
...*****...
..."Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini? Semua sudah selesai saat diriku bukan menjadi pilihan hatimu tujuh tahun yang lalu. Jangan pernah mengorek lagi masa lalu jika tidak mampu menyembuhkan luka yang yang dulu pernah tertoreh.”...
...~Arunika Pramesti~...
...*****...
Ata dan Runa masih bergeming. Rasa terkejut membuat waktu seolah berhenti hanya di sekitar mereka. Kedua mata mereka saling menatap. Namun, tak ada satu pun sapa di antara keduanya. Hanya terdengar suara lembut hembusan sang bayu yang menggoyangkan dahan bunga camelia. Semua kalimat rindu yang ingin Ata tumpahkan, tercekat seketika. Ata terlihat begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya. Ingin sekali Ata berlari, dan memeluk tubuh wanita yang selalu merajai hatinya itu, tetapi kata sayang yang Runa ucapkan di telepon tadi, sedikit menciutkan keberanian Ata. Meski dalam hatinya, Ata tidak rela jika kini Runa telah memiliki seorang pendamping hidup.
Dengan langkah berat Ata memberanikan diri mendekat ke arah Runa.
"Hai, apa kabar, Runa?" Ata mengulurkan tangan yang dulu selalu berada dalam genggaman Runa. Lelaki itu tak bisa menahan gejolak bahagia yang membuncah dalam dadanya. Daripada terus penasaran, lebih baik ia mencoba menanyakan langsung pada Runa saja. Itulah yang ada dalam pikiran Ata.
Berbeda dengan Ata yang masih menatap Runa penuh cinta, Runa hanya menatap datar ke arah lelaki yang dulu sangat dicintainya. Runa bahkan tidak menanggapi uluran tangan Ata. Ada rasa sesak memenuhi hatinya. Jika hal itu dibiarkan maka rasa itu sewaktu-waktu bakal meledak. Runa menarik napas sedalam yang ia mampu. Dusta jika dalam hatinya tidak menyimpan amarah. Sebab kehadiran Ata sudah pasti mengorek luka lama yang sempat membuatnya putus asa.
"Hai, kabarku baik, Ata. Maaf aku harus segera pergi," jawab Runa seperlunya, ia berusaha menghindar dari Ata. Bagi Runa urusannya dengan Ata sudah selesai. Ia tak ingin menambah beban pikirannya lagi.
Sudah cukup penderitaan yang Runa alami selama ini. Ia sudah bangkit. Langkah yang dulu terseok karena kerikil tajam yang ditaburkan Ata sudah tak ingin ia kenang. Lalu sekarang, ia dipertemukan kembali dengan masa lalunya yang membuatnya jatuh.
“Oh, Tuhan. Takdir macam apa ini?” geram Runa dalam hati. Semua rasa sakit sedikit demi sedikit mulai menyeruak ke permukaan. Pandangannya sedikit mengabur karena air yang berjejelan di pelupuk mata. Tidak, Runa tidak ingin mengingat semua rasa sakit itu. Lebih baik Runa pergi sejauh mungkin agar tidak kembali bertemu dengan Ata. Runa mencoba menegarkan hati meski jantungnya berdetak hebat, membuat Runa seakan antara hidup dan mati.
"Kucari-cari ternyata di sini rupanya, pantas saja kau melupakan aku, brengsek! Ternyata sudah ketemu sama pawangnya." David yang tiba-tiba saja datang langsung menggoda Ata.
__ADS_1
Ata dan Runa pun menoleh bersamaan ke arah David. Seulas senyum tercetak di bibir tipis Runa. Bagaimanapun ia tetap menghormati David. Runa mengenal David sebagai sahabat Ata semenjak mereka di bangku kuliah.
"Hai, Runa. Senang sekali akhirnya bisa ketemu kamu di sini. Kamu tahu, Run? Gara-gara pernah lihat kamu kemarin lusa di restoran ini, Ata nggak mau diajak balik. Dia minta nyari kamu sampai ketemu pokoknya. Wah ... emang dasar sableng ini anak, ya, tapi syukurlah akhirnya hari ini kalian bisa ketemu. Aku bisa makan dengan tenang sekarang. Kalian ngobrol dulu, aku tunggu di sana, Ta," cerocos David sambil menunjuk saung tempat ia dan Ata tadi memesan makanan. David pun segera berlalu meninggalkan Ata dan Runa. Menghiraukan air muka Rina dan Ata. David tahu Ata butuh waktu untuk berbicara dengan Runa.
"Maaf, Ata, aku pamit dulu." Senyum Runa kembali hilang ketika ia berhadapan dengan Ata. Ia beranjak meninggalkan Ata. Runa tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Apalagi hanya berdua dengan Ata.
"Runa, tunggu! Aku ingin bicara sebentar saja." Ata spontan menarik tangan Runa, seolah tak ingin kehilangan Runa lagi.
Runa menatap tidak suka ke arah genggaman tangan Ata. Ia mencoba menariknya, tetapi Ata tidak mau melepaskannya.
"Maaf, Run, aku hanya ingin bicara sebentar saja. Tolong, beri aku waktu untuk meluruskan semuanya!" ucap Ata dengan wajah memelas.
