Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
53


__ADS_3

...****************...


...Cara menunjukkan penyesalan mungkin berbeda-beda. Yang terpenting adalah berusaha untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. ...


...~Sekar~...


...****************...


Flashback on


Satu bulan yang lalu di rumah sakit.


Saat terjadi percakapan antara Sandy dan Mira malam itu, ketika Sandy sempat tersadar beberapa saat dari komanya. Sebenarnya Sekar sudah tiba di rumah sakit dan berada di depan pintu ruang rawat Sandy. Namun, ia urungkan untuk masuk ke ruangan tersebut karena melihat kondisi cucu kesayangannya dan putrinya yang sedang berbicara. Saat Sekar mencuri dengar apa yang dikatakan oleh putri serta cucunya, hati Sekar menjadi perih. Bahkan saat kondisi Sandy sedang kritis pun, cucunya itu tetap mengkhawatirkan nyawa orang lain yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya. Sandy masih tetap memikirkan kondisi Khan –putra dari Runa. Wanita yang tidak pernah ia sukai karena masa lalunya.


Belum selesai mencuri dengar pembicaraan antara putri dan cucunya, Sekar memutuskan untuk meninggalkan ruangan Sandy dan berusaha mencari dokter yang merawat Khan. Ia akan bertanya dan mencari tahu bagaimana kondisi anak kecil itu, karena Sandy terus bersikukuh ingin mendonorkan jantungnya untuk Khan .


“Permisi dokter, saya ingin bertanya tentang kondisi cucu saya yang berada di ruang ICU. Pasien atas nama Khan,” tanya Sekar pada dokter tersebut.


"Sebentar, Bu. Saya lihat rekam medisnya dulu." Dokter membuka satu per satu berkas yang menumpuk di meja. "Mohon maaf, nama Ibu siapa?"


"Sekar, Dokter," jawab Sekar singkat.


"Sekali lagi saya mohon maaf, di sini tertulis bahwa keluarga yang berhak mengetahui kondisi pasien Khan hanya ada tiga. Ibu Runa, Bapak Byakta, dan juga Bapak Sandy. Jadi saya sarankan sebaiknya Ibu menanyakan kondisi pasien Khan kepada mereka," terang dokter.


"Tapi saya neneknya, Dok," ucap Sekar sedikit memaksa.


"Mohon maaf, Ibu. Hal ini sudah menjadi kode etik yang kami patuhi. Maaf, saya tidak bisa membantu." Dokter itu tetap tersenyum menanggapi Sekar yang mulai cemberut.


Sekar meninggalkan ruang jaga dengan tangan kosong. Apa yang diinginkan, tidak Sekar dapatkan. Langkahnya tak tentu arah, Sekar tidak ingin kembali ke kamar Sandy saat ini. Lebih tepatnya, Sekar merasa tidak tega melihat kondisi Sandy.


Di saat pikirannya sedang kalut, Sekar menangkap sosok Runa keluar dari sebuah ruangan. Sekar segera bersembunyi, meskipun begitu Sekar tetap mengawasi ke mana arah Runa pergi. Setelah dirasa cukup aman, Sekar bergegas menuju ke tempat Runa tadi.


"Khan?" Sekar terperanjat melihat kondisi Khan dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


Mendadak hatinya begitu sakit, ia kecewa. Selama ini dirinya sudah memperlakukan Khan dan Runa dengan tidak baik. Perlahan air matanya menetes. Sekar tidak tega melihat tubuh kecil itu terkulai tidak berdaya.


"Bu, kenapa menangis? Ibu tidak mau masuk?" Suara itu berhasil membuat Sekar terkejut.


Lukman tersenyum melihat Sekar. Lukman ingat, wanita tua itu adalah neneknya Sandy. Mereka kemarin bertemu di depan ruang operasi. "Ibu tidak ingin masuk dan menyapa Khan?"


