Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
48


__ADS_3

...****************...


...“Apa pun yang terjadi semua itu sudah atas kehendak dari Tuhan. Kita manusia hanya menjalani dan bersabar atas apa yang sudah ditetapkan.”...


...~Arumni Prameswari ~...


...****************...


Sandy langsung memesan online tiket pesawat menuju Surabaya usai menelpon Runa. Tanpa pikir panjang ia langsung melajukan mobilnya menuju bandara Jenderal Besar Sudirman. Di dalam pesawat, Sandy terus berdoa untuk keselamatan Khan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Sampai di Bandara Ir Djuanda, Sandy bergegas memesan taksi menuju rumah sakit tempat Khan di rawat. Sebuah taksi bandara berhenti tepat di depan Sandy usai sang sopir menurunkan penumpang bule.


“Pak, kita ke rumah sakit ini ya, Pak!” kata Sandy sembari memperlihatkan pesan Runa di ponselnya ke sang sopir.


“Baik, Tuan!”


Sandy pun segera masuk ke dalam taksi. Selama kurang lebih 10 menit di atas kendaraan beroda empat itu, Sandy merasa terlalu lama menunggu.


“Pak bisa dipercepat lagi lajunya? Soalnya anak saya sedang kritis dan dia butuh pertolongan saya,” ujar Sandy yang sudah tidak sabaran ingin segera bertemu dengan Runa dan Khan.


Sepanjang perjalanan, di pikirannya selalu terlintas bayangan Ata yang ada di dekat Runa. Ia tidak ingin membiarkan Ata memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba mendekati Runa lagi. Walau sudah ia tepis pikirannya jauh-jauh, tetap saja Sandy harus hati-hati. Karena menurutnya, orang seperti Ata tidak akan mudah untuk menyerah.


Waktu yang ditempuh dari bandara menuju ke rumah sakit tempat Khan di rawat hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sandy merasa uring-uringan karena sejak tadi kemacetan melanda jalan protokol kota Surabaya.


“Apa tidak ada jalur lain, Pak? Saya sudah sangat terlambat ini!” keluh Sandy yang sudah uring-uringan di dalam taksi.


“Ada, Pak. Tapi, kita harus putar balik lagi,” sahut sopir paruh baya berseragam biru khas taksinya.


“Nggak apa-apa, Pak. Yang penting saya cepat sampai.”


Jalanan yang kini di lalui Sandy memang sepi kendaraan. Ia yakin dalam waktu 10 menit ke depan ia sudah bertemu dengan anak dan calon istri tercintanya.


Namun, di saat sang sopir sedang serius mengemudi, laki-laki paruh baya itu medadak mengantuk. Sesekali ia mengucek mata untuk menghilangkan kantuknya. Namun nahas, sebuah truk dari arah berlawanan dengan berkecepatan tinggi tampak oleng dan kehilangan keseimbangan. Sampai akhirnya taksi bertabrakan dengan mobil yang ditumpangi oleh Sandy di jalur tol tersebut. Peristiwa tersebut membuat kemacetan yang panjang di jalur tol.


Sebuah mobil ambulans mengangkut para korban kecelakaan lalu lintas tiba di rumah sakit tempat Khan di rawat. Satu per satu para korban di turunkan, dan segera di bawa ke dalam ruangan IGD di mana sudah ada dokter yang siap memeriksa.

__ADS_1


“Dok, korban yang terakhir sangat parah. Kepala korban tidak hentinya mengalami pendarahan. Tangan dan kakinya mengalami cedera patah tulang. Kita harus menelpon keluarga korban untuk mengambil tindakan lebih lanjut,” terang salah satu perawat.


“Hubungi pihak kepolisian yang menangani kasus ini. Identitas korban ada sama pihak berwajib!”


“Baik, Dok.”


*****


Sementara itu di waktu yang bersamaan, Mira merasa ada yang mengganjal pikirannya sampai merasa tidak tenang. Padahal, ia sudah minum obat dan tekanan darahnya kembali normal. Namun, sekarang ini ia merasa sedikit gelisah dan khawatir.


“Bu, dari tadi Wati perhatikan, Ibu sedikit gelisah. Apa yang terjadi, Bu? Apa Ibu merasa tidak enak badan?” tanya Wati menghampiri Mira yang duduk melamun di sofa ruang tamu.


Mira menggeleng. “Entahlah, Ti. Saya juga tidak tahu. Baru saja perasaan ibu merasa gelisah tanpa sebab.


“Ya sudah. Ibu istirahat saja ke kamar. Semoga perasaan ibu kembali baik.”


***


Runa duduk di kursi berbahan stainless di depan kamar perawatan Khan ditemani Lukman, Lina, dan Runi. Sementara Ata, menuju ke kantin membelikan makanan untuk Runa beserta keluarga Runa. Sejak tiba beberapa jam yang lalu, ia tidak melihat Runa makan. Padahal, hari sudah menjelang sore. Oleh karena itu, ia berinisiatif mencarikan Runa makanan. Walau sudah ditolak oleh Runa, Ata tidak peduli. Ia memiliki sedikit rasa simpati terhadap ibu dari anaknya. Ia tidak ingin melihat Runa jatuh sakit.


"Halo, selamat siang menjelang sore. Benar ini dengan Saudari Runa?" tanya polisi.


"Iya, benar," jawab Runa.


"Kami dari pihak kepolisian polres Surabaya ingin mengabarkan bahwa Saudara Sandy saat ini tengah mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit Dr. Soetomo. Kiranya saudari bisa ke sini sekarang. Mengingat korban mengalami luka yang cukup parah," terang pihak berwajib.


