
...******...
...“Seorang Ibu mampu melakukan apa pun demi melindungi anaknya. Mereka akan menjadi wanita yang tangguh untuk memperjuangkan anaknya.”...
...~Arunika Pramesti~...
...******...
Tubuh Runa bergetar hebat di balik pintu. Isak tangis ia redam, agar tidak menimbulkan keributan hingga Khan terbangun. Rasa sesak itu masih menggulung hati. Kini, Ata sudah mengetahui semuanya, entah langkah apa yang akan ia ambil ke depan. Semua akan ia bicarakan dengan Sandy.
Runa masih meringkuk di ruang tamu dengan pikiran kosong. Jarum jam yang terus bergulir tanpa Runa sadari sudah menunjuk di angka lima. Wajah cantik itu terlihat kuyu karena mata yang tak ingin terpejam sama sekali. Beruntung hari ini adalah hari Minggu, hingga ia tak harus buru-buru membangunkan Khan untuk pergi sekolah.
Dengan langkah gontai, Runa menuju dapur mencari bahan makanan yang akan ia olah untuk sarapan. Lemari pendingin ia buka dan ternyata zonk. Tidak ada apa pun di sana.
“Aku lupa berbelanja.” Wajah itu kian tertunduk lesu saat mendapati kulkas hanya berisi satu butir telur. Runa putuskan untuk memasak nasi goreng sebagai sarapan, tetapi ia tetap harus pergi ke warung Bu Sri yang menjual sayuran untuk membeli cabai juga bahan yang lain.
Runa bergegas mengambil dompet dan beranjak ke luar rumah setelah mencuci wajah. Alangkah terkejutnya ia, mendapati Ata yang masih berdiam diri di depan pintu rumahnya. Ata yang mendengar pintu terbuka segera membuka mata. Kedua mata itu terlihat sembab. Begitu juga mata Runa.
“Ngapain kamu masih di sini?” Pergi dan jangan pernah mengusik kehidupanku lagi.”
Perkataan Runa yang mengusirnya membuat Ata tersenyum sinis.
“Apa kamu mengira aku akan pergi begitu saja setelah mengetahui fakta bahwa Khan adalah anakku? Jangan gila, Run. Aku tidak akan melepaskan kesempatan itu lagi.”
Ata selangkah maju ke hadapan Runa menatap gadis yang pernah mengisi hari-harinya dengan indah. Tangannya terulur ke belakang telinga merapikan surai hitam yang menghalanginya memandangi wajah cantik Runa lalu melanjutkan perkataannya, “Kenapa kamu menyembunyikan Khan dariku? Kenapa kamu tidak pernah bilang jika ada buah cinta kita yang tumbuh di rahimmu? Kenapa, Run? Kenapa kamu lakukan itu?” tanyanya sembari menatap Runa dengan sendu, “seandainya kamu jujur dari awal, seharusnya kita sudah hidup bahagia bersama. Aku tidak mungkin terpisah dari anakku. Run, aku merindukanmu. Ayo kita mulai semua dari awal,” kata Ata seraya mengangkat dagu Runa.
__ADS_1
“Cih!” Runa menepis tangan Ata di dagunya. Rasanya ia sangat jijik disentuh oleh lelaki itu lagi setelah perkataannya semalam. “Apa kamu sedang melimpahkan kesalahan kepadaku? Bukankah ini semua karena gara-gara kamu, brengsek? Andai aku tidak terbuai oleh bujuk rayuanmu waktu itu, kehidupanku mungkin akan jauh lebih baik. Namun, Sekarang aku malah bersyukur karena berkat kehadiran Khan, aku merasa tidak sendirian di dunia ini.”
Kedua mata Ata terpejam sembari mengepalkan kedua tangan, bahkan sampai buku jarinya memutih. “Tapi kamu sengaja menyembunyikan fakta sebesar ini padaku, Run. Aku tidak menyangka kamu sangat egois dalam mengambil keputusan!” geram Ata.
“Apa kamu akan bertanggung jawab seandainya aku memberitahu kehamilanku padamu?” tanya Runa balik sambil melipat kedua tangannya di dada. Air mata yang sejak tadi turun. Perlahan mengering dan tergantikan dengan raut wajah penuh amarah.
“Tentu saja!” jawab Ata dengan percaya diri.
Jawaban Ata membuat Runa tersenyum miring.
“Bukankah kamu terobsesi dengan mimpimu melanjutkan kuliah di Inggris. Lalu, apakah kamu yakin akan melepas impianmu dan lebih memilih aku yang sedang mengandung darah dagingmu?!”
Tengggorokan Ata tercekat. Lelaki itu mematung di tempatnya. Ucapan Runa seakan menguliti dirinya. Dari dulu Ata bercita-cita ingin kuliah di Inggris selesai S1. Seolah takdir memihak mimpinya, ia pun berkesempatan mendapatkan beasiswa di salah satu kampus terbaik dunia itu. Salahnya ia sengaja merahasiakan itu dari Runa dan membuat keputusan mengakhiri hubungannya dengan Runa di waktu yang salah.
“Dari raut wajahmu, Kamu bahkan tidak bisa menjawab, padahal aku hanya menyuruhmu memilih. Kamu memang egois hanya mementingkan diri sendiri. Asal kamu tahu semenjak aku dinyatakan positif hamil, aku mencari keberadaanmu. Aku pun menghubungi David untuk mencari keberadaanmu, tetapi sayangnya, kamu sudah berangkat ke London.”