Sekar merasa sangat malu. Kemarin dia telah memperlakukan Runa dengan tidak baik, dan sekarang Lukman justru sangat sopan terhadapnya.


"Terima kasih, Nak. Maafkan kekhilafan ibu kemarin, ya. Ibu benar-benar menyesal." Sekar menunduk. Harga dirinya seolah terjatuh ketika berada berada di depan Lukman.


"Tidak apa, Bu. Saya memahami apa yang Ibu rasakan. Mungkin jika saya berada di posisi Ibu, saya juga akan melakukannya," terang Lukman.


"Bagaimana kondisi Khan?" lirih Sekar. Sejujurnya dia takut menanyakan hal ini.


"Kami harus banyak-banyak berdoa. Saat ini kondisi Khan sedang tidak baik. Khan harus segera mendapat pendonor jantung yang sesuai agar ia bisa tetap hidup." Lukman memandang Khan dengan tatapan sendu.


Mendengar penjelasan Lukman barusan membuat Sekar merasa bersalah. Sesal yang mendalam begitu menyiksa batinnya. Sebegitu teganya ia dulu ingin memisahkan Sandy dan Runa beserta putranya. Kalau saja ia merestui hubungan mereka, mungkin saat ini cucunya akan menjadi pria yang paling bahagia.

__ADS_1


“Kira-kira di mana bisa mendapatkan donor jantung yang sesuai?" tanya Sekar pada dokter yang bertugas di bangsal tempat Khan berada.


“Alhamdulillah. Baru saja dokter memberitahu kami jika sudah menemukan pendonornya. Kami mohon doanya untuk kesembuhan Khan, ya, Bu."


****


Esok paginya di rumah sakit, saat Sekar datang berkunjung.


Sekar bingung harus bicara apa pada Runa agar Runa mau pergi meninggalkan ruangan Sandy. Sekar ingin Runa fokus menjaga Khan saja selagi dirinya dan Mira berada di samping Sandy.


Sejujurnya Sekar malu dan gengsi untuk meminta maaf. Oleh sebab itu ia memilih menyuruh Runa pergi dengan cara yang salah, yaitu dengan menampar pipi Runa dan berkata kasar pada Runa. Sungguh, sejujurnya saat itu Sekar benar-benar menyesal.


Cara menunjukkan penyesalan mungkin berbeda-beda. Yang terpenting adalah berusaha untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


“Maafkan Runa, Nek. Karena Runa semua ini terjadi,” ucap Runa lirih.


“Sekarang kamu pergi dari sini! Tidak seharusnya kamu berada di sini,” ucap Sekar tegas membuat Runa meninggalkan kamar Sandy.


Sepeninggal Runa dari ruangan Sandy, suasana kembali hening, hingga akhirnya Mira pun memulai pembicaraannya.


“Bu, Mira mohon, jangan seperti ini lagi pada Runa. Saat ini keadaan Runa sama seperti kita. Apalagi saat ini kondisi Sandy sedang tidak baik-baik saja, Bu," mohon Mira pada Sekar.


“Maafkan ibu, Mira. Mungkin cara ibu salah. Ibu memang egois. Ibu tidak tahu bagaimana caranya bersikap baik. Ibu hanya mau menyuruhnya kembali menemani putranya. Ibu tahu cara ibu salah. Tapi ibu melakukan ini karena ibu juga mengkhawatirkan Khan. Di sini sudah ada kita. Ibu tidak ingin fokus Runa terbagi karena memikirkan Khan dan Sandy," terang Mira.


“Ibu?” Mira memandang Sekar tak percaya.


“Nak, ibu sudah mendengar semuanya semalam saat Sandy tersadar dari masa komanya pasca operasi. Ibu merasa sedih karena cucu ibu begitu mengkhawatirkan kondisi orang lain. Ibu juga sudah melihat kondisi Khan semalam, ibu merasa sedih karena mereka berdua sama-sama terbaring lemah.” Sekar memandang tubuh lemah cucunya di atas brankar.


