Bukan Pilihan

Bukan Pilihan
06


__ADS_3

...******...


...“Masa lalu yang kelam biarlah menjadi pengalaman serta cambukan agar ke depan kita bisa mawas diri guna meraih kebahagiaan.”...


...~Arunika Pramesti~...


...*****...


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Resto Madang. Tak lama kemudian seorang anak lelaki berusia enam tahun keluar dari mobil, disusul Runa yang tak berhenti mengomel karena tingkah anak tersebut.


"Bunda, Khan duluan, ya," ucap si anak, lalu berlari ke dalam resto.


"Bayar lewat aplikasi, ya, Pak," ujar Runa pada sopir taksi online yang ia tumpangi.


"Siap, Bu. Terima kasih."


"Khan, jangan lari!" teriak Runa saat Khandra mulai menjauh, kemudian segera menyusulnya.


Melihat betapa lincahnya Khandra, sekelebat mengingatkan Runa pada saat pertama ia berjumpa dengan Khandra. Bayi mungil polos yang sudah berhasil memikat hatinya dan memberinya kekuatan untuk selalu bertahan.


Kini, Runa begitu bangga pada Khandra. Di sekolah, Khandra selalu mendapat juara kelas. Banyak guru dan wali murid yang memuji tingkat kecerdasan Khandra.


Selain cerdas, Khandra pun tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap orang lain terutama pada Runa. Bahkan, Khandra pernah membantu Runa untuk memberikan buku menu kepada pelanggan saat restoran sedang ramai. Tidak diduga, banyak pengunjung yang menatap kagum pada sosok Khandranya.


Sesampainya Runa di dapur, ia segera mencari keberadaan Khandra. "Khan?" panggilnya sembari mengetuk pintu, "kamu di dalam toilet?" tanya Runa memastikan, saat melihat tas Khandra yang tergeletak di depan toilet.


"Iya, Bun, sebentar," teriak Khandra.


Awalnya, Runa begitu tenang memainkan ponselnya sambil menunggu Khandra. Namun, ia begitu terusik saat mendengar teriakan seorang wanita yang di restonya. "Saya sudah bilang, saya ke sini mau cari Runa. Kalian jangan nutup-nutupin keberadaan wanita itu, ya!"


Mendengar namanya disebut, Runa segera berlari ke depan. Alangkah terkejutnya saat ia melihat siapa yang tengah berdiri di depan meja kasir dengan gaya angkuh dan ekspresi yang sudah terbakar emosi.


"Nek –Sekar?" ucap Runa terbata.

__ADS_1


"Saya mau bicara sama kamu!"


"Mbak Wati, minta tolong jaga Khandra, ya! Runa mau bicara sebentar sama Nek Sekar," pinta Runa pada Wati yang masih berdiri di depan meja kasir.


Wati yang melihat kemarahan Sekar merasa khawatir pada Runa. Ia terlihat masih enggan untuk meninggalkan mereka berdua.


"Nggak apa, Mbak," ucap Runa dengan menampilkan senyumnya seakan mengerti tentang kekhawatiran Wati.


Wati mengangguk, "Baik, Mbak."


Sepeninggal Wati, Runa mengajak Sekar untuk duduk di meeting room. Ia juga meminta karyawan yang lain untuk menyiapkan jamuan untuknya dan Sekar.


"Langsung saja, ya, Run," ucap Sekar. "Saya tau apa niat kamu dari awal mendekati cucu saya. Kamu ingin memanfaatkan Sandy untuk memperbesar usaha kamu, kan? Tolonglah, kamu, kan, cantik, cari saja lelaki lain yang mampu menghidupi kamu, jangan Sandy yang kamu jadikan korban. Biarkan Sandy memiliki pendamping hidup yang tepat. Kamu cinta sama Sandy, kan? Kalau memang cinta, kamu tinggalkan dia dan biarkan dia hidup bahagia!"


"Maaf sebelumnya, Nek. Runa dan Mas Sandy tigak ada hubungan apa-apa. Dari awal pun kami murni berteman."


"Kalau murni berteman, bagaimana bisa usaha resto ini ada? Kamu hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam keluarga kami. Dan kamu pasti sengaja melakukan semua ini hanya demi keuntungan kamu."


"Kamu tidak perlu banyak alasan di depan saya. Mungkin kamu bisa menipu semua keluarga saya. Tapi saya tidak bisa dibohongi."


Mendengar semua tuduhan Sekar, Runa hanya bisa diam menunduk seraya meremaskan kedua tangannya. Percuma saja ia membantahnya, karena penilaian Sekar terhadapnya sudah negatif. Sebaik apa pun ia, akan selalu dianggap salah.


