
...****************...
..."Aku bahkan tidak akan segan-segan memberikan nyawaku untuk putraku."...
...~Arunika Pramesti~...
...****************...
Pembicaraan dari hati ke hati antara keluarga Runa dan Ata di sore hari itu berujung tidak membuahkan hasil. Namun, Ata bertekad tidak akan menyerah sama sekali dalam meluluhkan hati Runa dan putranya—Khan, untuk mengajaknya kembali pulang ke Surabaya.
Seusai perbincangan itu, keluarga Ata pun pamit pulang ke hotel, karena hari yang sudah mulai malam. Mereka semua memutuskan akan kembali lagi esok harinya untuk bertemu Khan, cucu mereka yang sangat menggemaskan, yang selama ini tidak pernah mereka ketahui keberadaannya. Setelah satu persatu keluarga Ata berpamitan kepada Runa dan keluarganya. Kini tibalah saatnya Ata yang berpamitan kepada Runa.
“Aku pulang dulu, Run. Nanti aku akan kembali lagi,” ujar Ata saat berhadapan dengan Runa, tetapi Runa hanya bergeming dan tidak menunjukkan respon apa pun. Membuat Ata memilih untuk pergi ke arah Khan dan mensejajarkan tinggi tubuh mereka.
“Khan,” panggil Ata sehingga membuat Khan pun menatap matanya.
“Iya, Om,” jawab Khan.
“Tolong jangan panggil saya Om, Khan. Tolong panggil saya ayah, ya! Saya adalah ayah kamu,” jelas Ata memohon pada sang putra. Namun, Khan menggelengkan kepala dan mulai menyusup ke belakang tubuh Runa. Membuat hati Ata merasa teriris karena sikap sang putra yang ternyata masih belum bisa menerimanya sebagai ayah.
“Tolong jangan paksa dia, Ta!” mohon Runa dengan suara lirih dan tatapan yang memelas. Membuat Ata mengangguk lemah.
__ADS_1
“Baiklah, Run, aku tidak akan memaksanya, sekarang aku akan pulang,” ucap Ata lirih kemudian kembali menatap putranya.
“Oke, Boy, ayah pulang dulu. Nanti ayah akan kembali lagi.” Setelah mengatakan hal itu dan mengusap pucuk kepala putranya, Ata pun pergi menyusul keluarganya untuk kembali pulang ke hotel yang berada di pusat kota Wonosobo, diikuti David dan Alea di belakangnya.
Sesampainya di hotel, Ata dan keluarganya melanjutkan makan malam bersama di restoran yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Di sana mereka makan dengan suasana tenang. Tidak ada satu orang pun yang memulai perbincangan hingga sesi makan selesai.
Seusai makan malam, akhirnya Hasan pun memulai percakapannya dengan Ata dan di dengar oleh semua orang yang berada di sana termasuk David dan Alea.
“Jadi bagaimana menurut kamu, Ta? Runa sudah jelas menolak tawaran kita dan kedua orang tuanya, untuk kembali pulang ke Surabaya. Apakah sekarang kamu akan menyerah, dan akan kembali lagi pada Alea?” tanya Hasan pada Ata yang seketika membuat Ata mendongakkan kepalanya.
“Maksud Papa apa? Ata tidak akan menyerah, Pa. Ata akan tetap pada pendirian Ata untuk mendapatkan hati Runa dan anak Ata kembali," sarkas Ata membuat Alea tertunduk sedih. Pasalnya, Alea masih sangat mengharapkan Ata dapat kembali lagi padanya.
“Ata, pelankan suara kamu! Jangan buat Alea sedih karena ucapan kamu itu!” hardik Maya dengan sorot mata tajam. Maya kasihan pada Alea yang matanya sudah mulai menumpuk cairan bening.
“Alea akan tetap sabar menunggu Ata dan menerima semua konsekuensinya, Tante,” lanjut Alea lagi dengan wajah yang tetap berhiaskan senyum, walau senyum itu adalah senyum yang paling menyedihkan yang pernah ada. Membuat Maya, Hasan, dan David merasa iba terhadap gadis itu. Namun, tidak dengan Ata yang justru pura-pura tidak mendengar ucapan gadis tersebut.
“Pokoknya Ata akan berusaha, Yah. Walau apa pun yang terjadi,” ucap Ata kemudian meninggalkan meja di mana sebelumnya ia dan keluarganya sedang menikmati makan malam mereka. Hal itu membuat semua orang yang berada di sana mengembuskan napas kasar, karena sikap Ata yang benar-benar keras kepala.