“Ibu menemui Pak Lukman? Bagaimana kondisi Khan, Bu?” tanya Mira dengan semangat, pasalnya dari kemarin Mira belum bisa meninggalkan Sandy untuk menemui Khan.


"Hari ini Khan akan menjalani operasi. Semalam dokter sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Khan," terang Mira.


"Alhamdulillah, semoga semua dilancarkan, ya, Bu." Mira begitu bahagia mendengar kabar itu. "Tapi siapa pendonor yang baik hati itu?"


Sekar hanya menggeleng, dia benar-benar tidak tahu siapa orang yang sudah merelakan jantungnya untuk Khan. "Siapa pun dia, mari kita berdoa agar beliau tenang di sana."


***


Beberapa menit sebelum kecelakaan Sandy.


"Pak, bisa lebih cepat lagi? Saya harus segera tiba di rumah sakit. Saya harus secepatnya menemukan pendonor jantungnya," ucap Sandy di tengah jalanan kota Surabaya yang mulai macet.


"Baik, Pak."


Melihat gelagat Sandy, pengemudi taksi itu menyimpulkan jika anak dari penumpangnya sedang kritis. Dia pun bergegas mencari jalan alternatif agar bisa lebih cepat tiba di rumah sakit. Hingga akhirnya, kecelakaan itu tidak bisa dihindari.


Operasi bapak pengemudi taksi bersamaan dengan operasi Sandy, karena memang keduanya dalam kondisi luka parah. Sesaat setelah operasi, bapak pengemudi yang ternyata hidupnya sebatang kara itu mulai sadar. Dia menyampaikan pesan kepada dokter bahwa jika terjadi sesuatu dengannya, maka dia akan mendonorkan jantungnya untuk putra penumpang terakhirnya, yaitu Khan.


***


“Syukurlah, Bu, kalau begitu. Mira hanya berharap agar Sandy dan Khan dapat segera pulih seperti sedia kala,” ucap Mira penuh harap yang diangguki oleh Sekar.

__ADS_1


Sekar yang melihat cucunya tak kunjung sadar, kini mulai duduk di samping tempat tidur Sandy. Ia menggenggam tangan Sandy dan berkata.


“Sandy. Cucu kesayangan nenek, bangun sayang. Cepat sehat dan pulih. Nenek tahu kalau Sandy orang yang kuat. Jika nanti kamu sehat, nenek berjanji akan merestui hubungan kamu dan Runa,” ucap Sekar dengan buliran bening yang membasahi pipi tuanya.


Flashback off


********


Satu bulan telah berlalu, perlahan kondisi Khan semakin membaik. Anak lelaki kecil itu semakin hari semakin merindukan ayahnya, bahkan saat ada ayah biologisnya pun ia tetap bertanya tentang Sandy.


“Bunda, kapan kita akan ketemu Ayah. Khan kangen sama Ayah, Khan mau ketemu Ayah.” Rengek Khan pada Runa.


“Sabar, ya, Sayang. Nanti kita pasti ketemu sama Ayah,” ucap Runa lembut memberi pengertian.


“Tapi kapan, Bunda. Khan sudah menunggu lama sekali. Kenapa Khan tetap tidak boleh bertemu dengan Ayah.” Khan mulai menangis karena ia benar-benar sangat merindukan Sandy.


Seluruh keluarga besar Runa dan Ata yang pada saat itu sedang berkumpul demi melihat perkembangan kesembuhan Khan pun merasa iba.


Ata yang pada saat itu berada di hadapan Khan, berusaha untuk menenangkan tangis Khan, tetapi tidak berhasil. Ata mengingat pesan dokter, jika Khan tidak boleh terlalu sering menangis karena menangis dapat memacu kerja detak jantungnya.


