kali ini biarkan aku melakukan apa yang seharusnya seorang ayah lakukan untuk anaknya!"
Runa terdiam, pikirannya tak bisa berpikir dengan baik. Bahkan, Runa membiarkan Ata membimbingnya untuk duduk di ruang tunggu. Sedangkan Sandy sudah lebih dulu memasuki ruang rawat Khan.
"Khan, Sayangnya ayah. Tolong jangan buat bunda dan ayah kawatir. Bangun, Nak! Ayah percaya, Khan anak yang kuat," ucap Sandy setelah duduk dan menggenggam tangan dingin Khan.
Sandy sudah pasrah, akan apa yang Ata dan Runa putuskan. Ia tak ada hak untuk melarang atau pun mencegah bila saja Ata benar-benar membawa Khan meninggalkan Wonosobo.
Sandy beberapa kali mengecup jemari Khan. Menyampaikan rasa sayang dan segurat khawatir yang tak bisa ia hentikan.
"Khan," seru Runa mendekati Khan yang terbaring tak sadarkan diri. Berdiri di sisi lain dari Sandy duduk, ada Ata yang masih setia mengekor di belakang Runa.
__ADS_1
Kedua tangan Runa menangkup kedua pipi Khan dan berulangkali mengucap kata maaf.