Ata berharap Runa mau meluangkan sedikit waktu bersamanya. Ata benar-benar merindukan Runanya. Kekasih hati yang pernah ia tinggalkan dengan terpaksa. Begitu perih hati Ata, jika mengingat perpisahan mereka dulu. Ketika Runa memohon untuk tidak mengakhiri hubungan mereka, dan ketika Ata menyadari jika dirinya tidak bisa lepas dari bayangan Runa.
"Ata, maaf, aku harus pergi sekarang. Tidak ada lagi yang harus diluruskan. Semuanya sudah jelas, Ata. Kita sudah selesai. Aku harus pergi, Ata. Maaf." Runa menarik tangannya dan segera berlalu dari hadapan Ata membuat Ata termangu untuk sesaat.
Meskipun Ata masih berusaha mengejar setelah termangu cukup lama, Runa tak menghiraukan panggilan Ata. Ia tak ingin mengatakan apa pun kepada Ata.
Runa mempercepat langkahnya, meski banyak karyawannya yang memperhatikannya, Runa tak peduli. Ia tetap melangkah cepat ke luar dari resto. Merasa Ata sudah tidak mengejarnya. Runa pun segera masuk ke dalam rumah.
...***...
"Runa, apa kamu benar-benar membenciku? Sampai kamu tak mau lagi berbicara sebentar saja denganku? Seandainya kamu tahu, Run, selama ini aku masih memikirkanmu. Apakah kamu benar-benar sudah melupakan aku?" Ata bergumam dalam hati.
__ADS_1
Sakit hati Ata, melihat kenyataan Runa tak mau memberi waktu untuknya hanya untuk sekedar bicara, apalagi untuk melepas rindu. Sesal yang Ata rasakan kian mendalam. Kata seandainya terus berdengung di kepala. Seandainya ia tidak egois. Seandainya ia memikirkan perasaan Runa waktu itu. Seandainya ia mencoba untuk LDR seperti yang Runa mau. Mungkin, ia masih memiliki Runa hingga detik ini.
“Argh …!!” Ata menjambak rambutnya. Terasa sakit kepalanya dijejali kata seandainya. Ia tatap dengan nanar punggung Runa yang kian menjauh.
Namun, saat akal sehatnya kembali, Ata bergegas mengejar Runa-nya lagi. Kali ini Ata tidak akan menyerah. Diam-diam Ata mengikuti Runa, dan betapa terkejutnya Ata, saat melihat Runa memasuki sebuah rumah yang tak jauh dari Resto Madang.
"Apa kamu tinggal d isini, Run? Mungkinkah ini rumah saudaramu? Atau jangan-jangan rumah suami kamu? Mungkinkah Khan adalah suami kamu? Siapa sosok yang selalu kamu sebut dengan penuh cinta itu, Runa? Apa orang itu lebih berarti dari aku sekarang?" Banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran Ata. Di satu sisi ia bahagia menemukan Runa-nya. Namun, di sisi lain banyak hal yang mengganjal dalam benaknya.
...***...
Di kediaman keluarga Sandy, Nenek Sekar sedang duduk di teras ditemani secangkir teh hangat di tangannya.
"Nek, sudah sarapan?" tanya Sandy, lalu Sandy yang baru tiba ikut duduk menemani Sekar.
"Sandy, kenapa kamu masih tak mau mendengarkan nenek? Harus berapa kali nenek katakan, Sandy? Wanita itu tidak sepadan dengan keluarga kita, masih banyak gadis baik-baik yang sepadan dengan keluarga kita, dan pasti mau menjadi istrimu," tutur Sekar.
"Tapi aku hanya mau Runa, Nek. Kenapa Nenek menilai Runa bukan wanita yang baik hanya karena keberadaan Khan? Bagi Sandy, Runa wanita terbaik," jawab Sandy lembut sambil tersenyum. Bagaimanapun Sekar adalah neneknya, meski tak setuju dengan pendapat Sekar, Sandy berusaha untuk selalu bersikap lembut dan sopan kepadanya.
"Apa yang kamu harapkan dari wanita itu, Sandy? Dia hanya akan menjadi beban buat kamu. Buka pikiranmu, wanita itu hanya memanfaatkan kekayaanmu saja untuk menopang hidupnya, apa kamu tidak menyadari itu, Sandy?" tutur Sekar yang sudah mulai emosi, karena Sandy masih kekeh dengan pilihannya. Sandy tetap tidak menghiraukan nasehat Sekar.
"Maafkan Sandy, Nek. Tapi, Runa bukan seperti yang Nenek bilang, dia wanita yang baik, Nek. Maaf, Sandy tetap memilih Runa." Sandy berusaha meyakinkan Sekar.
"Cukup, Sandy! Jika kamu masih bersikeras menginginkan Runa, lebih baik besok Nenek kembali ke Surabaya. Renungkan baik-baik semua nasihat Nenek tadi. Jangan temui Nenek, jika kamu masih kekeh dengan pendirianmu!" ucap Sekar yang berlalu meninggalkan Sandy di teras dan memilih masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
...*****...
...To be continued...