Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
20


__ADS_3

...*******...


...~Masa lalu yang pahit memang seharusnya dilupakan, tetapi ada saatnya hal itu akan muncul dalam ingatan, untuk sekadar jadi batu sandungan di masa depan.~...


...~Arunika Pramesti~...


...********...


Denting jarum jam yang berputar mendominasi keheningan di malam yang kelam. Seseorang yang menghuni ruangan kamar berukuran 5x5 itu masih terjaga. Hati dan perasaannya diliputi rasa gamang. Entah kenapa malam ini perasaannya sangat tidak tenang.


Deru mesin mobil yang berhenti di halaman, membuat penghuni kamar itu sontak beranjak. Ia berjalan ke arah jendela untuk mengintip siapa yang datang. Sekali lagi ia melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Siapakah gerangan yang bertamu di pagi buta seperti itu?


"Siapa dia?" Runa memicingkan kedua mata. Mempertajam penglihatannya pada seseorang yang keluar dari dalam mobil tersebut. Runa bisa menyimpulkan jika dia adalah seorang laki-laki. Terlihat dari siluet perawakan yang berhasil dia amati.


Lelaki itu berdiri di samping mobil sambil menatap rumah Runa. Cahaya temaram lampu taman tak membuat wajah lelaki itu kelihatan. Runa berdecak sebal sekaligus ketakutan.


Runa yang panik langsung berbalik menuju nakas tempat ponselnya berada. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di sana, lantas kembali ke sisi jendela. Perempuan itu berniat untuk menghubungi Sandy karena rasa takut yang mendera. Panggilan pada Sandy sudah terhubung, tetapi tampilan sosok lelaki yang kini sudah berdiri di tempat yang lebih terang membuat panggilan tersebut jadi batal.


Runa buru-buru menekan tombol merah di ponselnya. Menandakan dirinya tidak jadi menghubungi Sandy.


"Ata?" lirih Runa sambil mengerutkan kening, “darimana ia tahu rumahku?” Belum sempat ia berpikir tentang alasan kedatangan pria itu ke rumahnya, suara bel yang menggema membuat Runa tercekat seketika.


Tak ingin membuat Khan terbangun dengan suara nyaring tersebut, Runa buru-buru ke luar kamar dan menghampiri Ata yang sudah berdiri di depan rumahnya.


Ketika pintu itu terbuka, Ata menatap Runa dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Perasaan campur aduk menguasai hatinya. Ata ingin marah karena Runa telah menyembunyikan Khan darinya, tetapi ia juga merasa bahagia karena Runa tidak berusaha menghilangkan benih dari hasil cinta kasih mereka, walaupun perempuan itu sangat membencinya.


"Ata, apa kamu sudah kehilangan kesopanan? Bertamu di jam seperti ini bukanlah hal yang wajar," cibir Runa dengan nada ketus. Ata tercekat melihat sikap dingin Runa. Ia baru sadar jika dirinya berkunjung di waktu yang salah.


Saat di hotel tadi, Ata berusaha menahan diri. Namun, setelah cukup lama pertarungan batin menguasai hatinya, kesabaran Ata tidak mampu menahan rasa penasaran tentang kebenaran anaknya. Benarkah apa yang dikatakan David, jika Khan dan dirinya sangatlah mirip? Tanpa rasa takut Ata langsung menerobos kegelapan malam untuk menemui Runa, dan meminta penjelasannya.


"Boleh aku masuk?"

__ADS_1


"Tidak!" Runa menolak tegas permintaan Ata tersebut. Dia tidak ingin ada fitnah setelah ini. Bagaimanapun orang lain tidak tahu, jika mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya. Kini, Ata hanyalah orang asing.


"Aku mau bertanya sesuatu, Run. Ini penting."


Runa mengernyitkan kening. Sedikit penasaran karena wajah Ata terlihat tegang saat mengatakan hal tersebut. "Kita bicara di sini," ucapnya menyetujui.


