
...******...
...“Tidak ada perjuangan yang bisa melebihi perjuangan seorang ibu.”...
...~Tanaka Khandra~...
...******...
“Aku takut,” ujar Runa pada lelaki yang tengah menggenggam jemarinya.
“Kita hadapi sama-sama, ya. Aku yakin kita bisa lewati ini semua.”
“Dia itu orang yang nekat. Aku takut dia mengambil Khan.” Runa memandang sendu Khan yang tengah belajar di ruang tengah.
“Nggak ada seorang pun yang berhak mengambil Khan dari kamu, Run. Kamu ibunya. Lagipula, secara agama nasab Khan ikut kamu meski Ata ayah biologisnya. Jangan takut! Ata tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk mengambil Khan dari kamu. Dia tak lebih dari ayah biologis saja.” Sandy tetap meyakinkan Runa agar wanita di sampingnya itu tenang.
Semenjak kehadiran Ata dalam hidup Runa, wanita itu tak berhenti mencemaskan putranya. Berat tubuhnya menurun drastis dalam waktu sekejap. Tatapan sendu Runa pada Khan mengusik hati dan pikiran anak itu hingga ia tak bisa fokus dalam belajar.
Khan bukan anak yang bodoh. Ia paham akan kondisi bundanya. Hanya saja, Khan tidak ingin menambah beban pikiran Runa menjadi semakin berat, jika ia menanyakan kebenaran tentang orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu. Sesungguhnya banyak tanya yang berjejal di otak kecilnya. Akan tetapi, ia memilih untuk menyimpannya.
Suatu hari nanti, Khan pasti mengetahui semua kebenarannya. Ia akan menerima semua yang terjadi meski itu menyakiti hatinya, tetapi tidak jika itu akan menyakiti sang bunda. Ia akan berdiri di garda terdepan untuk melindungi Runa. Wanita yang telah berjuang membesarkannya seorang diri.
“Tidak ada perjuangan yang bisa melebihi perjuangan seorang ibu,” bisik Khan pada dirinya sendiri. Khan mengingat kembali bagaimana Runa bekerja keras untuk bisa membelikan apa yang ia mau. Semua itu masih terekam jelas di ingatannya.
“Khan janji akan selalu ada buat Bunda,” lirih Khan yang hanya bisa didengarnya sendiri, “kelak jika Khan sudah dewasa, Khan akan membuat perhitungan pada orang yang telah membuat Bunda nangis.” Satu tekad kuat muncul begitu saja dalam benak bocah berumur enam tahun itu.
***
“Hai, udah lama?” tanya Alea saat menghampiri sosok yang tengah duduk sendiri di kafe milik Hasbi.
“Hem.” David hanya bergumam kecil menanggapi sapaan Alea.
Sungguh David sangat malas terlibat dalam urusan asmara sahabatnya itu. Ata yang menghindari Alea membuat David menjadi sasaran Alea untuk menumpahkan semua kekesalannya pada Ata. Seperti hari ini, Alea memaksanya untuk bertemu guna mencari informasi tentang Runa.
“Apa Ata masih belum pulang?” tanya Alea setelah memesan menu makan siangnya, sedangkan David hanya memesan lemon tea dan nasi goreng seafood kesukaannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu nggak tanya langsung sama dia?”
“Dia menghindariku. Kamu tahu, dia memutuskan aku secara sepihak setelah semua yang terjadi. Bukankah seharusnya dia menemuiku dan membicarakan semua dengan baik-baik?”
Wajah cantik itu terlihat bermuram durja. Tidak ada lagi Alea yang selalu ceria seperti dulu, setelah Alea mengetahui fakta tentang Khan. David menghela napas dengan kasar. Masalah ini terasa begitu pelik baginya.
“Apa kamu begitu mencintai Ata?”
“Apakah perlu ditanyakan lagi?” Alea balik bertanya. Wajahnya terlihat pias mendengar pertanyaan David.