*******
Beberapa hari telah dilewati Hasan dan Maya di Kota Wonosobo, hingga tiba saatnya di mana mereka yang tak lain adalah, Hasan, Maya, Ata, Alea, dan David akan kembali ke kota asal mereka yaitu Surabaya.
__ADS_1
Selama di Wonosobo, Hasan dan Maya cukup merasa bahagia karena bisa selalu dekat dengan Khan, cucu kesayangan mereka. Wajah Khan yang imut, lucu, dan menggemaskan mengingatkan mereka pada masa kecil Ata dulu.
“Runa sayang, besok pagi om, tante, dan Ata akan kembali pulang ke Surabaya. Om dan tante masih berharap agar kamu mau ikut bersama kami kembali ke sana. Om dan Tante masih menginginkan kamu menjadi menantu om. Agar Ata bisa selalu menjaga kamu dan Khan,” ucap Hasan dengan penuh harap.
“Maaf Om, Tante. Tapi Runa tetap gak bisa. Sekarang rumah Runa ada di sini, dan di sini adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan Runa.” Runa menjawab permintaan Hasan dengan yakin. Ia benar-benar tidak ingin meninggalkan kota ini.
“Kamu gak boleh egois, Runa. Kalau kamu memilih untuk tinggal di sini, sama saja seperti kamu ingin memisahkan antara aku dan putraku!” teriak Ata dengan cukup keras membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Ata merasa sangat kesal, karena usahanya membujuk Runa selama beberapa hari ini berakhir sia-sia.
“Aku gak pernah egois, Ta. Di sini justru kamu yang egois. Kamu selalu memaksakan semua kehendakmu, tanpa pernah memikirkan bagai mana perasaan kami. Perasaan aku dan Khan,” teriak Runa tak kalah lantangnya.
“Aku akan tetap membawa Khan bersamaku, Run.” Ata mencoba mengancam Runa.
“Aku tidak akan pernah membiarkan kamu membawa Khan pergi dari sisiku, Ta.” Runa mulai geram dan mulai mengepalkan tangannya.
“Kalau kamu mau aku tidak membawa Khan pergi dengan paksa menjauh darimu. Aku mau kamu ikut dengan kami ke Surabaya, di sini bukan rumah kamu, bukan tempat seharusnya kamu berada. Tempat di mana seharusnya kamu berada yaitu di Surabaya, dan di sisiku. Aku tidak ingin Khan hidup tanpa aku. Aku ingin membawanya dan terus hidup bersamanya,” tegas Ata. Namun, perkataan dari Ata sontak membuat Runa murka.
“Punya hak apa kamu mau membawa Khan pergi dariku. Apa selama ini kamu tahu bagaimana kondisi kami? Apa kamu tahu bagaimana kondisiku dulu saat aku mengandung Khan?” teriak Runa,
“Aku sering menjadi bahan gunjingan orang. Bahkan kedua orang tuaku sendiri pun tega membuangku, hanya karena sebuah kebodohan yang kulakukan bersamamu. Aku berjuang sendiri demi kehidupan Khan saat dalam kandungan. Aku bekerja sebagai pelayan dari satu restoran ke restoran yang lain agar dapat membeli makanan. Agar bayiku tetap mendapatkan nutrisi yang cukup. Tapi aku salah, sekuat apa pun aku bekerja dan menghasilkan uang, toh, hasilnya tetap nihil. Saat itu aku bahkan tidak mampu memberikannya nutrisi yang cukup. Belum lagi tekanan batin dan beban pikiran yang selama ini kupendam, sehingga Khan harus dilahirkan secara prematur,
"Saat itu tidak ada satu orang pun yang mencariku, memelukku, atau bahkan hanya sekedar memberikanku semangat. Mereka semua hanya menghina, mencerca, bahkan mengatakan aku wanita murahan sama seperti yang dikatakan oleh keluargaku sendiri. Jadi, kalau kamu berani mengambil Khan dariku, aku benar-benar akan murka, aku bahkan tidak akan segan-segan memberikan nyawaku untuk putraku," berang Runa. Ia seperti menuangkan semua amarahnya di depan Ata. Seolah rasa sakit yang terkubur dalam hatinya mencuat semua.
__ADS_1
...****************...
...To be continued...