
...*****...
..."Waktu akan terus berjalan. Hingga kehidupan kita sendiri yang akan mendewasakan diri kita tanpa sadar."...
..._Byakta Kalingga_...
..._________________________________________________...
“Welcome to Wonosobo. Welcome to Dieng,” teriak Ata dengan suara yang sangat lantang. Mencerminkan betapa bahagianya ia bisa menginjakan kaki di pegunungan ini.
David pun tak kalah heboh bersorak senang seperti Ata. Sambil mengeratkan jaket tebal yang membalut tubuh. Udara makin dingin meskipun waktu sudah melewati tengah hari.
Tidak peduli tatapan orang-orang di sana yang melirik mereka. David melirik Ata yang masih sibuk memindai sekitar setelah puas berteriak, seolah melepas penat di tengah pekerjaannya.
Banyaknya pengunjung membuktikan bahwa destinasi wisata di sini memang tak main-main. Pengunjung yang datang bukan hanya dari wisatawan lokal saja. Bahkan, wisatawan mancanegara begitu antusias menjejaki deretan wisata yang ada di Dieng.
"Fotoin, Vid!" Ata memberikan satu kamera digital pada David. Ia lantas berlari mendekat pada papan bertuliskan 'Selamat datang di Dieng'.
Mereka bergantian membidik satu sama lain selama berada di sana.
"Aku pilih Ratapan Angin, Vit." Ata menyodorkan ponselnya pada David. Rupanya Ata tengah mengetik dalam kolom pencarian pada perambannya.
David mengangguk. "Di antara wisata di sini. Kenapa pilih 'Ratapan Angin'?"
"Aku rindu tracking aja. Terakhir naik gunung, kan, semester empat waktu kuliah dulu." Ata tersenyum mengenang masa itu.
Sementara David terdiam dan segera sadar saat Ata melihatnya intens. Seperti akan menanyakan sesuatu, tetapi ia tahan.
"Itu bus-nya," tunjuk David pada sebuah bus kecil yang akan melintas. Ia segera mengalihkannya perhatian Ata dan melambaikan tangan. Bus berhenti, mereka lekas naik.
"Ratapan Angin, Pak," seru David pada sopir bus dan mendapat sahutan oke dari lelaki di balik kemudi.
Di antara sejumlah deretan kompleks wisata yang disuguhkan di sini, Ata dan David lebih tertarik di Bukit Ratapan Angin. Akan lebih menarik lagi jika mereka datang di waktu menjelang malam atau menjelang pagi, karena mereka akan mendapatkan view sunset atau sunrise dari puncaknya.
Untuk menuju Batu Pandang Ratapan Angin bukanlah hal sulit. Akses masuk obyek wisata ini tidaklah jauh dari ikon wisata Dieng lainnya seperti Candi Arjuna, Kawah Sikidang atau Telaga Warna.
Dari pertigaan Selamat Datang di Dieng dengan tulisan Dieng, tempat David dan Ata berhenti setelah berganti bus besar menjadi bus kecil.
Dari sana bus belok kiri atau ke arah selatan sejauh 1,5 kilometer sampai sebuah pertigaan yang merupakan perbatasan Kabupaten Wonosobo dengan Banjarnegara. Sebelum pertigaan ada area parkir dan loket ke Telaga Warna.
Perjalanan mereka bisa dilanjutkan dengan belok kiri, bukan masuk jalan yang terdapat gapura.
Seperti sekarang ini. Mereka naik bus kecil yang sudah disediakan pihak wisata. Karena jalan dengan gapura tadi akan mengarah ke Museum Kailasa atau Candi Arjuna.
Sementara belok kiri adalah jalan yang benar menuju Dieng Plateau Theater dan Batu Pandang Ratapan Angin. Jalan ini juga merupakan rute menuju Sikunir.
Selanjutnya bus belok kiri lagi di sebuah pertigaan. Jalan itu nanti akan mengarah ke Dieng Plateau Theater dan Batu Pandang Ratapan Angin.
David bak guide bagi Ata. Ia menjelaskan apa yang ia tahu apa yang ditanyakan Ata mengenai Dieng.
"Baru pertama masuk, aku udah jatuh cinta dengan Wonosobo, Vid." Ata membidik dari dalam bus dan senyum tak pernah surut dari bibirnya.
"Percaya. Orang sibuk seperti kamu, memang kudu di bawa relax dari setumpuk pekerjaan yang menuntut," sahut David yang dijawab kekehan dari mulut Ata.
"Lebih enak lagi bawa istri atau pasangan di sini, Ta. Beeuuuhhh, cocok banget suasananya."
__ADS_1
"Otakmu!" sengit Ata sambil bergidik melirik David, "kamu kenapa lebih milih ajak aku kalau mau ***-*** sama pacar, Vid?" lanjutnya.
"Aku nunggu momen ini udah lama, Ta! Mau ngerusak suasana, kamu?” David menyikut lengan Ata yang duduk di sampingnya.
"Laki, kok, melow," cetus Ata sambil mengecek bidikannya.
"Rindu masa kuliah. Kita tinggal dikasih sama orang tua." David tertawa.
"Sekarang udah mikirin hidup dan masa depan." Ata menoleh ke arah pintu bus yang berhenti dan masuk beberapa penumpang.
"Sok dewasa, kamu."
"Waktu akan terus berjalan. Hingga kehidupan kita sendiri yang akan mendewasakan diri kita tanpa sadar," ujar Ata tersenyum.
Keduanya lantas hanya diam memindai pemandangan selama perjalanan ke tujuan mereka.
Dengan lihai Ata mencari dan mengatur jarak juga pencahayaan.