Runa menutup pintu rumahnya, lalu berjalan menuju kursi tamu yang bertengger di teras depan rumah tersebut. Ada empat kursi kosong yang mengelilingi sebuah meja bundar di sana, dan Runa menduduki salah satunya.


"Silakan duduk!" ucapnya mempersilakan Ata, "maaf, tidak ada jamuan untuk tamu yang tidak tahu waktu. Aku kasih kamu waktu lima menit untuk bertanya, setelah aku menjawabnya kamu bisa langsung pergi dari sini," imbuh Runa tanpa melihat wajah Ata.


Ata merasakan kepedihan yang mendalam melihat sikap Runa. Dingin sekali. Bahkan dinginnya udara Dieng tak mampu mengalahkan sikap dingin perempuan itu terhadapnya. Namun, hal tersebut tak membuat nyali Ata menciut sedikit pun. Malam ini juga dia harus tahu tentang siapa ayah Khan sebenarnya.


"Siapa ayah Khan?" Dalam satu tarikan napas, Ata langsung melontarkan pertanyaannya.


Kedua mata Runa sontak melebar sempurna. Ia tidak pernah berpikir jika pertanyaan itu yang akan disuguhkan kepadanya. Keringat dingin mulai merembes di pori-pori Runa. Rasa gugup dan ketakutannya sedikit kentara. Membuat Ata menyimpan sedikit rasa curiga.


"Jawab, Run! Waktuku tidak lama. Kamu yang memberiku waktu lima menit, bukan?" cecar Ata lagi. Ia tidak sabar, karena Runa tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"Untuk apa kamu tanyakan itu? Itu bukan urusan kamu!"


Runa menelan ludahnya kelat saat Ata menyudutkan dirinya seperti itu. Jarak wajah mereka yang terlalu dekat membuat napas Runa terasa begitu sesak. Runa baru ingat, jika wajah Khan adalah duplikat dari Ata. Ia jadi menyesal, kenapa ia tidak mencegah pertemuan mereka?


"Lepas!" Runa menepis Ata dengan kasar, dan mendorong tubuh Ata agar sedikit menjauh darinya, "itu hanya perasaan kamu saja. Jangan terlalu kepedean jadi orang. Wajah anakku tidak mungkin mirip dengan kamu!" sanggah Runa dengan tatapan sinis.


"Aku nggak percaya, karena aku tidak akan pernah lupa kalau kita pernah melakukannya, Runa. Bahkan aku masih ingat dengan ******* napas kamu waktu itu. Wajahmu yang terlihat sayu saat di bawah kungkunganku. Kamu terlihat pasrah waktu itu, tapi aku suka. Aku suka setiap inci bagian tubuh kamu, Run. Aku—"


"Cukup! Hentikan omong kosongmu itu, Ata!" Runa tidak tahan mendengar perkataan Ata tentang masa lalu mereka yang mengerikan. Hal itu sudah Runa kubur dalam-dalam, tetapi dengan mudahnya Ata menariknya ke permukaan.


Masa lalu yang pahit memang seharusnya dilupakan, tetapi ada saatnya hal itu akan muncul dalam ingatan, untuk sekadar jadi batu sandungan di masa depan.


"Apanya yang omong kosong, Run? Semuanya itu nyata, kita berdua yang merasakannya. Aku juga tidak percaya jika kamu sudah melupakannya. Aku juga tidak keberatan jika kamu mau bernostalgia dengan masa itu lagi." Ata tersenyum miring. Sejenak membekukan hatinya melihat Runa-nya terlihat tertekan sekali. Ata hanya ingin membuat Runa mengakui.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu! Aku tidak menyangka kamu sebrengsek ini. Apa kamu pikir aku semurahan itu, hah?” Ada kilat amarah terpancar dari bola mata cantik milik Runa.