Lagi, David menghela napas dengan berat. Melihat wajah Alea yang terlihat rapuh membuatnya iba. “Apa yang ingin kamu ketahui?” tanyanya kemudian.
“Runa itu seperti apa?”
David diam sejenak. Otaknya mencoba mengumpulkan ingatan tentang sosok Runa. “Dia wanita yang cantik, tangguh, ramah, juga cerdas. Dia adalah definisi sempurna bagi Ata. Runa, dia adalah cinta pertama Ata. Mereka menjalin hubungan sejak semester pertama. Tidak sulit bagi semua orang untuk menyukai sosok Runa karena pribadinya yang humble. Itulah kenapa Ata tidak ingin membuang waktu, hingga ia tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk mendekati Runa.” David tersenyum sendiri mengingat masa di bangku kuliah. Bagi David, itu adalah salah satu kenangan terindah yang dimilikinya. Di mana Ata selalu meledak-ledak saat David mencoba lebih akrab dengan Runa.
“Ata begitu posesif kalau sudah menyangkut Runa. Bahkan ia tidak mengizinkanku dekat dengan Runa. Ia begitu tergila-gila dengan sosok Runa. Ia bertekad untuk membahagiakan Runa setelah mimpinya menjadi arsitek terkenal terwujud. Sayangnya, satu kesalahan membuat mimpinya itu tidak terwujud. Ata memutuskan Runa saat mereka wisuda, karena Ata ingin fokus kuliah di Inggris dan bertekad untuk meminang Runa setelah ia kembali.”
David menghela napas lagi saat ia akan melanjutkan ceritanya. “sayangnya, setelah mereka putus, Ata justru kehilangan jejak Runa. Ata seperti orang frustrasi saat kuliahnya selesai dan tidak menemukan Runa, hingga ia mulai dekat denganmu dan sedikit demi sedikit melupakan Runa. Dan seperti yang kamu tahu, mereka dipertemukan kembali di Wonosobo tanpa sengaja, serta kehadiran Khan yang saat ini baru diketahui oleh Ata.”
“Apa menurutmu Ata masih mencintai Runa? Atau sekadar obsesi belaka?” tanya Alea dengan lirih.
David terdiam. Dari sudut pandangnya, jelas masih terlihat bahwa Ata masih mencintai Runa, hanya saja ia tidak tahu bagaimana menyampaikan hal itu pada Alea. Ia tak mau Alea semakin terluka.
“Untuk hal itu, kamu tanyakan langsung saja pada orangnya. Dia sedang berjalan ke sini,” ujar David sambil melihat sosok di balik punggung Alea.
Dan benar saja, belum sempat Alea berbalik, Ata sudah duduk manis di sampingnya. “Aku pergi. Selesaikan dengan baik masalah kalian,” pamit David sembari membawa makan siangnya menuju ruangan Hasbi. Ia sudah mengirim pesan pada Hasbi, setelah Ata mengirimnya pesan bahwa akan menyusul David dan Alea.
“Nanti malam aku akan ke rumah. Aku akan bicara sama ayah bahwa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi,” ucap Ata setelah sosok David menghilang di balik pintu.
Alea menohok tajam. Ia tidak percaya jika Ata akan serius dengan ucapannya ingin putus. “Kenapa kamu begitu egois? Kenapa kamu nggak pernah mikirin perasaan aku, Ta?” kata Alea dengan tatapan nanar dan butiran bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
Jangankan merasa iba, Ata malah tersenyum pelik seolah tidak peduli dengan kesedihan Alea. “Ya, aku sangat egois, bukan? Maka dari itu, ayo kita berpisah! Aku nggak cocok sama kamu yang baik hati, Alea. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku.”
Sebutir cairan bening yang menggenang itu akhirnya lolos begitu saja dari mata indah milik Alea, tetapi ia lekas menghapusnya. “Lalu, menurutmu kamu cocok dengan Runa yang juga begitu baik? Itu mustahil, Ata! Kamu juga tidak pantas buat dia,” sarkas Alea, seolah sudah mengenal Runa dengan baik.
