Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
39


__ADS_3

...****************...


...~Aku tidak peduli dengan ucapan nenek Sekar yang tidak menyetujui hubungan kita. Lambat laun, aku yakin hati nenek akan luluh dan menerimamu.~...


...~Sandykala~...


...****************...


Sambil menunggu Khan mandi, Sandy mengajak Runa untuk berbicara sejenak. Runa pun menyetujui dan ia memilih ke halaman samping rumahnya di mana terdapat kolam ikan peliharaan Khan yang terdiri dari berbagai jenis ikan di sana. Keduanya duduk di kursi kayu yang terbuat dari anyaman rotan di pelataran beranda rumah Runa yang langsung berhadapan dengan kolam ikan.


“Run, aku sudah pikirkan dengan matang mengenai hubungan kita. Dari awal mama mengenal dirimu, ia sudah terhipnotis dengan pesonamu. Bahkan sangat menyukaimu. Juga dengan keberadaan Khan yang lucu, membuat mama merasa senang dan terhibur dengan tingkah menggemaskannya setiap hari. Semenjak papa tiada, aku belum pernah melihat mama bahagia seperti sekarang. Aku merasa berhutang budi sekaligus berterima kasih dengan adanya kamu dan Khan di dekat mama, sehingga membuat mama semakin bersemangat menjalani hidup,” tutur Sandy.


Runa diam mendengar penuturan Sandy. Tidak ada yang salah dengan ucapan yang keluar dari mulut laki-laki yang berkaos putih dipadukan jaket denim di sebelahnya. Runa pun setuju dengan hal itu. Sejak awal kedatangannya, Mama Mira menyambut Runa dengan ramah. Ia menganggap dan memperlakukan Runa seperti anak sendiri. Membantu merawat Runa di fase kehamilan bahkan sampai melahirkan di rumah sakit, dan juga membantu Runa membesarkan Khan. Pengorbanan Mama Mira selama enam tahun belakangan ini sudah tak terhitung banyaknya bagi Runa.


Tanpa dukungan dari Mama Mira dan Sandy, mungkin Runa tidak akan bisa berada di posisi seperti ini. Kehidupannya pasti jauh dari kata bahagia, jika tidak bertemu dengan mereka. Runa tidak bisa membayangkan, sulitnya bekerja sambil mengandung dan merawat anaknya. Apalagi ia jauh dari orang tua. Pada akhirnya ia beruntung bertemu dengan Mama Mira dan Sandy yang membantunya dan memberi semangat hidup, sampai bisa sukses membuka resto yang terkenal di kawasan wisata Dieng.


Sandy pun kembali melanjutkan kalimatnya. “Kamu tahu, kan, aku sangat mencintaimu dan juga Khan. Aku menyayangi kalian dengan sepenuh hati. Aku tidak peduli dengan ucapan nenek Sekar yang tidak menyetujui hubungan kita. Lambat laun, aku yakin hati nenek akan luluh dan menerimamu. Yang paling penting, mama selalu berada di pihak kita mendukung apa pun keputusan yang akan kita ambil,” kata Sandy seraya mengamati ikan-ikan yang berenang ke dalam kolam. Sesekali ia melemparkan makanan ke dalam kolam itu membuat ikan-ikan berkumpul sambil berebut umpan.


Runa mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Sandy semuanya benar. “Aku ber-“ ucapan Runa terpotong saat Khan datang mendekat ke arah mereka. Dengan pakaian koko berwarna putih dan wangi khas anak-anak, Khan terlihat sangat tampan bak ustad cilik dengan kopiah yang terpasang miring di atas kepalanya. Tanpa aba-aba Khan langsung naik ke pangkuan Sandy seraya berkata, “Ayah, yuk, ke masjid! Sebentar lagi salat Magrib tiba!” ajak Khan sambil menggoyangkan tangan Sandy yang melingkar di perut kecilnya. Sandy pun memperbaiki posisi kopiah Khan agar terlihat bagus. “Oh, iya. Let’s go kita masjid dulu. Salam dulu sama Bunda.” Khan pun langsung menuruti perintah Sandy. Ia turun dari pangkuan dan berpamitan sama Runa. “Bun, Khan dan Ayah berangkat ke masjid dulu, ya, Assalamualaikum.”


“Waalaikumusalam.”

__ADS_1


“Nanti kita lanjut,” kata Sandy sebelum ke luar dari rumah Runa bersama Khan menuju masjid yang terletak di ujung gank kediaman Runa.


Runa mengangguk lalu berkata, “Iya, Mas.”


***


Runa menyiapkan makan malam sambil menunggu kepulangan Khan dan Sandy dari masjid. Dengan cekatan Runa memainkan wajan memasak makanan kesukaan Khan, yakni udang saos padang dan tumis cah kangkung. Runa, heran dengan menu kesukaan anaknya yang sama persis dengan sang mantan pacar sekaligus ayah kandung Khan, Ata. Padahal semenjak dirinya hamil dan mengandung Khan, Runa sangat tidak berselera dengan menu makanan tersebut yang selalu membuatnya mual. Namun, berbeda saat Khan hadir dalam hidupnya, anaknya itu selalu mengingatkan makanan favorit Ata. Runa tahu hubungan Ata dan Khan tidak bisa diputuskan. Walau bagaimanapun darah lebih kental dibanding air.


