Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
07


__ADS_3

...*****...


...Tak perlu menunjukan siapa diri kita, tak perlu membicarakan diri kita. Tunjukan pada semua lewat sikap dan perbuatan kalau semuanya akan baik-baik saja....


...~ Arunika Pramesti ~...


...*****...


Tanpa mereka sadari anak laki-laki berusia enam tahun itu mendengar semua penghinaan dan perkataan kasar yang seharusnya tidak diucapkan oleh Nenek Sekar kepada Runa. Di lubuk hatinya, Khan pun ikut merasakan sakit seperti yang Runa rasakan. Ia bertekad untuk menjaga dan mencintai Runa dengan sepenuh hati.


Khan menangis dan berjalan menuju kamarnya. Kemudian bertanya pada dirinya sendiri.


“Apa seperti itu cara orang dewasa menyelesaikan masalah? Apa harus dengan marah-marah?” batin Khan sedih meskipun bocah itu tidak memahami permasalahan yang terjadi di antara Runa dan Nenek Sekar.


“Pasti bunda sekarang sedih. Khan janji, bun, kalau Khan sudah besar nanti, Khan akan selalu menyayangi dan melindungi bunda,” monolog Khan karena tadi sempat melihat Runa termenung setelah dimarahi oleh nenek Sekar.


Bagi Khan, Runa adalah sosok wanita sempurna yang selalu ada untuknya dan selalu menyayanginya. Lalu, mengapa orang lain dengan mudahnya menghina dan mencaci Runa. Pun dengan sadar kata-kata itu benar-benar melukai hati Runa dan juga Khan.


Khan bertekad akan membuat Runa bahagia, dan entah mengapa di sisi lain Khan pun juga begitu membenci orang-orang yang sudah membuat Runa menangis.


"Khan akan buat bunda bahagia. Khan nggak suka lihat bunda menangis," seru Khan dalam hatinya. Itulah tekad bocah kecil berusia enam tahun itu.


Di sisi lain, Arunika Pramesti hanya bergeming, ia masih bingung dengan apa yang nenek Sekar bicarakan padanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya rasa nyaman itu mulai ada ketika ia bersama Sandy. Bagi Runa, Sandy adalah orang yang sangat berarti. Sebab dialah yang selalu memberi dukungan dan semangat hingga Runa bisa berada di posisi sekarang ini.


Runa yang terseok dengan masa lalunya pun sangat berterima kasih kepada lelaki tampan berkulit putih itu. Entah apa jadinya Runa tanpa hadirnya Sandyakala. Lelaki yang dengan ikhlas memberikan semua perhatian dan kasih sayangnya untuk Runa tanpa mengabaikan Khan.


Tanaka Khandra. Bayi mungil yang Runa dapatkan enam tahun lalu itu membuat Runa jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Meskipun karena tekad Runa untuk mempertahankan Khan di sisinya membuat Sandy mendapat larangan keras dari Sekar untuk memilih Runa sebagai pasangan hidup. Wanita tua yang sebenarnya Sandy hormati dan cintai. Sandy bukannya ingin melawan, tetapi ia hanya ingin mengikuti kata hatinya.

__ADS_1


Runa tidak bisa melarang perasaan seseorang yang akan menjatuhkan hati padanya. Apalagi Runa juga merasakan hal yang sama. Rasa yang hanya bisa dipahami oleh dua insan yang saling melengkapi. Runa berharap semuanya akan baik-baik saja. Berjalan sebagaimana mestinya, kerja sama antara dirinya dan Sandy akan tetap beriringan.


...***...


Sore hari setelah mandi, Khan menghampiri wanita cantik berambut hitam yang panjangnya hampir menyentuh pinggang. Dengan manja Khan memeluk dan menciumi wajah ayu wanita itu.


"Bunda cantik banget, sih. Khan sayang sama Bunda," ucap Khan tanpa melepas pelukannya pada tubuh Runa.


"Wah, anak bunda sekarang sudah pintar merayu, ya,” jawab Runa sambil menjepit gemas hidung bocah tersebut dan yang dijahili pun terkekeh sambil memegang hidungnya yang sedikit memerah akibat jepitan Runa.


"Khan nggak sedang merayu, kok, Bun. Khan serius, kalau Bunda adalah bunda tercantik di dunia dan Khan sayang banget sama Bunda.” Khan berbicara dengan wajah serius sambil menatap penuh rasa sayang kepada Runa.


"Oke deh, kalau gitu bunda percaya sama kamu, terima kasih, ya, Sayang," balas Runa sambil terus memeluk tubuh mungil Khan dan ditatapnya wajah itu dengan penuh sayang.


“Bunda pun menyayangimu, Khan,” monolog Runa.


...***...