Runa termangu. Ia mencoba mencerna kata demi kata yang baru saja ia dengar. Jantungnya seolah berhenti berdetak setelah mampu mengurai apa yang sedang terjadi. “Ya Tuhan, haruskah seperti ini? Harus seremuk apa raga ini agar kuat menghadapi ujian dari-Mu?” batin Runa.


Pipinya kembali basah. Butiran bening itu menetes kian deras dari sudut mata. Pikirannya kacau, hatinya remuk mendengar kabar tentang Sandy. Sang putra masih tergolek lemah di sana dan sekarang Sandy mengalami hal yang sama.


"Halo … saudari Runa masih di sana?" Suara di seberang sana sontak mengembalikan raga Runa yang sempat tercerai berai. Ia hapus kasar air mata yang menganak sungai di pipinya.


‘"Ba-baik, Pak. Terima kasih atas informasinya."


Usai mendapatkan telepon dari kepolisian, Runa segera bangkit berlari menuju ruang IGD. Namun, baru beberapa langkah kedua kaki Runa lemas seketika dirinya pun mendadak sempoyongan. Untung saja Lukman segera menangkap tubuh putrinya.

__ADS_1


“Runa, ada apa, Nak? Kenapa kamu syok seperti itu? Siapa yang menghubungimu tadi?” tanya Lukman khawatir. Diikuti Lina dan juga Runi. Mereka membawa Runa duduk di kursi tunggu sepanjang lorong rumah sakit. Kebetulan saat itu, Ata yang baru saja kembali dari kantin tidak sengaja melihat Runa dikerumuni keluarganya di salah satu kursi tunggu. Ia pun mendadak cemas memikirkan Khan. Tidak menunggu lama, Ata ikut bergabung menghampiri Runa.


“Yah, … M-Mas Sandy kecelakaan. Baru saja kepolisian menelpon Runa kalau Mas Sandy dirawat di sini. Makanya Runa terkejut. Karena sebelum take off di bandara tadi, Mas Sandy sudah menghubungi Runa ikut menyusul ke sini,” terang Runa sambil terisak.


“Astagfirullah.” Lukman dan Lina terkejut mendengar berita yang disampaikan Runa.


“Yah, sebaiknya ayah temani Runa ke IGD untuk menemui dokter yang merawat Sandy. Biar Mama dan Runi yang menjaga Khan. Lagian juga ada Ata di sini.”


Lukman menyetujui usulan istrinya. Setelah merasa sedikit baikan, Runa bersama Lukman menuju ruang IGD. Sampai di sana Runa menemui perawat yang sedang berjaga di ruangan tersebut. Ia pun menanyakan keberadaan Sandy. Setelah mendapatkan informasi dari perawat, Runa menuju ke bangsal tempat Sandy. Di balik tirai putih yang menjadi penutup bangsal, Runa tak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi Sandy yang terbujur lemah tak berdaya dengan banyak luka di tubuhnya. Seorang dokter laki-laki paruh baya menghampiri Runa.


“Maaf, apa anda keluarga Saudara Sandy?” tanya dokter bersnelli putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.


“Iya, Dok,” jawab Lukman.


“Kalau begitu silahkan isi administrasi persetujuan operasi karena pasien mengalami benturan yang cukup keras di kepala. Kita tidak punya waktu lama. Pasien harus dioperasi dua jam ke depan,” tutur dokter paruh baya tersebut.


“Baik, Dok. Mohon lakukan yang terbaik dan selamatkan anak saya. Berapapun biayanya akan saya bayar,” ujar Lukman sengaja mengatakan ‘anak saya’ karena ia sudah menganggap Sandy seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah mendengar penjelasan Runa kalau selama ini Sandy dan Mira-lah yang mengurus dan membantu Runa di masa sulitnya.


Runa pun mengabari Mama Mira mengenai kecelakaan yang menimpa Sandy. Ia pun mengusulkan agar Mira menyusul ke Surabaya. Tentu saja Mira setuju, karena sejak tadi ia mendapat firasat sampai merasa gelisah. Ternyata ia mendapat berita bahwa anak semata wayangnya tengah berjuang di rumah sakit.


“Kenapa operasinya sangat lama?” tanya Runa yang tengah mondar-mandir di depan ruang operasi.


“Mbak, tenang, ya. Kita doakan operasi Mas Sandy berjalan lancar,” sahut Runi yang menemani Runa bersama Ata. Kini Lukman dan Lina yang menjaga Khan di ruang perawatannya.


“Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada Mas Sandy. Ini semua gara-gara aku terlalu banyak merepotkan Mas Sandy. Andaikan aku mendengarkan nasehat Nenek Sekar menjauh dari kehidupan Mas Sandy, pasti Mas Sandy tidak akan mengalami hal seperti ini.”


“Mbak, jangan berpikiran seperti itu. Apa pun yang terjadi semua itu sudah atas kehendak dari Tuhan. Kita manusia hanya menjalani dan bersabar atas apa yang sudah ditetapkan. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Kita doakan semoga Mas Sandy baik-baik saja. Aku yakin, mas orang yang kuat. Buktinya, ia sampai ke mari ingin menemui Khan. Itu artinya, ia peduli sama Khan dan menganggap Khan seperti anaknya sendiri.”


“Apa yang diucapkan Runi, benar Runa. Aku yakin, Sandy orang yang kuat. Ia akan baik-baik saja,” tambah Ata ikut menguatkan Runa.


...****************...


...To be continued...


Jangan lupa like dan komentar, ya

__ADS_1


__ADS_2