“Khan, ayah mohon berhentilah menangis! Jika Khan berhenti menangis ayah janji akan mengantarkan Khan pada Ayah Sandy,” ujar Ata pada Khan. Mendengar hal itu tangis Khan pun seketika berhenti.


“Benarkah apa yang Om katakan itu? Jika Khan berhenti menangis Om akan mengantarkan Khan pada ayah?” tanya Khan yang masih terisak.


“Iya Khan, ayah janji. Ayah dan Bunda akan mengantarkan Khan pada Ayah Sandy.”


Runa yang mendengar janji Ata pada Khan pun seketika menatap Ata meminta penjelasan, sedangkan Ata hanya menganggukkan kepalanya, seolah semuanya akan baik-baik saja.


***


Keesokan harinya Ata yang sudah berjanji pada Khan, menepatinya. Ata membawa Khan dan Runa ke rumah sakit tempat di mana Sandy dirawat. Sampai di rumah sakit, mereka disambut hangat oleh Mira.


“Nenek Mira,” panggil Khan kemudian memeluk wanita setengah baya tersebut.


“Wah, ada cucu kesayangan nenek, nih. Gimana keadaan kamu, Sayang? Khan datang pasti mau ketemu Ayah, ya?" tebak Mira pada Khan yang dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Khan.


“Khan sehat, Nek. Khan ke sini mau ketemu sama Ayah. Khan sudah kangen sama Ayah. Bolehkan, Nek, Khan bertemu Ayah?” Melihat ketulusan hati Khan membuat semua orang yang ada di sana terenyuh. Bahkan Sekar pun ikut menitikkan air mata melihat ketulusan hati Khan.


“Boleh, Sayang, ayo nenek antar bertemu Ayah.” Mira mengajak Khan dan Runa memasuki ruang perawatan Sandy, sedangkan Sekar dan Ata memperhatikan mereka dari jendela di luar ruangan.


Khan memasuki ruang rawat Sandy, yang tampak di hadapan Khan saat ini adalah Sandy yang terbaring lemah dengan alat bantu hidup di tubuhnya. Perlahan Khan mendekati Sandy, ia mulai menyalami tangan Sandy yang bahkan tak bergerak sama sekali.


“Assalamualaikum, Ayah. Khan datang, Yah. Khan kangen sama Ayah. Ayah kenapa tidur terus. Kapan Ayah bangun? Khan janji kalau Ayah bangun, Khan akan menurut sama apa yang Ayah dan Bunda katakan. Khan janji akan jadi anak yang baik, Yah.” Khan memberondong Sandy dengan berbagai macam pertanyaan. Namun, tetap tidak mendapatkan respons, hingga akhirnya Khan pun meneteskan air mata.


Saat air mata Khan jatuh di telapak tangan Sandy, saat itu pula untuk pertama kalinya Sandy merespons sebuah sentuhan. Tanpa di duga, Sandy membuka matanya dan menatap Khan dengan sendu. Mira dan Runa yang melihat Sandy membuka mata, seperti memperoleh sebuah keajaiban. Melihat hal itu Runa segera memencet tombol yang berada di atas kepala tempat tidur Sandy guna memanggil dokter.


Ata dan Sekar yang melihat hal itu pun turut bahagia. Ternyata memang benar, kebahagiaan Runa dan Khan terletak pada Sandy, begitu pun sebaliknya. Untuk itu, kini Ata mencoba ikhlas dengan apa yang telah terjadi. Mungkin Runa adalah bagian dari kisah masa lalunya.


***


Dua bulan setelah sadar dari koma, dan menjalani proses panjang masa pemulihan, Khan dan Sandy akhirnya memutuskan untuk melamar dan menikahi Runa. Wanita kuat yang ia cintai semasa kuliah dulu.

__ADS_1


Runa dan keluarga besarnya menerima dengan baik pinangan dari Sandy, serta restu dari Sekar yang akhirnya mereka dapatkan menjadikan Runa dan Sandy pasangan yang paling bahagia.


__ADS_2