Pagi ini Khan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Runa menggunakan motor maticnya. Runa melajukan motornya di jalan raya yang padat. Khan terlihat begitu bersemangat dengan seragam sekolah. Saat menyusuri jalan menuju ke sekolah tanpa sengaja mereka melihat nenek Sekar sedang berada di halaman rumah Sandy. Entah mengapa Khan begitu membenci wanita tua itu. Sebenarnya Khan tidak membenci nenek Sekar, Khan hanya takut melihat wajah wanita tua itu. Wajah yang selalu memperlihatkan aura permusuhan kepadanya dan kepada sang bunda.


Karena rasa takutnya Khan memeluk tubuh Runa dengan erat dan menatap penuh rasa kemarahan, wanita cantik itu pun menyadari dan langsung mengelus tangan anak lelakinya tersebut.


"Khan, Sayang, kamu kenapa, hem? Itu Eyang Sekar, kita turun terus salim, ya,” ajak Runa.


"Khan enggak mau, Bunda. Khan nggak mau salim sama Eyang Sekar," jawab Khan dengan ketus dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Loh, kenapa? Khan nggak boleh kayak gitu sama orang yang lebih tua, ya, Nak. Khan harus menghormati orang yang lebih tua. Khan harus selalu ingat apa yang selalu Bunda dan bu guru ajarkan, Sayang.”

__ADS_1


Dengan berat hati Khan pun turun dari motor dan mengikuti langkah Runa untuk menghampiri Nenek Sekar. Walau berat Runa pun melakukan hal itu. Ia ingin memberikan contoh buat Khan. Runa mengambil tangan Sekar dan mencium punggung tangan wanita tua itu serta merta juga diikuti oleh Khan.


Sekar hanya mengiyakan saja semua interaksi itu, buat Sekar ia tetap membenci Runa dan Khan, sebab kedua orang itulah yang membuat cucu kesayangannya membangkang. Sandy adalah cucu tercintanya. Masa iya, Sandy harus bersanding dengan Runa yang jelas-jelas tidak sepadan dengan Sandy. Sebagai seorang nenek, ia ingin cucu kesayangannya mendapatkan hal terbaik dalam kehidupannya. Termasuk soal pendamping hidup.


Setelah bersalaman dengan Nek Sekar, mereka berdua pun melanjutkan lagi perjalanan menuju sekolah Khan. Dengan lancarnya anak lelaki kecil itu bernyanyi dan membaca surah-surah pendek sambil terus menunjukan wajah bahagia. Udara pagi yang sejuk nan dingin membuat semangat itu selalu hadir. Khan adalah bocah yang selalu gembira dan ceria.


Sesampainya di sekolah, Khan mencium tangan dan wajah Runa dengan penuh sayang.


"Khan sayang sama Bunda dan Khan akan menjaga Bunda sampai kapan pun. Bahkan sampai rambut Bunda memutih,” ujar Khan kepada Runa.


Sejenak Runa mengerjap setelah mendengar ucapan anak kecil yang membuat hari-harinya semangat. "Iya, anak bunda yang tampan. Bunda juga sayang sama Khan, melebihi luasnya samudera,” ucap Runa sambil mencium wajah kecil yang begitu tampan dan menggemaskan itu. Kemudian keduanya tertawa bahagia.


"Sudah sana masuk kelas! Ingat, ya, jangan nakal dan selalu dengar apa kata Bu Guru!” pesan Runa pada Khan


"Oke, Bunda,” jawab Khan sambil menunjukan jempolnya. Khan berlari menuju halaman sekolah untuk bergabung bersama beberapa teman sekelasnya yang sudah berada di pelataran sekolah. Pun dengan penuh semangat Khan menyapa beberapa teman sekelasnya dengan ceria dan penuh semangat.


Runa melanjutkan perjalanannya. Ia hendak ke rumah makan dan akan berbicara dengan Sandy untuk menjelaskan apa yang sudah nenek Sekar katakan padanya dan semoga Sandy bisa menerimanya.


Mimpi itu punya siapa saja dan jangan pernah takut untuk bermimpi walau tidak pernah terwujud. Akan tetapi, setidaknya kita pernah berusaha meraih mimpi itu. Yakinlah untuk bermimpi dan percayalah akan semua mimpi-mimpimu.


Impian Runa hanya satu ia ingin selalu bahagia bersama Khan, itu saja. Selebihnya biarlah waktu yang menjawab semua impian itu.


Arunika Pramesti wanita mandiri dan kuat selalu berdiri di atas kakinya sendiri. Walau apa pun yang terjadi tak membuat ia mudah menyerah dan patah semangat.


Mengeluh hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Kejadian yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ia hanya ingin berdamai dengan semua keadaan ini. Tak mudah dilupakan, tapi harus berusaha melupakan walau keadaan itu selalu hadir dalam memori indahnya.


...*****...

__ADS_1


...to be continued...


__ADS_2