__ADS_1
Ata mengernyit, diiringi kedua alisnya yang bertaut tajam. Tentu saja dia tidak suka dengan apa yang Alea katakan. “Runa itu urusanku. Kamu hanya orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang kisah kami, Al. Intinya sekarang kita sudah tidak bisa bersama. Aku cuma nggak mau nyakitin kamu lebih dalam. Ayo, kita berpisah baik-baik! Izinkan aku bertanggung jawab atas diri Khan. Kita masih tetap bisa berteman.”
Alea menggeleng tanda tak setuju. “Teman?” tanyanya parau, “menjadi teman setelah apa yang kita lewati? Yang benar saja. Kenapa kamu begitu jahat, Ta? Aku benar-benar cinta sama kamu. Jika kamu ingin bertanggung jawab atas diri Khan, itu bisa saja tanpa harus memutuskan hubungan kita. Aku nggak masalah. Aku juga akan menjadi ibu sambung yang baik bagi Khan. Aku akan sayang sama Khan seperti anakku sendiri. Percayalah! Aku bisa melakukan itu.”
Mungkin terlalu rasa cinta yang Alea miliki untuk Ata, sehingga perempuan itu secara sadar mengatakan hal tersebut.
“Aku nggak bisa. Sorry. Keputusanku udah bulat. Aku akan menikahi Runa dan menjadikan kami keluarga kecil yang sempurna,” ucap Ata dengan wajah datarnya.
“Brengsek! Kamu benar-benar definisi dari cowok brengsek, Ta. Dan sayangnya cintaku berlabuh pada sosok brengsek seperti kamu,” geram Alea
“Maaf. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.”
“Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja, Ta. Jika kamu ingin memperjuangkan cintamu untuk Runa, maka aku juga akan memperjuangkan cintaku sama kamu.”
Final. Itu adalah keputusan akhir Alea. Ia pergi begitu saja meninggalkan Ata seorang diri. Ata juga tidak menyangka jika Alea akan keras kepala mempertahankan hubungan mereka.
“Kenapa aku harus mencintai laki-laki brengsek seperti kamu, Ta? Ya Tuhan, apa salahku sampai harus jatuh cinta padanya?”
Alea menumpahkan tangisnya di dalam toilet kafe yang kebetulan terlihat kosong. Ia sudah tak mampu lagi menahan butiran bening yang kian mendesak untuk ke luar. Jika tadi ia masih bisa menahannya karena tidak ingin terlihat lemah, tetapi tidak kali ini. Ia menumpahkan air matanya begitu saja, hingga elusan lembut di punggungnya menyudahi tangisannya.
“Menangislah, jika itu bisa membuat perasaanmu lebih baik. Jangan ditahan hanya karena ingin terlihat kuat! Tuhan tidak akan pernah salah memilihkan jalan bagi umat-Nya. Mungkin, dengan jalan ini kamu akan ditempa menjadi sosok yang lebih kuat,” ucap wanita itu dengan senyum tulusnya.
Alea hanya memandangi wajah cantik itu dengan tatapan sayu.
“Maaf jika aku ikut campur. Tapi aku turut merasa pilu karena tangisanmu. Percayalah, selalu ada hikmah dibalik ujian yang ada.” Wanita itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan Alea.
Baru dua langkah wanita cantik itu melangkah, Alea menginterupsi, membuat wanita itu menghentikan langkahnya. “Aku Alea, kamu siapa?” Alea mengulurkan tangan dan dibalas oleh wanita itu.
“ Ziya. Namaku Khaira Ziya Zulima.”
...******...
...to be continued...
...Wah, ada Ziya, nih. ...
__ADS_1
...Siapa yang kangen sama Ziya? Yuk, angkat kakinya 😂...