“Run?” Ata menyadari jika ucapannya tadi keterlaluan. Ingin meminta maaf, tapi ia merasa tidak boleh lemah jika ingin mengetahui kebenaran tentang Khan.


“Khan bukan milikmu. Dia anakku. Hanya anakku. Jadi hentikan pertanyaan konyolmu itu. Dan pergilah dari rumahku!” Runa membuang muka. Ia tak ingin lagi melihat wajah Ata.


"Benarkah? Bagaimana kalau kita melakukan tes DNA? Apa kamu berani, Runa?" Sekali lagi Ata menyudutkan Runa, membuat Runa benar-benar tidak berdaya.


“Kamu jahat, Ta. Belum puas kamu menyakitiku? Mau seberapa dalam lagi luka yang ingin kamu goreskan? Apa menyakitiku memang menjadi hobimu sekarang?” Tangisan Runa sudah pecah di sana. Ata sudah berhasil mengorek luka lamanya, sekaligus menaburkan garam di atasnya. Jahat sekali!


“Run.” Ata mencoba meraih Runa untuk masuk ke dalam dekapannya.


Runa berontak. Tak sudi rasanya Ata menyentuhnya kembali, “lepas, brengsek!”


Ata mengalah, tak ingin membuat keributan dini hari di kediaman orang. “Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Melihat responsmu sekarang aku yakin, jika Khan adalah milikku. Dia anakku, benar, kan?”


Runa terdiam. Wajahnya tertunduk sendu. Setelah sekian tahun ia bersembunyi dan hidup tenang dengan kehidupan barunya, kini kehadiran Ata mengacaukan semuanya.


“Oke, jika kamu nggak mau ngaku. Akan aku katakan pada Khan jika aku adalah ayah kandungnya dan akan aku ambil Khan dari kamu.”


“Kamu nggak bisa melakukannya. Khan adalah anakku. Kamu bukan siapa-siapanya.” Wajah Runa sudah merah padam menahan amarah.


“Kamu tahu aku, Run. Aku nggak akan tinggal diam. Aku orang yang ambisius. Aku pastikan Khan akan menjadi milikku jika kamu tidak mau jujur tentang jati diri Khan yang sesungguhnya,” ancam Ata membuat nyali Runa menciut seketika.


Runa mengepalkan tangan. Ia lemah. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Khan. Ia tahu betul bagaimana Ata jika menginginkan sesuatu. Bagaimanapun caranya, Ata pasti mendapatkannya. Tentu Runa tak ingin kehilangan separuh nyawanya.


"Oke, iya. Aku memang perempuan bodoh yang menanggalkan kesucian demi lelaki pengecut seperti kamu dan Khan adalah anak yang terlahir dari ketidakberdayaanku waktu itu. Puas kamu sekarang?" raung Runa dengan deraian yang semakin deras membanjiri pipinya, “jadi setelah ini, jangan pernah mengusik kembali hidupku dan Khan karena aku benar-benar sangat membencimu sekarang. Kamu sudah menyakitiku berkali-kali. Nikmati penderitaanku, jika itu bisa membuatmu bahagia. Tapi ingatlah, suatu hari nanti hukum alam akan bekerja dan kamu akan menuai apa yang kamu tanam.” Runa menatap tajam Ata. Setelah menghapus kasar air matanya, ia beranjak pergi masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


Ata bergeming melihat kepergian Runa. Jantungnya terasa berhenti berdetak dan napas yang terasa sesak. Rasa bersalah membuat hatinya seperti melesak. Ata tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Runa saat itu.


Namun, di balik penyesalannya yang besar, Ata masih menyimpan kemarahan yang sama besar. Kenapa Runa tidak pernah mengatakan jika dirinya tengah mengandung waktu itu? Bahkan perempuan itu tidak datang saat dirinya hendak pergi ke negeri seberang. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

__ADS_1


...*******...


...to be continued...


__ADS_2