Sandy bersama Khan tiba di rumah setelah mengucapkan salam. Masih berbalut pakaian yang dipakai dari masjid, keduanya lekas berjalan menuju ruang makan. “Ini pasti aroma masakan bunda, Yah,” kata Khan seraya melangkah dengan tergesa.


“Bener. Ini pasti masakan bunda,” timpal Sandy.


Khan dan Sandy mendekat ke meja makan. Runa yang sedang menata makanan mempersilakan mereka berdua duduk di kursi yang biasa mereka tempati.


Runa tersenyum. Ia pun mengambil piring Khan dan mengisi nasi serta lauknya. “Ini, ‘kan, request kamu tadi sore waktu kamu masih bermain. Lupa, ya?” Runa mengingatkan ucapan Khan sore tadi. Ia tiba-tiba ingin dimasakkan menu favoritnya. Karena saat di sekolah tadi, ada salah satu teman khan yang membawa bekal dengan menu saos padang. Khan hanya nyengir membenarkan ucapan sang bunda.


“Mas Sandy mau diambilkan nasi juga?” tanya Runa yang kini atensinya tertuju pada Sandy. Laki-laki itu duduk berhadapan dengan Khan. Sedangkan Runa duduk di ujung meja makan.


“Nggak usah. Aku ambil sendiri aja.” Sandy yang tidak ingin merepotkan Runa bergegas mengisi piringnya.


Khan memimpin doa makan. Mereka bertiga makan dengan tenang. Namun, sesekali diiringi dengan celoteh Khan yang riang sehingga membuat suasana lebih hangat.

__ADS_1


Setelah menidurkan Khan yang selesai belajar ditemani Sandy, Runa pun menyusul Sandy yang kini berada di depan teras rumah Runa.


“Mas, tadi ingin cerita apa?” tanya Runa, ikut duduk di samping Sandy.


“Aku ingin serius dengan hubungan kita agar ikatan aku dengan Khan tidak ada yang menghalangi. Begitupun dengan dirimu. Aku ingin selalu melindungimu. Berdiri di garda terdepan di hidupmu dan juga Khan. Apalagi Ata sudah tahu mengenai keberadaan Khan yang sewaktu-waktu akan meminta hak asuh dan pengakuan sebagai ayah kandung sekaligus darah dagingnya.”


Sandy melirik ke arah Runa. “Oleh karena itu, aku ingin kita ke Surabaya menemui kedua orang tuamu dan meminta restu agar hubungan kita bisa segera diresmikan.”


Air mata Runa kembali keluar dari tempatnya. Mengingat orang tuanya di Surabaya yang sudah lama tidak ia temui semenjak diusir dari rumah. Runa kembali dirundung rasa sedih dan takut akan penolakan kedua orang tuanya. Ia khawatir jika ke sana lagi, Runa kembali ditolak. Apalagi anak yang ia pertahankan sudah besar, dan akan menjadi aib bagi keluarganya, karena dirinya kembali dengan seorang anak yang sudah besar. Hatinya kembali sedikit pilu jika mengingat kedua orang tuanya. Namun disisi lain, rasa rindu akan sentuhan mama dan ayahnya pun tak kalah ia rindukan selama ini.


Melihat Runa bersedih, Sandy bangkit dari posisinya dan membawa tubuh langsing Runa ke dalam dekapannya. Ia tahu, Runa bersedih setiap membahas keluarganya. Walau bagaimanapun tidak ada jalan lain selain ke Surabaya menemui Lina dan Lukman guna meminta restu kepada mereka berdua agar dirinya bisa mengikat Runa secepatnya.


“Kamu tidak usah sedih. Ada aku dan Khan. Kita sama-sama ke sana bertemu dengan kedua orang tuamu menjelaskan semuanya dan meminta restu.” Ujar Sandy mengelus rambut hitam panjang Runa. Runa merasa tenang berada di dekapan Sandy. Selama ini hanya laki-laki yang ada di pelukannya inilah yang melindungi dan membantunya keluar dari keterpurukan. Runa pun menyetujui ajakan Sandy ke Surabaya.


“Baiklah, aku serahkan ke kamu. Atur saja waktunya agar aku menyiapkan keperluan Khan.” Runa melepaskan diri dari pelukan Sandy dan beralih menatap laki-laki tampan di hadapannya.


Sandy tersenyum seraya menghapus air mata Runa di pipinya. “Aku secepatnya mengabarimu. Aku juga mau memberitahu mama hal ini. Kalau begitu aku, pamit. Sampaikan salamku pada Khan. Selamat malam. Assalamualaikum,” ucap Sandy dengan hati yang senang.


“Waalaikumusalam.” Runa pun masuk setelah mobil yang dikendarai Sandy berlalu dari rumahnya.


...****************...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2