"Baik, akan saya buat mudah saja. Restoran ini akan tetap jadi milik kamu. Saya tidak akan meminta Sandy untuk mengalihkan resto ini atas namanya. Tapi kamu jangan lagi mendekati cucu saya!"


Mendengar permintaan Sekar, seketika membuat Runa mendongak dan menatapnya. "Maksud Nek Sekar apa? Memang Mas Sandy yang memberikan modal untuk Runa membangun usaha ini. Tetapi modal itu sudah Runa kembalikan, dan ini sudah menjadi usaha kami berdua," ucap Runa menahan air matanya.


Tok tok tok!


Runa menarik napasnya dalam. "Masuk saja!" ucapnya. Melihat kedatangan Wati, Runa segera mengalihkan pandangannya agar karyawannya itu tidak merasa khawatir.


Wati pun segera menyiapkan semua hidangan sesuai permintaan Runa. "Khandra di mana, Mbak?" tanya Runa pada Wati.


"Khandra masih main, Bu."

__ADS_1


"Ya sudah, Mbak. Minta bantuannya sebentar buat jaga Khandra, ya. Maaf merepotkan," pinta Runa.


Sepeninggal Wati, Runa kembali berusaha menguatkan dirinya. Ia mengerti, menjadi single mom bukanlah hal yang mudah. Akan banyak cibiran dan fitnah yang datang bergantian. "Silakan, Nek, dimakan dulu hidangannya. Ini menu best seller di resto ini. Mas Sandy bilang, kalau Nek Sekar suka gurami bakar? Ini Runa buatkan juga kesukaan Nenek." Runa menata kembali hidangan di depannya, memberikan sepiring nasi pada Sekar, lalu mengambilkan satu porsi gurami bakar.


"Tidak perlu! Saya tidak butuh masakan kamu. Yang saya butuhkan kamu meninggalkan cucu saya. Dari awal niat saya ke sini hanya itu, karena saya tidak rela ya, Sandy cucu kesayangan saya menikahi kamu. Kalau kamu memang wanita pintar, harusnya kamu paham dengan ucapan saya. Kecuali apa yang saya pikirkan selama ini tentang kamu benar adanya. Maka dari itu kamu sulit meninggalkan Sandy. Kamu hanya ingin memanfaatkan Sandy dengan tubuh dan kecantikan kamu.”


Runa kembali menarik napasnya. "Runa sudah menjelaskan pada Nenek, bahwa Runa dan Mas Sandy tidak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja. Menjadi hak Nenek untuk tidak percaya dengan penjelasan Runa," jelas Runa.


Bagi Runa, cukup Khandra tetap di samping Runa. Selain itu Runa tidak membutuhkan siapa-siapa lagi. Karena Khandra segalanya untuk Runa. Ia pun berusaha menahan emosinya agar tidak meluap. Ia hanya tidak ingin bersikap kurang sopan terhadap Sekar.


"Bundaa ...."


Suara Khandra di depan pintu membuat perhatian Runa teralihkan. Apalagi dengan mata yang sendu dan berair membuatnya semakin tidak tega. Runa segera berdiri dan menghampiri Khandra. Memeluknya dan menciuminya.


"Khandra kenapa ke sini? Bukannya tadi main sama Mbak Wati?" tanya Runa dengan mencoba menstabilkan suaranya. Ia tidak ingin Khandra mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Sekar.


"Bunda nangis?" tanya Khandra.


Inilah yang tidak ingin Runa jawab. Pertanyaan inilah yang justru membuat Runa semakin tidak kuat untuk menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.


Runa pun kembali memeluk bocah itu. Mencoba mencari kekuatan dari kehangatan pelukan Khandra. "Tidak, Sayang," bohongnya.


"Cukup sudah peringatan saya hari ini sama kamu, ya, Run!" ucap Sekar sambil berdiri, lalu menghampiri Runa.


Runa pun bangkit dan memegang erat tangan Khandra. Membimbing anak tersebut untuk berlindung di belakangnya.


"Sekali lagi saya tegaskan! Saya tidak ingin Sandy cucu kesayangan saya menikah dengan kamu. Dia terlalu sempurna untuk kamu yang hanya wanita biasa atau mungkin, murahan!" Sekar menekankan kata ‘murahan’ itu dengan tegas membuat Runa meringis perih di sudut hatinya. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Sekar langsung pergi meninggalkan Runa dan Khandra.


“Masa lalu yang kelam biarlah menjadi pengalaman serta cambukan agar ke depan kita bisa mawas diri guna meraih kebahagiaan,” batin Runa sembari memeluk erat Khan.


...****...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2