“Mulai hari itu aku sudah berjanji akan melupakanmu dan merawat anakku sendiri semampuku. Kamu yang sudah mengakhiri semuanya waktu itu, dan melemparkan semua akibat dari perbuatan kotor itu hanya padaku. Kamu tidak pernah memikirkan semua itu, kan? Yang kamu pikirkan hanya bagaimana caranya mengejar mimpimu. Jadi, kamu sama sekali tidak berhak atas anakku.”
Runa mengeluarkan semua kekecewaannya selama ini. Rasa sakit yang ia tahan selama bertahun-tahun kini seakan terlepas dari sangkarnya.
“Kamu bahkan tidak tahu bagaimana kehidupanku setelahnya. Bagaimana aku harus menghadapi hinaan semua orang karena mengandung di luar nikah? Bagaimana aku menghadapi proses kehamilan yang luar biasa berat. Bagaimana aku harus berjuang mati-matian demi nyawa kecil yang akan lahir di dunia ini? Bagaimana aku harus berjuang sendiri agar aku bisa memberi makan untuk anakku? Apa kamu masih ingin menyalahkanku atas semua ini? Jika iya, kamu benar-benar laki-laki terbrengsek yang pernah aku temui.”
Suara Runa terdengar berat, menandakan jika ia berusaha mati-matian untuk mengontrol emosinya.
Selama ini Ata tidak menyangka Runa mengalami kehidupan yang sangat sulit. Masih bergeming di tempatnya, Ata pun perlahan mendekati Runa, namun ucapan wanita di hadapannya membuat lelaki itu membeku di tempat.
__ADS_1
“Jadi sekarang pergilah, aku mohon! Jangan memberi luka baru lagi, sungguh aku sudah tak sanggup,” lirih Runa.
“Baiklah. Aku akan pergi. Tetapi aku pinta, jangan halangi aku untuk dekat anakku. Atau kalau tidak, aku akan mengambil hak asuh Khan dari kamu. Walau bagaimanapun, aku berhak juga atas dirinya!” ujar Ata.
“Seorang Ibu mampu melakukan apa pun demi melindungi anaknya. Mereka akan menjadi wanita yang tangguh untuk memperjuangkan anaknya. Begitu juga aku. Aku yang sudah bertaruh nyawa untuk kehidupannya, jangan mengusik anakku atau aku akan membunuhmu.” Runa meninggalkan Ata yang mematung setelah mengunci pintu rumahnya.
...***...
Runa tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya berkecamuk dengan ucapan Ata semalam. Ia tidak akan membiarkan seorang pun mengambil Khan darinya. Bagi Runa, hanya Khan saat ini keluarga yang ia miliki. Walau bagaimanapun Ata bersikeras ingin mengambil Khan, Runa tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Bahkan sampai Sandy masuk ke dalam ruangannya, Runa tidak menyambut kedatangan pria itu.
“Hai, ada masalah?” tanya laki-laki berkaos hitam berpadu celana Chinos krem. Sejak kedatangannya ia sejenak memperhatikan Runa di sofa sembari menjaga Khan yang tidur di tempat tersebut karena lelah bermain lego.
“A-ehm, itu ... kapan kamu datang?”
Sandy melirik jam yang menggantung di dinding ruangan Runa, “Lima belas menit yang lalu. Sepertinya ada sesuatu yang kamu pikirkan. Coba cerita, siapa tahu aku bisa bantu. Sebab, sejak tadi aku hanya melihatmu melamun terus,” ujar Sandy berdiri dari sofa dan melangkah ke depan meja kerja Runa dan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi di sana.
Runa pun menceritakan perihal kedatangan Ata dan berterus terang tentang Khan kepadanya. Dengan bercerita kepada Sandy, Runa berharap ia bisa membagi bebannya kepada laki-laki di hadapannya.
Awalnya, Sandy terkejut dengan ucapan Runa yang berterus terang mengenai ayah kandung Khan, tetapi setelah mendengar kegelisahan yang menjadi penyebab Runa melamun tadi, ia pun mengerti. Sebab, ibu mana yang rela hidup terpisah dari anaknya setelah dibuang oleh kekasihnya.
“Kamu jangan khawatir soal itu. Aku pastikan, Ata tidak akan mudah mengambil Khan dari kamu. Apalagi ingin mengklaim hak asuh Khan. Itu tidak gampang. Bukankah dari awal laki-laki brengsek itu mencampakkanmu. Walaupun ia ayah biologis Khan, tetapi ia tidak berhak mengambilnya darimu. Jadi, untuk apa gelisah. Aku akan melindungi kamu dan Khan dari Ata. Tidak usah berpikiran macam-macam mengenai Khan. Itu urusanku! Sekarang lebih baik, kita makan siang. Kata pegawaimu, sejak tadi siang kamu belum makan apa-apa.”
Runa pun mengangguk. Sejenak, ia bisa sedikit lebih rileks usai membagi bebannya kepada laki-laki di depannya. Sandy pun keluar memberitahu pegawai Runa untuk mengantarkan makanan ke dalam ruangannya karena tidak bisa meninggalkan Khan yang masih tidur nyenyak.
__ADS_1
...*****...
...to be continued...