Tidak sampai sepuluh menit, bus mereka sampai. Terlihat dari lahan parkir di sana, ada jalan berundak dengan papan yang terbuat dari kayu yang menunjukkan pintu masuk pendakian.
David menuju loket dan membayar untuk mereka berdua, sedangkan Ata masih sibuk dengan kamera digitalnya.
"Gilakk. Beneran murah banget, Ta. Seperti nggak sesuai dengan view yang disuguhkan."
David memberikan dua lembar tiket pada Ata. "Ceban, doang!" Ata memekik.
"Iya. Kamu bisa bawa tim kantor kalau mau naik gunung sama-sama."
Ata justru tertawa mendengar usulan David, dan lekas menarik ransel pada punggung David mendekati spot foto yang kebetulan sudah sepi. Mereka banyak mengabadikan foto selama di sana.
David berteriak saat Ata mulai nyaman. Kamera digital itu kini berpindah tangan. Berganti Ata sebagai si pembidik dan David sebagai objeknya.
Tak puas dengan itu. Mereka mengambil berbagai foto dengan kamera ponsel pintarnya.
"Udah, kita naik sekarang."
"Oke, gas track!" seru Ata bersemangat.
Dimulai dari jalan berundak dengan tatanan batu yang sudah di campur dengan semen. Di kiri kana jalan ada tiang seperti pagar jika di samping jalan sedikit curam.
Semakin naik, jalanan beton selebar satu setengah meter itu kian menyempit seperti di sesuaikan dengan medannya.
"Tiga ratus meter, berasa satu kilo, ya, Ta." David sudah ngos-ngosan. Sementara Ata tersenyum sambil sesekali membidik sekitar.
Keduanya melanjutkan langkah dan sering berpapasan dengan pengunjung yang sudah turun.
"Kamu bawa makanan apa, Vid? Banyak bener bawaanmu!”
"Ada, kacang sama termos buat bikin kopi."
"Wiiihh. Emang terbaik, kamu, Vid."
"Jangan muji! Ntar jatuh cinta, kamu." David menghindari tepukan yang akan mendarat di bahunya. Jika ia tak gesit sedikit saja bahunya akan menjadi sasaran tangan Ata.
Keduanya lantas meneruskan perjalanan. Menuju puncak Ratapan Angin, jalan berubah menjadi sedikit terjal karena didominasi oleh bebatuan yang sudah bercampur dengan tanah merah.
__ADS_1
Rasa letih yang mereka rasakan segera terbayarkan saat kaki menapak di pelataran luas didominasi bebatuan besar dan beberapa pohon-pohon disana.
"Wuuuuuuuu, huuuuuu," seru Ata saat melihat pemandangan kota Banjarnegara dari sana.
Meskipun mereka sudah mengenakan jaket tebal. Suasana di puncak yang sedikit berkabut begitu dingin sampai menembus pori-pori kulit.
David memutar badan Ata ke arah selatan, dan tampaklah penampakan Danau Tiga Warna dari sana dengan begitu indahnya.
"Sumpah. Ini keren banget, Vid!"
Ata lekas mengabadikan pemandangan itu dengan ponselnya.
"Mau di sini sampai sore. Bisa lihat sunset dari sini, Ta."
"Mau banget, Vid," sahut Ata cepat lalu kembali membidik dengan kamera ponselnya.
"Betah banget, kamu. Sampai lupa bini nggak kamu kabarin!" David memperingatkan Ata.
Ata berdecak, ia mengikuti saran David untuk memberi kabar pada Alea. Jujur ia memang hampir melupakan hal itu.
Sebentar Ata berbalas pesan pada Alea, ia kembali menikmati pemandangan di sana. Duduk pada bebatuan diikuti David yang membuka ranselnya.
Dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap putih sudah di tangan masing-masing. Dari sana David dan Ata berbincang cukup banyak mengagumi tempat itu. Sesekali mereka berbincang mengenai pekerjaan masing-masing.
Ata sungguh sudah jatuh hati pada tempat ini. Terbukti dari raut wajahnya yang begitu puas akan pemandangan yang tak akan ia dapatkan di Surabaya.
Kulit kacang yang berserakan menandakan sudah cukup lama mereka berbincang. Hingga pancaran sinar berwarna jingga membuat mereka segera mengakhiri kegiatan mereka.
"Lapar banget, aku, Vid. Cari makan di mana?" tanya Ata seraya berjalan menuruni jalanan berundak.
"Tenang, di bawah sana banyak resto. Jangan kawatir kelaparan." David tentu tidak bercanda. Karena sebelum mereka masuk ke area parkir banyak jajaran resto yang sudah menguarkan berbagai macam aroma makanan.
Tiba di pelataran parkir. Ata dan David sudah disambut oleh bus-bus kecil yang akan membawa mereka keluar dari sana.
"Duhh, Vid. Aku berasa nggak mau pulang." Ata melihat pemandangan luar dari dalam bis. Hatinya kagum pada sudut desa di kota ini yang begitu tenangnya saat melewatinya.
"Beli tanah, terus bikin villa di sini. Gunain kekayaan kamu. Aku jamin, nggak bakal miskin mendadak karena ini."
"Mulutmu, Vid," jawab Ata seraya terkekeh.
"Berhenti, Pak!" ucap Ata spontan. Membuat bus berhenti dan David menoleh cepat pada Ata.
"Kenapa, Ta?"
"Kita makan di sana, Vid," ucap Ata seraya berdiri dan turun dari bus.
Mau tak mau David mengikuti Ata. David membayar ongkos lalu mendekati Ata yang berdiri menatap resto bertuliskan "Resto Madang" di sana.
"Udah kelaparan banget, ya," sindir David tertawa dan berjalan mendahului Ata.
...*****...
...to be continued...
...Jangan lupa dukungannya 🥰...
__ADS_1